Something About First Love

Something About First Love
•6• Past Trauma



Lina benar-benar harus menyiapkan dirinya, karena Barra sudah mulai muncul dalam kehidupannya hampir setiap waktu. Bahkan kini keluarga, hingga koleganya sudah mengenal wajah Barra yang selalu muncul saat waktu berangkat dan pulang kerja. Kakaknya, Elin, sampai merasa tidak enak setelah menyadari dirinya salah mengira Barra sebagai bapak ojek online. Para kolega di tempat kerjanya juga malah menjadi pendukung Barra, tak jarang mereka menyoraki Lina seperti sekarang ini.


"Lina, dijemput tuh!"


"Asik banget sih, tiap pulang kerja dijemput!"


"Sana buruan, kasian orangnya nunggu!"


Biasanya Lina hanya menanggapi omongan-omongan itu dengan senyum canggung, karena, ya memang tidak tahu lagi harus bagaimana. Di halaman depan sudah ada Barra yang sedang berdiri di dekat pos penjaga, sembari berbincang dengan Pak satpam. Entah apa yang mereka bicarakan, namun kelihatannya seru sekali, Lina bahkan tidak berani mengganggu keduanya. Sampai Pak satpam itu sendiri yang menyadarkan Barra akan kehadiran Lina didekatnya.


"Oh, kamu udah ke luar?" lantas Barra menghampiri Lina dengan senyum khasnya yang selalu berhasil mengambil beberapa detik napas wanita di hadapannya.


"Sudah kubilang jangan jemput lagi!" keluh Lina. Dahinya mengernyit, menunjukkan kekesalan.


"Hari ini kamu mau ngajar, 'kan? Aku bawa camilan buat anak-anak." ujar Barra bangga.


Sejauh yang Lina lihat, Barra tidak banyak berubah dari masa-masa kuliahnya dulu. Tatapan, senyuman, hingga kalimat-kalimat yang diucapkan pria itu masih terdengar sangat tulus. Namun, bukan berarti Lina tidak melihat perbedaan. Sekarang, Lina merasa Barra menjadi pria yang lebih agresif daripada sebelumnya. Jika dulu Barra adalah pria yang pendiam dan pemalu, kini bahkan Barra bisa berbincang dengan orang asing yang baru dia temui. Pria itu juga menjadi sangat ahli mengambil detak jantung Lina hingga membuat napasnya tercekat untuk beberapa saat. Untuk beberapa alasan, Lina merasa Barra berubah menjadi lebih menarik.


Bukan hanya mengambil hati keluarga, teman, hingga Pak satpam di tempat kerja Lina, pria itu juga dengan lihai mengambil hati anak-anak kecil yang belajar bersama Lina. Setelah mengatahui jadwal mengajar sukarela Lina, Barra tidak pernah absen datang. Walaupun tidak membantu dalam proses belajar mengajar, kadang dia hanya bermain sepak bola atau kelereng bersama anak-anak di sana. Tak jarang juga dia membelikan camilan seperti sekarang ini.


"Om Barra, saya belum dapat!"


"Om, saya, Om!"


"Kalau mau lagi, bilang ya! Om masih punya banyak!"


Lina tidak tahu Barra bisa seramah itu dengan anak-anak. Melihat pria itu bergaul dengan murid-muridnya saja, sudah sangat membuat Lina senang, hingga tanpa sadar ujung bibirnya naik. Jujur saja, siapa yang tidak akan senang jika diperlakukan seperti itu? Tentu saja Lina senang. Namun, melihat Barra yang masih begitu tulus, malah selalu mengingatkan Lina dengan masa lalunya. Masa-masa saat dirinya menjadi orang jahat yang hanya bisa menyakiti Barra. Masa saat dirinya menjadi perempuan materialistik tanpa perasaan. Masa di mana semua orang menatapnya dengan jijik, karena desas-desus yang tidak mengenakkan. Semua kenangan yang cukup membuatnya trauma kembali hadir, setiap kali sorot mata mereka saling bertemu. Lantas Lina segera melunturkan senyum, saat Barra menatapnya.


Di mobil, dalam perjalanan pulang mereka, Barra tidak henti-hentinya bercerita tentang kehidupannya selama lima tahun belakangan ini. Mulai dari apa yang dia lakukan setelah kuliah, pekerjaan, hingga pertemanannya dengan Adrian, Heru, dan Hera yang masih berlanjut. Terkadang Barra bertanya sedikit tentang kehidupan Lina, tapi wanita itu tidak banyak menjawab. Barra juga tidak mau memaksa, dia memilih untuk menunggu Lina kembali terbuka padanya. Barra tahu tidak ada yang bisa dia dapatkan dengan instan.


Sesampainya di depan rumah Lina, wanita itu tidak langsung turun. "Barra, tolong berhenti antar-jemput aku. Bukan. Maksudku, tolong berhenti. Apa pun yang coba kamu perbuat, tolong berhenti." ujarnya, tanpa menatap Barra. Matanya hanya tertuju pada dashboard mobil yang tiba-tiba menjadi menarik.


"Aku gak bisa, Lina. Maaf, tapi-"


"Kamu bikin aku gak nyaman." Lina memotong kalimat Barra.


Barra tidak terkejut, dia memang sudah memprediksi Lina akan mengucapkan hal semacam itu, entah cepat atau lambat. Hanya saja, Barra merasa ini terlalu cepat, sehingga dia, yah, masih lumayan terkejut mendengarnya.


"Aku buat kamu gak nyaman, ya? Kalau gitu... dikurangi jadi dua hari sekali, ya?"


Lina diam saja. Wanita itu hanya menghela napas, sembari mengusap wajahnya, bingung harus bagaimana dengan Barra yang pantang menyerah.


"Cuma ini yang bisa aku lakuin, Na. Dua hari sekali ya?"


"Kamu cuma bikin aku repot, Bar. Berhenti, sebelum terlalu jauh."


"Aku gak ngerti..."


"Apa yang kamu harapin dari semua ini?"


"Aku cuma-"


"Kita? Gak akan berhasil, Bar. Kamu dan aku itu beda. Buat apa kamu begini kalau ujung-ujungnya gak akan berhasil?"


"Kenapa kamu pikir gak akan berhasil?"


Lina diam. Dia masih tidak mau menatap Barra, sedangkan pria itu sudah menatapnya sejak tadi.


"Masih gak mau liat aku?"


Dengan sikap Lina yang semakin berusaha menghindari Barra, malah semakin membuat pria itu tak gentar mendekati Lina. Firasatnya berkata, Lina juga masih memiliki perasaan yang sama. Jika tidak, kenapa Lina harus menghindarinya? Seharusnya dia hadapi saja Barra tanpa perasaan yang membebani.


"Dua hari sekali, ya." kali ini Barra tidak menggunakan tanda tanya, karena dia membuat penyataan, tanpa menunggu persetujuan Lina.


Sementara itu, Lina hanya bisa menghela napas, lalu hendak ke luar dari mobil saat Barra menyebut namanya.


"Lina... bisa buka laci dashboard-nya?"


Perfume itu adalah hadiah pertama yang diberikan oleh Barra. Saat Lina tidak sadar hatinya sudah jatuh pada pria itu. Ini yang Lina benci. Barra selalu melempar Lina ke masa-masa mereka bersama dulu, tanpa tahu hal itu membuat Lina semakin membenci dirinya. Karena serpihan masa lalu itu bukan hanya sekedar potongan ingatan, namun sebuah klip yang utuh tanpa bisa mengecualikan salah satunya. Lina tidak bisa mengingat kenangan indah mereka tanpa melupakan yang buruk, dan Lina terperangkap di dalamnya.


"Dulu kamu suka wanginya, 'kan?"


Lina tahu Barra benar. Sampai sekarang pun Lina masih menyukainya. Namun karena perfume itu terlalu mahal, Lina biasa membeli produk lain yang wanginya mirip. Semirip apa pun wanginya, tetap tidak bisa mengalahkan perfume sejuta memori itu. Kelopak mata Lina mulai terasa panas, sepertinya dia menatap benda itu terlalu lama.


"Lina?"


Dengan satu panggilan itu, Lina langsung menutup laci dashboard tanpa menyentuh isinya sama sekali, yang mana membuat Barra bingung.


"Aku bilang, cukup, Barra." suara Lina terdengar bergetar. Namun sebelum Barra sempat menghentikannya lagi, wanita itu bergegas turun dari mobil dan menghilang di balik pagar rumahnya, meninggalkan pria itu dengan tubuh yang seakan remuk.


Mengetahui Barra tidak akan menyerah, esok paginya Lina berangkat lebih pagi, sehingga pria itu tidak berhasil mengantar Lina ke kantornya. Sore saat jam pulang kerja juga Lina buru-buru pergi sebelum mobil Barra terlihat di halaman. Alhasil Barra juga kehilangan waktu untuk menjemput Lina. Bahkan Pak satpam sampai merasa tidak enak melihat Barra yang hanya bisa tersenyum pasrah. Sedangkan Lina, berusaha tidak peduli, padahal pikirannya juga bertanya-tanya, apakah Barra datang menjemputnya?


"Lin? Bengong lo?"


Suara wanita itu menyadarkan Lina dari lamunannya. Lina segera tersenyum sembari menggeleng, lalu menyiapkan meja agar wanita itu bisa meletakkan nampan yang penuh dengan makanan cepat saji.


"Gimana? Barra masih belum nyerah juga?" wanita berambut panjang dengan poni itu, menyedot minuman sodanya, sembari menatap Lina dengan penuh tanda tanya.


"Gak tau. Hari ini gue menghindar." ujar Lina, dengan senyum tipis.


Wanita di hadapannya, Zaskia, hanya bisa menghela napas pendek, setelah menyadari ada yang tidak beres dengan sahabatnya.


"Kenapa?" tanya Zaskia dengan segala kesabarannya.


Lina mengangkat bahu sekali, lalu berkata, "Toh, gak mungkin berhasil."


"Kenapa gak mungkin?"


Lina tidak langsung menjawab, sehingga dia didahului oleh Zaskia.


"Gak mungkin berhasil, karena itu pikiran lo." Zaskia memberi jeda. "Lo cuma nyakitin diri sendiri, Lin." lanjutnya.


"Lebih baik gitu, Zas. Lo tau sendiri gue gak pantes buat dia."


Zaskia yang mulai hilang kesabaran, memutar bola matanya malas. "Lo pantes! Bahkan buat orang yang lebih baik dari Barra! There's nothing you're not worthy of!" suara Zaskia terdengar meninggi.


"Zas, gue gak bisa dengan egois ngelupain, kalau gue pernah nyakitin dia! Gue pernah sejahat itu, Zas!" kali ini Lina yang meninggi. "Semakin gue liat dia, semakin gue benci sama diri gue sendiri." lanjutnya, pelan.


"Kenapa lo masih liat ke belakang, kalau lo bisa jalan ke depan sama dia?"


Setelah meluapkan perasaannya, kali ini Lina diam.


"Lo bener. Lo gak pantes buat Barra."


Lina sempat tercekat mendengar ucapan Zaskia.


"Kalau lo masih gak bisa maafin diri sendiri, Barra gak pantes berurusan sama trauma masa lalu lo."


Lina merasa tubuhnya dihujani oleh jarum kenyataan. Apa yang Zaskia katakan benar, dan Lina mengakuinya. Namun entah kenapa rasa sakit itu tiba-tiba menyeruak ke sekujur tubuhnya.


"Cuma lo yang bisa bantu diri lo sendiri, Lin."


•••


Kalamat yang diucapkan Zaskia sangat membekas dalam ingatan Lina. Hingga malam berlalu, Lina masih memikirkan ucapan Zaskia.


Pagi ini, Barra tidak muncul di depan rumahnya, padahal Lina kembali pada jam berangkatnya seperti biasa. Bahkan saat jam pulang kerja, Barra juga tidak muncul. Sedikitnya, Lina merasa lega karena akhirnya Barra menuruti permintaannya untuk berhenti. Sedikitnya lagi Lina gelisah, bagaimana jika Barra benar-benar berhenti? Apakah dia akan baik-baik saja dengan itu?


Zaskia benar, Lina hanya menyakiti dirinya sendiri.


•To Be Continue•