Something About First Love

Something About First Love
•5• Hitting On Someone



Barra yang sekarang, bukan lagi Barra yang dulu. Kalau dulu dia hanya bisa menerima keadaan dengan pasrah, kini Barra bertekad untuk memperjuangkan perasaannya. Maka dari itu, dihari Minggu pagi yang dingin ini, Barra sudah nangkring di depan pintu gerbang Lina. Mobil SUV-nya yang terparkir tampak menghabiskan setengah jalan, tapi Barra tidak peduli. Dia masih setia menunggu seseorang membukakan pintu.


"Permisi~" ujarnya untuk kesekian kali.


Beruntung tak lama setelahnya, seseorang terlihat membuka pintu dengan wajah khas baru bangun tidur. Seorang wanita dengan pakaian tidur lengkap, tampak mengusap ujung mata, membersihkan kotoran yang ada di sana.


"Ya?" wanita itu tidak terlihat antusias, bahkan tampak sangat malas untuk membuka mata. Tapi pemandangan itu malah membuat Barra tertawa. Wanita itu ternyata Lina.


"Hai, Na! Pagi~"


Lina sempat mencerna memutar otak setelah mendengar suara Barra. Matanya yang masih mengantuk itu, memicing agar bisa melihat dengan lebih jelas. Lina lantas melebarkan matanya saat menyadari pria dengan setelan hoodie dan celana jogger itu, adalah Barra. Tanpa basa-basi atau sekedar membalas sapaan pria itu, Lina langsung kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat dengan jantungnya yang hampir meledak.


"Sial!" umpatannya terdengar sungguh-sungguh.


"Lina?"


Dia bisa mendengar suara Barra dari dalam, lagi pula rumahnya tidak besar, jarak pagar dan pintu utamanya juga dekat. Lina mengintip dari jendela, dan melihat Barra masih berdiri di sana dengan wajah kebingungan. Kenapa pula pria itu harus datang sepagi ini? Saat penampilan Lina seperti ini? Lina menatap tubuhnya ke bawah, dia bahkan tidak memakai bra di balik piyamanya. Oh ya Tuhan!


"Permisi!" Barra sepertinya mulai tidak sabar.


Lantas Lina mencolek ujung matanya, membersihkan kotoran yang ada di sana, lalu mengusap pipi hingga ujung bibirnya. Rambutnya yang berantakan disisir dengan jari, lalu berdeham agar suaranya tidak terdengar serak. Lina menghela napas panjang sebelum kembali membuka pintu. Tubuhnya tidak ke luar, hanya kepalanya saja yang muncul dari celah pintu yang terbuka. Tentu saja, masih ada yang harus dilindungi dari tubuhnya.


"Kamu ngapain sih?" Lina terdengar kesal. Namun itu pun tidak membuat Barra mundur.


"Mau ajak kamu naik sepeda! Cuacanya bagus!" ujar Barra riang. Bibirnya melengkung polos, mengingatkan Lina akan masa-masa indah mereka.


Lina langsung tahu apa yang coba Barra lakukan. Bersepeda di pagi hari, benar-benar akan membuat mereka berdua bernostalgia dengan masa lalu. Tapi Lina juga tidak mudah, tentu saat ini dia sedang tidak ingin bersepeda setelah menahan malu karena muka bantalnya.


"Kamu gak liat langitnya mendung?" Lina berkata asal.


"Cerah kok!" Barra mendongak. Saat itu juga terdengar suara gemuruh dari langit yang mulai kelabu. Awan-awan putih yang barusan Barra lihat tiba-tiba saja berubah gelap.


"Loh?" pria itu terdengar tidak terima dengan cuaca yang sangat cepat berubah. Padahal mereka sedang berada di akhir tahun yang sudah pasti menjadi musim hujan. Sepertinya lain kali, Barra harus mengecek ramalam cuaca terlebih dahulu.


"Pulang sana!" jujur saja, Lina agak merasa kesal karena Barra datang tiba-tiba seperti ini. Jadi dia segera menutup pintu, lalu mengintip dari balik jendela.


"Na, tunggu! Aish!" dahi Barra berkerut kesal, bibirnya digigit sedikit, bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia masih berpegangan pada gerbang rumah Lina, saat suara gemuruh mulai terdengar semakin keras. Tak lama setelahnya hujan mulai turun dan langsung menjatuhi tubuh Barra.


Merasa dicurangi, Barra menatap langit tak terima. Namun tetesan air hujan yang awalnya kecil nan lembut, kini berubah semakin besar dan kasar. Barra segera mengenakan topi hoodienya lalu bergegas memasuki mobil. Tangannya mengibaskan pakaian yang basah karena air hujan. Di dalam mobil dia memaki kesal, melihat air hujan yang sudah seperti air terjun, deras sekali. Awalnya Barra berniat menunggu hujan reda, namun dengan keadaan seperti ini tampaknya akan memakan waktu yang sangat lama. Barra tidak menyerah, setelah menentukan langkah selanjutnya, dia pergi dari rumah Lina. Setidaknya untuk saat ini.


Kegagalan artinya keberhasilan yang tertunda.


Barra mengulang kalimat itu dikepalanya hampir puluhan kali. Dia tidak menyerah.


Siang ini, hujan sudah reda, awan kelabu mulai tergantikan dengan yang putih. Meski jalanan masih basah, tidak ada yang bisa menghentikan Barra untuk kembali mendatangi rumah Lina, kali ini dengan motor vespa primavera berwarna hijau kalem. Disebelah tangannya, membawa sebuah goodie bag berwarna merah dengan logo ditengah. Tas itu penuh dengan beberapa bungkus makanan, dari restoran Jepang yang setahu Barra, Lina memang menyukainya.


"Permisi~" Barra mengucapkan kata itu puluhan kali hari ini. Beruntung sekarang tidak perlu waktu lama untuk menunggu, seorang wanita sudah membukakan pintu.


"Ya?" wanita berpakaian santai itu bukan Lina, namun terlihat sangat mirip dengannya. Usianya tampak berkisar antara tengah 30an, sehingga Barra langsung yakin wanita itu adalah kakak Lina.


"Permisi, kak-"


"Oh, gojek ya?"


"Hah?" Barra tak habis pikir. Apakah helm hijaunya terlihat seperti ojek online? Padahal warnanya tidak semencolok itu.


"Buat siapa ya, Pak? Kayaknya gak ada yang pesan?"


'Pak?'


Barra mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung harus merespon bagaimana. Skenario ini tidak ada dalam rencananya. Sudah dikira sebagai ojek online, sekarang dikira bapak-bapak. Barra terlalu kehabisan kata-kata untuk itu.


"Untuk Lina..." akhirnya hanya itu yang bisa dia katakan.


"Lina? Oh, maaf, Pak. Anaknya gak bilang-bilang. Sudah dibayar, Pak?"


'Pak.'


Barra tidak bisa menghilangkan suara itu dari kepalanya, sepertinya akan menghantui seharian ini.


"Sudah-"


Barra belum menyelesaikan kalimatnya saat wanita itu meraih goodie bag yang tampak penuh itu dengan senyum polos, tanpa perasaan bersalah.


"Terima kasih, Pak!"


Sial. Batin Barra.


"Maaf, kak." walaupun sudah terlanjur kacau, setidaknya Barra tidak mau usahanya berakhir sia-sia.


"Tolong bilang makanannya dari Barra. Itu pesan dari pengirimnya."


Wanita itu mengedipkan mata dua kali, lalu bersuara seakan menyadari sesuatu. "Ah!"


Barra jadi berharap, apakah kali ini wanita itu menyadari diri Barra sesungguhnya?


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan. Terima kasih."


Tidak. Wanita itu kembali berbalik lalu menghilang di balik pintu. Barra hampir berteriak untuk menghentikan wanita itu, tapi dia terlalu terkejut. Kini Barra tampak lesu, sembari menghela napas panjang. Mungkin hari ini tidak akan berhasil.


"Oke. Coba lagi besok!" Barra bicara pada dirinya sendiri, kemudian kembali pulang dengan motornya.


•••


Gagal artinya harus coba lagi.


Semangat Barra berapi-api, namun setelah menunggu lebih dari satu jam, tak dapat dipungkiri kantuknya kembali datang. Barra menguap sembari bersandar pada kursi kemudi, kemudian melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 7 pagi. Oh, artinya dia sudah menunggu sekitar satu setengah jam. Barra ke luar dari mobil untuk melakukan peregangan, sekaligus menghilangkan kantuk. Ya, Senin pagi ini, Barra kembali mendatangi rumah Lina. Kali ini dengan kemeja lengan panjang berwarna abu gelap dan celana kain hitam rapi, untuk penampilan kerjanya.


Saat Barra sedikit melakukan pemanasan, terdengar suara pintu terbuka. Pria itu buru-buru mendatangi gerbang untuk melihat oknum yang membuka pintu. Kali ini Barra bisa tersenyum lebar, saat melihat seorang wanita dengan seragam dinas harian berwarna coklat, ke luar dari balik pintu. Tentu saja wanita itu adalah, Lina, orang yang ditunggu-tunggu oleh Barra.


"Pagi, Na!" sapa Barra dengan riang.


Berbeda dengan Barra, Lina malah tampak terkejut. Tak dapat dipungkiri, dia juga lumayan kesal karena lagi-lagi Barra datang tanpa pemberitahuan. Maka, Lina segera mutup pintu rapat-rapat, lalu menghampiri Barra di luar gerbang. Dia juga menutup gerbang rapat-rapat, kemudian menarik Barra menjauh dari gerbang. Keadaan saat ini memang sulit dimengerti, namun Barra malah menikmati genggaman tangan Lina pada pergelangannya. Pria itu tersenyum senang.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Lina setengah berbisik. Wanita itu celingak-celinguk melihat ke sekitar rumahnya, berharap tidak ada yang melihat. Setelah yakin tidak ada yang melihat, dia baru sadar tangannya masih menggenggam pergelangan Barra. Lantas Lina melepas tangannya.


"Mau antar kamu ke kantor." ujar Barra.


"Gak usah. Aku bisa sendiri." Lina hendak meninggalkan Barra begitu saja, namun kini pergelangannya yang ditahan oleh pria itu. Kali ini bukan Barra, tapi dia yang merasakan sengatan hangat ke sekujur tubuhnya. Lina menatap tangan Barra yang menggenggam pergelangannya. Dia pasti bisa mengingat sentuhan pria itu di sana.


"Please? Aku bangun subuh karena gak tau jam berapa kamu berangkat kerja." kali ini Barra memohon.


Lina menghela napas, lalu menghempas tangannya hingga lepas dari genggaman Barra. "Kenapa gak tanya dulu? Malah muncul tiba-tiba kayak gini." ujarnya.


"Kalau gitu..." Barra terhenti saat tangannya merogoh sesuatu dari saku, lalu mengeluarkan ponselnya. "aku minta nomormu ya?" lanjutnya.


Oh iya, Lina lupa dia sudah tidak menggunakan nomornya yang lama. Itu juga karena ingin menghindari Barra. Jika dia memberikan nomornya sekarang, apakah artinya usahanya menghindari pria itu jadi sia-sia?


"Buat apa? Kamu bisa cari tau sendiri kayak waktu kamu cari tau lokasiku."


"Aku mau minta langsung sama kamu."


Lina diam sejenak. Dia masih belum merasa yakin, sehingga dia mendahului Barra untuk masuk ke dalam mobil, tanpa menyentuh ponsel Barra sedikit pun.


Barra tersenyum tipis, sudah menduga respon Lina akan begitu. Dia tidak terlalu ambil hati, lalu ikut masuk ke dalam mobil untuk mengantar Lina sampai kantornya.


Sesampainya di tujuan, Lina bergegas ke luar dari mobil. Namun Barra juga bergegas mengejar Lina.


"Kamu pulang jam berapa? Aku jemput ya?"


Pria itu benar-benar pantang menyerah.


"Gak usah. Aku bareng teman."


Barra baru saja hendak mengusik Lina, saat wanita itu kembali menghampirinya.


"Lain kali gak perlu ke rumahku." ujar wanita itu.


"Kenapa?"


Lina tidak memutar otak mencari alasan sekiranya cukup masuk akal sehingga pria itu tidak mau lagi mendatangi rumahnya. Tapi apa daya, hanya alasan payah yang bisa dia ucapkan seperti, "Mobilmu terlalu besar buat masuk gangku yang kecil." Lina mengangguk pelan, bangga dengan alasan payah itu. Kemudian Lina meninggalkan Barra yang kehabisan kata-kata.


Alasan itu benar-benar payah.


Lina baru menyadari itu, saat keesokan paginya, Barra kembali muncul dengan city car yang tidak menghabiskan banyak tempat. Sekarang Lina yang tidak bisa berkata-kata.


"Cukup, 'kan? Dua mobil bisa simpangan kok!"


Lina menghela napas panjang. Dia lupa Barra kaya raya.


Selasa pagi, Barra juga berhasil mengantar Lina berangkat kerja.


Lina harus menyiapkan dirinya. Karena setelah ini, Barra akan semakin mengerahkan seluruh usahanya.


•To Be Continue•