
"Yan, bisa tolong aku cari tau kabar Lina dari Zaskia?"
"Sure! Anything, Bar. Anything!"
Esoknya, pagi-pagi sekali, Barra langsung menelepon Adrian hanya untuk meminta pertolongan itu. Setelah semalam dia melihat akun, yang dia duga, sebagai Lina, Barra semakin tidak bisa menenangkan pikirannya. Gelang biru navy yang sudah luntur dan lusuh itu kembali melingkar di pergelangan sebelah kirinya. Ternyata gelang itu tak bertahan lama di dalam kantung celana Barra, karena semalam Barra langsung memakainya kembali. Semalam juga, Barra membulatkan tekad untuk tidak melepas gelang itu dan bertekad menemukan Lina. Kali ini, dia tidak akan kabur, dia tidak akan mundur dengan pasrah, dan dia tidak akan menjadi pria pengecut yang tidak bisa menegaskan perasaannya.
"Saya setuju dengan ide promosi Lily. Kita coba ide itu untuk selanjutnya. Ada masukan lain?" tanya Barra pada para anggota timnya, saat memimpin rapat.
"All set!" seru Allen. Bibirnya tersenyum riang, lalu mengangkat kedua alis sambil menatap Barra.
"Oke. Lily tolong revisi proposalnya. Tambahkan masukan dari Allen dan Olive. Saya tunggu hari ini, bisa?"
Lily langsung mengangguk mantap, dengan senyum yang merekah. Ujung bibir Lily hampir mencapai telinga. "Bisa, Pak."
Barra ikut tersenyum lalu berkata, "Okay, good job! Sudah. Silahkan boleh makan siang yang tadi ngeluh laper."
"Saya!" Olive yang paling pertama bangun, karena dia pula yang sejak tadi mengeluh lapar. Olive buru-buru merapikan barang bawaannya untuk berlari ke kantin perusahaan. Barra? Tentu saja dia hanya tertawa melihat tingkah Olive yang semakin hari semakin ada-ada saja.
"Parah banget, gentong! Kagak salam, kagak apa kek." keluh Allen, sembari merapikan kursinya dan kursi yang ditinggal begitu saja oleh Olive. "Saya duluan ya, Pak." ujarnya pada Barra.
Barra mengangguk dengan senyum, membalas salam Allen. Pria jangkung itu bangun dari duduknya sembari merapikan barang bawaan, saat ponselnya tiba-tiba bergetar beberapa kali dalam waktu berdekatan. Barra merogoh saku celananya, dan melihat beberapa notifikasi pesan dari orang yang sama, Adrian.
Deg
Dadanya terasa seakan dihantam sebuah batu besar, saat dia membaca pesan pertama yang dikirim Adrian. Itu baru awalnya saja, apa lagi saat dia membaca keseluruhan pesan dari Adrian, tubuhnya semakin memanas. Barra tiba-tiba merasa bersemangat hampir berapi-api, sampai bibirnya tanpa sadar melengkung lebar sekali. Dia bahkan tidak sadar saat Lily mendekatinya, sampai wanita itu menepuk bahunya pelan, barulah Barra menoleh dan menatap Lily yang kini berdiri di sebelahnya.
"Oh, sorry. Kenapa, Ly?" tanya Barra, sembari menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Matanya yang berbinar cerah menatap lurus ke arah Lily, bibirnya tersenyum lebar. Pria itu tidak berubah, tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya.
Sementara itu, Lily dengan matanya yang juga berbinar, tersenyum malu-malu, bahkan pipinya memancarkan sedikit rona kemerahan dengan lembut. Lily kini terlihat lebih cantik dari biasanya, namun apa gunanya bagi Barra? Pikirannya hanya tertuju pada satu wanita yang membuatnya sulit tidur sejak semalam.
"Saya mau kasih ini buat Pak Barra." ujar Lily malu-malu, lalu menyodorkan sebuah bungkusan berisi cookies coklat dengan hiasan pita yang menghiasi bagian atasnya.
Lily tidak berani menatap Barra, sementara pria jangkung yang berstatus sebagai atasannya itu langsung menerima cookies pemberian Lily tanpa tahu maksud wanita itu sesungguhnya. Lebih tepatnya, Barra tidak mau tahu. Pikirannya masih belum bisa pergi dari isi pesan Adrian yang barusan dia baca. Suasana hatinya juga sedang sangat baik, sampai bibirnya tidak berhenti tersenyum sedetik pun.
"Wah, ada apa nih?" tanya Barra masih dengan senyum yang merekah.
"Saya mau terima kasih, sudah antar saya semalam, Pak."
"Hm?" tiba-tiba senyum Barra luntur perlahan. Akhirnya dia mulai menggunakan otaknya untuk berpikir tentang keadaan yang sedang dia hadapi.
Lily tersenyum kikuk. "Saya buat sendiri, sebagai tanda terima kasih untuk Pak Barra." Lily mengatup bibir setelahnya, begitu menyadari ada yang berbeda dari raut wajah Barra. Pria itu tidak tersenyum lagi, dan hanya menatap cookies di tangannya dengan raut wajahnya yang seakan bertanya-tanya.
Lantas Barra kembali menatap Lily. Wanita itu masih merona dipipinya, kedua matanya tidak berani menatap lurus pada Barra, malah hanya menatap jari jemari yang sibuk dimainkan. Kemudian Barra sadar, wanita yang berdiri di hadapannya kini sedang gugup. Mungkin sangat gugup seperti saat Barra pertama kali berbicara dengan Lina pada masa-masa kuliahnya dulu. Barulah saat itu, Barra menangkap sinyal dari Lily. Dengan segala prilaku Lily, tidak mungkin Barra tidak menyadarinya. Namun kali ini, dia tidak akan melakukan hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tidak akan begitu saja membuka diri pada setiap wanita yang mendekatinya, sementara hatinya masih terkunci dengan satu nama. Barra memegang teguh tekadnya semalam, untuk tegas dengan perasaannya sendiri.
Dengan sekali helaan napas, Barra tersenyum. "Terima kasih banyak ya, Lily. Sebenernya gak perlu repot-repot. Kemarin memang saya yang mau antar kamu, 'kan." ujar Barra.
"Yang ini saya terima. Tapi lain kali, gak perlu kasih sesuatu yang sifatnya pribadi ya." lanjut Barra.
Lily akhirnya mendongak untuk menatap Barra. Wajahnya tampak kecewa, tapi wanita itu tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mengangguk pelan bersama dengan satu helaan napas. "Iya, Pak." ujarnya lesu.
Selama lima tahun belakangan ini, biasanya Barra akan tidak akan merasa tenang setelah membuat seorang wanita kecewa, sehingga dia lebih sering menerima saja perasaan para wanita yang menaruh hati padanya. Namun kali ini berbeda, pria itu malah tersenyum lembut sekali, walaupun perasaan bersalah itu masih ada, Barra memilih untuk memberi batasan yang jelas.
"Makasi ya, Lily. Dan, presentasimu bagus hari ini. Saya tunggu proposalnya ya!" ucap Barra dengan semangatnya yang kembali seperti biasa. Dia berusaha tidak bersikap canggung agar Lily juga tidak merasa terlalu buruk atau malu.
"Baik, Pak..." dan itu dia, Lily kembali tersenyum.
"Seneng lu?"
Belum apa-apa, Adrian langsung bertanya dengan suara ketus khasnya, tanpa salam sapaan lebih dulu. Lantas Barra tertawa, hingga suaranya terdengar oleh pria lain di ujung telepon. "Kamu bilang seminarnya besok?" bukannya menjawab, Barra malah bertanya juga.
"Tadi dia ke kampus nengok gladi, sekalian ada urusan sama panitia. Ya gue ajak ngobrol lah."
"Yan, aku sayang banget sama kamu. Tau, 'kan?"
"Najis lu anjir!"
"Makasi banget, Yan! Makasi banget!"
"Tapi gue penasaran. Kemarin-kemarin lu bilang gak usah. Kenapa tiba-tiba lu mau cari kabar dia?"
Barra memberi jeda beberapa saat sebelum menjawab, "Sebenernya, aku liat instagram Zaskia kemarin."
"Oh, postingannya kemarin?"
Pria jangkung itu mengangguk, walaupun lawan bicaranya tidak bisa melihat reaksi itu. Barra yang sudah berada di halaman kantor, duduk di kursi panjang. "Hm. Aku yakin perempuan satunya itu Lina."
"Itu Lina? Tau dari mana lu?"
Barra tertawa kecil. "Yah, tau aja." ujarnya. Karena kemana pun pria itu melangkahkan kakinya, hatinya akan selamanya mengingat Lina. Detak jantungnya tak pernah berpindah untuk wanita lain. "Aku harus cari dia, Yan."
"Go for it, bro. Gak ada kata terlambat."
"Thanks, Yan. Sungguhan."
"Bukan apa-apa. Gue bahkan gak tanya banyak ke Zaskia. Malah dia sendiri yang cerita ke gue. Kayak..." Adrian diam sejenak. "seolah-olah udah tau kalau gue bakal cari tau soal Lina." lanjutnya.
"Iya? Kayaknya aku juga harus bilang makasi ke Zaskia."
"Atau dia memang mau gue ngasi tau lu soal Lina."
Saat ini Barra merasa semesta benar-benar berpihak padanya. Bahkan orang-orang disekitarnya mendukung dengan cara mereka masing-masing. Maka dengan begitu, tidak ada kata mundur dari Barra. Pria itu akan mencari pujaan hatinya yang sudah menghilang lima tahun lamanya.
•••
Akhir pekan itu, hari di mana seminar digelar, Barra langsung mendapat pesan dari Adrian tepat saat hari hampir menjelang sore. Dengan kesetiaan kawannya, Adrian bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Lina, meskipun dia harus berurusan dengan Zaskia. Adrian bisa melakukan apa saja untuk sahabatnya, maka dari itu Barra sangat berterima kasih karena memiliki sahabat yang terlampau baik. Barra bahkan menelepon Adrian hanya untuk mengucapkan terima kasih sejuta kali.
"Udah, mending sekarang lu samperin dia!" ujar Adrian di ujung telepon untuk menghentikan Barra berterima kasih.
Barra tidak menunggu lagi, dia sudah ada di dalam mobilnya untuk segera tancap gas menuju lokasi yang dikirim oleh Adrian. Jantungnya berdegup kencang, bibirnya tak bisa berhenti melengkung. Jika biasanya pria itu sangat sabar dengan macetnya lalu lintas, sekarang malah tak henti-hentinya menekan klakson. Dengan segala penantian yang ditahan lima tahun lamanya, Barra tak mampu menyembunyikan kegirangannya karena sebentar lagi, hanya beberapa menit lagi, dia bisa kembali melihat pujaan hatinya. Benar-benar melihat wanita itu di hadapannya, bukan khayalan, bukan juga mimpi. Barra benar-benar akan bertemu Lina. Bagaimana bisa dia tidak menantikan ini?
Tidak bisa.
Pria bertubuh jangkung ke luar dari mobil dengan terburu-buru. Walaupun hanya berpakaian kaus oblong putih, celana jogger hitam, lengkap dengan sandal karet, persis seperti pengangguran, namun pria itu ke luar dari range rover putih yang terparkir di sebelah bangunan terbengkalai. Barra segera berlari ke belakang bangunan terbengkalai itu, dan menemukan sepetak bangunan lain yang berdiri dari kayu, beratap asbes, terlihat tidak kokok namun terdengar suara riang dari dalam. Dari sela-sela dinding kayu, Barra bisa mengintip ke dalam ruangan. Di dalam ada beberapa meja kayu panjang, lengkap dengan kursi yang terisi penuh oleh anak-anak berpakaian lusuh. Anak-anak itu terlihat bersemangat, sembari tertawa riang, berlomba menjawab pertanyaan dari seorang wanita yang berdiri di depan.
Rambut panjang wanita itu dikuncir kuda, anak rambutnya keluar sedikit dari kunciran, penampilannya terlihat sederhana, namun senyumnya sangat tulus. Wanita itu sedang mengajarkan penjumlahan sederhana dengan sangat menyenangkan, membangkitkan semangat belajar anak-anak yang ada di sana. Bukan hanya anak-anak yang ada di dalam ruangan, wanita itu juga mencuri perhatian pria jangkung yang mengintip dari luar. Ujung bibir pria itu melebar hampir mencapai telinga, menikmati debaran jantungnya yang berirama indah. Dari sela-sela dinding kayu dan di antara anak-anak yang bersemangat belajar, wanita itu tampak paling bersinar di matanya. Semakin memerhatikan wanita itu, semakin dia jatuh hati.
Barra tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.
"Ketemu!"
• To Be Continue •