
"Bahkan bagaimana mungkin, bumi tetap berputar di porosnya. Sedangakan waktu memisahkan kita."-Risa
***
Laki-laki itu merasa aroma wangi tubuh istrinya ada dimana-mana, memenuhi kamar itu dari mulai kamar mandi, sampai ranjang yang kini ia gunakan berbaring. Ia sangat merindukannya.
Entah sejak kapan, rasa sesak ingin memiliki, ingin perempuan itu selalu di dekatnya tumbuh. Ia bahkan tidak bisa menjelaskan, semuanya berjalan begitu saja. Ezra hanya mengikuti arusnya, dan ternyata jauh darinya itu buruk. Sangat buruk.
Tetapi ia tidak boleh egois, jika dirinya memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas maka ia harus bersabar, karena jauh dari Risa membuatnya beku.
***
Satu tahun lalu kamar ini adalah kamarnya, satu tahun lalu kamar ini terasa nyaman. Pada detik ini Risa merasa terbaring di tempat yang asing, ranjang yang dingin.
Suasana hangat dan menyenangkan yang selalu ia dapat dari kamar bergaya maskulin milik suaminya, tidak secerah kamarnya ini tapi terasa lebih hidup. Jiwanya tertinggal di sana, bersama si empunya kamar yang menjadi nyawa kamar itu.
Tetapi Risa memang butuh ini, suasana yang sepi. Ia butuh memikirkan segalanya, kalau Ezra tidak bisa bersikap tegas sebagai suami yang bertangung jawab maka barangkali dia yang akhirnya harus memutuskan.
Apakah laki-laki itu pikir hatinya akan baik-baik saja, sungguh sebagai perempuan dia di tempatkan pada permasalahan yang pelik. Tidak hanya sebagai istri atau calon ibu, ia juga memikirkan nasib wanita itu.
Meskipun ibu wanita itu menyakitinya, tetapi dia juga akan menjadi seorang ibu. Ia akan merasakan juga betapa yang terjadi pada anaknya adalah yang berdampak juga terhadapnya.
Sungguh Risa ingin egois, menyuruh suaminya agar meninggalkan wanita itu begitu saja. Tapi ia juga seorang perempuan, sekaligus seorang calon ibu.
Dan mungkin saja jauh di lubuk hatinya, Ezra masih sangat mencintai wanita itu. Kalau tidak mana mungkin ia bertahan sampai sejauh ini, mereka pastinya memiliki sesuatu yang dalam.
Jika memang anak yang dulu di kandung Elsha, adalah anak kandung suaminya. Maka Ezra memang sepatutnya bertanggung jawab pada hidup wanita itu. Pada ibu dari wanita yang telah ia rusak.
***
Risa tersentak, terbangun melihat sinar matahari yang sepertinya sudah meninggi. Ia lupa menyiapkan pakaian, lalu tersadar saat melihat sekelilingnya. Ini kamarnya, kamarnya yang dulu.
Menghela napas berat, terbayang siapa yang menyiapkan pakaian Ezra. Apa laki-laki itu makan dengan benar, tapi pasti Bi Suci membuatkan sarapan untuk suaminya. Ah tapi apakah Bi Suci tahu makanan kesukaan Ezra.
Buru-buru ia mengenyahkan segala ke khawatiran yang bergulung di pikiranya, Risa mengusap perut buncitnya merasakan lambungnya berbunyi. Bisa-bisanya ia sampai lupa pada kesehatan bayinya.
Perempuan itu lalu masuk ke dalam kamar mandi, memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
“Maaf ya Risa nggak bantu Mamah,” ucapnya menghampiri sang ibu yang tengah mencuci piring.
“Gak papa, kamu sarapan gih,” titah ibunya.
“Jerry sama Jerom?”
“Udah tadi sebelum berangkat sekolah,”
“Ma nanti aku mau keluar sebentar ya?” tuturnya.
“Mau kemana Sa,” tanya ibunya lembut.
“Mau ke rumah sakit!” kata Risa sedikit enggan.
“Mamah anterin ya.”
Risa menatap mamanya panik, lalu memutar otak untuk mencari alasan.
“Gak papa ma, biar di anterin Mang Dadang aja ya. Risa sebentar ko, mau jenguk temen yang sakit,”katanya meyakinkan Ibu Maya.
“Bener nggak mau di anter?”
“Sebentar aja,”
“Oke, kalau ada apa-apa telepon Mamah!” titahnya.
“Iya,”
***
“Mang Dadang, udah lama ya aku nggak di anter kayak gini lagi,” kata Risa bernostalgia saat melihat mobil yang biasa ia pakai.
Risa diam saja, tersenyum tipis saat supirnya itu mengingatkanya kembali pada Ezra.
“Eneng ke rumah sakit mau periksa ya?” tanya Mang Dadang.
“Enggak mang, cuma mau nengokin temen!” Risa mengigit bibirnya pelan, merutuk pada lidahnya yang mulai lancar berbohong.
Ia mengingat-ingat kembali ruangan yang pernah di kunjungi, Risa hanya tahu namanya saja. Rencananya jika resepsionis tidak memberi tahu di mana letak kamar inap wanita itu, maka ia harus siap.
Tapi untungnya dia di beri tahu, dengan mengaku sebagai teman si wanita.
Akhirnya ia berhasil, dan sekarang Risa tengah berhadapan lagi dengan Ibu Ratih, ia ingin mendengar cerita yang sejelas-jelasnya. Jika Ezra tidak bisa memjelaskan apapun, maka ia akan mencari tahu sendiri.
“Saya dan ayahnya Elsha bercerai, Elsha tidak bisa menerima itu ia terjerumus pada pergaulan bebas. Disanalah mereka bertemu, saya pernah merasa menjadi ibu terburuk kala itu. Kehilangan kontak dengan anak saya satu-satunya, kemudian kita bertemu lagi. Dia sudah jauh lebih baik, dan itu karna suami kamu Risa,”
Ia seperti merasakan kesedihan Bu Ratih, sebagai seorang ibu Risa mendengarkan segala cerita yang Bu Ratih sampaikan.
“Saya dan anak ini butuh Ezra bu,” Risa mengusap perutnya sayang.
Ibu itu berlutut di hadapanya, meski Risa mencegahnya ibu itu tidak mahu mengindahkannya.
“Saya nggak minta kamu melepaskanya Risa, sebagai seorang ibu saya hanya menuntut apa yang harusnya putri saya dapatkan dari suami kamu, jika suami kamu pernah menolong anak saya. Maka kali ini ia harus menuntaskan kewajibanya.”
Air mata Risa sudah tumpah, istri mana yang bisa membagi suaminya.
“Sampai Elsha bangun, saya mohon dengan sangat kepada kamu. Hanya Ezra yang mampu membuat putriku kembali!”
***
Risa meninggalkan Rumah sakit dengan gamang, dan itu sampai kapan. Sampai anaknya lahir dan bisa berlarian, ia harus berebut perhatian dengan wanita itu.
Tapi hatinya telah menetap, ia tidak bisa pergi tanpa menjadi hancur. Itu sangat menyakitkan berbagi sunguh tidak mudah, untuk dia. Tetapi ia akan bertahan, karna hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
Perpisahan bukanlah solusi masalah hidup, ia tidak akan mengutuk orang yang memilih perpisahan. Tetapi sebagai seorang anak yang pernah merasakan bagaimana hari-hari hidup tanpa seorang ibu atau ayah, ketika dulu di titipkan di rumah neneknya.
Risa sangat sadar betapa pentingnya arti keluarga itu sendiri, anaknya tidak boleh merasa kesepian.
Malam harinya ponsel Risa berdering, ia melihat nama suaminya di layar ponsel. Menimang akan mengangkat teleponnya atau tidak, tapi rasa rindu mengerogoti hatinya.
“Hallo, kamu baik,” berapa minggu ia tidak mendengar suara berat nan serak itu, mengapa rasanya rindu sekali.
“Aku baik, bayi kita juga,”tutur Risa suara yang ia keluarkan agak goyah.
“Syukurlah, aku kangen kamu,”kata suara maskulin itu.
Risa tersenyum, membayangkan mata tajam itu setiap mengucapkan hal-hal sulit bagi Ezra. Termasuk kata tadi itu.
“Bagaimana dia?”
Baik ia atau pun laki-laki itu mengerti siapa itu dia.
“Kemarin dia baru saja menyelesaikan operasi, ada komplikasi!”
“Aku nggak papa Za,” kata Risa menenangkan, laki-laki itu pasti sedang tegang.
“Jangan pikirkan banyak hal Risa, jaga saja bayi kita.”
Jika suaminya telah memanggilnya tanpa nama pangilan berarti ia telah dalam keadaan serius.
“Aku tahu.”
“Sa, tunggu aku ya!”
Katanya tegas, ya di suruh pergi pun ia akan menunggu. Ia tidak akan kalah, sebelum berperang.
Telepon akhirnya terputus, dan Risa hanyut ke dalam alam mimpi.