Risa Wedding's Story

Risa Wedding's Story
ONE



“Hati itu seperti sungai-sungai yang mengalir tenang. Walau pun tahu ujung dari muaranya adalah laut, namun kita tidak akan pernah tahu apa yang telah dilewatinya untuk bisa bermuara pada suatu waktu.”-Risa


Ezra hanya menyentuh sarapan yang Risa buatkan sedikit.


“Aku berangkat,” ucapnya datar.


“Tunggu, Za,” Risa menyusul Ezra, berlari kecil.


Risa merapikan dasi Ezra dengan serius, menepuk-nepuk bagian kusutnya untuk merapikan kemeja suaminya itu.


“Cukup.”


Ezra kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Risa, meninggalkan Risa di depan pintu rumah mereka. Tanpa basa-basi memasuki mobilnya dan berlalu.


Risa menatap nanar mobil yang dikemudikan Ezra berlalu menjauh, sekali lagi hatinya terasa diremas-remas. Dia hanya benalu dalam kehidupan laki-laki itu, Ezra telah berhasil membuatnya menangis tanpa air mata, Risa pikir cinta akan tumbuh karena terbiasa, Risa pikir perjodohan ini akan berhasil, dan ternyata semua pikiran Risa salah. Hati laki-laki itu telah beku untuknya. Segala yang Risa lakukan adalah percuma, meskipun Risa sama sekali tidak ingin berhenti.


***


Risa selalu ingat sebuah pepatah yang dikatakan ibunya ketika masih hidup. Di masa sulit, saat diawal-awal pernikahan mereka, yang selalu coba ia ingat saat Risa merasa resah akan kelakuan suaminya,


“Risa jika kamu lelah, lihatlah pesawat terbang. Terbang tinggi dan berhasil mempertemukan yang saling merindu, mempertemukan anak dan orang tuanya, mempertemukan istri dengan suaminya, dan masih banyak lagi. Tapi ingat! Jangan memperhatikan cara terbangnya, lihatlah apa yang dilalui pesawat itu, untuk bisa terbang sejauh burung-burung. Begitu banyak prosedur dan prosesnya pun lama.”


Begitulah pepatah ibunya, Risa tahu ada kemungkinan risiko gagal berumah tangga dengan Ezra. Tapi Risa menolak menyerah, karena Risa tidak ingin kalah, perjuangannya tidak seberapa, atau belum seberapa, apa yang Risa lalui belum ada apa-apanya. Ketiadaan cinta yang saling berbalas dalam rumah tangga ini membuat Risa rapuh, namun tidak pernah meniadakan cintanya kepada Ezra. Cinta diam-diamnya.


Bagaimana lagi Risa harus mendeskripsikan Ezra, bagaimana dia harus menjelaskan betapa laki-laki itu pernah dan masih memikat hatinya. Namun yang mengenaskan, dulu maupun sekarang, Risa tidak pernah berhasil membuat cintanya bersambut, setiap hari mereka hanya menghasilkan jarak yang semakin mengangga. Terbentuk dari kebisuan-kebisuan yang mereka lewati dengan tenang, seakan itu adalah surga bagi Ezra namun lautan derita untuk Risa.


Suara denting pendulum jam tidak pernah mengusik Risa, meskipun jarum pendek itu akan melewati tengah malam. Risa masih menunggu di atas sofa ruang tamu, menunggu kepulangan Ezra dengan sabar. Laki-laki itu selalu pulang larut malam, tapi malam ini tidak seperti malam-malam yang lalu. Kekawatiran Risa sudah keluar dari persembunyiannya, batinnya tidak merasa tenang. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Ezra, laki-laki itu menyetir mobil sendiri.


Satu jam kemudian suara mobil masuk ke pelantaran parkir, malam ini Ezra pulang lebih larut dari biasanya, Risa mengintip dari celah jendela. Itu bukan mobil suaminya, tapi Ezra turun dari mobil itu. Kemudian mobil itu pergi berlalu begitu saja, menyisakan Ezra yang sedang berjalan ke arah rumah dengan sempoyongan. Dengan sigap Risa membuka pintu.


Ezra terlihat sangat berantakan, jas yang dia pakai entah tanggal ke mana, dasi yang dia pakaikan sudah dilepas, dua kancing atas kemeja putih Ezra sudah terbuka, dan pakaiannya kusut. Kemudian perhatian Risa hinggap di mata tajam Ezra. Mata itu sayu dan memerah, Risa menangkap tubuh laki-laki itu saat tiba-tiba seperti akan jatuh. Napas hangat Ezra menerpa tengkuknya yang dingin, Risa menahan tubuh yang bobotnya lebih besar dari tubuhnya. Ia memindahkan tangan lunglai Ezra ke atas bahunya dan memapah suaminya itu ke dalam kamar.


Setelah mengunci pintu, Risa kembali ke kamar, Ezra sama sekali tidak mengubah posisinya, masih berbaring telentang. Kedua sepatu masih menempel, dengan sigap Risa membukanya satu persatu. Dibukanya satu persatu kancing kemeja yang telah melekat oleh keringat, tidak akan nyaman tidur dengan memakai kemeja seperti ini. Risa memeras handuk basah yang sudah ia celupkan ke dalam air hangat, mengelap badan atas suaminya. Susah payah Risa memakaikan kaus pada tubuh besar suaminya, Ezra hanya bergumam tak jelas. Setelahnya Risa melepaskan celana panjang kain Ezra, menyisakan celana pendek laki-laki itu dan menaikkan selimut yang ada di bawah ranjang.


Tiba-tiba saja kedua mata tajam Ezra terbuka dan memandangnya sayu, dia masih berbaring. Sedangkan Risa masih menunduk di hadapan Ezra, entah dengan kesadaran atau tidak kemudian tangan kokoh itu merayap ke punggung Risa, mendorongnya dan membawa Risa semakin dekatnya, tiba-tiba Ezra mencium Risa dengan mulut berbau alkohol, Risa terkejut namun tidak bisa melepaskan cengkeraman yang membawanya semakin menunduk, Risa ingin memprotes, namun tidak jadi. Beberapa saat kemudian ciuman itu berhenti, Risa mendengar napas Ezra yang turun naik dengan teratur. Suaminya telah kembali tertidur, dan pikiran Risa mulai melayang-layang.


***


Satu Tahun Lalu..


Risa menatap laki-laki di depanya itu, penampilannya sangat luar biasa memikat dengan cara yang sederhana. Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan kemeja biru yang lengannya sudah digulung, bersama celana hitam panjang dan sepatu pantofel.


Risa yakin kalau laki-laki di depanya baru saja pulang dari pekerjaannya, tapi entah kenapa Risa merasa tak asing pada cara bola mata cokelat itu memandang tajam ke arahnya.


Risa terkejut setengah mati, saat sadar bahwa orang yang ada di depannya adalah Ezra Prawira. Kakak kelasnya saat SMA, adalah orang yang kini ada di hadapan Risa. Sekaligus calon suaminya dari perjodohan bisnis ini, tidak ada sedikit pun lekukan di bibir dengan rahang yang kuat itu. Bibirnya bergaris lurus, tanpa senyum dan datar.


***


Sinar matahari menerobos melalui celah-celah gorden, membangunkan Risa dari tidur lelapnya. Lengan kokoh itu ada di sela pinggangnya, mengungkungnya erat untuk mendekat. Risa menatap wajah damai Ezra yang masih terlelap, biarkan seperti ini. Risa hanya ingin menikmati beberapa saat kedekatan mereka, tanpa harus merasa takut membuat laki-laki ini marah.


Risa selalu suka melihat alis Ezra yang lurus, hidungnya yang mancung dan bibirnya. Juga pipi itu, Risa tahu Ezra punya lesung pipit, meski tidak pernah ia tampakkan semenjak mereka menikah. Tapi senyuman Ezra saat SMA selalu menjadi mataharinya, lesung pipit itu membuat Ezra tampak ramah. Tentu itu bukan Ezra yang sekarang, meski Risa tahu Ezra-nya bukan Ezra yang dulu penuh senyuman dan ramah. Ezra yang sekarang adalah laki-laki sedingin es, berhati beku.


Saat merasa ada pergerakan dari lengan itu, kontan membuat Risa pura-pura kembali tidur. Ezra merasakan ada pergerakan, saat dia terbangun dan menyadari sekelilingnya, dia sadar telah ada di rumah, sekarang Ezra sadar ada Risa dipelukkannya, dan Ezra tahu Risa sudah bangun.


Namun dia pun tidak menghiraukan itu, malah semakin mengencangkan pelukkannya pada perempuan itu. Weekend ini biarkan mereka menikmati pagi lebih lama, Ezra menutup matanya kembali.


Jantung Risa berdetak kencang, Risa bahkan khawatir Ezra bisa mendengarnya. Risa mengucap syukur di dalam hati, merasakan Ezra tidak bergerak lagi. Ternyata suaminya belum terbangun, dengan sangat hati-hati Risa menyingkirkan lengan Ezra, ia harus memulai pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, Risa turun dari atas ranjang.


Pekerjaan paginya, ia mulai dengan memungut pakaian-pakaian kotor Ezra, lalu memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Membersihkan debu-debu yang ada di kamar, kemudian setelah selesai dia berpindah ke ruangan lain.


Setelah selesai membersihkan rumah Risa menuju ke arah dapur untuk memasak, sarapan pagi ini cukup omelet sayur saja. Itu sarapan kesukaan Ezra biasanya, saat mulai memotong-motong sayuran suara langkah kaki mengarah ke dapur, Risa tahu itu Ezra sudah bangun. Tanpa sapaan basa-basi selamat pagi laki-laki itu duduk di kursi meja makan. Risa sudah sangat hafal dengan kebisaan Ezra, sehingga saat laki-laki itu bangun dengan sigap dia menuangkan kopi dari mesin pembuat kopi ke dalam cangkir, kemudian menyerahkannya kepada Ezra.


“Kopi.”


“Em..”


“Tadi pagi ada yang nganterin mobil, kuncinya kutaruh di laci kamar.”


Ezra hanya bergumam sambil menerima secangkir kopi yang Risa sodorkan dan menyesapnya. Dalam hati Risa tersenyum, melihat pakaian yang ia pakaikan kepada Ezra belum diganti. Masih kaus putih dan boxser cartoon, Risa jadi merasa lucu sendiri.


Risa menaruh sepiring omelet ke hadapan Ezra, yang tanpa banyak bicara langsung suaminya lahap. Risa ikut bergabung di meja, dia makan dengan perlahan. Teringat, sebenarnya sedari tadi ingin menanyakan hal ini.


“Semalam kamu dari mana?” tanya Risa.


Ezra menelan sarapannya terlebih dahulu sebelum memandang Risa.


“Bukan urusan mu,” jawab Ezra datar.


“Saya tunggu kamu semalaman.”


Ezra menghentikan kunyahannya pada omelet itu, Risa sempat menyesal bertanya sekarang.


“Saya kan sudah pernah bilang, jangan tungguin saya pulang,”


“Terus kalau saya enggak nungguin, saat kamu pulang lagi dengan keadaan seperti itu. Siapa yang bakal bantu kamu?”


“Sudahlah, saya nggak mau berantem!” ucap Ezra tegas, yang kemudian membuat Risa terbungkam.


Mereka akhirnya menghabiskan sarapan dengan keheningan yang agak mencekam.


“Kemarin Mami telepon saya, katanya mau ada tujuh bulanan Mbak Meta di rumah,”


Risa mendengarkan dengan baik, Mami adalah ibu kandung Ezra dan Mbak Meta adalah kakak ipar Ezra, lebih tepatnya istri dari kakak laki-laki Ezra yaitu Dimas.


“Jadi kita bakal ke sana?” tanya Risa.


“Saya sebenarnya malas, tapi Mami nyuruh kita berdua pulang. Dia bakal marah kalau kita tidak datang,”


“Besok, kita menginap satu hari di sana. Siang ini kita berangkat ke Bandung.”


“Kalau begitu saya kemas-kemas barang,”


Satu hal yang Risa tahu dari dulu, bahwa seberapa tidak menyenangkannya perlakuan Ezra terhadapnya. Tapi Ezra adalah sosok laki-laki yang sangat mencintai ibunya, Ezra tidak pernah menolak permintaan ibunya. Sama pun seperti perjodohannya dengan Risa, dia tidak pernah menolak. Bukan karena dia mencintai Risa, melainkan dia sangat mencintai Ibunya.


Dan Mami, adalah satu sosok yang sangat Risa sayangi, Mami sangat baik pada Risa. Dari awal pernikahan mereka, sekitar enam bulan lalu, bahkan sejak perjodohan itu digelar. Keluarga mereka melangsungkan perjodohan anak-anak mereka bukan sekadar urusan bisnis, tidak, Risa sama sekali tidak dijual. Keluarga mereka memiliki hubungan yang lebih baik dari itu. Ayah Risa, Tiyo Asjad adalah sahabat lama Ayah Ezra, mereka dipertemukan lagi setelah sekian lama Risa dan keluarganya pindah ke negara tetangga, Malaysia. Setelah beberapa tahun kemudian Risa dan keluarga kembali menetap di Jakarta. Ayah Risa kembali bertemu dengan Ayahnya Ezra.


Singkat cerita akhirnya dua sahabat itu memiliki ide untuk menjodohkan anaknya yang masih lajang, yaitu Risa dan Ezra. Agar mempererat ikatan keluarga mereka, juga kerja sama bisnis yang sedang mereka jalani, Risa awalnya menolak, tapi ketika tahu orang itu Ezra, dia berubah pikiran. Sedangkan Ezra tidak pernah ingin mengecewakan keluarganya, terlebih lagi sang ibu.


***


Mereka sampai di Bandung pada sore hari, Risa tidak melihat jam ketika mereka berangkat dari Jakarta. Tapi yang jelas Risa sudah kebosanan sedari tadi, Ezra yang turun terlebih dulu dari mobil, saat mereka sampai dan mulai menurunkan barang-barang yang mereka bawa. Ada juga beberapa barang yang syukurnya sempat mereka beli sebelum pergi, beberapa perabotan untuk bayi Mbak Meta.


Mami menyambut Risa yang lebih dulu masuk dengan hangat, mencium kening dan kanan kiri pipinya. Mami sangat menyayangi menantu-menantunya, hal yang membuat Risa merindukan rumah mertuanya dengan amat sangat, ya Mami Erza. Mami Ezra selalu mengingatkannya pada sosok sang ibu yang telah lama tiada, itu sebabnya ketika bertemu Ibu suaminya, Risa langsung setuju menjadi bagian dari anggota keluarga ini.


Risa mencium tangan Mami Ezra.


“Apa kabar menantu Mami yang ini, sehat kamu Sa”


“Risa sehat Mi, bagaimana dengan Mami?” tanya Risa.


“Mami sehat Sa, Mami Cuma kesepian anak-anak Mami enggak menemin Mami,”


“Maaf ya Mi, Risa sama Ezra jarang kesini,” kata Risa merasa bersalah.


“Enggak apa Sa, Mami mengerti. Ezra memang begitu susah diajak pulang ke rumah ini. Untung Mbakmu dari beberapa bulan lalu tinggal di sini, jadi Mami enggak terlalu kesepian.”


“Mbak Meta pindah ke sini?”


“Cuma sampai melahirkan, soalnya kan Dimas lagi tugas di luar kota. Jadinya Mbakmu enggak ada yang jaga in.”


Risa mengangguk.


“Eh Mami baru sadar Sa, kamu kok kurusan!”


Kata mami meneliti tubuh menantunya, Risa menggeleng merasa tidak apa-apa. Kemudian Ezra masuk bersama beberapa barang yang mereka bawa, pakaian dan beberapa hadiah.


“Za kamu urusi istrimu yang bener dong, Risa kurusan loh!”


Ezra menoleh mendengar hardikan maminya, lalu meneliti tubuh Risa. Membuat Risa malu.


“Mungkin dia diet,” katanya datar.


“Loh, itu tuh, pasti dia diet biar kamu betah, kamu kalau jadi suami perhatian dikit kenapa Za, jangan sama kayak dulu apa-apa cuek!”


“Risa kan sudah ada di sini, Mami pasti ngasih dia banyak makanan. Ntar juga dia gedean lagi,” ucap Ezra tak acuh.


***


Acara tujuh bulanan baru saja selesai, Risa membantu mengganti baju basah Meta. Menatap takjub pada perut membuncit perempuan hamil itu, bagaimana rasanya membawa bayi itu ke mana-mana, pasti repot pikir Risa.


“Kamu Sa, liat in perutku segitunya,” kata Meta, Risa tergelak.


“Iya Mbak penasaran aja gimana rasanya?”


“Ya makanya cepat minta ke Ezra, kalian kan sudah nikah enam bulan, masa belum isi juga. Kecuali kamu KB Sa?”


Risa tersenyum, membenarkan dalam hati. Waktu mereka melakukannya memang selalu memakai pengaman, bagaimana Risa bisa hamil.


“Ya sudah Mbak, ayo keluar. Mami katanya udah masak untuk makan malam.”


“Mami kamu tuh Sa, kebiasaan kalau ada tamu sukanya masak-masak gila, aku dua bulan di sini aja sampe naik sepuluh kilo, bisa melar banget aku habis lahiran,”


“Haha, Mbak Meta, kayak yang enggak tau Mami aja.”


Mereka pun tertawa bersama, mertua mereka memang ajaib dan penuh kasih sayang.


“Seneng ya, sebentar lagi Mami sama Papi bakal punya cucu dari Dimas,” kata mami Ezra, sedikit menyindir anaknya yang satu. Ezra tidak menghiraukan.


Mereka tengah bersantap makan malam, di seberang meja makan duduk Mami dan Papi Ezra. Disisi mami ada Meta sendiri, sedangkan Risa duduk di sisi Papi Ezra, dengan Ezra di sebelah Risa.


“Kalau kamu kapan ngasih cucu buat Papi, Za?” tanya Papi Ezra. Risa hanya ikut mendengarkan.


“Belum dikasih aja,” alibi Ezra.


“Jangan-jangan kamu lemah Za,”canda papi.


Risa menahan cekikan geli saat Ezra tersedak mendengar yang dikatakan papinya, lalu dengan sigap menyodorkan segelas air putih pada Ezra. Mami dan Mbak Meta ikut terkikik geli di seberang meja.


“Enak aja papa, tanyai aja Risa,” jawabnya sewot.


Risa merasa pipinya panas saat ditatap semua orang yang ada di sana, menggeleng pelan, semuanya tertawa kecuali Ezra yang makin merengut kesal.


Sesudah acara makan mereka Ezra menggiring Risa menuju ke kamar yang mereka tempati di rumah itu, di hadapan semua orang, sedangkan Risa menurut saja dengan wajah yang sudah memerah, Papi Ezra hanya menggeleng geli melihat kelakuan anaknya.


Dari dulu Ezra memang seperti itu, tidak mau kalah. Dan tidak mau dianggap lemah, itu yang Risa sadari dari dulu. Ezra menutup pintu kamar.


***


Dua Minggu Sebelumya..


Ezra menghirup bunga aster yang ada di tanganya, bunga kesukaan gadisnya, hari ini cukup cerah untuk berkunjung. Dia menyusuri koridor-koridor rumah sakit, lalu berhenti di depan sebuah ruangan.


Ezra membuka pintu ruangan itu dengan perlahan, di sana ada sesosok gadis terbaring lemah dengan berbagai macam selang untuk menunjang kehidupannya. Ezra membuang air dalam vas bunga yang lama, lalu menggantinya dengan air dan bunga yang baru. Lalu mencium kening gadis itu, tidak ada reaksi, karena memang gadis itu masih bermimpi dalam tidur panjangnya, Ezra tersenyum getir. Seharusnya Ezra pulang, tapi keadaan gadis itu sempat menahannya, jadinya Ezra menemani gadis itu malam ini.