Risa Wedding's Story

Risa Wedding's Story
FIVE



“Banyak orang ingin kembali ke masa remaja mereka, pada kehidupan cinta anak SMA yang ringan dan menyenangkan. Sedang aku tidak mau kalau itu tanpa kamu.” -Risa


***


Bell tanda pelajaran usai berbunyi, kantin yang di penuhi makanan di serbu para siswa dan siswi yang kelaparan. Begitu pula dengan dua siswi yang dengan ajaibnya sudah lebih dulu duduk di salah satu bangku kantin.


“Pintar juga loh Han, kita jadi bisa duduk gini!” ucap si gadis berponi lempar. Sambil mengedarkan padangnya pada kantin yang riuh dan penuh.


“Risa yang cantik, makanya jadi orang jangan baik-baik amat. Kita kan udah kelas XI. Kesannya kan begok gitu!” sahut gadis berambut sebahu itu sarkasme.


“Iya Hani yang pintar!”


Mereka berhasil mendapatkan tempat duduk setelah menyalib beberapa siswa yang akan duduk di tempat yang mereka duduki saat ini, sementara orang yang mereka ambil tempat duduknya menggerutu dan Hani duduk tanpa dosa.


Beberapa saat kemudian dunia terhenti, lebih tepatnya hanya dalam benak gadis bernama Risa. Penyebabnya adalah seorang pemuda jangkung yang sekarang tengah menuju ke arah kantin.


Cowok yang sudah setahun menjadi mataharinya gadis berponi itu, Ezra Prawira yang kini tengah memasuki kawasan kantin bersama beberapa teman laki-lakinya. Dan dua cewek yang selalu ada di kumpulan itu.


“Masih mikirin Kak Ezra luh Ris? ”tanya Hani jahil. Menghancurkan lamunan Risa.


“Enggak siapa bilang, sok tahu Loh!!”elak gadis berponi lempar itu.


“Udahlah keknya kagak ada harapan, wong di tempeli mulu gitu.” kata Hani sambil mengaduk es cendolnya.


“Loh kok ngomongnya gitu? Bukanya ngedukung gue buat pdktan.”


Hani menatap bibir sahabatnya yang sudah mengerucut, terkekeh geli. Dalam hati ia sebenarnya tidak ingin Risa sedih, namun Hani tidak terlalu suka dengan kakak kelas mereka yang Risa taksir itu. Terlalu charming, terlalu menarik, tanpa celah. Biasanya orang seperti itu memiliki rahasia.


“Mau pdkt gimana kalau dia tahu nama loh aja kagak? Itu namanya stalkler Oneng!”ucap Hani telak.


“Jadi teman jahat amat sih Han.” kata gadis berponi itu mulai bete.


“Udah dengar gosip?” kata Hani tiba-tiba.


“Kan sumber berita gue elo Han, kalau loh belum ngoceh mana gue tau!”sindir Risa.


“Sialan luh Ris, ini tentang pangeran loh juga,” Hani tahu Risa akan jadi siaga ketika membicarakan cowok pujaannya, jadi tanpa basa basi ia melanjutkan, “Katanya kemarin Kak Ezra di panggil guru BP, karena ketahuan mabuk!”


Risa terbelalak mendengar ucapan sahabatnya, karena yang selama ini ia tahu cowok yang ia sukai itu adalah representase good boy sejati. Dengan senyum lesung pipitnya yang secerah mentari.


“Enggak mungkin! Mungkin itu cuma gosip!”


Hani mengetukan jemarinya di pinggir piring Siomay yang telah tandas, “Tapi itu benar, soalnya waktu gue pulang nonton malam kemarin bareng si Andy. Gue gak sengaja liat Kak Ezra mapah cewek itu yang sempoyongan di jalan!” tutur Hani sambil menunjuk salah satu cewek yang sedang duduk bersama Ezra dan kawan-kawannya.


“Cewek siapa Kak Nindy? ”tanya Risa penasaran. Menyebutkan salah satu cewek yang ia tahu selalu di gerombolan Ezra dan teman-temannya.


“Yang satunya lagi, yang imut itu siapa namanya. Oh iya Elsha!”


***


Risa menatap jauh ke arah langit abu-abu, membayangkan masa SMA yang lebih menyenangkan daripada hari ini. Sekarang ia tengah duduk di trotoar jalan yang untungnya sudah cukup sepi.


Kapan masa SMAnya akan menjadi penuh warna, seperti yang orang-orang katakan tentang masa remaja. Payah memang, hidup begitu monoton. Dengan kesal Risa mengambil beberapa kerikil yang ada di dekatnya, lalu melempar kerikil itu ke jalan beraspal di hadapannya.


“Bahaya kalau sampek ada pengendara yang kena lempar, terus pecah konsentrasi dan jatuh!”


Risa terkejut saat tiba-tiba ada suara bariton khas cowok yang menegurnya, dengan refleks gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Ia berusaha menormalkan mimik wajahnya, pura-pura tak kenal dengan cowok yang kini tengah menjulang di sisi tempat ia duduk.


“Jangan SKSD Risa please tahan! ”gumam gadis itu dalam hati.


Padahal dadanya sudah dag-dig-dug tak karuan, diam-diam gadis itu melirik kaki jangkung si cowok dari ekor matanya.


“Kalau ada orang nyeker menginjak kerikil yang kamu lempar gimana?” kata cowok jangkung itu lagi, kali ini sambil ikut duduk di sisi Risa.


“Gila kali! Siapa yang mau nyeker!!” bantah Risa terlalu cepat.


“Gue Ezra.” kata cowok itu, tersenyum memamerkan lesung pipit sambil menatap Risa. Sampai-sampai gadis itu salah tingkah.


Ezra mengadakan wajahnya, pandangan itu menerawang. Sedang Risa hanya bisa menyaksikan wajah rupawan Ezra penuh kekaguman diam-diam lewat ekor mata. Mata itu sepertinya sedang sedih, ingin sekali ia bertanya sebelum kemudian kelopak itu menutup. Lalu mengerjap.


“Kayaknya mau hujan, btw gue sering liat pemulung dekat sini yang suka nyeker!” tutur Ezra, kemudian dia bangkit dan berlalu begitu saja. Padahal gadis itu belum sempat memperkenalkan dirinya.


Risa tidak bisa berpaling dari pundak pemuda jangkung yang kini berlalu dari hadapannya, andaikan ia lebih berani mungkin ini kesempatan. Bagaimana kalau iya, karena terkadang kesempatan datang hanya satu kali. Berarti ia telah kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan cowok itu.


***


2 bulan sebelum kelulusan kelas XII..


“Ris ada berita hot! ”heboh Hani sambil memasuki perpustakaan, mengusik beberapa murid.


Risa yang duduk di bangku paling pojok berkata gemas, “Jangan berisik ini perpus bukan carnaval  Hani!”


Dengan sedikit mengendap-endap Hani mendekati gadis berponi itu, “Pangeran loh jadian sama cewek sok imut itu!” bisiknya.


“HAH!!”


“Ssssttt!!”


“Maaf, semuanya he he.”


Dengan cekatan Hani menyeret Risa keluar dari ruang perpustakaan, mereka berdua berlari-lari kecil menuju manding sekolah. Susah payah menyelinap melalui kerumunan para siswa dan siswi yang sedikit mengerutu, karena dua gadis yang menginjak dan menyelinap seenaknya itu.


“Gila ya gue kira si Ezra itu cowok baik-baik ternyata!” celetuk sinis cewek di sebelah Risa yang entah siapa.


“Tuh, kan gue bilang apa! Mau sebaik apa pun yang namanya cowok di suguhi cewek seimut Elsha ya mana tahan!! Munafik si Ezra!!” maki beberapa gerombolan cowok.


Hari itu riuh oleh makian orang-orang, Risa tidak bisa berbuat apa-apa sebab ia pun masih terkejut dengan selembar foto yang terpampang jelas di dalam manding yang terlapisi kaca itu. Hatinya berdenyut sakit melihat sepasang insan yang tengah menautkan bibir mereka.


Risa mundur dari kerumunan, mungkin ini semua salah. Itu cuma editan atau sesuatu yang seseorang buat untuk menjatuhkan Ezra. Hatinya ingin berteriak bohong, tapi kenapa foto itu terlihat amat sangat real. Cara tangan cowok itu menyentuh pipi si cewek. Editan siapa bisa serapi itu.


Tidak sengaja tubuhnya malah menubruk seseorang, Risa yang terjatuh mengadah. Ternyata secara tak sadar sedari tadi ia berlari menjauhi kerumunan itu.


Lalu sesosok wajah dalam pikiran Risa kini ada di hadapannya, kali ini asli. Rasanya ia ingin bertanya langsung tentang foto itu, mata gadis itu mulai memanas. Kata yang ingin di ucapkan tertelan kembali saat seorang gadis mungil muncul di belakang cowok itu.


Ezra sempat memandangnya sekilas, sebelum kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Risa di ikuti si gadis mungil.


***


Malam from, seharusnya anak kelas XI tidak ada di sana. Tapi tidak demikian untuk para panitia suka relawan. Dari banyak hal yang ingin Risa hindari, sialnya dia dengan bodoh dulu menjadi salah satu sukarelawan itu.


Suara musik dansa yang lembut mulai mengalun, ia memandang kakak kelas mereka yang sekarang sedang berdansa santai.


Dari balik panggung from Risa mengumpat, menelan bulat-bulat apa yang tengah mengganjal di tenggorokannya. Melihat dari celah itu sepasang kekasih yang berdansa dengan intimnya. Sial sekali berita itu mungkin benar.


Risa patah hati!