
Sudah hampir memasuki akhir tahun, hujan semakin sering menampakkan diri, seperti sekarang ini. Hujan, jam pulang kerja, dan macet, seperti sahabat sejati yang sepertinya tidak akan pernah terpisahkan. Dan di sinilah Barra sekarang, di tengah-tengah Ibu Kota menunggu jalanan yang bergerak seperti langkah semut. Padahal tujuannya sudah dekat sekali, biasanya pada titik ini kebanyakan orang akan memakai atau mengucap sumpah serapah saking gerahnya, tapi Barra tidak. Dengan santainya dia menikmati lagu-lagu yang terputar di radio mobilnya. Mendengar penyiar radio berbicara juga membuatnya terhibur, sehingga dia tidak merasa sedang sendirian. Barra masih menikmati lagu yang terputar diradio saat ponselnya berdering, menampilkan sebuah nama yang sudah bisa dia tebak sebelum meraih ponselnya.
Heru
"Halo?"
"Di mana ***? Lo bilang otw dari kapan taon!"
Barra sudah mengenal Heru sekian lama, tapi masih sering tertawa mendengar aksen Jawa Timurnya yang bercampur dengan Ibu Kota. "Macet. Biasalah. Emangnya Adrian udah dateng?" tanya Barra.
"Tu anak juga sama aja. Bilangnya otw padahal on the water!"
"Heh... yaudah sabar. Ini aku udah deket kok. Cuma emang bener kejebak macet."
"Yowes! Gue gak masak dulu aja, nunggu lu pada dateng!"
"Yaaa!"
Tuut... tuut... tuut...
Barra menjauhkan ponselnya, menatap telepon yang terputus oleh Heru lalu tersenyum kecil. Barra tidak menyangka pertemanan mereka bisa bertahan hingga detik ini. Barra merasa benar-benar menemukan sahabat yang pengertian, saling mendukung, dan sangat sesuai dengan potongan puzzle untuk melengkapi kehidupannya. Sahabat-sahabatnya sudah menjadi bagian hidup Barra yang tak akan bisa tergantikan.
Setelah sekian lama terjebak dalam kemacetan, Barra akhirnya lolos dan kini sedang memarkir mobilnya di salah satu restoran bergaya vintage dengan halaman yang luas. Begitu Barra masuk, Barra langsung disambut dengan hangat oleh para staff yang terlihat sedang sibuk karena ramainya pengunjung. Barra balas menyapa beberapa staff seperti teman lama, lalu langsung menuju sebuah meja yang sudah dipesan. Di sana sudah ada seorang pria yang menggantung jaketnya di punggung kursi sembari menyeka ujung celana jeans panjangnya yang agak basah, mungkin karena hujan.
"Loh, udah sampai, Yan? Naik apa?"
"Oh, dah dateng lu?" Adrian kembali menyeka celananya yang agak basah. "MRT-lah. Males gue naik mobil." lanjutnya.
"Iya sih, macet gila." Barra menggantung jasnya ke punggung kursi, lalu duduk di sebelah kanan Adrian.
Berbeda dengan Adrian yang hanya memakai kaos santai dan jeans, Barra masih mengenakan kemeja rapih dan celana kain. Wajar saja, Barra memang langsung ke tempat berkumpul mereka tanpa sempat pulang atau sekedar berganti pakaian, jadi dia datang dengan pakaian kerjanya sejak pagi tadi.
"Udah ketemu Heru sama Hera?" tanya Barra.
"Gue cuma liat Hera tadi, lagi sibuk banget kayaknya."
Barra hanya mengangguk mengerti, tidak heran memang jika melihat ramainya pengunjung restoran, apalagi dijam-jam makan malam begini.
"Guys!" seru seorang wanita yang tiba-tiba duduk di seberang Barra. Wanita berambut pendek itu memakai pakaian kasual, terlihat lebih dewasa dari tahun-tahun kuliah mereka dulu. "Sorry barusan agak krodit, pusing gue!" keluh Hera, sembari memijit pelipisnya.
Barra dan Adrian tertawa serentak.
"Udah bisa ditinggal emang?" tanya Adrian.
"Santai, udah gue beresin. Cuma, ck... Heru pasti masih di dapur nih! Bentar ya!" Hera tampak kembali sibuk, karena buru-buru bangun dan pergi lagi.
"Haha! Mereka udah berapa tahun sih nikah?" tanya Adrian setelah tertawa kecil.
"2 tahun. Tahun depan 3." jawab Barra.
"Gak ada bedanya gue liat!" ucap Adrian, sukses membuat Barra tertawa. "Iya gak? Gak ada panggilan sayang kek, apa kek." lanjut Adrian.
"Eh, Heru manggil sayang deh. Bukan 'Hera' juga, 'Istriku' gitu."
"Heru doang anjir. Dia mah cinta mati sama Hera dari jaman orok!"
"Hahaha! Tapi baguslah sekarang mereka nikah."
"Iya... Nikah sama sahabat emang paling enak gak sih?"
"Mungkin... kita udah tau luar dalamnya. Seru diajak bercanda, bisa diajak serius..."
"Kita gak ada sahabat cewek lain apa yak?"
Barra lantas memukul pelan bahu Adrian. "Asisten mu apa kabar? Gak kamu lanjutin?"
"Yaelah, Bar! Masa mahasiswa sendiri gue embat? Ogah!"
"Kasihan. Dia sampai bela-belain jadi asdos loh."
"Lu juga gimana sama Herlina?"
Barra melipat tangannya didada lalu berkata, "Udah selesai."
"Hah! Anjir! Putus lagi lu?" Adrian terbelalak menatap Barra yang hanya tertawa kikuk. "Berapa bulan lu sama dia?" lanjutnya, bertanya.
"Gak tau ya... dua bulan... kurang, mungkin."
Adrian berdecak, lalu menghela napas panjang. "Diputusin kan lu?"
Barra mengangguk sambil tertawa. Tidak ada sedikit pun kesedihan atau penyesalan terpancar dari sorot matanya.
"Coba, kenapa lu kalau pacaran gak pernah bertahan lebih dari dua bulan dan selalu diputusin?"
Barra tampak berpikir, tapi dia tak mau terlalu pusing, jadi buru-buru menggeleng.
"Artinya lu punya masalah, bro."
"Apaan sih!" Barra langsung mengelak. "Masalah apa? Aku gak ada masalah."
Adrian diam saja, dia menatap tangan Barra yang masih terlipat di dada, tak mau lepas, seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin dilihat orang lain. Entah apa yang harus Adrian lakukan, dia juga lumayan kewalahan kalau harus memikirkan Barra yang tidak ada perkembangan sejak lima tahun lalu. Maksudnya soal hubungannya dengan lawan jenis. Adrian tak tahu apakah ucapannya dulu benar-benar akurat. Apakah waktu benar-benar bisa menyembuhkan Barra?
"Ngomongin apa lo berdua?" Heru tiba-tiba datang dengan dua piring steak dikedua tangannya, dan langsung disajikan ke atas meja.
"Wah! Steak nih!" Barra pura-pura tidak mendengar, tidak berharap pertanyaan Heru terjawab.
Tapi Adrian tidak begitu. Dia malah menunjuk Barra dengan lirikan tajam, menjawab pertanyaan Heru, "Dia putus sama Herlina."
"HAH? IYO, BAR?" aksen Jawa Timur Heru langsung keluar.
"Kenapa sih?" tanya Hera yang baru datang, juga dengan dua piring steak di tangannya.
"Ck! Ngapain kamu yang bawa sih? Aku bilang biarin aja. Banyak orang juga yang bisa disuruh!" Heru mengerutkan dahinya, menatap Hera.
Hera berdecih. Sambil menyajikan piring ke atas meja, dia duduk di sebrang Barra. "Yaelah, bawa piring doang. Lebay lo!"
"Berat, sayaaang."
Adrian sudah hampir muntah mendengar suara Heru, sedangkan Barra sudah membiasakan diri, jadi dia hanya tertawa. Setelahnya, seorang waitress menghampiri meja mereka untuk mengisi masing-masing gelas dengan wine.
Hera tidak menggubris suaminya, lantas langsung membuka topik utama, "Kenapa? Barra putus lagi?"
"Iya, diputusin dia!" sahut Adrian, setelah selesai berurusan dengan Heru.
"Oalah, Bar! Udah susah-susah gue cari kenalan dari sepupu gue, putus lagi!" keluh Heru.
"Gue tebak gak sampai dua bulan."
"100 buat Bunda Hera!" Adrian bertepuk tangan.
"Makan guys. Chefnya udah masak tuh." Barra siap-siap untuk makan, kedua lengan kemejanya dilipat setengah. Pisau di tangan kanan, garpu di tangan kiri.
"Hm! Mesti! Mesti ngalihin pembicaraan!" seru Heru.
Adrian melirik pergelangan kiri Barra yang masih mengenakan gelang tali berwarna navy yang sudah tidak terlihat seperti itu, lebih terlihat lusuh dan pudar. Kemudian Adrian menghela napas panjang, lalu berkata tanpa menatap Barra, "Bro, bener-bener ada masalah lu."
Barra tahu Adrian bicara untuknya, jadi dia tertawa, membalas perkataan Adrian tanpa menatapnya juga, "Ku bilang gak ada!"
"Ada!" kali ini Hera ikut bersuara. Dia juga menatap pergelangan Barra sambil menghela napas. Mereka semua yang ada di meja itu, tahu, Barra tidak pernah melepas gelang pemberian Lina sejak lima tahun lalu. Hanya Barra yang tidak mau mengakuinya.
"BTW, Ru... Masakan kamu gak pernah gagal!" ujar Barra, memberi jempol pada Heru, sang juru masak.
"Makin jago lo ngalihin pembicaraan!" Heru hanya meliriknya, lalu memakan makanannya sendiri. "Pokoknya lo jangan minta dikenalin lagi! Awas lo!"
"Aku? Aku gak pernah minta ya! Kalian aja tuh!" protes Barra.
"Dari pada lu nyariin Barra yang gak jelas, mending cariin satu buat gue." kata Adrian sambil melahap makanannya.
"Lo terlalu pemilih! Pusing gue! Mentang-mentang S2 lo!"
"Apa hubungannya bege!"
"Lo sih cerewet. Yang ini lah, yang itu lah!"
"Lo-nya emang gak niat cari kali, Yan." Hera ikut menimpali percakapan Heru dan Adrian.
"Haha! Iya juga. Atau kamu juga ada masalah, Yan." ujar Barra, sembari menyesap wine sedikit.
Lantas Heru tertawa, sampai garpunya jatuh ke piring. Hera langsung memukul lengan suaminya karena membuat keributan di ujung ruangan yang tampak penuh dengan pengunjung kelaparan.
"Makanya, selesaiin dulu masalah lo berdua!"
"Gue gak ada masalah ya, anjir!"
"Mosok seh?"
"Gue tusuk lu, Her. Bawa pisau nih gue."
"Psycho nih anak. Yang, CCTV-nya nyalain." ujar Heru pada Hera yang bergeming, tapi malah membuat Barra membelalak.
"Loh? CCTV-nya mati?"
"Rusak, hehe. Yang di sini doang." Heru menunjuk kamera kecil yang tertempel di ujung langit-langit ruangan.
Barra tertawa kecil seraya menggeleng, mau heran tapi ini Heru. Yah begitulah.
"BTW, kapan sih terakhir kita ketemu? Kayaknya Barra masih belum pacaran sama Herlina." tiba-tiba Hera penasaran. Belakangan ini mereka memang jarang bertemu karena pekerjaan masing-masing. Namun mereka selalu menyisihkan waktu untuk saling bertemu dan bercengkrama, seperti saat ini.
Heru mengangguk, merespon istrinya. "Iya. Makanya aku kaget, yang! Kita kan baru tau dia pacaran sama Herlina lewat chat doang, udah putus aja."
"Kenapa masih bahas itu sih?" protes Barra.
"Lu paling gak jelas, Bar!" balas Adrian.
"Bahas Adrian sama asistennya kek!" Barra protes lagi.
"Udah jelas, pasti di cut sama Ardian."
Adrian yang sudah terbiasa namanya disalah sebut oleh Heru, hanya tertawa miring. "Gue kalau gak ya gak. Jelas di depan. Daripada ribet di belakang."
"That's my bro!"
Kepalan tangan Heru dan Adrian saling bertemu.
"Tapi dia masih jadi asdos lo?" tanya Hera.
"Masih lah. Cuma belakangan ini dia kayak menyibukkan diri gitu, lagi ngurusin seminar."
"Seminar?" kali ini Barra yang bertanya.
Adrian mengangguk, lalu menyesap wine sedikit. "Oh! Gue belom bilang ya? HMJ gue lagi ngurus seminar jurusan. Lo tau siapa salah satu pembicaranya?" Adrian menatap teman-temannya bergantian, lalu tertawa sembari menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. "Zaskia, bro! Haduh!"
"HAHAHAHA!" Heru tertawa paling kencang.
"Enterpreneur muda, Zaskia Anggita! Kebayang gak lu?"
"Anjir? Serius?" Hera ikut tertawa.
Berbeda dengan reaksi teman-temannya, Barra malah berusaha memaksakan tawa. Tentu saja dia terkejut saat mendengar nama itu lagi setelah lima tahun lamanya. Namun, karena mendengar nama itu, pikirannya jadi melayang tepat ke lima tahun lalu. Saat itu Barra berusaha mendapat kabar soal Lina dari Zaskia. Berhari-hari Barra menunggu balasan, sampai akhirnya Zaskia membalas pesannya dengan kalimat yang juga membuatnya berhenti mengharapkan kabar soal Lina.
"Barra, I really-really sorry to say this. Tapi Lina lagi gak mau dihubungi siapa pun, termasuk lo. Dia lagi berusaha memulai lembaran baru. Dia pergi ke tempat yang gak bisa gue bilang ke lo, karena gue mau menghargai keputusan Lina. So, gue harap lo juga menghargai keputusan dia. Sorry banget gue harus bilang gini. Gue juga gak enak kalau harus ngebiarin lo gitu aja tanpa balasan apa pun. Sekali lagi, sorry ya Barra."
Barra masih ingat tiap kalimat bahkan kata yang dikirim oleh Zaskia. Dan ya, jauh di dalam lubuk hatinya juga masih terasa agak nyeri kalau harus mengingat masa-masa lima tahun lalu. Itu dia masalah Barra yang dimaksud oleh teman-temannya. Barra masih terjebak dengan masa lalunya.
"Woy!" Adrian menepuk pundak Barra saat menyadari perubahan suasana pada pria itu. "Mau gue tanyain kabarnya Lina ke Zaskia?" tanya Adrian yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Barra.
"Buat apa?"
"Ya, mana tau lu butuh?"
"Gak perlu!" Barra tertawa, lalu kembali fokus pada makanannya.
"Well, okay." Adrian mengangkat bahu, kemudian ikut fokus pada makanannya.
Meja mereka mulai kembali ramai dengan perbincangan yang kesana-kemari dan semakin asik. Tentu saja Barra ikut bergabung di dalamnya, namun hatinya masih gusar. Sedikit saja dia lengah, pikirannya kembali tertuju pada satu nama, Lina. Tentang bagaimana kabarnya, apa pekerjaannya, atau sedang apa dia saat ini. Maka dari itu, Barra berusaha selalu membuat pikirannya sibuk.
Itu yang selalu dia lakukan, sampai tak terasa lima tahun sudah berlalu.
• To Be Continue •