Risa Wedding's Story

Risa Wedding's Story
TWO



    “Semua orang tidak akan pernah mau memulai cinta, jika mereka tahu bagian terakhir.” Ezra


Tidak ada perubahan yang signifikan, seminggu setelah kepulangan mereka dari Bandung, malam itu Ezra pulang larut malam lagi. Bersama keheningan, Ezra tahu Risa pasti menunggunya, barulah ketika memasuki rumah dia melihat Risa sudah jatuh tertidur di sofa ruang tamu. Menghela napas, dengan perlahan diselipkannya lengan kebawah tubuh perempuan itu, lalu membopongnya ke dalam kamar.


Ezra menurunkan tubuh Risa dengan hati-hati di atas ranjang, lalu menaikkan selimut, dia duduk ditepi ranjang dan mulai melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher, lalu menyambar handuk dan pergi ke arah kamar mandi.


Ezra keluar dengan handuk yang mengantung di pinggang, mandi air hangat cukup bisa membuat otot-ototnya kembali rileks, setelah selesai berganti pakaian Ezra menatap Risa sekilas, mereka saling menatap, Risa rupanya sudah terbangun. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Risa, Risa sebetulnya sudah sangat putus asa dengan hubungan mereka.


Kemudian laki-laki itu duduk di sisi ranjang, masih mengunakan handuk. Ezra duduk membelakanginya perempuan itu kini sudah terduduk, dia terlihat sangat stres, Risa tidak berani membuat suaminya semakin susah.


“Ada masalah?” Tanya Risa akhirnya, meski dengan nada yang hati-hati namun tidak ada jawaban.


Risa menegakkan tubuhnya dan beringsut mendekati Ezra, kemudian mulai membantu memijat kepala laki-laki itu. Risa tahu Ezra juga sama lelahnya, berusaha berprasangka baik saja. Ezra suaminya sendiri, dia harus mulai mempercayai laki-laki itu. Meskipun sadar Ezra menolak menjelaskan, kenapa dia selalu lembur. Tapi tidak ada salahnya mulai lagi dengan lebih positif.


“Gimana enakkan?”kata Risa, sambil terus memijat kepala dan pundak suaminya.


Ezra menghentikan tangan yang memijat tubuhnya, meskipun rasanya sangat menyenangkan dan membuat rasa pegalnya berkurang, ada sesuatu yang harus lebih dulu ia tuntaskan. Risa mengerti apa mau Ezra, ketika laki-laki itu berbalik dan tidak berhenti menatap bibirnya. Jujur dia masih belum terbiasa dengan tatapan sayu itu setiap malam, entah karena alasan cinta atau memang alamiah, yang jelas jantungnya selalu tidak berfungsi dengan normal. Ezra mencondongkan tubuhnya, memberi satu kecupan lembut di bibir tipis Risa. Dan dari satu kecupan itu berlanjut, Risa tahu Ezra harus segera menuntaskan hasratnya.


***


Di luar masih sangat gelap ketika Risa terbangun, jam empat subuh. Risa masih sangat malas untuk bangun, tiba-tiba saja senyumannya mulai merekah, ketika ingat kejadian malam tadi. Bolehkah Risa sedikit berharap, ataukah memang harapan itu telah muncul dalam celah-celah rumah tangga mereka. Semalam Ezra menyentuhnya dengan lembut dan penuh perhatian, tidak biasanya mereka melakukan itu dengan sangat intens dan menyenangkan.


Apakah ini adalah sebuah pertanda, bahwa hubungan mereka mulai berkembang, Risa tidak tahu pasti, yang jelas sekarang bibirnya tidak bisa berhenti melengkung ke atas.


Apalagi saat merasakan tangan kokoh itu masih memeluknya dengan erat, dengan lembut Risa melepaskan pelukan itu, meski dirinya sendiri pun merasa tidak rela. Kemudian menyambar handuk dan berlalu ke arah kamar mandi.


Kalau dulu ditanya, hari apa yang paling Risa sukai pasti jawaban Risa adalah hari minggu, karena waktu itulah dia bisa rehat dari urusan pekerjaan dan bebas tidur seharian di rumah. Jadi sekarang ketika hidupnya sudah dia abdikan sepenuhnya pada pernikahan, lalu misalkan ditanya hal yang sama, jawaban Risa pun masih tetap sama. Kenapa, karena hanya di hari minggulah Ezra benar-benar menghabiskan waktunya di rumah. Mahu selarut apa pun Ezra pulang setiap malam, hari minggunya tetap untuk Risa.


Meskipun mereka sebenarnya tidak banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol, seperti bayak yang pasangan lain lakukan. Tapi kegiatan mereka tiap hari minggu cukup menyenangkan, biasanya Ezra mencuci mobilnya di pagi hari, sedangkan Risa membuat sarapan.  Setelah itu mereka menonton film berdua, dalam keheningan. Atau kadang Risa mengekor Ezra, saat mereka memutuskan untuk lari pagi.


Ya meskipun hubungan mereka tidak pernah benar-benar mencair, mungkin itu disebabkan minimnya komunikasi antara mereka. Lebih tepatnya kebanyakan pembicaraan satu arah dari Risa. Tetap saja itu lebih baik. Hari ini pun sama, mereka memutuskan untuk menonton film di rumah. Ezra sedang sibuk mencuci mobil di luar, sedangkan Risa tengah membuat popcorn untuk acara nonton film mereka.


Sebenarnya itu rencananya Risa, dia pernah mengajukan pada suatu hari pada Ezra. Dan meskipun tanpa suara Risa tahu Ezra setuju, sebab tiap minggu Ezra selalu melakukannya. Maksudnya menonton film menemani Risa.


   Mungkin kalau orang lain melihat mereka sekarang, tidak ada yang menyangka bahwa hubungan mereka cukup dingin. Sebab dari kedekatan fisik di antara mereka setiap harinya memang tidak dingin sama sekali, kecuali dalam beberapa keadaan. Contohnya sekarang, mereka hari ini memutuskan menonton film comedy romance, Ezra duduk di lantai beralaskan karpet tebal. Sedang Risa duduk bersila di atas sofa, dengan mangkuk besar berisi popcorn. Sambil sesekali menyuapkan popcorn ke mulut Ezra. Beberapa kali mereka tertawa melihat adegan lucu, boleh dibilang Risa sangat menikmatinya. Tidak perlu munafik dan Risa merasa berhak diperlakukan layaknya seorang istri.


Hari ini Ezra lebih terbuka, lebih mudah senyum menampilkan lesung pipitnya. Seakan-akan Risa mampu mengapainya, seakan dengan tersirat Ezra akhirnya memberikan lampu hijau pada hubungan mereka. Dan dilihat dari rekam jejak pernikahan mereka, baru kali ini Ezra bersikap seperti itu, Risa jadi penasaran isi kepala laki-laki itu.


Malamnya Risa membuka daun pintu perlahan dan masuk ke dalam kamar, sedangkan Ezra sedang membaca buku. Badannya disandarkan ke kepala tempat tidur. Risa beringsut mendekati Ezra, memandang laki-laki itu sejenak.


“Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan kita Za?”


Risa menatap Ezra dari balik bukunya, lalu Ezra menurunkan buku yang dibacanya.


“Maksudnya?”


“Apa kamu pernah berpikir bagaimana pernikahan kita akan berlangsung sepuluh tahun mendatang, apa kita akan terus menjalani pernikahan yang seperti ini?”


“Aku rasa pernikahan ini baik-baik saja,” jawab Ezra kalem.


“Apa kita bakal punya anak? Apa kamu mahu memberiku keturunan Za?”


Ezra meletakan bukunya di atas nakas, mulai fokus pada perbincangan mereka. Ezra menatap Risa, ada binar lelah juga di mata Ezra yang tidak Risa tahu karena apa?


“Kenapa perempuan itu susah sekali mengatakan apa yang dia mau, tanpa harus memusingkan laki-laki Ris?” tutur Ezra lebih seperti pernyataan, “Kenapa nggak ngomong dengan jelas aja,” tambahnya.


Risa mengerucutkan bibirnya, baru dia sadari selain dingin laki-laki itu juga amat tidak peka. Risa berbalik memunggungi Ezra, tidak meneruskan perbincangan mereka. Sudah terlanjur merasa dongkol, tapi kemudian ada tangan yang menyelinap ke celah pinggangnya.


Satu kecupan mendarat di kepala Risa, “Kalau begitu, kita coba tanpa pengaman,” bisik Ezra, Risa tersenyum senang, kemudian ciuman itu merambat ke tengkuknya. Malam ini hanya untuk mereka berdua.


***


Risa terlahir dari seorang ayah keturunan Jawa dan ibu keturunan Sunda, Risa adalah anak tunggal, dari kecil Risa dibesarkan dengan didikan sang ibu yang menjunjung tinggi peranan seorang suami dalam kehidupan berumah tangga.


Saat Risa masih di sekolah menengah pertama ibunya meninggal, kemudian dia diurus oleh nenek dari ayahnya yang sangat kental akan budaya Jawa, didikan sang nenek juga tak jauh beda dengan sang ibu. Tugas perempuan meliputi dapur, sumur, kasur.


Tapi meskipun begitu Risa tetap hidup dalam banyak kebebasan berpikir, dia tumbuh menjadi perempuan independent. Tapi itu tidak pernah melunturkan ajaran ibu atau neneknya, bagi Risa ajaran kuno mereka bukanlah untuk membuat seorang perempuan payah dan menjadi sampah. Melainkan untuk membuat mereka selalu ingat tempat mereka untuk pulang, ketika mimpi dan cita-cita sudah bukan jadi prioritas hidup lagi. Risa yakin, bahwa Ezra memang tempatnya pulang, ketika cita-citanya menjadi perempuan karier sudah ia genggam bukanya Risa sombong melepaskannya begitu saja. Namun jauh dalam setiap embusan napasnya, Risa tahu dia hanya perempuan biasa yang membutuhkan pasangan di dalam hidupnya.


Dan barulah ketika memasuki masa kuliah Risa tinggal dengan keluarga ayahnya, Ayah Risa menikah saat dia masih berseragam SMA, dengan seorang perempuan melayu berkebangsaan Malaysia. Dari hasil pernikahan kedua ayahnya. Risa memiliki dua orang adik laki-laki kembar, umurnya sudah sekitar 10 tahun.


Risa sangat menyayangi mereka, sejak adik-adiknya ada. Risa merasa ayahnya menjadi lebih bahagia, Risa sama sekali tidak berpikir ingin memiliki anak hanya untuk membuat pernikahan mereka bahagia. Namun harapan itu muncul ketika melihat orang-orang di sekitarnya yang mengharapkan anak darinya, apa lagi yang seorang perempuan yang telah menikah tunggu selain anak. Mungkin bagi Risa adalah cinta dan keturunan dari suaminya Ezra Prawira.


***


Risa menyiapkan pakaian kerja Ezra, sedangkan laki-laki itu masih di dalam kamar mandi. Risa tersenyum saat Ezra keluar dari kamar mandi, tanpa malu Ezra memakai pakaiannya di depan Risa yang sudah semerah tomat. Mungkin ini yang dirasakan pengantin baru, yang tidak Risa paham sebelumnya. Risa memakaikan dasi pada Ezra, kali ini Ezra diam dengan suka rela. Risa menggigit bibirnya pelan, dasi sudah terpasang rapi.


“Ada apa?” tanya Ezra yang membuat Risa terkejut, baru kali ini Ezra menanyainya dulu an.


“Kamu belum terima telepon dari Papa?”


Ezra terlihat berpikir sebelum kemudian memandang Risa dengan sorot yang biasa, datar. Sudah jadi kebiasaan, Risa bahkan sampai gemas menebak-nebak isi kepala Ezra yang susah ditebak.


“Soal bulan madu?” tambahnya.


Kali ini Risa mulai merasa jantungnya berdetak kencang, menunggu reaksi Ezra, seperti menunggu bom waktu yang akan meledak, sangat mendebarkan. Dan kebetulan mereka memang belum sempat berbulan madu, dikarenakan kesibukan laki-laki itu. Mereka belum menemukan jadwal yang pas.


“Sebenernya Papa ngasih dua tiket ke Bali, aku pikir dia udah ngomong sama kamu.”


“Aku udah minta cuti untuk seminggu ke depan,” kata Ezra tiba-tiba, Risa sampai terbengong.


Risa melihat sekilas bibir Ezra berkedut seperti menahan tawa, tanpa banyak bicara lagi Ezra mencium pipi sebelah kanan Risa cepat dan berlalu begitu saja.


Sedangkan Risa semakin syok menghadapi tingkah baru Ezra, dia tidak bisa menahan kembang api yang mulai meletup-letup dalam kepalanya, begitu pun bunga dalam hati Risa yang mulai bermekaran. Apa ini pertanda cinta Risa akhirnya bersambut, bolehkan Risa berharap.


***