
EZRA
"Aku pernah melihat Aster putih yang polos dan bersih, sebelum kemudian layu dan menghitam."
***
Sudah satu minggu Risa di rumah ayahnya, banyak alasan yang kubuat agar bisa segera menemuinya. Kutanyakan segala hal yang berhubungan dengan pertumbuhan anak kami pada Ibu Maya, katanya Risa sangat sehat dan nafsu makanya kembali.
Mungkin ini keputusan terbaik, dan kami memang sama-sama butuh celah untuk memikirkan masalah ini.
Aku jelas tidak akan menyalahkan Risa karna telah membuatku jauh dari anakku, dia adalah ibunya dan kami ingin yang terbaik.
Sama seperti ketika aku memikirkan wanita itu, jahat memang tapi kuakui aku tidak akan pernah bisa menyingkirkan Elsha dalam kehidupanku.
Jika memang dia harus pergi, maka aku hanya ingin memastikan Elsha mendapatkan cinta ibunya kembali. Sejak pertama aku bertemu lagi denganya, aku merasa memiliki kewajiban untuk menjaga wanita itu.
Mungkin orang lain tidak akan mengerti, tetapi rasa sayangku terhadap Elsha sekarang seperti rasa sayangku terhadap seorang adik perempuan yang tidak pernah kumiliki, memang tidak setara jika di bandingkan dengan sosok istri. Tapi dia berarti dengan cara yang kadang tidak semua orang mengerti.
Kami memang pernah menjalin hubungan asmara, aku mencintainya. Dia berharga dalam hidupku samapai sekarang, tapi bukan berarti mengalahkan cintaku terhadap Risa dan anakku. Mereka bukan cuma berharga, mereka adalah hidupku. Duniaku.
Maka dari itu aku merasa memiliki kewajiban untuk membereskan semuanya dengan tenang, supaya tidak menyakiti semua orang. Aku tidak akan meninggalkan Elsha begitu saja, dan aku tidak akan pernah meninggalkan Risa sampai kapan pun.
Bersabarlah Risa, bersabar seperti selama ini. Seperti perempuan yang selama ini ku kenal, kamu adalah tempatku untuk pulang. Aku hanya tidak ingin menyisakan sisa masa lalu yang tak pernah tuntas, aku ingin semuanya menjadi jelas untuk kita semua.
***
Beberapa tahun lalu..
Hujan di penghujung tahun memang selalu menjadi sesuatu yang di rindukan banyak orang, terkadang banyak sekali yang menyimpan kenangan-kenangan mereka dalam setiap tetesnya.
Beberapa orang memakai payung berdua dengan pasanganya, aku tersenyum. Beberapa lagi meneduh di tempat terdekat, dan sama seperti mereka aku pun meneduh. Sudah terlanjur tiba di post Security kantor, tidak mungkin berbalik lagi.
Tapi aku sangat menikmati suasana hujan ini, sangat menenangkan pikiran.
Rasanya terlalu puitis memang, teman-temanku pastinya akan mengataiku banci karna ini.
Tetapi hujan ini memang cukup membantu mengenyahkan segala kepenatan di hari ini.
Seminggu dari sekarang aku akan resmi mengambil alih tugas ayahku di kantor. Kakaku Dimas memilih tinggal di rumah yang di Bandung ketimbang di Jakarta. Sedangkan aku tinggal di Jakarta semenjak SMA. Kakaku itu memilih menjadi seorang abdi negara, akhirnya aku yang berkewajiban meneruskan bisnis ayah kami.
Aku terbatuk saat asap dari sebatang nikotin itu masuk ke hidungku, “Aku benci perokok aktif, sama bencinya ketika harus menjadi perokok pasif!”
Rasanya ingin kutegur, tapi saat melihat sumber yang menyebabkan udara di sekitarku tercemar aku tertegu.
Seorang gadis mungil berambut hitam mengkilat, ia terlihat tak acuh saat aku mengibaskan asap rokok yang ada di depanku.
Ada sesuatu yang familiar dari dirinya, saat kudekati barulah secercah ingatan muncul. Gadis itu adalah teman baikku saat SMA.
Aku menatapnya tak percaya, kami tidak bertemu hanya empat tahun dan dia sudah sangat berbeda dari gadis yang ku kenal saat Sekolah Menegah.
Kutepuk bahunya pelan, “Elsha?”
Gadis itu menoleh kemudian matanya terbelalak saat padangan kami bertemu.
Ia berdecak,”Siapa ya?”
Etah benar-benar tidak mengenaliku atau kah hanya pura-pura, yang pasti aku yakin ada sedikit tatapan terkejut yang menjadi pertanda bahwa sebenarnya ia mengenaliku.
“Kamu tidak mengenali aku siapa?” tanyaku lebih seperti pernyataan.
“Maaf gue nggak kenal lo!” ia berpaling, sepertinya hendak pergi dari post ini.
Tetapi sebelum tubuh mungilnya itu berlari ke arah hujan kutahan lenganya.
“Kenapa kamu bohong!”
Tatapan kami saling bersingungan, kami saling menatap sebelum dia menyentakan cengkramanku ia kemudian berlari-lari kecil kesebrang jalan untuk menaiki bus yang berhenti.
“Elsha,” aku meneriakan namanya di atara hujan, dia menoleh sebentar ke arahku, “Aku tinggalkan kartu namanku pada Security!” aku berteriak padanya sambil tersenyum.
Aku tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan tentangku, karna dia berlalu begitu saja bersama bus yang ia naiki. Sedangkan supirku telah tiba.
Hari ini aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya, gadis yang dulu ku kenal sangat polos dan penyendiri. Gadis itu sepertinya masih penyendiri, tetapi sudah sangat berubah. Aku tidak tahu apa yang telah di lewati gadis itu, aku penasaran seperti apa dia sekarang.
***
Aku telah resmi menjadi CEO mengantikan ayahku, mulai dari seminggu yang lalu. Aku harus menanggung beban yang dulu ayahku tanggung. Dan itu sangat besar. Juga butuh banyak perjuangan aku tidak akan menyia-nyiakan ini.
Aku menatap jarum jam yang ada di atas meja kerjaku, sudah menunjukan tengah malam. Banyak sekali yang harus kukerjakan, bahkan sampai-sampai harus membawa pekerjaanku ke rumah seperti sekarang.
Sudah satu minggu sejak pertemuanku dengan teman lamaku, kupikir dia mungkin memang tidak mengenaliku. Dia masih belum menelpon. Tapi aku sangat yakin kalau gadis itu Elsha, kita pernah satu kelas selama di kelas XII sekolah menengah. Mana mungkin ia lupa padaku.
Dulu sekali aku sangat sering menggangunya, tiap kali dia duduk sendirian bersama bukunya. Gadis kuper yang sering ku jahili.
Entah mengapa hari itu pikiranku di penuhi Elsha, aku terus membayangkan rambut hitam mengkilatnya sangat mencolok.
Ia adalah gadis mungil yang manis, wajahnya sangat lucu. Jenis gadis imut sekolah yang menjadi fantasi banyak anak laki-laki, namun tidak ada yang berani mendekatinya karna terlalu dingin dan penyendiri.
Satu telepon di tengah malam itu mengejutkanku, aku mendengar suara terbata dari sebrang telepon.
Gadis yang berputar-putar di kepalaku akhirnya menghubungiku. Tetapi nada suaranya menjelaskan situasi yang tidak menguntungkan.
“Tolong aku!” ucapnya lirih.
Kusambar jaket jeansku malam itu, sebelum mengambil kunci mobil dan melaju membelah jalanan ibu kota di tengah malam.
Wajahnya kepayangan, aku menghampirinya saat tiba di kantor Polisi.
Dia terjaring rajia narkoba, tadinya aku tidak ingin percaya. Mungkin dia dijebak atau semacamnya. Tapi pikiran itu langsung terpatahkan saat melihat kondisinya yang mengenaskan.
Ia terkulai lemas di dadaku, aku memeluknya erat. Gadis itu mengerang kesakitan, dia sedang sakau.
Dari sanalah hubungan kami berkembang, Elsha di bebaskan dengan jaminan dariku. Ia harus menjalani rehabilitas.
Terkadang ada waktu-waktu di mana kurasa dia menjadi Elsha yang dulu ku kenal saat remaja, polos dan penyendiri. Selalu diam jika ku jahili. Suatu hari dia menceritakan segalanya, yang membuatnya terjerat barang haram itu.
***
Saat Elsha baru menjadi mahasiswi semester 2 di sanalah ke kacauan mulai melanda hidupnya, aku masih ingat air matanya kala dia bercerita.
Kita sedang di apartemenku, malam itu dia bersandar di dadaku kami menatap bulan yang terlihat sangat besar di langit Jakarta.
Ibu dan ayah Elsha memutuskan untuk bercerai kala itu, Elsha bertemu dengan seorang teman yang tidak tepat. Yang membuatnya terjerumus ke dalam dunia gelap, dan saat orang itu menjauh dari kehidupan Elsha dia mulai kesulitan untuk mengatasi candunya.
Tidak ada lagi persediaan yang mampu mengobati kecanduan Elsha, dia di tinggalkan oleh teman-teman serta keluarganya.
Elsha semaki jatuh lebih dalam ke dunia hutam, ia mulai bekerja di club malam untuk biaya membeli obat-obatan.
Kuliahnya berantakan, dan saat itulah akhirnya dia tertangkap polisi dalam keadaan kepayangan. Seperti saat pertama kali aku tahu dia seorang pecandu.
Kartu nama itu menyelamatkanya, kartu yang ku tingalkan. Mungkin saja kami tidak akan memiliki kisah jika kejadian itu tidak terjadi.
***
“Kamu kurus gini,”kataku mentapnya sedih, dia malah tertawa renyah.
“Padahal makanku banyak,” aku tahu ia tidak bercanda.
“Kamu masih make El?”tanyaku malam itu.
Ia merapatkan tubuhnya kurusnya padaku, aku menyambutnya dengan melingkarkan tangan di sekeliling pingangnya.
Gadis itu terisak pelan, “Aku mau berhenti Za, tapi aku nggak bisa. Aku nggak tahan sakit!”
Aku tidak tahu rasanya sakau seperti apa, tetapi setiap kali aku menemukan gadis itu tengah bersimbah peluh dengan tatapan liarnya. Saat tubuhnya sendiri dia tabrakan ke dinding atau apapun di dekatnya, di sana aku tahu lepas dari candu tidaklah mudah.
Bagiku Elsha adalah gadis yang baik, hanya saja terkadang orang-orang tidak mahu mencoba mengerti. Bahwa lepas dari candu itu tidak semudah yang mereka pikir. Dan itu ku saksikan sendiri ketika melihat Elsha.
Aku memeluknya lebih erat lagi, “Kamu harus sembuh El, aku yakin kamu bisa!” kucium rambutnya berkali-kali.
“Aku nggak mau di rehab lagi Za,” ia mengelengkan kepalanya di dalam pelukanku.
“Biarkan aku nolong kamu El,”
Matanya sayu ketika memandangku, ada kelelahan yang mendalam di mata itu.
“Aku nggak mau di rehab sama orang-orang yang nggak kukenal Za, aku malu saat mereka liat aku sakau!”
“Akan kucari cara untuk masalah ini El, akan kucarikan tempat rehab yang privat!”
Malam itu akhirnya aku mengerahkan koneksiku untuk mencari tempat rehab yang nyaman dan khusus, akhirnya aku mendapatkanya.
Elsha dulu telah berhasil rehab. Waktu dulu aku menolongnya di kantor polisi, tapi diam-diam ternyata dia memakai barang haram itu lagi.
Dan kali ini aku yang akan menemaninya rehab, setiap pulang kerja aku menengokinya.
***
Suatu hari di masa tersulit Elsha.
Aku mengejarnya dan berhasil menangkap tubuh kecilnya, dia meronta dan memakiku.
Ia baru berhenti ketika aku menceburkanya dalam air dingin, akhirnya dia berhenti meronta. Elsha menangis di pelukanku.
Mereka menganti pakaian Elsha, gadis itu akan kabur untung saja sempat kuhentikan.
Terkadang ada masa-masa sulit ketika aku melihatnya sedang di landa sakau, dia menatapku dari celah pintu kamarnya yang sengaja di biarkan terbuka untuk mengintip keadan.
“Sakit! Tolong Za, kasih aku kali ini aja!” ia merintih kesakitan.
Sebelum akhirnya berteriak histeris, karna tidak mendapatkan apa yang dia mau. Rasa sakit seakan ikut meninju ulu hatiku melihatnya seperti itu. Maafkan aku Elsha kalau aku menyerah, semua usaha akan gagal.
Sangat sering kulewati moment itu, melihatnya kesakitan. Tetapi aku tidak bisa menolongnya, dia harus sembuh itu adalah tekadku.
***
Elsha akhirnya berhasil melewati masa-masa sulit itu, kami berhasil. Ia di nyatakan bersih, kali ini ia tinggal di apartemenku. Tapi jangan salah paham, itu semua kulakukan demi untuk melindunginya.
Kami tidur di kamar yang terpisah, aku selalu meninjau Elsha setiap harinya. Makanan sehat, olahraga sampai teman-temanya. Aku tidak berusaha mengekang ke bebasan kekasihku, aku hanya ingin melindunginya.
Dan dia terlihat tidak keberatan dan baik-baik saja, kami menjalaninya dengan bahagia. Bahkan mulai menyusun banyak hal untuk masa depan kami.
Hubungan Elsha dan ibunya pun mulai membaik, meski Elsha masih tetap tinggal bersamaku.
Aku merasa tidak pernah ada hari sebahagia hari itu, aku ingin terus melidunginya sampai kapan pun.
***
Waktu itu, kupikir aku berhasil menyelamatkan kekasihku, mungkin aku memang buta. Kupikir dia bahagia, Elsha selalu terlihat seperti itu setiap bersamaku.
Ternyata aku tidak bisa mencegahnya, diam-diam Elsha memakai barang haram itu lagi. Untuk kesekian kalinya, candu itu mengerogoti gadisku.
Aku tak sengaja menemukanya tergeltak dalam kamar mandi apartemen.
Nanapasnya tersengal ketika aku menemukanya, kubopong ia ke arah bak mandi. Dan menguyurnya dengan air dingin dari shower, dia terhenyak dan mencengkram bahuku kuat.
Aku baru membawanya ke kamar ketika kulihat bibirnya mengigil, aku sama sekali tidak berniat jahat padanya saat kubuka baju luarnya dan menganti dengan pakaian kering.
Merebahkanya di atas ranjang, malam itu aku merutuki kebodohanku. Kenapa aku tidak bisa mencegahnya, kenapa aku tidak bisa melindunginya.
Ia terlelap di pelukanku, aku mengusap rambut hitamnya, besama air mata yang perlahan turun berjatuhan di atas rambut gadisku.
***
“Sampai pada suatu hari, aku tidak bisa menolong Elsha lagi. Elsha hamil, aku tidak tahu siapa ayah bayi itu. Maafkan aku Bu Ratih, meninggalkan putri Ibu dalam keadaan seperti itu. Tapi aku ngerasa Elsha sudah tidak perduli lagi dengan siapapun, aku sudah sekuat tenaga menolongnya. Aku dulu sangat mencintai dia, dan inilah jalan yang di ambil Elsha.”
Lega rasanya saat kuceritakan bagaiaman hubunganku dengan Elsha sebenarnya kepada Bu Ratih, wanita paruh baya itu sudah kehilangan ketegarannya. Ia menangis dan bersimpuh.
“Tidak pernah terlitas rasa marah pada Elsha sedikit pun, aku hanya ingin dia menjalani hidupnya dengan baik. Saat dia kecelakaan, aku merasa bersalah, dan merasa ambil bagian dalam kasus itu, harusnya aku tidak meningalkan Elsha.” tuturku.
“Maafkan Ibu nak Ezra, maaf!”
“Aku juga minta maaf, karna tidak bisa menjaga putri ibu lagi. Sekarang aku telah memiliki istri, dan sebentar lagi anak. Aku sangat mencintai mereka, mereka separuh hidupku sekarang Bu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Elsha, tapi aku tidak bisa menjaganya selamanya.”
Tidak pernah pikiranku seringan seperti sekarang, saat untuk ke sekian kalinya aku meninggalkan ruang inap Elsha. Kali ini berbeda, aku mengganti bunga Aster ke sukannya sebelum pergi, dengan lebih ringan tanpa beban.
Elsha berjuanglah.
Maafkan aku, sekarang ini aku ingin menjemput bidadariku. Risa dan anakku, aku sangat mencintai mereka sepenuh hati.
Suatu hari kamu harus bangun, dan melihat mereka Elsha.
Bidadari-bidadariku.
Hidupku.
***
Aku sangat merindukanya, istriku. Sore yang indah bersama senja, ia tengah memetik beberapa sayuran di kebun kecil mertuaku. Kadang aku heran dia sama sekali tidak terlihat kesulitan, dengan perutnya yang kian membuncit.
Kuhampiri dia, mengambil alih keranjang yang ia bawa. Risa terpekik saat melihatku, sedikit terkejut dengan kemunculan tiba-tibaku.
Aku tersenyum padanya, tidak perduli dengan tatapan tajam itu. Dia masih marah padaku, tapi kujamin akan segera berakhir.
Kudekatkan wajah kami, ia tidak menolak saat kucium bibirnya dengan lembut.
“Aku kangen kamu Sa,” kataku serak.
Meski ingin terlihat marah padaku, aku tahu Risa senang. Ia tidak bisa menghentikan semburan merah di pipinya.
Sungguh cantik, bersama semburan senja. Dengan dia yang ada di hadapanku, perempuanku, terlihat cantik dengan perut buncitnya. Bersama siluet kami.
“Aku sangat mencintaimu Risa Asjad.”