
Ternyata Barra benar-benar berhenti. Sudah beberapa hari belakangan ini Barra tidak mendatangi rumah Lina. Di akhir pekan, keluarga Lina bertanya-tanya,
"Tumben Barra gak ke sini? Kalian berantem?"
di hari kerja, para koleganya menanyakan hal yang serupa. Bahkan saat dia mengajar sukarela, murid-muridnya juga menanyakan hal serupa. Lina sampai kebingungan bagaimana harus menjawab semua pertanyaan itu, karena sejujurnya dia sendiri juga bertanya-tanya. Kegelisahan yang selama ini dia sembunyikan, akhirnya menerobos ke luar. Apakah Barra benar-benar berhenti?
Sudah seminggu lebih Barra tidak menampakkan batang hidungnya, berkabar juga tidak. Salahkan Lina, karena dia sendiri yang tidak mau memberikan nomornya pada Barra. Sekarang dia sendiri yang gundah dengan hal itu. Akibatnya, Lina jadi memotong tangkai bunga mawar yang awalnya panjang hingga menjadi sependek ibu jari, karena melamun.
"Lina kamu ngapain?!" suara wanita yang lebih tua darinya itu, akhirnya menyadarkan Lina dari lamunan.
"Astaga! Sorry, Kak! Yah, habis tangkainya..." ujar Lina penuh penyesalan.
Kakaknya, Elin, menghela napas panjang. Dahinya mengerut, menyayangkan setangkai bunga mawar merah yang bisa jadi indah jika dirangkai bersama beberapa bunga lainnya. Tapi apa yang mau dirangkai, tangkainya saja habis?
Sabtu pagi ini, Lina membantu Elin dengan toko bunga yang dibuka sejak empat tahun lalu. Setelah permasalahan rumah tangganya, Elin memutuskan bercerai dan membuka sebuah toko bunga kecil-kecilan. Elin memang selalu suka merangkai bunga, berbeda dengan Lina yang hanya bisa menggunting tangkai bunga lalu mengisi wadahnya dengan air.
"Lo mikirin apa sih?" tanya Elin.
"Enggak kok." sahut Lina menyangkal, tapi saat mendengar suara mobil berhenti dia langsung menengok ke luar pintu. Siapa tahu itu mobil yang dia harapkan, lantas menghela napas kecewa, karena kenyataannya tidak begitu.
"Lo lagi nungguin siapa?"
Lina tidak menjawab.
"Barra?"
"Hah? Enggak!"
"Gak usah bohong deh lo! Galau kan lo gak disamperin?"
"Apaan sih, Kak!"
"Yaudah, biasa aja kali?"
Lina nyeringut kesal, lalu kembali melakukan tugasnya.
"Kak..."
"Hm?"
"Gimana cara lo move on dari masa lalu?"
Untuk beberapa saat, Elin sempat menatap adiknya yang tidak balas menatapnya. Wanita yang lebih tua itu, mencerna sejenak pertanyaan adiknya, tidak ingin salah bicara.
"Yah, semua itu dari niat, Lin."
"Niat?"
Elin mengangguk. "Dulu gue juga sulit lepas dari Kevin, mantan suami gue yang brengsek itu. Tapi sekali gue dapet niat, rasanya gue bisa lakuin apa aja. Gue jadi lebih berani buat lepasin dia." ujarnya.
"Kedua, lo harus terima perasaan lo sendiri. Sedih, marah, seneng, itu semua wajar. Semua kesalahan di masa lalu itu juga wajar. Lo itu manusia, bukan malaikat yang gak mungkin berbuat salah."
Lina sempat tercekat saat mendengar ucapan Elin. Tiba-tiba dia merasa seakan dikuliti, karena Elin tampaknya sangat mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. Dan mungkin memang kalimat itu yang dia butuhkan saat ini.
"Ketiga, bersyukur. Lo tau, gue ngerasa lebih bahagia sekarang daripada dulu waktu gue masih banyak duit. Kalau lo bersyukur, hal sekecil apa pun bakal bisa bikin lo seneng. Hal-hal sederhana kayak motong ujung tangkai bunga."
Lina yang baru saja memotong ujung tangkai bunga, langsung menatap Elin sembari tertawa. "Yah, lo emang keliatan lebih bahagia sekarang sih, Kak." ujar Lina pada akhirnya.
"Emang gak gampang. Tapi hidup itu harus dijalani, 'kan? Kesalahan di masa lalu itu pelajaran yang harus lo perbaiki, bukan malah terperangkap di sana. Inget, lo bukan malaikat. Kita manusia biasa."
Setelah mendengar kalimat-kalimat Elin, Lina merasa lebih baik dari sebelumnya. Wanita yang lebih tua itu memang tidak pernah mengecewakan adiknya, selalu bisa menjadi sandaran. Bahkan tanpa Lina menceritakan detil masalahnya, Elin bisa dengan mulus mencapai inti hingga Lina tidak bisa berkata-kata.
Hari itu, Lina banyak memikirkan tentang kalimat-kalimat yang diucapkan Elin. Hingga pada malam harinya, Lina membongkar isi laci meja riasnya dan menemukan sebuah gelang tali berwarna merah muda yang terlihat mirip dengan yang melingkar di pergelangan Barra. Ya, lima tahun lalu, Lina memang membuat dua gelang yang sama dengan warna yang berbeda. Namun Lina sudah lama melepas gelas itu, karena dia pikir bisa melupakan Barra dengan melepasnya. Ternyata dia salah.
Sembari menatap gelang itu, Lina berpikir keras tentang apa yang sebenarnya dia inginkan. Tapi semakin lama dia berpikir, Lina semakin tidak menemukan jawaban. Yang ada dikelalanya hanya Barra, Barra, dan Barra. Kemudian dengan genggaman yang erat pada gelang itu, Lina membulatkan niatnya untuk menerima perasaannya. Mengakui bahwa dirinya masih menaruh hati pada pria itu. Memilih mementingkan perasaannya terlebih dahulu, tanpa memikirkan masa lalu.
Lantas Lina meraih ponselnya untuk mencari sebuah kontak dengan nama 'Barra'.
Ya, Lina masih menyimpannya. Bahkan setelah dia menghilang bak ditelan bumi, Lina masih menyimpan kontak Barra di ponselnya. Dengan sekali hembusan napas, Lina menelepon nomor tersebut, sembari menyerahkan diri pada keberuntungan. Semoga Barra masih menggunakan nomor yang sama. Namun setelah keberuntungannya memihak, bukannya bernapas lega, Lina malah gugup tak karuan saat mendengar nada sambung dari ponselnya.
"Halo?"
Lina langsung melempar ponselnya ke atas kasur, saat suara seorang pria terdengar di ujung telepon. Wanita itu menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut, dia tak menyangka dengan telinganya sendiri. Apakah itu benar-benar suara Barra? Lina kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, untuk memastikan pendengarannya.
"Halo?"
Benar. Itu suara Barra.
"Siapa, Bar?"
Dan suara seorang wanita.
Tut.
Lina segera memutus sambungan telepon itu saat mendengar suara seorang wanita yang sepertinya tak jauh dari Barra. Pikirannya mendadak kosong, untuk beberapa detik, lalu kembali terisi dengan banyaknya pertanyaan seputar suara yang dia dengar.
Kenapa Barra bersama seorang wanita di jam segini?
Siapa wanita itu?
Wanita dengan setelan piyama itu masih termenung dalam pikirannya, saat pintu kamar terbuka dan seorang wanita yang lebih tua masuk melaluinya. Lina segera membuang pikirannya saat Elin memasuki kamar yang mana menjadi milik bersama. Lina berdeham sekali lalu mengambil posisi tidur di ujung, dekat dinding. Dia berusaha bersikap senetral mungkin, sehingga Elin tidak bisa membaca pikirannya lagi. Namun, pikiran-pikiran yang bakalnya menjadi asumsi itu semakin memberatkan Lina. Dia jadi semakin gelisah sampai beberapa kali menghela napas.
"Kenapa lagi lo?" tanya Elin bahkan tanpa melirik adik semata wayangnya.
Lina sempat mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Elin. Berhubung sudah ketahuan, kenapa tidak sekalian saja dia tanya pendapat Elin? Toh, tidak ada ruginya curhat dengan kakak sendiri. Yah, setidaknya kali ini Lina tidak berpikir untuk memendam masalahnya seorang diri.
"Cewek sama cowok lagi bareng dijam segini, itu wajar gak?" akhirnya Lina bertanya. Tubuhnya masih menghadap dinding, membelakangi Elin yang sedang sibuk dengan perawatan malamnya.
"Maksud lo? Ini masih jam 9. Wajarlah." ujar Elin. "Ini maksud lo konteksnya pacaran?" Elin lanjut bertanya, karena memang masih merasa ragu dengan maksud pertanyaan Lina.
"Gak tau."
"Hngggg!" Lina ingin berteriak, tapi mulutnya ditutupi bantal, sehingga membuat suara redam yang lumayan panjang.
Lumayan membuat pendengarnya kesal juga. Elin hanya meringis, menatap aneh ke arah Lina yang sedang membelakanginya.
"HAH!" tiba-tiba Lina telentang, menatap langit-langit. "Gimana kalau itu pacarnya?" tanyanya, entah kepada siapa.
"Siapa sih?"
"Gue barusan telepon dia. Terus ada suara cewek." suara Lina lemas.
"Oh..." sepertinya Elin tidak perlu bertanya, sudah jelas siapa yang dimaksud Lina. Tapi bukannya menenangkan adiknya, kali ini Elin ingin sedikit menggoda Lina. "Bisa jadi."
"Emang dia pernah bilang kalau gak punya pacar?" lanjut Elin, bertanya.
Seketika itu Lina berpikir. Benar juga, Barra tidak pernah mengatakan dengan gamblang kalau dia sedang tidak menjalin suatu hubungan dengan wanita lain. Tiba-tiba Lina merasa bodoh, karena selama ini terlalu percaya diri, untuk berasumsi bahwa Barra tidak memiliki wanita lain. Padahal kemungkinan itu memang ada. Lina jadi semakin gundah gulana setelah mendengar ucapan Elin.
"Iya juga ya... Hnnnggg..."
"Kenapa gak tanya aja langsung?"
"Hah?"
"Tanya aja langsung, daripada lo berasumsi sendiri."
Kali ini barulah Lina bisa merasa sedikit tenang. Memang lebih baik begitu, daripada terjebak dengan prasangka yang tidak pasti. Sehingga untuk saat ini, Lina membuang jauh-jauh asumsinya dan memutuskan untuk bertanya langsung pada orang yang bersangkutan.
Tapi bagaimana caranya?
Apa Lina harus meneleponnya lagi?
Memikirkan hal sederhana yang dibuat rumit itu membuat Lina lelah, sehingga dia tertidur dan kini hari sudah berganti menjadi Minggu pagi.
Pagi itu, Lina masih menatap kontak Barra pada layar ponselnya, menimbang-nimbang. Telepon atau tidak?
"Permisi~"
Tepat saat itu, suara seorang pria yang familiar terdengar di depan gerbang. Lina lantas menegakkan posisi duduknya di sofa ruang tengah, dan mengintip dari balik jendela. Yang benar saja! Barra kini sedang berdiri tepat di depan gerbang. Lina segera bangun dari duduknya untuk merapikan diri, mulai dari rambut, pakaian, dan oh, kenapa dia harus pakai kaus lusuh itu? Lina bergegas mengganti pakaiannya yang lebih layak, sembari menyempatkan diri bercermin, bahkan menyemprotkan perfume. Beruntung Kakak dan Mamanya sedang ke luar, jadi tidak ada yang melihat kekonyolan Lina saat itu.
"Permisi~" suara Barra terdengar lagi, kali ini lebih keras.
Sebelum membuka pintu, Lina sempat menghala napas sekali dan menghitung sampai tiga.
"Kenapa?" tanya Lina ketus.
"Apa kabar?" sedangkan Barra tersenyum seperti biasanya.
Lina tidak mau terlihat terlalu bersemangat, jadi dia berjalan agak lambat untuk membuka gerbang, itu pun sedikit, tidak sepenuhnya.
"Kenapa ke sini?"
Barta mengangkat sebuah tas kertas di tangannya yang tampak penuh. "Aku mau kasih oleh-oleh. Mama mu ada?"
Lina sempat tercekat saat Barra mencari Mamanya. Buat apa pula? Tiba-tiba Lina merasa jantungnya berdegup kencang sekali. Padahal dia tidak tahu maksud Barra, semua itu terjadi karena asumsinya sendiri.
"Gak ada. Kenapa?"
"Oh... Katanya Mama mu suka pie susu? Aku bawa dari Bali."
"Kamu dari Bali?"
Barra mengangguk. "Aku tiba-tiba harus perjalanan dinas. Jadi gak sempat kabarin kamu. Maaf ya."
Lina yang merasa suhu pipinya memanas, lantas mengalihkan pandangannya entah kemana pun, yang jelas bukan ke arah Barra. Jelas sudah alasan Barra tidak mendatanginya belakangan ini.
"Tau dari mana Mama suka pie susu?" tanya Lina, berusaha mengalihkan perhatian Barra.
"Mama mu pernah bilang."
"Kapan?"
"Pernah, waktu ngobrol sambil nunggu kamu."
Lina menyebut dalam hatinya. Bahkan Mamanya sudah mengobrol dengan Barra? Apa maksudnya ini?
Dengan kebingungannya Lina kembali menatap Barra yang menyodorkan tas kertas itu. Lina juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Yah, dia juga mau sih.
"Makasih." ucap Lina setelahnya.
"Hari ini kosong?"
Itu dia, pertanyaan yang sangat bisa membuat jantung Lina mencelos hampir ke luar dari tempatnya. Lina berusaha tidak menatap Barra, dia tidak mau terlihat bersemangat atau apa pun. Maka dari itu, Lina sedikit memberi jeda, sembari membuat suara berpikir, padahal tidak ada yang perlu dipikirkan. Jadwalnya benar-benar kosong hari ini.
"Kenapa?" Lina balas bertanya, karena tidak ingin dipandang mudah.
"Mau nonton? Kita ada janji nonton yang belum ditepati, ingat?"
Kali ini Lina menatap Barra yang tersenyum. Dia ingat, lebih dari lima tahun lalu, saat mereka saling bertukar tawa, sebelum segalanya menjadi salah. Barra benar, rencana itu belum terlaksana hingga kini. Kali ini juga, ingatan masa lalunya kembali secara utuh, yang indah maupun tidak. Tapi ada yang berbeda dari perasaan Lina, dia berusaha lebih menerima masa lalunya. Sepertinya ucapan Elin kemarin berhasil mengubah sudut pandang Lina. Termasuk juga soal asumsi Lina semalam. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk bertanya langsung pada Barra.
Lina menegakkan postur tubuhnya untuk menatap Barra dengan serius. "Kamu selalu ke sini kayak gini, memang gak ada yang marah?"
"Eh?" tiba-tiba senyum Barra luntur. Bahkan alisnya terangkat bertanya-tanya, apakah dia tidak salah dengar?
Barra bukan bocah kemarin sore, dia juga tahu maksud pertanyaan Lina. Dia hanya terlalu terkejut mendengar pertanyaan itu langsung dari Lina. Barra sempat menerawang ke dalam sorot mata Lina, dan dia tidak menemukan keraguan di sana. Wanita itu bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya. Detak jantung Barra langsung tak karuan, bahkan suhu pipinya memanas, telinganya berubah merah padam, namun kemudian bibirnya melengkung lebar sekali.
Barra sempat tertawa, lalu menjawab dengan suaranya yang sangat meyakinkan. "Enggak ada sama sekali."
Lalu Barra tersenyum, sementara Lina menampakkan pipinya yang merona.
•To Be Continue•