Something About First Love

Something About First Love
•4• Hopeless Hopes



Tidak ada yang bisa menghalangi Barra, walaupun setiap detik yang dirasanya sangat menyiksa, pria itu tetap menunggu sampai jam pembelajaran itu selesai. Mulai terlihat sinar kekuningan yang malu-malu menembus awan, sangat indah seakan mewakili perasaan Barra. Hitungan menit yang terasa menahun bagi Barra akhirnya selesai juga, sorak sorai anak-anak terdengar dari dalam, suara seorang wanita juga terdengar berteriak memperingatkan untuk tidak berlari. Tapi yang namanya anak-anak, mana mau mendengar. Dalam hitungan detik beberapa anak sudah berhamburan ke luar, dan langsung terkejut melihat Barra yang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


"Halo~" sapa Barra, berusaha terlihat menyenangkan. Satu sapaan dari Barra langsung membuat anak-anak itu ribut dengan kekaguman mereka sendiri. Mata polos mereka berbinar, mendongak menatap Barra.


"Wah! Ganteng banget!"


"Tinggi banget kayak tiang listrik!"


"Om artis ya?"


"Om cari siapa?"


Barra menekuk lututnya untuk menyetarakam tinggi dengan anak-anak tersebut. Masih dengan senyum yang melebar dan suara yang dibuat menyenangkan, Barra menjawab, "Om mau cari Bu guru..."


"CIEEEE!!!" anak-anak itu kembali ribut, Barra hanya bisa tertawa.


"Om pacarnya Bu guru ya?"


"Bu guru ada yang nyariin!"


"Kenapa sih ribut-ribut?" sura seorang wanita terdengar mendekat, tak lama setelahnya sang pemilik suara sudah muncul di belakang kerumunan anak-anak, sembari membawa tas jinjing besar yang penuh.


Detik itu juga, tatapan mereka saling bertemu, memicu masing-masing ingatan mereka untuk melihat kilas balik masa lalu. Saat mereka saling menatap, berbincang, tertawa, menangis, bahkan saat mereka hanya bisa menatap punggung masing-masing tanpa menyapa. Barra mendongakkan kepala, menatap seorang wanita yang selama ini dia rindukan. Meskipun wanita itu tampak terkejut, bahkan bibirnya terkatup tanpa bisa berkata-kata, namun Barra tetap tersenyum, menyapa wanita itu dengan hangat layaknya teman lama yang pernah saling mengisi kisah.


"Ciee! Bu guru pacaran!" seru salah satu anak yang akhirnya mampu menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Eh, ayo pulang semua! Nanti dicariin loh!" ujar wanita itu, berusaha membuat anak-anak tersebut menjauh. Agaknya wanita itu lumayan malu karena digodai oleh bocah kemarin sore. Tapi yang namanya anak-anak, masih saja bersorak-sorai walaupun kakinya berlari pulang, menuruti perintah Ibu guru.


"Cieee."


"Dadah Om!"


"Dadah Bu guru!"


"Dah!" Barra bangun lalu melambaikan tangan ke arah anak-anak yang berlari menjauh. Kemudian segera kembali menatap wanita yang dia tunggu-tunggu. "Hai, Lina." sapanya dengan bibir tersenyum.


Wanita yang dipanggil Lina itu, tidak membalas sapaan pria di hadapannya. Air mukanya masih tampak terkejut, namun juga terlihat sedikit gugup dari sorot matanya. Lina menggantung tas jinjingnya dengan dua tangan. "Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Lina.


Menyadari barang bawaan Lina yang tampak berat, Barra meraih tas jinjing wanita itu dengan inisiatifnya sendiri. Jemari mereka saling bersentuhan memberi sengatan hangat yang memicu detak jantung keduanya semakin tak karuan. Berbeda dengan Lina yang langsung mengangkat tangannya karena terkejut, Barra malah tersenyum senang dengan sentuhan kecil itu. "Aku bantu bawa ya." ujar Barra.


"Gak usah, biar aku aja."


Barra menyembunyikan tas jinjing itu ke belakangnya, sebelum Lina sempat mengambilnya kembali. Dengan jarak keduanya yang semakin dekat, Barra mencari sorot mata Lina untuk menatapnya dengan teduh. Bibirnya masih melengkung, jangan harap senyum itu bisa luntur. "Apa kabar?" tanya Barra.


Lina mundur selangkah, dia tidak berani membalas tatapan Barra. Padahal pria itu sibuk mencari sorot matanya, namun Lina selalu mengalihkan pandangannya. Jantungnya sudah berdetak tak karuan, dia tidak mau debarannya semakin parah dan semakin menyakitinya. "Kenapa kamu bisa ke sini?"


"Gak seneng ketemu aku?" Barra masih mencari sorot mata Lina yang sibuk menghindarinya. Barulah kali ini dia tersadar, senyumnya mulai pudar. Apa pun yang dia harapkan sejak penantiannya bertemu Lina, seketika runtuh perlahan. "Lina... kenapa gak mau liat aku?" suaranya melemah.


Lina menghela napas sekali, ternyata dugaannya salah. Dia tidak perlu menatap lurus ke arah Barra agar jantungnya berdenyut nyeri. Bahkan hanya dengan mendengar suara Barra yang melemah, Lina sudah merasa nyeri tepat di dalam dadanya. Suara itu persis seperti bertahun-tahun lalu, saat Barra menanyakan tentang perasaan Lina sesungguhnya. Lina masih ingat setiap kalimat yang diucapkan Barra, bahkan dia ingat bagaimana dia berbohong pada setiap jawabannya.


Wanita itu tidak tahu harus bagaimana, dia hanya ingin kabur, dan menghilang seperti lima tahun lalu. Satu hal lagi yang tidak disadari wanita itu, ternyata hatinya masih pula menyimpan rasa pada pria di hadapannya. Ternyata Lina merasa pelariannya selama lima tahun ini sia-sia, jika kini saat Barra ada di hadapannya, dia kembali jatuh sejatuh-jatuhnya. Waktu ternyata tidak bisa menyembuhkan Lina, bahkan Barra.


"Biar aku bawa tasnya." Lina mendekat untuk mengambil kembali tas jinjing dari tangan Barra. Sementara pria itu mundur selangkah untuk menjauh, mencegah Lina melakukan niatnya.


Lina menghela napas untuk kesekian kali, lalu menegak saliva sekali, menyiapkan diri untuk membuat pria itu menjauh. Lalu dia menatap lurus ke arah Barra. "Terserah kamu tau lokasiku dari mana. Tapi, harusnya kita gak ketemu lagi, Barra." ujarnya tegas, walaupun tubuhnya kini seakan tercabik-cabik oleh sesuatu yang entah apa itu, mungkin karena dirinya sendiri.


Kali ini Barra yang menghela napas, kecewa. Bahkan setelah lima tahun berlalu, Lina masih ingin menggunakan cara yang sama untuk membuatnya menjauh. Sekarang Barra tahu, dia bisa melihat isi pikiran Lina hanya dengan menatap sorot mata itu. Tatapan yang sama seperti saat wanita itu berbohong padanya. "Masih mau pakai cara yang sama?" suara Barra terdengar kecewa. Sungguh, Barra sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Lina pun terkejut, merasa dikuliti karena Barra berhasil membaca pikirannya, dia lantas mengalihkan pandangannya dengan cepat. Lina merebut paksa tas jinjing yang memang miliknya, untuk mencoba kabur dari Barra. "Kembalikan tasku." ucapnya datar, lalu berjalan mendahului Barra.


Barra menyusul Lina, kembali merebut tas jinjing itu. "Aku yang antar."


Lina merebutnya kembali. "Aku pesan taksi."


Barra meraih tali tasnya, tapi tidak menariknya, karena Lina juga menariknya kuat. Barra menahan tangannya, sehingga Lina tidak bisa merebut tas itu lagi, lalu dengan terpaksa menatap Barra tepat pada kedua matanya. "Please. Seenggaknya biarin aku antar kamu." pinta Barra dengan sangat. Lina bisa tahu hanya dengan menatap sorot mata Barra.


Lina tidak berniat melepas genggamannya pada tali tas, namun saat matanya melirik pada pergelangan Barra, Tiba-tiba genggamannya melemah. Di tangan kiri pria itu, Lina melihat sebuah gelang tali yang sangat familiar baginya. Ingatannya kembali terlempar jauh ke lima tahun lalu, saat dirinya membuat gelang itu sembari memikirkan pujaan hatinya. Gelang itu sudah tampak pudar dan lusuh, namun Lina bisa tahu dalam sekali lihat, itu memang gelang pemberiannya. Setelah beberapa detik termenung, akhirnya Lina kalah. Dia melepas genggamannya pada tali tas, membiarkan Barra membawakan tas jinjing itu.


Barra akhirnya bisa bernapas lega. Dia jalan mendahului Lina, sementara wanita itu membuntutinya. Tidak ada yang bicara, bahkan sampai keduanya masuk ke dalam mobil.


"Habis ke luar dari sini, ke arah mana?" tanya Barra, berusaha memecah keheningan mereka.


Namun tampaknya Lina tidak mau bekerja sama. Wanita itu malah mengutak-atik layar dashboard mobil, mencari alamat rumahnya melalui GPS, dan violla, suara robot terdengar nyaring di antara keheningan mereka. Mau tidak mau, Barra hanya bisa menghela napas pasrah, walaupun suasana hatinya sudah sangat hancur. Akhirnya keduanya hanya menghabiskan waktu di perjalanan sembari mendengar suara robot dari GPS yang menentukan arah. Mereka berdua benar-benar menutup mulut rapat-rapat.


"your destination is on-" Barra segera mematikan suara robot itu yang semakin membuatnya kesal.


"Lina, tunggu!" seru Barra, menghentikan Lina yang sudah siap-siap untuk turun. "Aku boleh tau kabarmu lima tahun belakangan ini?" tanyanya.


Lina masih tidak mau buka suara, dia hanya menunduk menatap kedua tangannya dipangkuan.


"Aku gak baik-baik aja." lanjut Barra, suaranya terdengar lirih. "Setelah baca suratmu, aku cari kamu ke mana-mana. Aku bahkan ke rumahmu tapi kamu udah pindah. Aku berusaha kontak Zaskia tapi gak ada hasil. Aku telepon kamu ratusan kali padahal aku tau nomormu gak aktif. Semua sosial mediamu hilang. Aku kacau sekali, Na."


"Aku kacau sekali sampai aku capek. Aku nyerah. Aku berusaha ketemu orang lain, berharap aku bisa sembuh. Tapi yang aku liat selalu kamu. Gak peduli sesempurna apa mereka, aku bisa apa kalau cuma mau kamu?"


Bukan hanya Barra, Lina juga merasakan tubuhnya tercabik-cabik. Apalagi setelah mengatahui kepergiannya malah memberi luka pada Barra. Wanita yang hatinya hancur itu berusaha menahan air mata agar tidak menetes.


"Lima tahun, Na. Selalu kamu."


Lina semakin tertusuk dadanya. "Hidupku baik. Aku bahkan hampir lupa sama kamu. Aku minta maaf, kalau kamu gak baik-baik aja. Tapi lima tahun ini, aku baik-baik aja." dia berusaha keras menahan air matanya.


Mendengar ucapan Lina, Barra tak bisa berbohong, tapi agak kecewa. Sejujurnya, dia berharap Lina juga tidak baik-baik saja, walaupun lebih sedikit dari kadar kakacauan hidupnya. Barra agak kecewa mendengar Lina baik-baik saja.


"Terima kasih tumpangannya." ujar Lina tiba-tiba. Tanpa Barra sadari, wanita itu sudah ke luar dari mobil sembari membawa tas jinjingnya. Barra bergegeas ke luar mobil, menyusul wanita itu.


"Kamu sendiri yang bilang..." Barra meninggikan suaranya, sampai Lina menghentikan langkah lalu memutar tubuh untuk menatapnya. "kalau seandainya kita ketemu lagi, kita harus menyapa seperti teman lama yang pernah berbagi kisah dan tawa."


Lina sudah hampir mencapai pintu gerbangnya, namun kini langkahnya dibuat membeku oleh Barra. Lina tidak menyangka Barra bisa ingat betul kalimat dalam surat lima tahun lalu. Bahkan Lina yang menulisnya, tidak ingat kalimat itu, dan nyatanya dia gagal merealisasikan ucapannya sendiri.


"Aku salah. Aku gak bisa menyapa kamu seperti teman lama." ujar Lina. Air mukanya sangat datar, lantas dia kembali berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tanpa ada kata lagi yang diucapkan.


Barra hanya menatap punggung mungil Lina yang menjauh. Semakin jauh langkah wanita itu, semakin dalam dirasa lubang pada dadanya. Barra tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya untuk saat ini. Tubuhnya terlalu sakit untuk berusaha melakukan sesuatu. Tenaganya sudah terkuras untuk harapan yang sia-sia.


Namun Barra tidak bisa berhenti di sini. Pria itu memilih pergi dari rumah Lina, menenangkan diri agar bisa berpikir dengan jernih soal langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Barra sudah bertekad, dia tidak akan menyerah.


•To Be Continue•