Something About First Love

Something About First Love
•2• The Morning Sun



Hari demi hari berlalu, tanggal seminar yang dibicarakan Adrian semakin dekat. Adrian juga semakin tak gentar menanyai Barra, untuk membantunya mencari tahu kabar Lina. Sejauh ini, Barra selalu menolak tawaran Adrian, walaupun kadang hatinya berkata lain. Namun, Barra selalu teringat kalimat Zaskia tentang menghargai keputusan Lina. Barra tidak mau membebani Lina dengan keingintahuannya yang mungkin bisa mengganggu ketenangan Lina.


"Serius lu, Bar? Besok lusa gue ketemu sama Zaskia."


"Heh! Kamu ngapain telepon di jam kerja? Kamu gak ada kelas?"


"Gak ada! Lu sendiri bisa angkat telepon gue!"


Barra tertawa, lalu membalik lembar dokumen yang ada di atas mejanya. "Yaudah, aku tutup aja, Yan."


"Eh, woy, heh, Bar!"


"Apaan?"


"Serius lu?"


Barra memberi sedikit jeda, lalu menjawab, "Gak usah. Makasi, Yan. Tapi serius. Gak usah."


"Lu masih mikirin dia, 'kan? Makanya lu gak bisa lepas gelang dari dia."


Lantas Barra melirik pergelangan kirinya. Benar, gelang tapi itu masih melingkar dipergelangannya.


"Mana bisa lu bohong, Bar!"


"Hah... apaan dah, gelang doang. Aku pakai ya karena kebiasaan aja."


"Ya kebiasaan itu yang harus lu lepas. Itu langkah pertama buat move on, bro."


Barra memandangi pergelangannya, cukup lama, sampai tanpa sadar Adrian sudah memanggil namanya di ujung telepon.


"Bar?"


"Hm? Udah ya, aku ada urusan. Bye." Barra memutus teleponnya lebih dulu.


Setelah menimbang-nimbang kalimat Adrian, Barra meraih gelang tali itu, lalu melonggarkan ikatannya. Akhirnya setelah lima tahun mengikat, gelang itu lepas dari pergelangan Barra. Seketika pergelangannya terasa aneh, seakan ada bagian yang hilang dari sana. Saat Barra menatap gelang itu, ingatan tentang Lina kembali terbayang di kepalanya. Namun Barra tidak mau berlarut-larut, benar kata Adrian, dia harus melakukan langkah pertama itu. Maka Barra menyimpan gelang itu ke dalam saku celananya, lalu kembali memfokuskan diri pada pekerjaan yang menumpuk bagai gunungan salju yang terus bertambah. Barra tidak mengeluh soal itu, malah dia bersyukur bisa menyibukkan pikirannya agar tak ada lagi celah untuk kembali ke masa lalu.


Setelah lima tahun, inilah saatnya bagi Barra untuk melepas masa lalunya.


•••


Sore itu hujan kembali datang. Beruntung Barra dan para staffnya sudah berhasil ke luar kantor, dan kini sedang bercengkrama di salah satu restoran Jepang. Hari ini Barra memang berjanji mentraktir staff satu timnya, karena telah berhasil mencapai target bulanan mereka. Acara makan mereka tidak terasa canggung, mungkin karena Barra sebagai Ketua Tim, masih berusia muda tak jauh dari staffnya. Diluar jam kerja mereka hanya bergaul layaknya teman sebaya, berbeda dengan jam kerja yang lebih profesional.


Hampir memasuki akhir tahun, interior restoran mulai dihiasi dengan atribut natal bernuansa merah, putih, hijau. Sapaan para staff terdengar menggema tiap kali ada pengunjung yang masuk, begitu pula jika ada yang ke luar. Seperti sudah terbiasa dengan suara-suara itu, meja Barra bersama anggota timnya masih dipenuhi canda tawa dengan obrolan mereka.


"Sering-sering gini dong, Pak ketua! Kan jadi semangat kerjanya!" ujar Olive, wanita paling ceriwis dalam tim, lalu meminum teh ocha yang baru saja diisi ulang.


"Makanya tembus target! Bulan depan kalau tembus, kalian yang pilih tempatnya."


"Wah!"


"UWAAAUU!"


Ketiga anggota Tim Barra langsung ricuh mendengar tantangan yang sangat menggiurkan itu.


Prang!


Mereka langsung berhenti saat mendengar suara pecahan dekat tempat isi ulang minuman. Bukan hanya orang-orang di meja Barra, beberapa pasang mata kini menatap seorang wanita yang tengah sibuk memungut sesuatu, sepertinya pecahan gelas, dibantu oleh seorang staff.


"Maaf ya, mbak. Maaf." ujar wanita itu. Suaranya lumayan terdengar sampai ke meja Barra, sampai pria itu sempat meragukan telinganya sendiri. Barra benar-benar merasa suara wanita itu sangat familiar, atau mungkin dia salah dengar? Dengan keraguan itu, Barra terus memandangi wanita yang membelakangi nya tanpa bisa melihat wajahnya secara utuh. Barra tidak mungkin lupa dengan wajah pemilik suara yang ada dikepalanya, dan dia sangat ragu jika wanita itu sama dengan wanita yang ada di kepalanya.


"BTW, untung sekarang ada Lily! Kita jadi gak kekurangan orang lagi!" Olive melingkarkan tangan ke lengan seorang wanita yang duduk di sebelahnya, sambil menyandarkan kepala ke bahu wanita itu juga. Sementara wanita yang lebih muda dari Olive itu, hanya tersenyum lebar.


"Bener! Kalau kayak gini, bulan depan tembus sih pasti. Yakin! Kan ada Lily!" kali ini Allen, pria selain Barra yang ada dalam tim.


"Heh! Jangan bikin anak orang beban dong lu!" Olive menunjuk Allen yang duduk di sebrangnya.


"Iya nih, Mas Allen. Mending kita sama-sama berdoa biar Lily lolos pegawai tetap bulan depan." ujar Barra. Suaranya terdengar menenangkan sekaligus bersahabat. Dia juga tersenyum pada Lily yang duduk di sebrangnya, dengan sangat ramah seperti yang biasa dia lakukan.


"Oh, iya! Sebentar lagi kontrakmu habis ya, Lily!" sambung Olive.


"Ah, pasti lanjut pegawai tetap! Rugi perusahaan gak ambil orang kayak kamu, Li." lanjut Allen.


Sementara itu, wanita yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan hanya tertawa, kemudian berkata, "Harapannya sih begitu, Mas. Yah, semoga aja." wanita bernama Lily itu tersenyum di akhir kalimatnya, lalu menatap Barra dan langsung dibalas dengan anggukan.


"Tapi nanti, ada kemungkinan pindah tim gak sih, Pak? Lily nya?" tanya Olive pada Barra.


"Hm... Kemungkinan kecil sih ada. Tapi kalau Lily mau, mungkin bisa dipertimbangkan." jawab Barra.


"Yah, jangan! Lily kamu gak mau pindah ke tim lain, 'kan?" Olive langsung meraih kedua tangan Lily, menatap wanita itu dengan penuh harap. "Enggak, 'kan? Sama kita aja! Nih, ketua tim kita ganteng, Mas Allen... yah, lumayan sih, walaupun pendek..."


"Heh, gue masih tinggian dari pada lo!"


Barra hanya tertawa melihat ejekan untuk Allen yang tak pernah luput diucapakan oleh Olive.


"Pokoknya, kamu jangan pindah tim!"


"Semoga." Barra mengoreksi.


"Semoga Lily gak pindah tim!" Olive merevisi kalimatnya.


Lily tertawa. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Olive, tentu saja.


•••


Hari sudah semakin gelap, tapi hujan masih tidak mau berhenti, padahal seluruh kota sudah basah kuyup. Barra bersama anggota timnya sudah siap untuk pulang, namun melihat hujan yang masih sangat deras, mereka berhenti sejenak di depan restoran. Lily sibuk mengutak-atik ponselnya, mencari cara untuk pulang.


"Lily mau cari taksi?" tanya Olive.


"Iya nih, Kak. Tapi tarifnya naik jadi mahal banget."


"Wajar, hujan deres gini." ujar Allen. "Lo gak cari taksi?" lanjutnya, bertanya pada Olive.


"Gue nebeng lu, lah! Lagian searah!"


"Sial gue!"


"Mau protes lu? Pindah rumah sana lu!"


Allen pasrah saja, dan memilih tak menggubris Olive. "Lily bukannya searah sama Pak Barra? Bareng aja." ujar Allen tiba-tiba, setelah ingat Lily pernah menyebut daerah tempat tinggalnya.


Tentu Barra tidak menyangka situasi ini akan datang, dia bahkan tidak ingat Lily tinggal di mana. Lantas dia langsung menoleh pada Lily yang ternyata sudah menatapnya, terlihat canggung dengan senyum yang agak dipaksakan.


"Iya, Li. Bareng aja sama Pak ketua."


Lily menggeleng pada Olive. "Enggak usah. Takut ngerepotin."


"Dia juga ngerepotin tapi santai." Allen menunjuk Olive, dan langsung mendapat pukulan pelan dari wanita di sebelahnya.


"Lily bareng saya aja, gak apa-apa. Gak ngerepotin kok." ujar Barra.


Saat itu juga, Lily langsung menatap Barra, terlihat tidak bisa berkata-kata, hingga akhirnya wanita itu tersenyum. Pipinya sedikit memancarkan rona kemerahan, dibalik senyum malu-malu Lily berkata, "Terima kasih, Pak." lalu Lily segera menyimpan ponselnya.


"Oke, pas! Ayo, Liv!" Allen mendahului Olive menerjang hujan untuk menuju parkiran mobil.


"Allen! Gak bawa payung lu? Aish, ditinggal gue! Pak, Lily, duluan ya!" Olive melambaikan tangan pada Barra dan Lily, lalu buru-buru menyusul Allen.


"Kamu tunggu di sini aja ya. Saya ambil mobil dulu." ujar Barra sembari membuka jasnya.


"Pak, saya ikut aja, gak apa-apa." Lily menghentikan Barra yang sudah hampir pergi.


"Jangan! Hujannya deras. Kamu di sini aja." Barra menutupi tubuhnya dengan jas yang dibuka di atas kepala dan bergegas menuju parkiran mobil. Kemudian Barra menjemput Lily yang menunggu sambil berteduh di depan restoran.


Seperti biasa, jalanan Ibu kota terpantau padat. Seperti biasa juga, radio menemani perjalanan Barra di tengah kemacetan. Walaupun ada Lily di kursi penumpang, keduanya tidak terlalu banyak bicara. Lagi pula tidak ada yang bisa dibicarakan, jadi mereka lebih sering mendengarkan radio, sambil sesekali berpendapat pada ucapan penyiar radio, atau mengomentari sebuah lagu.


Ternyata tempat tinggal Lily memang searah dengan rumah Barra, sehingga dia tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk sampai di rumah. Begitu sampai, Barra langsung membersihkan diri, mengganti pakaian dengan yang kering, dan berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Dari banyaknya notifikasi yang ada, Barra menuju group chat bersama sobat kuliahnya lebih dulu. Lalu setelahnya, dia beralih ke Instagram, di mana para anggota timnya menandai Barra pada salah satu story. Seperti biasa, Barra hanya akan memposting ulang dari akun yang menandainya.


Berniat menghabiskan waktu lebih lama pada sosial media tersebut, Barra menggerakkan ibu jarinya ke atas dan ke bawah, melihat orang-orang menunjukkan eksistensi sosial mereka. Jarinya berhenti saat ponselnya bergetar dan muncul notifikasi pesan dari Lily. Hanya sekedar mengucapkan terima kasih, tapi Barra tidak langsung membukanya, dia hanya menatap pesan dari Lily melalui layar notifikasi. Membalas pesan pribadi seperti ini bisa jadi sangat berbahaya bagi Barra, apa lagi di jam segini, dan Lily adalah rekan sesama timnya. Barra tidak ingin membangun hal yang tidak-tidak, atau sekedar menimbulkan kesalahan pahaman, sehingga dia memutuskan untuk memberi jeda.


Sembari memberi jeda, Barra kembali pada feeds instagram yang tiba-tiba menunjukkan sebuah foto yang diunggah oleh akun Zaskia. Saat itu juga Barra langsung beranjak dari kasurnya untuk duduk. Rambutnya tampak berantakan karena baru saja berbaring, tapi dia tidak peduli. Matanya masih terkunci pada foto yang diunggah oleh Zaskia. Ada dua wanita dalam foto itu. Barra tahun salah satu yang berponi adalah Zaskia dan wajahnya pun terlihat jelas. Namun, siapa wanita yang bersama Zaskia itu? Wajahnya tertutup ponsel, tapi entah kenapa jantung Barra jadi berdegup kencang sekali. Rambut panjang yang terurai itu mengingatkannya pada seseorang. Wanita itu tidak mungkin Lina, 'kan?



Sebenarnya Barra tidak perlu repot-repot merasa gundah, dia hanya perlu menuju akun yang ditandai oleh Zaskia pada foto itu. Tapi entah kenapa rasanya berat sekali, Barra sampai menggenggam ponselnya dengan dua tangan. Detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi, sampai telunjuknya ikut bergetar saat akan menuju akun dengan nama pengguna yang terlihat asing. Tidak ada nama lain pada profilnya, hanya ada sedikit foto, dan tidak ada yang menunjukkan wajah si pemilik akun. Tapi yang benar-benar membuat Barra terkejut adalah unggahan pertama akun tersebut.


Foto kucing yang pernah dia kirim ke Lina, ada pada unggahan pertama akun tersebut. Diunggah lima tahun lalu. Barra tidak salah lagi. Kali ini dia terlalu yakin, hingga tidak bisa berkata-kata, Barra sendiri tidak tahu harus bagaimana. Karena akhirnya, setelah lima tahun lamanya, Barra kembali menemukan wanita itu. Serpihan kecil yang mampu menarik kembali harapan Barra ke permukaan.



morningsun, bolehkah Barra berharap?


• To Be Continue •