
“Tidak ada duka, selain cinta yang mendalam.” -.Risa
***
Perempuan itu menatap dua koper hitam di ruangan keluarga yang tergeletak begitu saja, baru beberapa hari ini merasakan harapan. Tapi ternyata harapan itu semu, setelah menerima telepon dari seseorang, dengan terburu-buru Ezra pergi tanpa kata. Sekedar memberi tahu istrinya agar tidak merasa cemas pun tidak.
Melupakan semua rencana mereka, kata terburu-buru memang tidak pernah berakhir baik, namun yang membuat terburu-buru itu memiliki harapan, tak lain adalah Risa sendiri. Jadi ketika ditanya siapa yang harus menanggung risiko, ya dirinya. Rasa pusing menyentak kepalanya, Risa merebahkan tubuhnya di atas sofa.
***
“Nak sudah waktunya kita melepas Elsha,”
“Ibu jangan bercanda! tunggu saya akan ke sana!”
Ezra tidak bisa berpikir terlalu lama, setelah mendapat telepon dari ibunya Elsha. Lelucon apa itu, yang benar saja mereka ingin melepaskan alat bantu yang sudah menunjang hidup Elsha selama dua tahun. Melepaskannya begitu saja, dari puing harapan.
Ia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, sekalipun itu adalah ibu kandung Elsha sendiri.
Saat melihat dari kejauhan ibunya Elsha terduduk di bangku depan pintu ruangan kamar Elsha, ia mendekatinya lalu mendaratkan bokongnya di sebelah ibunya Elsha.
“Maksud Ibu apa mengatakan ingin menyerah?” kata Ezra tidak bisa menyembunyikan emosinya.
“Apa kamu tidak lelah Za? Apa kamu tidak ingin melanjutkan hidup!” getar putus asa ada di dalam suara itu.
“Tetapi bukan saya atau Ibu yang berhak menentukan kehidupan! Kalau pun Ibu menyerah itu pilihan Ibu, bukan Elsha sendiri!”
Sebenarnya laki-laki itu sangat tidak tega berbicara dengan nada tinggi seperti itu pada Ibu Ratih, namun emosi telah mempengaruhi separuh kesopanannya. Meski setelahnya diliputi rasa bersalah. Saat melihat pundak perempuan tua di sebelahnya itu bergetar, dia menahan tangis. Dengan tidak tega ia memeluk tubuh perempuan paruh baya itu, merasakan kesedihan yang sama. Tangisan Ibu Ratih seperti tangisan maminya, bisa membuat hatinya terasa seperti ditusuk belati.
“Ada apa sebenarnya Bu, sampai Ibu berpikir ingin menghentikan apa yang telah Elsha perjuangkan?”
Kali ini Ezra bertanya dengan nada lembut, sambil mengusap tangan keriput perempuan paruh baya itu.
“Hasil pemeriksaan lab telah keluar dan Elsha mengalami komplikasi, Ibu sudah tidak kuat melihat Elsha menderita. Mungkin memang harus kita yang bertindak.”
Dengan penuh pengharapan ia berlutut di hadapan Ibu Ratih.
“Bu, saya sudah ada di sini. Saya tidak akan pernah dengan sengaja melepaskan Elsha, kita pasti bisa melewati masa sulit ini!”
Wanita mungil berambut hitam, yang ramah. Elsha Mahata sudah tertidur selama dua tahun, dalam kurun waktu dua tahun itulah Ezra yang selalu rutin mengganti bunga yang ada di kamar si wanita. Menemaninya saat masa-masa terburuk, memberikan semangat pada Ibu Ratih. Melihat hari demi hari yang membuat badan sehatnya mengering, sampai tonjolan-tonjolan tulangnya tampak jelas.
Dulu Elsha adalah gadis yang ceria, ia selalu ingat senyuman dan tawa gadis itu. Bahkan ketika senyuman itu akhirnya di rengut oleh kecelakaan yang membuatnya terlelap panjang. Ia meyakini bahwa yang membuatnya bertahan adalah cinta, tapi entah mengapa setelah dua tahun menunggu Elsha bangun, kesadaran muncul, cinta dan rasa bersalah sudah tidak dapat di bedakan lagi di hati laki-laki itu.
***
Mentari telah tenggelam saat Risa terbangun, ia tersadar masih berbaring di atas sofa ruang keluarga, dua koper itu masih di sana, yang menjadi pertanda bahwa suaminya masih belum pulang. Seketika hatinya kembali berdenyut, merasakan sayatan tak kasat mata. Dengan lelah perempuan itu terduduk di atas sofa, ia sudah tertidur selama itu. Rasa pusingnya lalu di tambah dengan mual, ia pasti terlalu lama tidur di sofa yang dingin. Sehingga badanya jadi masuk angin.
Lalu ia menekan sakelar lampu kamar, beberapa saat keterangan kamar itu membuat retinanya tak nyaman. Tiba-tiba saja perasaannya sangat ingin berendam air hangat, merasakan leher dan pundaknya yang pegal. Ditanggalkanlah satu per satu pakaiannya, lalu masuk ke dalam bak mandi yang sudah terisi air hangat. Ia mendesah nyaman saat air hangat menerpa kulit sensitifnya, merasakan rasa pegal itu perlahan hilang.
Rasa kantuk tiba-tiba saja kembali menyerangnya, entah karena terlalu nyaman atau memang ada yang salah dengan dia, yang jelas akhir-akhir ini Risa sering sekali mengantuk, tak jarang juga bisa tidur sampai sehari penuh. Tidak memerlukan waktu lama untuk kemudian membuatnya jatuh tertidur.
Ezra melihat dua koper itu masih ada di sana, tiba-tiba saja dia merasa ditampar oleh kesadaran yang menyerang. Risa, tergambar raut sedih sang istri.
Dengan terburu-buru Ezra membuka pintu kamar tidur terenyak saat tidak menemukan perempuan yang ia cari. Kemudian pada saat membuka daun pintu kamar mandi dia menghela napas lega, melihat risa yang berendam dengan mata tertutup, bisa-bisanya perempuan itu tertidur sambil berendam.
***
Risa terbangun di atas ranjang sudah memakai piama yang biasa ia kenakan, ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu. Kemudian kesadaran menerpanya, Ezra pasti sudah pulang. Namun rasa kecewa masih memenuhi hati, begitu mendengar suaminya memasuki kamar buru-buru ia kembali berlaga tidur.
Pagi harinya suasana hati masih tetap sama, kali ini laki-laki itu yang terbangun lebih pagi. Mereka masih belum membicarakan apa pun setelah gagalnya keberangkatan mereka ke Bali.
“Kita bisa membeli tiket baru untuk pergi ke Bali,” ucap Ezra dengan santainya, Risa sampai ingin mendelik.
“Enggak usah!”
Ezra mengabaikan nada ketus Risa, “Aku sudah terlanjur ambil cuti Sa,” tuturnya.
“Apa?”
“Ke mana kamu kemarin? Apa kamu tidak bisa menghargai hubungan kita yang mulai membaik? Atau kamu ingin menunjukkan padaku bahwa perjodohan kita memang sudah gagal?”
“Kenapa ngomongmu ngelantur!”
“Aku istri kamu, aku berhak tahu! ”jeritnya.
Ezra menatap mata istrinya langsung, dengan sorot tajam. Bibirnya menampakkan garis lurus.
“Justru karena hubungan kita mulai membaik, sebaiknya kamu tidak terlalu mencampuri apa yang tidak perlu!”
Perempuan itu terbelalak, yang membuat rasa bersalah semakin dalam di dada Ezra. Saat meneliti ekspresinya, ia bahkan baru menyadari bahwa wajah perempuan itu pucat, pertanyaan mulai bermunculan dibenaknya. Apa Risa sedang sakit, tiba-tiba saja perempuan itu turun dari ranjang dan bergegas menuju ke kamar mandi dengan tangan menutupi mulutnya.
Tiba-tiba rasa bergejolak itu muncul di dalam perutnya, Risa sampai tidak fokus dengan apa yang sedang Ezra katakan. Ia menunduk di depan toilet, memuntahkan semua cairan bening. Seperti ada sesuatu yang membuat perutnya ingin mengeluarkan semua makanan dari dalam lambung Risa, namun tidak ada yang keluar. Karena jelas perempuan itu belum memakan apa pun.
“Kamu sakit?” tanya Ezra, sambil memijat tengkuk istrinya pelan.
Risa menggeleng pelan, tapi kemudian rasa pusing dan mual yang tidak biasa datang lagi, yang membuatnya kembali memuntahkan cairan.
“Kita ke rumah sakit,” kata Ezra tegas.
***
“Sudah berapa lama kalian menikah?”
“Sekitar hampir setahun, dok,”
“Pasangan baru rupanya,” kata dokter itu tersenyum penuh arti.
“Jadi bagaimana keadaan istri saya dok?”
“Kalian bahkan tidak tahu tanda-tanda awal kehamilan,” kata dokter itu santai, mengusap dagu.
“Hamil?“ucap mereka serentak.
Ezra dan Risa saling pandang, sama-sama terkejut dengan pernyataan dokter itu. Lalu perempuan itu menerawang ke dalam pikirannya sendiri, baru menyadari bahwa masih belum mendapatkan haidnya bulan ini.
“Dari hasil pemeriksaan tadi, istri bapak memiliki tanda-tanda awal kehamilan. Kandungannya di perkirakan baru masuk tiga minggu, masih dalam tahap yang rentan. Rasa mual juga masih terbilang wajar, perubahan hormon pada tubuh menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual. Untuk Ibu Risa sendiri, perbanyak porsi makanan bervitamin dan makan dengan makanan yang seimbang, saya akan berikan obat mual. Dan selamat untuk bapak Ezra, tolong dampingi istrinya dengan baik!”
“Baik dok”
***
“Aku pikir enggak bakal secepat ini, tapi kata dokter tadi bikin aku sadar pas kejadian di rumah Mami, ”gumamnya.
“Kita enggak pake pengaman,” kata Ezra memotong gumaman Risa.
“Harusnya kita bersyukur kan Sa? Bukanya seminggu lalu kamu bilang ingin punya anak?”
Risa membenarkan perkataan Ezra, hanya saja dia tidak bisa mengatakan bukan kehamilan yang membuatnya ragu. Tapi sikap suaminya sendiri, sepertinya reaksinya biasa-biasa saja.
“Kamu enggak senang kita punya anak Za?”
“Apa yang membuat kamu berpikir seperti itu,”
“Ya karena reaksi kamu ini.”
“Sa kapan kamu mengerti kalau semua hal enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata?”
Lalu Ezra merengkuh Risa ke dalam pelukannya.