Risa Wedding's Story

Risa Wedding's Story
EPILOG



RISA


Malaikat kecil kami


***


Malam itu sangat rusuh, akhirnya malaikat kecil kami ingin melihat dunia. Seranganya semakin intens, si kecil sudah tidak sabar ingin melihat dunia dan seisinya. Ingin melihat kake dan neneknya, si om kembar Jerry dan Jerom. Tentu saja kami, orang tuanya.


Sedangkan Ezra, ya aku meringis karna sakit sekaligus ingin tertawa. Wajah suamiku pucat pasi, suhu badanya panas dingin saat membopongku ke dalam mobil.


Di kursi belakang dia menemaniku, cengkramanku di tanganya kian kuat.


Ah malaikat kecil kami memang nakal, ia lahir meleset jauh dari yang di perkirakan dokter.


Sungguh setitik air mata menetes melalui celah kelopak mataku, Ezra setia di sampingku. Memberiku semangat, pikiranku kacau. Rasa sakit melanda kian intens, aku rindu ibuku.


Semuanya terbayar saat perawat membaringkan malaikat kecil itu di dadaku, aku dan Ezra berpandangan. Lalu pandangan kami terfokus padanya, yang menangis keras. Mencari-cari sumber makanan dariku.


“Terimakasih sayang,” Ezra mengecup dahiku, baru kali ini kulihat mata tajam itu berair.


Suamiku menangis haru, perjuangan kami tidak sia-sia demi si malaikat kecil.


***


Chilla Putri Prawira, sekarang umurnya menginjak sembilan bulan dan sering sekali membuatku cemburu sebagai ibu, dia merebut segala bentuk perhatian Ezra dariku.


Tapi aku sangat bahagia memiliki mereka di hidupku, sempurna sudah hidupku kali ini.


Aku mengusap lembut pungung kecilnya, ia sudah terlelap di box bayinya. Setelah beberapa jam tidak mahu turun dari pangkuan ayahnya.


Sebuah tangan kokoh menelusup dan membelit pinggangku dari belakang, aku sangat hapal aroma tubuhnya yang maskulin.


Dagunya ada di pundaku, kupelototi dia yang sengaja meniup-niup telingaku.


“Mau berapa adik untuk Chilla,” bisiknya lembut.


***


Aku bukanlah sekedar perempuan penghangat saja di hidup Ezra. Dia mencintaiku dengan caranya sendiri, bukan dengan kata-kata romantis, coklat atau bunga. Dia sangat kaku dan sederhana. Kata cinta, mungkin hanya bisa kudengar beberapa kali dari mulut suamiku yang kaku.


Jangan pernah egois, aku belajar menjadi sabar yang sesunguhnya. Sabar tanpa embel-embel di belakang, masa lalu Ezra adalah sebagian dari dirinya yang harus kuterima. Bukan kubuat untuk kujadikan acuan dia baik atau tidak, pilihanku ternyata benar.


Ezra adalah laki-laki yang baik, tidak perduli orang lain melihatnya bagaimana. Bagiku dia yang telah mengorbankan waktunya untuk orang lain, lebih dari seorang laki-laki yang bertangung jawab.


Berita mengharukan datang, setelah kelahiran buah hati kami Elsha akhirnya siuman. Sungguh mengejutkan bukan, ia telah tertidur cukup lama dan tertinggal oleh waktu. Meski wanita itu mengalami kelumpuhan aku sangat bersyukur, dia terlihat tegar saat aku dan Ezra menengoknya. Kami terus berusaha memberinya dukungan moril. Semoga kehidupanya menjadi lebih baik. Karna aku yakin setiap manusia memiliki kesempatan.


Semuanya telah jelas, sekarang aku tahu bagaimana arti seorang Elsha di hidup suamiku. Wanita itu aku tidak bisa menyangkal bahwa dia pernah mengisi hati Ezra, aku menerimanya dengan lapang. Ia juga ada, aku tidak akan menyingkirkanya dari hidup suamiku. Melaikan menerimanya sebagai bentuk perjalanan ke dewasa-an suamiku, biarlah kenangan mereka tetap menjadi milik mereka.


Karna kenangan Ezra selanjutnya, sampai berpuluh tahun lagi adalah miliku dan Chilla(..)