Something About First Love

Something About First Love
•8• A Date



Lina kini sibuk membongkar isi lemari yang kini menjadi satu dengan kakaknya. Beberapa pakaian bahkan sudah tersebar di atas kasur, ada pula yang tergantung dikursi. Setelah menemukan sebuah dress casual milik Elin, Lina memeriksa rasanya di cermin untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Baiklah, jika Elin melihat kekacauan ini, wanita itu pasti terkejut. Tapi Lina tidak punya waktu lagi, dia sudah meninggalkan Barra di ruang tengah terlalu lama.


Ya, Barra menunggu di ruang tengah. Kakinya bergetar naik turun sembari duduk di sofa, kedua tangannya saling bermain tidak tenang, bahkan air mukanya tampak sangat gugup. Tidak diragukan lagi jantungnya berdegup sangat kencang. Walaupun Lina tampak sangat menikmati waktunya, Barra tidak merasa keberatan karena dalam pikirannya kini bukan hanya untuk menunggu. Masalahnya, di dalam rumah yang kosong ini hanya ada mereka berdua. Apa pun yang Barra pikirkan, semua itu hanya membuatnya semakin tidak karuan.


Getaran di kaki Barra berhenti saat terdengar suara pintu terbuka, lantas matanya langsung melirik ke arah sumber suara. Di sana dia melihat Lina ke luar mengenakan midi dress polos berwarna cream yang terlihat sangat cocok dengan wajah cantik wanita itu. Seakan tersihir dengan cahaya dari Lina, Barra sampai membeku pada posisinya, masih duduk dan bersandar di sofa. Pria itu sempat menegak saliva, sementara jantungnya berdegup kencang. Dia hanya menatap Lina tanpa bekedip.


"Kenapa diem aja?" pertanyaan Lina akhirnya membuyarkan lamunan Barra.


Lantas pria itu mengedipkan matanya untuk kembali pada akal sehatnya. Lalu dia menarik napas panjang dan membuangnya sembari bangun dari duduknya, kemudian tersenyum. "Ayo."


Kalau sebelumnya Barra lebih banyak bicara saat mereka ada di dalam mobil, kini pria itu sangat irit bicara. Bukan hanya Barra, Lina juga begitu. Keduanya tampak sibuk menenangkan diri dalam pikiran mereka masing-masing. Walaupun keduanya sudah cukup lama saling mengenal, tapi ini adalah kencan pertama mereka setelah lima tahun lamanya. Diulangi, kencan.


Keduanya tampak berhasil melalui masa kritis itu dengan baik, kini mereka telah sampai ke tempat tujuan. Di sana, Barra membiarkan Lina memilih film. Sebenarnya dia juga tidak peduli, film apa pun yang diputar selama pasangannya adalah Lina, maka itu hari terbaik dalam hidup Barra. Bahkan kini saat keduanya mendapat giliran untuk membeli tiket, Barra hanya memandangi Lina yang terlihat berpikir.


"Mau nonton yang ini?"


"Boleh." Barra bahkan tidak melirik pada film yang ditunjuk Lina. Dia asal mengangguk saja.


"Oke, yang ini ya, Mbak." Lina tersenyum pada petugas tiket, membuat Barra seketika ingin melebur saking terpesonanya.


"Mau duduk di D atau E?"


Kali ini baru Barra melirik ke arah layar yang menunjukkan denah kursi dalam bioskop, itu juga tidak terlalu memerhatikan. Barra malah berkata dengan santai, "Premiere aja."


"Hah? Ngapain?" ujar Lina terdengar panik.


"Kursinya nyaman." Barra masih terdengar santai.


Lagi-lagi Lina lupa kalau Barra kebanyakan duit. Lantas wanita itu segera mengibaskan tangannya tanda tidak setuju. Lina memilih fokus memesan tiket dari pada harus mendengarkan ocehan Barra. Jika Lina belum berubah, dia pasti akan sangat senang dengan usulan Barra. Namun kini situasinya berbeda, sekarang Lina terbiasa menghemat uangnya untuk digunakan pada hal yang lebih penting.


"D aja, Mbak."


Akhirnya kursi paling ujung terpilih, karena memang itu yang tersisa. Walaupun agak bingung karena penolakan Lina, Barra ikut saja, lalu mengeluarkan dompet hendak membayar. Namun tanpa dia sadari, Lina sudah lebih dulu membayarnya, yang mana langsung membuat Barra melebarkan matanya.


"Eh, jangan, Mbak. Pakai ini aja." Barra menyodorkan kartu andalannya pada petugas tiket, sementara Lina menarik kembali lengan pria itu.


"Gak usah, kali ini aku aja." Raut wajah Lina seakan meminta petugas tiket untuk segera memproses pembayaran.


Sementara Barra menatap wanita itu dengan kecewa, Lina malah tersenyum lebar saat dua tiket sudah ada ditangannya.


"Kan aku yang ajak?" protes Barra, saat mereka menuju kursi kosong diruang tunggu.


"Kan aku yang mau?" balas Lina.


Setelah mereka duduk, Barra menghela napas panjang. "Aku jadi gak enak." ujarnya lesu.


"Kenapa?"


"Harusnya aku aja yang bayar."


Lina tertawa kecil, "Haha, kenapa harus gak enak?"


"Ini kan kencan pertama kita." air muka Barra benar-benar tampak lesu, sedangkan Lina malah merasa debaran jantungnya semakin kencang saat pria itu menyebut 'kencan'. Bahkan pipi Lina kini terasa panas.


Lantas Lina segera mengalihkan pandangannya, dan matanya tertuju pada counter makanan. "Kalau gitu kamu yang beli popcorn."


Barra membalas tatapan Lina, kemudian senyumnya naik perlahan lalu mengangguk. "Oke."


"Aku ke toilet dulu ya."


Lina berjalan dengan langkah riang, saat suara seorang pria terdengar menyebut namanya. Tanpa berprasangka, Lina memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara. Seketika itu senyum tipisnya hilang, hati yang tadinya riang kini berubah drastis menjadi sangat kesal bercampur dendam, ditambah saat pria itu mulai mendekat padanya. Tatapan Lina tidak lepas dari mata licik yang sangat familiar itu. Senyum yang terangkat sebagian, dan ekspresi menjijikkan itu hanya milik seorang pria tidak tahu malu, yaitu Darren.


"Gak nyangka gue bisa ketemu di sini. Gue denger lo ilang lima tahun ini?"


"Bukan urusan lo." ujar Lina ketus, lalu hendak pergi, namun Darren sudah lebih dulu menghadang jalan wanita itu dengan tubuh kekarnya.


"Pantesan gue liat Barra di depan. Gue gak salah liat, 'kan?"


Lina diam saja, enggan merespon, dan hanya berusaha kabur dari suasana tak menyenangkan itu. Namun Darren yang memang tabiatnya berengsek, tidak mau melepas Lina begitu saja. Dia terlalu ahli dan menikmati mengganggu orang lain, pria yang kesepian itu.


"Serius lo masih sama Barra? Gila ya! Tolol banget dia masih mau sama lo yang udah jelas-jelas cuma ngincer duit doang."


Lina mengeratkan genggamannya pada tali tas, saat akhirnya mendengar kalimat itu lagi. Kalimat menusuk yang mengubah kehidupan kuliahnya semudah membalikkan telapak tangan. Lina yang matre, Lina yang murahan, Lina yang hanya memanfaatkan Barra, Lina yang tidak pantas untuk Barra, Lina yang tidak tahu malu dan tidak pantas hidup. Lina kembali teringat tatapan orang-orang padanya saat itu. Jijik, merendahkan, angkuh, acuh, Lina kembali terlempar ke masa-masa mengerikan itu.


"Atau jangan-jangan lo sogok dia makanya dia mau sama lo?"


Darren memang ahlinya melempar minyak ke atas api, Lina tahu itu, tapi dia masih terkecoh. Kini dia menatap Darren dengan marah, pria itu merendahkannya untuk kesekian kali hingga tak terhitung oleh Lina. Darren bahkan menaik-turunkan pandangannya pada Lina, dari mata, ke tubuh, hingga ujung kaki, lalu kembali lagi ke mata.


"Haha! Jangan gitu dong liatinnya. Gue cuma seneng aja ketemu temen lama." ujar Darren sembari tersenyum sok ramah, lalu menepuk-nepuk bahu Lina yang segera dihempas oleh wanita itu.


Bukannya menyerah, Darren malah semakin puas saat melihat reaksi Lina yang tampak sangat terganggu. Sayang sekali dia tidak bisa bermain lebih lama, karena seseorang sedang menunggunya.


"Hahaha. Salam buat Barra ya." Darren sempat mendekat ke telinga Lina untuk berbicara setengah berbisik. "Bilang ke Barra, kalau bosen sama lo, suruh jual ke gue."


Seketika Lina merasa tubuhnya lemas, dia sudah terlalu marah sampai tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Wajahnya sudah berubah merah padam, sedangkan Darren hanya terkekeh kecil sebelum meninggalkan Lina yang membeku pada posisinya. Darren tidak berubah, selalu melecehkan Lina dengan kata-katanya yang tajam seperti belati. Lina sudah sangat menahannya semasa kuliah, dia tidak mampu menahannya lagi sekarang. Maka Lina menghabiskan waktu lebih hanya untuk bersandar pada dinding, berusaha meredakan emosinya. Wanita itu berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya.


Kenapa? Kenapa di hari yang harusnya bahagia ini, dia malah bertemu Darren, dan membawanya kembali ke masa-masa kelam itu?


"Pintu teater satu telah dibuka-"


Bersamaan dengan pengumuman itu, akhirnya Lina memberanikan diri untuk melangkah mencari sosok Barra yang sudah menunggunya di depan koridor toilet. Ditangannya sudah ada popcorn ukuran besar dan dua minuman, sementara wajahnya menatap khawatir pada Lina yang mendekat.


"Kamu gak apa-apa?"


Lina sempat menatap Barra sekilas, sebelum teralihkan pada sekitar. Lina menggeleng pelan sambil tersenyum. Perhatiannya tertuju pada banyaknya orang dalam lobby bioskop itu. Perasaannya mulai tidak tenang, seakan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka sambil berbisik satu sama lain. Lina mengernyit saat suara bisikan-bisikan itu terdengar sayup ditelinganya.


"Lina? Kamu yakin gak apa-apa?" Barra benar-benar terdengar khawatir.


Lina segera menggeleng, lalu tersenyum. "Ayo, teaternya udah di buka."


Wanita itu memimpin langkah, sementara yang pria hanya mengikutinya dengan khawatir. Punggung mungil di hadapannya itu tampak sedang menanggung sesuatu yang berat. Dengan perasaan menyesal, pria itu hanya bisa menatapnya, padahal dia ingin sekali mengangkat beban itu bersama-sama sehingga wanitanya tidak perlu terbebani. Mungkin Barra tidak bisa melakukannya sekarang, tapi dia bertekad untuk melakukannya nanti. Nanti, saat Lina sudah mulai terbuka dengannya.


Kursi sudah hampir terisi penuh, saat lampu mulai dipadamkan. Dalam kegelapan itu, Barra sempat menengok pada Lina yang duduk di pojok. Tatapan wanita itu tampak sangat lelah. Film yang Lina pilih ternyata adalah film melodrama. Barra seharusnya menyiapkan tisu terlebih dahulu, sebelum memasuki ruang bioskop. Dia khawatir mungkin Lina akan menangis.


Sepanjang pemutaran film, keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan popcorn yang sengaja dibeli hanya satu, jadi tidak berarti lagi. Barra tidak lagi mengharapkan adegan romantis di mana tangan mereka akan saling bersentuhan saat mengambil popcorn. Pria itu kini sibuk mengkhawatirkan Lina, yang tampak tidak mengubah posisi duduknya sedikit pun. Tatapan wanita itu bahkan tidak berpindah dari layar lebar. Hanya Barra yang sibuk menoleh kesana dan kemari, untuk mengecek keadaan Lina.


Film itu kini mencapai titik *******, di mana para penonton mulai bergantian menitikkan air mata. Alur yang apik, dialog menyentuh, ditambah cinematography yang membuat para penonton terhanyut sangat mampu menggugah hati setiap orang yang ada di sana. Barra bahkan sempat lupa untuk mengecek keadaan Lina, namun dia cepat sadar dan menoleh. Ternyata benar, wanita itu sudah menitikkan air matanya, Barra lihat dengan mata kepalanya sendiri. Entah karena film atau sesuatu yang lain, yang jelas Barra tiba-tiba merasa dadanya nyeri. Pria itu sungguh tidak mampu melihat wanitanya bersedih.


Barra sudah terlanjur tidak menyiapkan tisu, maka pria itu mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap pipi basah Lina dengan hati-hati. Wanita itu sepertinya terkejut karena sempat menjauh untuk melihat tangan Barra yang masih terangkat di dekat pipinya. Tatapan mereka saling bertemu. Dalam ruangan minim cahaya itu, mereka masih bisa menatap satu sama lain dengan perasaan mereka masing-masing.


Lina segera tersenyum lalu mengusap pipinya yang sudah kering, sementara matanya masih berkaca-kaca. "Filmnya sedih." ujarnya pelan sekali, lalu kembali menatap layar lebar.


Barra hanya tertawa kecil. Cukup di-iya-kan saja untuk saat ini. Namun setelah ini, Barra tidak akan membiarkan wanitanya menderita sendirian.


•To Be Continue•