Risa Wedding's Story

Risa Wedding's Story
FOUR



“Jalan dibuat, ketika seseorang memiliki pilihan.” -Ezra


***


Matahari menyeruak membuat kamar itu terang benderang, Risa mendesah masih merasakan kantuk. Berusaha bangkit melawan rasa malas yang bergelayut, jika gorden itu sudah di singkap artinya lagi-lagi ia bangun terlambat. Sesaat mengucek-ngucek matanya, seakan tersadar akan sesuatu Risa mengambil ponselnya yang ada di nakas.


Bukan hanya terlambat, dengan jelas jam di ponselnya menunjukan angka sembilan. Dengan panik ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengosok gigi. Setelah selesai dia keluar, lalu memelankan langkahnya saat melihat Ezra tengah mengerjakan sesuatu. Tak di sangka dia tengah merapihkan tempat tidur, lalu mengamati Ezra dengan heran. Ada angin apa yang membuat suaminya mendadak rajin.


“Za kamu lagi ngapain?”


Ezra menatapnya santai, setelah selesai dia duduk di atas tempat tidur sambil menepuk tempat di sebelahnya menyuruh istrinya itu untuk ikut duduk. Ia pun menghampiri Ezra.


“Kamu kemarin kan dengar apa kata dokter,” ucapnya sambil menggapit lengan istrinya.


Tiba-tiba saja kesadaran kembali menerpa, dengan refleks dia menyentuh perutnya yang masih datar. Ia tengah hamil dan dia lupa, secepat ingatan itu muncul, secepat itu pula rasa mual kembali bergejolak di dalam perutnya. Risa berlari ke arah kamar mandi dan mulai memuntahkan cairan lambungnya kembali, sedangkan Ezra masih setia memijat pelan tengkuk sang istri.


“Ayo, Sa, sarapannya dimakan,” perempuan itu menggeleng kuat, rasa mual masih belum reda.


“Dikit, setelah ini kamu minum anti mualnya,”


Dengan terpaksa ia menyuapkan sesuap nasi, lalu meminum obatnya. Perutnya masih bergejolak, Risa terkulai lemah di atas sofa setelahnya.


“Kamu enggak kerja?” tanya Risa saat menyadari Ezra masih saja menemaninya.


“Kamu lupa aku ambil cuti, sudah terlanjur. Jadi seminggu ini kutemani kamu di rumah,” ucap Ezra mengusap dahi Risa pelan.


“Masih lemes Sa?”


“Hem..”


“Mau sesuatu?”


“Pengen tidur,” kata Risa, mata Ezra berkilat.


“Bukan tidur yang itu! ”tambahnya ketus.


Laki-laki itu hanya bisa menelan kembali kata-kata yang ingin ia ucapkan, sekarang dia harus lebih mengalah mengingat Risa tengah hamil. Dan biasanya hormon orang hamil memang membuat emosi perempuan tidak setabil, Ezra juga menyadari bahwa sudah beberapa hari ini istrinya yang dia tahu adalah perempuan sabar, mendadak cepat sekali marah.


“Gendong aku ke kamar,” kata Risa sambil mengulurkan kedua tangannya pada Ezra seperti anak kecil yang meminta di gendong.


“Kamu kok jadi manja begini, Sa?”


“Kamu enggak ikhlas!” Ia mengalungkan tangannya pada leher Ezra saat suaminya itu mulai mengangkat tubuhnya.


“Berat tahu,” Mereka sudah setengah jalan menuju kamar, Ezra berhenti sebentar sambil menatap Risa dia berkata.


“Kamu jadi berat begini.”


“Jadi aku berat. Itu berarti dari dulu aku gendut!”


“Loh, kok jadi ngelantur siapa yang bilang? ”kekeh Ezra.


“Kamu bilang aku berat, kita kan baru tahu aku hamil beberapa hari lalu lagian enggak ada bedanya sekarang dan kemarin,”


“Iya sayang maaf.”


“Za kamu manggil aku sayang,” Risa menoel-noel pipi dengan rahang kuat itu.


“Kenapa?”


“Lucu duh..”


Ezra melengos.


***


“Kapan kita mau kasih tahu keluargamu dan keluargaku?”


“Nanti ya, kalau kandunganku sudah cukup kuat!”


“Apa enggak kelamaan?”


“Aku takut terjadi apa-apa.”tutur Risa.


“Kamu kok ngomong gitu?”


“Udah enggak papa, Za aku bosan di rumah!”


“Mau liburan?”


“Gak usah jauh-jauh!”


***


“Ini ngapain lagi, udah punya istri juga doyannya keluyuran mulu,” Laki-laki itu menyeruput kopi espressonya, tidak mengindahkan teman sejak SMAnya itu. Malah sibuk melamun melihat pemandangan hiruk piruk kemacetan di luar Cafe, Nindy duduk di hadapan Ezra.


“Istrimu ke mana, sekali-kali ajak loh ke sini. Biar aku dapat pelanggan baru, bosan tahu liat kamu terus!”


“Terserah kamu, yang penting aku bayar!” celetuk Ezra.


“Ah kamu nih butuh tapi bikin kesel, kenapa kesini?” Nindy melambaikan tangan agar karyawannya membawakan camilan sepotong cup cake atau apa pun untuk mereka.


“Istriku hamil!”


Nindy menatap wajah lesu temanya, mereka berteman sudah sejak lama. Lebih tepatnya Nindy, Ezra dan Elsha karena itulah ia tahu betul permasalahan yang sedang dihadapi Ezra, ikut merasakan beban laki-laki itu.


“Ya bagus dong,” kata Nindy santai, sambil memotong cup cakenya.


Ezra menatap Nindy putus asa, ibu dari tiga anak  itu sama sekali tidak ingin menyenangkan hatinya tanpa memberi solusi yang paling tepat.


“Apalagi sih Za, seharusnya sekarang loh lagi senang-senangnya mau jadi ayah. Menemin bini loh, bikin dia happy! Bukanya malah di sini bergalau ria, guekan bikin cafe bukan buat forum ngegalau!”


“Bu Ratih enggak pernah tahu bagaimana hubunganku dengan Elsha, sebelum kecelakaan.”


“Ya kenapa enggak loh kasih tahu?”


“Terlalu rumit.”


“Kalau mengajak jalan orang hamil biasanya ke mana Nin?” kata Ezra mengalihkan pembicaraan, tapi Nindy tetap tanggapi, malah bersyukur karena percakapan mereka tentang Elsha berganti.


“Ke mana aja, kan toh biniluh masih hamil muda, jadi ajak in ke tempat-tempat yang friendly buat bayinya dan dia. Sekali-kali jangan bikin dia stres mulu lah, perempuan hamil biasanya gampang stres apalagi kalau suaminya macam kau!”


Tanpa kata ia menandaskan kopi dalam gelasnya dengan cepat, kemudian berlalu dari hadapan Nindy.


“Mau ke mana Za?”


“Pulang!”


Nindy tersenyum menatap kepergian Ezra dari kafenya, merasakan secercah harapan saat laki-laki itu tak sealot biasanya. Ternyata lambat laun sikap baik Risa, mampu membuat pikiran keras seorang Ezra Prawira luluh. Cepatlah move on, doa Nindy dalam hati.


***


“Hati-hati pegang lenganku!”


“Kita sedang kencan kan?”


“Kalau mengajak istri sendiri jalan-jalan termasuk kencan, ya Sa!”


Risa tersenyum, matanya masih tertutup kain. Dadanya jadi dag-dig-dug sendiri berharap Ezra mengajaknya berlayar naik ke kapal pesiar, makan malam di pantai dengan sunset. Pokonya hal-hal romantis yang biasanya CEO muda berikan kepada perempuan, jangan salahkan Risa yang mendadak romantis, bayinya mungkin anak yang sensitif sehingga mengerti hubungan Ibu dan Ayahnya yang agak kurang baik.


Laki-laki itu melepaskan kain yang menutup matanya, Risa masih belum membuka matanya. Bersiap dengan kejutan yang diberikan, ketika pelan-pelan ia membuka kedua kelopak matanya Risa hampir saja tak percaya. Beberapa saat ia tak bereaksi, menatap Ezra yang sedang mengamati reaksinya dengan serius.


“Kebun Binatang!”


“Kamu suka kan?”


“Kenapa enggak jawab?”


“Kupikir tadi tuh kamu mau ajak in aku naik kapal pesiar loh!”


“Kamu berharap aku bakal kayak gitu?”


Risa berjinjit mencubit pipi Ezra gemas, Ezra mengaduh pelan.


“Ris kamu kok pakai sepatu kayak gitu? Kenapa enggak pakai Flat Shoes aja, kamu benaran mengira aku bakal ajak in kamu naik kapal pesiar?”


Risa melengos mendengar nada polos Ezra, sungguh laki-laki dingin tidak punya hati. Masa begitu saja masih tidak peka, katanya kencan, mana ada kencan dibawa ke kebun binatang. Laki-laki itu pikir mereka bakal ngabisin sunset mereka dengan ciuman romantis, berlatar belakang gajah. Risa berjalan mendahului Ezra untuk ke pintu masuk Kebun Binatang.


“Tunggu dulu, kamu serius enggak mau ganti alas kaki?”


“Jadi kamu mau tukaran sepatu?”


Ezra menyengir membayangkan dirinya memakai sepatu wanita, dia menggeleng mengenyahkan bayangan suram dalam benaknya.


“Ngga maulah!”


“Kita enggak mungkin mengerampas sepatu security itu, jadi sini biar kugendong.”


Risa menjerit dalam hati suaminya itu kadang sangat suka membuatnya terkejut, sekali ini saja ia memanfaatkan keadaan tanpa basa basi dia mengalungkan tangan pada pundak suaminya saat kedua lengan kokoh Ezra meraup kedua tungkainya.


Risa tidak bisa menghentikan cekikan girangnya, meskipun orang-orang menatap mereka aneh bahkan ada yang diam-diam menahan tawa. Ezra tidak menghiraukan, baginya mengendong istrinya saja sudah berat minta ampun, biaralah Ezra tidak menanggung beban malunya. Untuk kali ini dia buang entah ke mana, yang terpenting istri dan anaknya aman sentosa.


***


Mereka ada di depan kandang jerapah, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima tahun menyaksikan jerapah dengan antusias di atas pundak sang ayah.


“Aku ingin tinggi kayak jerapah,” ungkap hati anak itu antusias, ayah si anak tersenyum mendengar celoteh anaknya.


“Nanti juga bakal tinggi, makanya harus banyak makan sayur!”


Anak itu mengangguk dengan serius. “Jadi kalau aku udah tinggi enggak boleh naik di pundak ayah lagi?” tanya bocah itu.


“Iya jangan kalau udah dewasa mana boleh!”


Bocah itu terpekur lagi memandang hewan berleher panjang itu serius, lalu menoleh pada orang dewasa ajaib di sebelah mereka.


“Kok Tante itu masih digendong?” tanyanya polos.


Risa melambaikan tangannya saat mendengar celetukan bocah yang tak berapa jauh darinya, Ezra meringis menahan malu serta pegal yang merayap di punggungnya. Sedangkan perempuan itu anteng-anteng saja bisa menyetir suaminya kemana pun ia mau, dengan cengiran girang tidak peduli suaminya malu bukan kepalang.


Nah kan niat romantis itu kadang menjebak. Laki-laki itu akhirnya menurunkan Risa di bangku tempat istirahat, meski perempuan itu mulai cemberut.


“Aku enggak kuat lagi Sa!” nahan malu terutama, bisiknya tentu saja dalam hati.


Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dibangku taman, tempat para pengunjung berpiknik dan beristirahat.


Bibir Risa berkedut menahan senyum, lalu mengambil tisu dalam tas selempangnya. Kemudian membersihkan wajah suaminya yang penuh keringat dengan telaten, mengusap kerutan di dahi serta hidungnya yang mancung serta keringat di rahangnya yang kokoh. Ezra tersenyum saja saat tangan-tangan istrinya mengelap keringat di wajahnya dengan hati-hati, dia memang selalu menyukai tangan lembut itu, saat menyentuhnya.


Dengan nakal Ezra mencuri ciuman dari Risa, pertama di kening kemudian kedua pipi. Sampai-sampai perempuan itu harus menutupi wajahnya dengan tas, kejahilan sang suami memang kadang tak tahu waktu.


“Aku mau es krim,”


“Ya udah biar aku yang beli, kamu mau rasa apa?” tanya Ezra sambil bangkit dari duduknya.


“Boleh ikut enggak,” tanya Risa berbinar.


Ia menatap mata istrinya yang berbinar cerah, untuk beberapa hal terkadang dia baru tahu hal yang disukai Risa. Lalu mengiyakan dan berjalan bergandengan dengan perempuan itu.


Perempuan itu benar-benar suka Es krim dia hampir memborong semuanya kalau tidak mendapat pelototan Ezra, tidak boleh berlebihan mengingat sekarang ia tengah mengandung.


“Nanti kesini lagi, kalau anak kita udah lahir,” kata perempuan itu berangan.


“Ngga ah!”


“Kenapa?”


“Nanti salah mengira ibunya gajah lagi!” candanya.


“Kamu aku kandang in!” ancam Risa.


“Kita mau ke mana lagi?” tanya perempuan itu saat akhirnya mereka meninggalkan Kebun Binatang.


“Ikut ajallah,”


“Kita jadi mau naik kapal pesiar ya?” celetuk Risa dengan berbinar.


Laki-laki itu tergelak, rupanya Risa benar-benar serius saat mengira mereka akan kencan romantis di atas kapal pesiar.


“Kamu masih mau ke sana nyeker gitu?”


“Enggak ya!” dengus Risa.


***


Nindy menajamkan penglihatannya, kemudian tersenyum penuh arti. Saat melihat Ezra menggandeng tangan seorang perempuan muda bergaun biru dengan sandal jepit. Aneh pikir Nindy. Mereka mendekat ke arah pintu masuk kafenya, sepertinya temannya itu mendengarkan nasehatnya.


“Om Eza..”


Teriak satu bocah laki-laki tujuh tahun, menyeruak dan melompat ke dalam pelukan Ezra. Disusul dua anak lainya yang berwajah sama, Risa kaget sekaligus ikut gemas saat mereka tiba-tiba mengepung suaminya.


Mereka bertiga berebut ingin digendong, menyerbu tubuh suaminya yang terhuyung. Lalu mereka tertawa, Ezra merengkuh mereka meskipun tidak cukup. Mereka tetap bergelayutan di pundaknya. Risa mengikuti dari belakang sambil tersenyum, suaminya menurunkan ketiga bocah itu dengan paksa di hadapan sang ibu meski mereka protes keras.


“Tidak jangan turunkan kami di Kutub Utara Capten,” teriak anak pertama yang tadi memanggil Ezra histeris.


“Oh tidak kita semakin dekat dengan beruang ganas, ”sahut anak yang paling terlihat kecil, sedangkan kedua kakaknya asyik bergelayutan seperti monyet.


Risa terkikik, saat mereka mendekat pada perempuan yang ia kira adalah ibu si Triplet itu. Perempuan itu menatap anak-anaknya dengan kejengkelan dibuat-buat dan mulai menggelitiki mereka satu persatu sehingga terlepas dari pundak Ezra.


“Kalian bandelnya minta ampun! ”gerutunya, “Eh Ini pasti Risa ya?” tanyanya kemudian.


“Iya.”


“Istrinya Ezra benar?”


“Bener.”


“Kok mau?”


“Haha...”


“Aku Nindy teman Ezra semenjak SMA, iya kan Za?”


“Em..,“ gumam Ezra.


“Asem kamu!”


Mereka tertawa, kemudian Ezra menarik kursi untuk Risa duduk.


Risa sangat suka sekali dengan Nindy, ia ingat dulu mereka satu SMA namun karena Ezra dan Nindy dua tingkat di atasnya jadi mereka tidak terlalu saling mengenal. Nindy adalah seorang ibu yang baik dan seru. Ibu dari Triplet K, Kenzi, Kenzo, dan Kenno. Mereka sehat dan amat nakal, tapi mereka sepertinya menyukai Risa.


Terbukti dari cara si kembar itu berlomba meminta perhatian Risa, mereka sudah naik ke ruangan yang lebih pribadi. Kantor Nindy. Lantai dua Cafe yang dibuat lebih ramah untuk Triplet K. Mereka sedang asyik menyusun balok-balok berwarna bersama Risa, di atas karpet bermain. Sedangkan Nindy dan Ezra duduk di atas sofa yang saling berhadapan. Bersama secangkir kopi dan teh, sambil mengobrol .


“Dia enggak ribet ya, Risa pasti istri yang baik,” gumam Nindy.


Ezra menatap sahabatnya itu dan termenung, “Kadang malah mikir, sepertinya aku justru yang bukan suami baik untuk dia.”


“Gue senang si Za loh mikir kayak gitu,” kelakar Nindy.


“Kadang juga hati dan perhatianku terbelah,” gumamnya, pandangannya termenung pada Risa yang sedang membuat Istana Lego dengan Triplet K.


“Kalau menurut gue si mending lo fokus aja sama Risa, enggak usah mikirin Elsha lagi!” Ibu dari Triplet K itu menepuk bahu Ezra memberikan keyakinan pada laki-laki itu.


“Enggak ada laki-laki atau suami yang baik nya sempurna, kami perempuan mengerti itu. Tapi kadang kita cuma enggak siap maaf in kebohongan mereka. Gue yakin Risa adalah perempuan tangguh dan baik dia adalah orang yang tepat buat kamu. Kamu harus jaga in dia Za!”


“Pasti Nin.”


***


Malam itu dingin karena hujan, tapi tidak perlu penghangat ruangan. Mereka berdua memilih bergelung dalam selimut. Ezra menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, sedangkan Risa menyandar nyaman ke dada suaminya. Sedang serius membaca buku tentang kehamilan.


“Aku udah kasih tahu Mami, kamu hamil. Dan dia marah.” kata Ezra.


Ia mendongak ke belakang untuk melihat wajah suaminya.


“Marah?”


“Iya, sudah mau masuk trimester kedua kita baru ngabarin. Tapi akhirnya dia malah nawarin babymoon!” katanya.


“Masa, kamu apa Mami?” selidik Risa.


“Aku sih mau,” jawabnya kalem.


Risa mencubit tangan suaminya gemas.


“Kandungan nya udah cukup kuat juga kan?”


“Tapi kayaknya aku malas ngapa-ngapain duh udah mulai kerasan sesak!” keluhnya.


“Nanti biar aku yang ngomong ke Mami.”


“Terus Mami bilang apa lagi?”


“Nanti Mami mau ke sini. Mau ngasih wejangan katanya,” Ezra mengusap perut Risa yang sudah agak menonjol, mencium kepala istrinya dengan sayang.


Semenjak hamil Risa merasa pernikahannya jadi lebih bahagia, suaminya sudah berubah lebih perhatian, lebih hangat tak jarang juga sering khawatir berlebihan. Ia menjadi suami siaga, sekarang sudah jarang pulang larut malam. Paling lambat jam tujuh malah sudah pulang. Katanya dia tidak ingin ibu dari anaknya kelelahan, apalagi cuma untuk menunggunya pulang.


Ezra menarik tubuh kecil istrinya semakin merapat, merasakan udara dari luar yang kian dingin. Risa merebahkan kepalanya di dada si suami, mereka semakin merapatkan diri. Saling membelit dan bergelung di dalam selimut. Malam sempurna untuk dihabiskan berdua, benar-benar hanya sekedar tidur untuk mengusik rasa dingin.