
"Daun tidak akan luruh,
Jika tidak ada angin."-Ezra
***
Suara hingar-bingar seakan ingin mengacaukan pendengaranya saat menerobos ke dalam keramaian lantai dance, mereka meliukan pingul dan badan tanpa sedikit pun rasa malu. Laki-laki itu terus menyeruak mengedarkan pandanganya, ia meneliti satu per satu wanita yang tengah menari di lantai dance. Ia mencari wanitanya.
Kemudian mata itu berhenti pada sosok wanita mungil berambut hitam mengkilat, mengenal betul setiap ciri yang ada padanya. Dia tengah asik bergoyang di lantai dance bersama seorang pria yang mulai bertingkah tak sopan, amarahnya naik seketika.
Ia mendatangi mereka, menarik bahu pria asing itu dan mendaratkan satu bogeman mentah. Orang-orang yang melihat itu menjerit, tetapi tidak dia hiraukan ke kacauan yang ia buat. Di sambarnya tangan si wanita, lalu disered keluar dari dalam Club malam.
Wanita itu meracau dan protes, namun tidak ia hiraukan. Rahangnya mengetat karna rasa marah, pandangannya jatuh menelusuri sekujur tubuh si wanita yang hanya di lapisi kain minim yang bahkan tidak bisa menutupi paha putihnya.
"Berengsek!!" makinya.
Beberapa kali kata-kata kasar dan makian terlontar dari mulutnya, bahkan sempat menendang pintu mobil. Dihempaskannya tubuh wanita itu ke dalam mobil. Ia kini mulai menghembuskan napas dengan teratur, dengan cepat laki-laki itu melepaskan kemeja flanel luarnya lalu memakaikanya pada si wanita.
Sepanjang perjalanan laki-laki itu terus berpikir, mengapa Tuhan bisa begitu tega terhadapnya. Terhadap wanita yang di cintainya.
Wanita itu tertidur di jok sebelahnya, rasa sesak menerpa saat melihat wajah polosnya.
Elsha-nya yang polos kini telah hancur, sedangkan dia malah tidak berdaya untuk menolongnya. Sebelum ia menjempunya di Club malam, dia mendapat telepon dari seorang temannya. Untuk segera menjemput wanita itu yang sedang mabuk berat.
Di baringkanya tubuh wanita itu dengan pelan di atas kasur berukuran king size, mereka sekarang ada di hotel. Laki-laki itu tidak bisa membawanya pulang dalam kondisi mengenaskan seperti itu. Maka terpaksa ia memilih membawanya ke hotel.
Dia mengigil dengan lembut di naikannya selimut sampai dagu si wanita, dan mulai terpekur di sisi tempat tidur. Memandang sedih ke arah wanita yang dulu adalah gadisnya.
Laki-laki itu memijat keningnya pelan, rasa sesak dan tidak berdaya tak tertahan lagi. Ia telah gagal melidungi wanita itu dari dunia yang kejam. Ia sudah terluka dan tidak tetolong.
Kalau ada orang yang meledek seorang pria yang meneteskan air mata, maka terserah.
Pertahananya telah goyah serta hancur, pungungnya bergetar hebat namun tidak ada suara. Pipinya basah dengan cairan bening, laki-laki cengeng. Ia hanya pemuda 23 tahun biasa. yang menangis karna ke kasihnya telah di rengut oleh nasib buruk.
Sebuah tangan mungil mengusap pungung bergetarnya, "Maaf telah mengecewakanmu selama ini,"
Wanita itu ikut terduduk, sedangkan si pemuda duduk membelakanginya.
Pria itu berbalik mencengkram erat tangan mungil itu, lalu menatap si empunya dengan tajam.
"Kenapa harus aku yang merasakan semua ini!"
"Aku sangat mencintai kamu, Ezra Prawira," ucap wanita itu dengan lirih, ia mulai terisak pelan.
"Jawab berengsek!" maki si pemuda frustasi.
"Kenapa aku harus mencintai perempuan sepertimu!"
Kini emosi yang ada dalam suara pemuda itu berganti, menjadi secercah ke kalahan.
Elsha mengusap pipi basahnya, sorot matanya menyiratkan begitu banyak emosi. Permohonan maaf, penyesalan, dan cinta.
Wajah mereka mulai mendekat, menyerah pada emosi masing-masing. Sampai bibir mereka bertemu, mereka saling mendekap. Bersama air mata yang terus mengalir dari mata masing-masing pihak. Mereka telah kalah.
***
Perempuan itu sedang duduk di pingiran kolam renang, memainkan air. Perutnya yang kian membesar sama sekali tidak mengangu aktifitasnya sekarang, pembantunya sudah memangilnya untuk segera makan.
Namun ia sama sekali tidak berselera, meski tubuhnya ada di sini pikirannya melayang jauh.
Mungkin ibu itu berbohong padanya, ia sempat berpikir begitu tapi setelah di pikir lagi. Sepertinya ada benang merah yang tidak bisa ia pungkiri. Dulu sekali Ezra memang selalu pulang larut malam, apa karna gadis itu alasanya.
Apakah benar seharusnya suaminya telah memiliki anak dengan perempuan lain, sendainya kecelakaan itu tidak merengut nyawa anak yang di kadung dan separuh napas si gadis. Mungkinkah mereka akan bersama.
Memikirkanya saja sudah membuat Risa prustas, rasa sakit hati bahkan tidak bisa ia sembunyikan. Tetapi apakah dia berhak untuk itu, sedangkan perempuan itulah yang pertama datang dalam kehidupan suaminya.
Apakah ia mampu berbagi, atau kah harus egois. Bagaimana nasib anak yang ia kandung. Air matanya mengalir lagi, tidak mungkin tega membuat anak yang ia kandung jauh dari ayahnya.
"Bu makanan sudah siap, kata bapa jangan sampai ibu melewatkan makan," terselip nada cemas di dalam suara pembantunya itu.
Risa menyambut uluran tangan pembantunya, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Ia memandang makanan di depanya dengan tidak berselera, lalu mulai menjejalkan beberapa sayur ke dalam mulutnya dengan paksa.
***
Ezra pulang lebih awal, menghela napas penat memantapkan diri untuk menghadapi Risa. Kini perempuan itu mengabaikanya, dengan bersikap dingin.
Tapi ia tidak akan menyerah, laki-laki itu butuh waktu untuk menyelesaikan semua masalah satu per satu dengan baik. Agar tidak ada masalah lain yang membuntutinya kelak, mahu itu rasa bersalah atau apa.
Risa baru saja selesai mandi di lihat dari pakaian tidur dan wajahnya yang bersih, serta rambutnya yang di gulung handuk.
Ezra berdehem membersihkan tengorokanya, saat menutup pintu di belakangnya. Risa hanya meliriknya sekilas, meskipun marah perempuan itu tidak menghilangkan kebiasanya mencium tangan sang suami. Ezra mencium embun-embun Risa, sengaja berlama-lama di sana. Ia membantu istrinya melepaskan handuk di kepalanya, mendudukan perempuan itu di depan cermin rias.
Mata mereka saling memaku lewat cermin meja rias, sebelum Ezra mulai sibuk mengeringkan rambut istrinya dengan pengering rambut. Sambil menyisir tiap helainya dengan jemari selembut mungkin. Mengeringkan tiap helai rambut hitam bergelombang sang istri.
"Kamu masih nggak mau jelasin!" ucap Risa ketus.
Ezra menyimpan pengering rambut yang selesai dipakai.
"Aku mau kamu bersabar Sa," katanya tenang.
Risa menatapnya dengan frustasi, "Bener, anak itu anak kamu?"
Laki-laki itu menutup matanya sebelum memandang istrinya yang dilanda amarah, dia mencengram bahu Risa pelan.
"Aku butuh waktu untuk menjelaskan, kalau emosimu sudah mereda,"
Perempuan itu memandang suaminya tidak percaya, ia bangkit dari sana lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dan mulai menangis histeris di balik bantal, sekali ini saja ia ingin suaminya tahu begitu kacaunya dia.
Bantal saja tidak cukup rasanya untuk memyakiti Ezra yang masih diam mematung, rasa malunya hilang. Ia sudah tidak perduli lagi apa yang di pikirkan laki-laki itu.
Ezra meringsut mendekatinya, tapi ia semakin menjerit tidak ingin di sentuh. Wajahnya sudah kacau dengan air mata, rambutnya yang baru di keringkan terlihat kusut. Akhirnya laki-laki itu mundur, menatapnya sekilas sebelum masuk dalam kamar mandi.
Ezra memutuskan untuk berlama-lama di bawah shower, mandi air dingin untuk membantu menenangkan pikiranya sendiri.
Ia menatap istrinya yang telah tertidur meringkuk di atas ranjang, bantal yang tadi di pakai untuk melemparinya masih berserakan. Dia ambil satu per satu bantal yang berserakan, menaruhnya di atas ranjang.
Mungkin karna terlalu lelah menangis Risa tertidur pulas, Ezra menatap istrinya sedih.
Seribu permintaan maaf di hatinya terucap, tetapi ia tidak ingin mengacaukan segalanya menjadi lebih buruk. Mereka butuh tenang. Emosi hanya akan membuat segalanya makin runyam.
Kandunga istrinya pun menjadi banyak pertimbangan, Ezra menyelipkan bantal menganti tangan kanan istrinya yang menyangah kepala. Lalu menaikan selimut sampai menutupi perut buncit sang istri.
Ia sendiri mengambil satu bantal dan memilih tidur di atas sofa ruang keluarga, memberikan perempuan itu ruang.
Saat pagi tiba entah mengapa terasa lebih dingin dari biasanya.
Tempat tidur itu luas, dan Risa yakin semalam Ezra tidak tidur di sana. Ia menyentuh bagian di sampingnya yang terasa dingin, pikiran negatif mulai bermunculan lagi. Membayangkan laki-laki itu menemui kekasihnya lagi.
Pikiran negative nya baru berhenti ketika melihat Ezra keluar dari kamar mandi, pandangan mereka bertemu. Tapi sama sekali tidak ada senyum untuk suaminya hari ini.
Rasa pegal melanda saat Risa mencoba untuk bangun, hapir semalaman ia tidak merubah posisi tidurnya dan kini rasa pegal melanda dari tengkuk sampai ke pingang.
Dengan sigap laki-laki itu membantunya bangun, tidak menghiraukan tatapan tajam yang Risa hujamkan.
***
"Aku rindu orang tuaku," ungkap Risa pada suatu malam.
Ezra menatapnya lembut, "Kita kesana kalau gitu,"
Rasanya mereka kembali pada situasi awal-awal pernikahan mereka, Risa mulai merasa seperti dulu lagi. Tidak di hargai, dengan cara yang tidak bisa di jelaskan.
Ia hanya menjadi tempat pulang suaminya, mungkin saja dia masih mengunjungi gadis itu. Etah mengapa setiap memikirkanya hatinya berdenyut sakit.
"Nggak, aku mau pulang,"
"Maksud kamu?"
"Aku mau tenangin pikiran,"
Ezra menyentuh wajah istrinya panik, "Sa jangan kayak gini, aku nggak mau jauh dari anakku!"
"Tapi aku nggak bisa kayak gini terus," Risa menangkub tangan suaminya yang ada di pipinya.
"Aku butuh tenang, kita sama-sama harus merenungkan! semua ini mau di bawa kemana!"
Suaminya mengusap rambutnya lembut.
"Biar aku antar,"
Ezra akhirnya menyerah dengan keputusan Risa.
***
Mereka tiba di rumah Papanya Risa minggu pagi, tidak cukup jauh memang dari tempat tinggal mereka sendiri. Risa turun dari mobil tanpa menunggu Ezra, laki-laki itu menepikan mobilnya di pekarangan rumah mertuanya.
Pak Tiyo Asjad sedang menikmati secangkir teh di pekarangan belakang rumah mereka, yang sekarang sudah di sulap menjadi lahan kecil untuk menanam berbagai macam sayuran hidro.
Ibu Maya yang pertama kali melihat mobil menantunya berhenti di depan rumah, buru-buru dia membuka pintu. Ia tersenyum lembut saat melihat anak perempuanya turun dari mobil, Ibu Maya mendekati anaknya itu.
Risa mencium tangan Mamahnya, terkadang ia sering lupa bahwa masih memiliki ibu seperti Ibu Maya. Yang tidak pernah membedakan antara dia dan anak kandungnya.
Ibu Maya lebih dari sekedar ibu tiri untuk Risa, perempuan itu telah menjadi Mamahnya sejak ia umur belasan tahun. Membuatnya tidak pernah kekurangan cinta seorang ibu.
"Mamah tadinya nak telepon kamu, kangen anak perempuan yang cantik ini," Ibu Maya mengiring bahu Risa untuk masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Ezra menurunkan beberapa barang yang Risa butuhkan.
"Ayo nak Ezra masuk," Ezra tersenyum dan mencium tangan mertuanya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Papa mana?"tanya Ezra.
"Biasa itu lagi ngeteh di belakang, lagi suka berkebun dia,"
Risa tersenyum mendengar nada gemas dari suara ibunya, sedangkan Ezra pamit untuk menghampiri mertua laki-lakinya.
"Lupa masih punya orang tua, kenapa jarang kesini Sa?"
Risa tersenyum malu mendengar perkataan ibunya.
"Makannya Risa ke sini, kangen Mamah Papah," ucap Risa.
"Kalian nginep kan?"
"Ezra pulang besok, ada yang mau aku bicarain,"
Ibu Maya mengelus rambut putrinya pelan, "Kenapa Sa, ada masalah?"
"Aku mau tinggal di sini sementara waktu," ibunya mengerutkan kening.
"Kamu pikir sedang bicara dengan siapa, tentu saja kamu bisa tinggal berapa lama pun Sa, kami orang tua mu!"
Risa memeluk ibunya erat, sekarang di sini dipelukan itu ia kembali menjadi gadis kecil orang tuanya. Terbebas sejenak dari berbagai macam prahara rumah tangganya bersama Ezra, ia ingin fokus pada kehamilanya yang akan menghadapi kelahiran sang bayi beberpa bulan lagi.
***
"Sehat kamu Za,"tanya Pak Tiyo, saat menantunya itu mencium tanganya.
"Sehat pa, Papa bagaimana?"
"Sehat, cuma suka sakit punggung aja, biasa orang tua."
"Jerry sama Jerom?"
"Palingan di kamarnya, udah gede mereka nggak bisa di ajakin main Papanya lagi."
Mereka tertawa, Pak Tiyo memang sering bercerita bagaimana nakalnya dulu anak kembarnya itu.
"Risa sehat nak,"
"Sehat Pa, tapi mulai jarang makan,bandel!" katanya termenung.
"Kalian ada masalah?"
Ezra tidak tahu harus menjawab apa pada mertuanya, tidak mungkin dia menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi.
"Ezra mau titip Risa, katanya dia mau di sini," ucap Ezra dengan penuh permohonan.
"Risa itu sudah ada dalam pengawasan Papa dari dia bayi, mana mungkin Papa keberatan."
"Makasih pa,"
"Tapi Za, kalau kalian ada masalah jangan di biarkan berlarut-larut. Hati perempuan itu pelik, susah di tebak."
"Iya pa,"
***
Risa menatap bintang dari jendela yang ia buka, hari itu cuaca sangat cerah sampai-sampai bintang terlihat seperti taburan pasir. Sangat banyak.
Ezra meletakan koper Risa di dekat ranjang. Lalu menghampiri istrinya itu, menutup jendela di hadapanya. Risa menatapnya kesal, tapi tidak ia hiraukan.
"Angin malam itu nggak baik Sa," katanya lugas.
Perempuan itu berbalik mendekati kopernya, memeriksa barang-barang yang akan ia butuhkan selama di sini. Di susul Ezra yang ikut duduk di sebelahnya.
Ia menatap Risa lembut, perempuan itu hampir saja luluh, "Jaga anak kita baik-baik," ucapnya lirih.
Seraut kesedihan muncul di mimik wajah suaminya itu, ia mengulurkan tanganya yang besar mengusap rambut Risa lalu turun ke pipinya yang membundar.
"Jangan banyak pikiran, telepon aku sesering mungkin," ia mengusap pipi istrinya lembut.
Tidak bisa ia pungkiri sangat menikmati sentuhan lembut itu, bagaimanapun keadaan mereka sekarang. Kehadiran anak yang ia kandung memang membuat hubungan mereka lebih terasa berbeda, seandainya mereka memutuskan benar-benar berpisah.
Tidak terasa setetes air mata jatuh dari kelopak mata perempuan itu, ia mulai terisak pelan. Tak tega Ezra merengkuhnya dalam pelukan. Mencium rambutnya berkali-kali, mengusap bahu istrinya dengan lembut. Mengucapkan permohonan maaf.
Bisa saja ini menjadi yang terakhir untuk mereka, namun dia sudah betekad untuk menyelesaikan masalah yang telah mengedap selama bertahun-tahun di hidupnya. Sudah saatnya dia menuntaskan masalah yang masih belum tuntas ini.
Ezra menarik dagu istrinya, lalu mencium istrinya dengan lembut. Meredam setiap isakan memilukan itu, ingin menyerap segala kesedihan ibu dari anaknya. Memeluknya seerat yang dia bisa.
Sebelum hari esok, mereka akan berjauhan. Tidak akan ada lagi teman untuk sekedar mengobrol sebelum tidur, mereka akan sama-sama kesepina.
Malam ini, hanya malam ini ia akan menyerap segala kekuatan supaya tidak terlalu merindukan Risa. Istrinya yang tidak banyak menuntut, dan mampu bersabar untuk segala perbuatannya yang tidak bisa di maafkan.