RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Ujian



.


.


.


Riki pria yang selalu tak perduli dengan perasaan itu akhirnya menyadari. Bahwa putus cinta itu sungguh sangat sulit, seperti ada sesuatu yang hilang dan itu membuat hatinya tak nyaman.


Di rumah, pemuda itu duduk di atas kursi meja belajarnya dan memandangi beberapa foto polaroid yang tertempel di dindingnya.


Teringat hari-hari yang manis saat ia bersama kekasihnya itu, dia terkadang tertawa dan juga terkadang berubah sedih saat kenyataan menyadarkan lamunannya.


"Aku tidak akan menyerah, dia adalah milikku. Tidak boleh ada yang merebutnya!" ucapnya dengan semangat.


Kini pria itu mengambil pena nya untuk melanjutkan belajar, dia harus menjadi juara kelas di ujian kenaikan kelas nanti. Agar sang Ayah tidak membawa nya pergi sehingga dia akan tetap berada di sisi kekasihnya dan merebut kembali cinta nya.


.....


.


.


.


Amel POV


Di sekolah, ujian akhirnya semakin dekat. Beberapa hari lalu Riki selalu acuh terhadapku, seakan semua yang kita lalui itu hanyalah seperti angin yang berlalu.


Dia pindah tempat duduk di sebelah fanny sedangkan Raffi duduk di sebelah ku, pemandangan di depan ku itu sungguh menyulitkan perasaan ku. Ingin sekali aku bicara padanya karena banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya.


Tapi, tubuh ini sulit untuk sekadar mendekatinya. Seperti ada jarak yang jauh memisahkan perasaan kami.


Raffi selalu ada untukku disaat aku kesulitan belajar, dia selalu memberiku rangkuman materi pelajaran yang akan masuk ke dalam ujian nanti. Sesekali ia mengajak ku keluar untuk berjalan-jalan dan terkadang memberiku les private, karena dia selalu juara satu di kelas. Tapi, aku selalu memikirkan si berandal yang aku temui di Ampera itu. Saat ini dia masih berhutang penjelasan untukku, biarlah beberapa saat ini aku berfokus kepada ujian.


.....


.


.


Riki POV


Suatu malam, di lapangan basket yang redup di sinari bola lampu sekolah. Riki mengajak Raffi bertemu di sana untuk membicarakan suatu hal.


"Hei!" pekik Riki sembari melemparkan bola basket ke arah Raffi.


Sontak membuat Raffi seketika menangkapnya, terlihat Riki yang keluar dari gelap nya tempat yang tidak terkena cahaya lampu menghampiri Raffi dengan aura kepercayaan dirinya yang kuat.


"Ada apa?, gua sibuk gak bisa lama." ujar Raffi.


"Gue mau ajak lu taruhan, berani gak?" ucap Riki sembari merebut bola basket di tangan Raffi.


Dia melemparnya ke ring dengan tepat sasaran.


"Masih belom puas dengan kekalahan?" ejek Raffi yang meremehkan perkataan Riki.


"Kali ini gua akan kasih taruhan yang bagus." jelas Riki yang membuat Raffi sedikit menarik.


"Apa?"


"Gua bakalan jauhi dia selamanya dan biarin lo bersama dia."


"Emang harus!."


"Tapi Kalau Amel menolak lo jadi pacarnya setelah ujian sekolah. Gua bakalan mendekatinya lagi, dan ini berlaku untuk selamanya."


"Pertaruhan bodoh!" ujar Raffi merasa di rugikan.


"Jadi lo nggak percaya diri nih, berarti gue harus bubarin Geng Rajawali gua dan ngejar dia lagi." ancam Riki sembari menepuk pundak Raffi.


"Segampang itu lo mau bubarin geng!"


"Geng Rajawali menjadi alasan lo buat pisahin gua sama dia kan?, kalau geng Rajawali bubar, lo gak bisa lagi mengatasnamakan pertemanan Rajawali."


"Sebulan, beri waktu sebulan sehabis ujian untuk gua deketin dia."


Riki pun tersenyum, "Oke!, janji ini di buat oleh Pria, jadi janji pria haruslah ditepati." jelas Riki sembari menjabat tangan Raffi.


"Gua bakalan dapati dia, jangan menyesal bila dia menjadi milikku." ucap Raffi yang tak mau kalah.


.....


.


.


.


Ujian kenaikan kelas akhirnya telah tiba, para murid sudah menerima kartu ujian dan memasuki kelas berdasarkan nomor yang sudah di tentukan.


Amelia sudah berusaha keras belajar beberapa hari ini, kegalauan hatinya itu disimpannya rapat-rapat agar fokus ke pendidikan.


"Yang mana kursi ku?" batin Amel yang mencari-cari nomor kursi nya.


Berjalan kesana dan kesini membuatnya tak sengaja menabrak seseorang, alat tulisnya pun terjatuh berantakan. Ia sangat kesal dan melihat orang yang mengenainya itu.


Tapi, kekesalan itu tak sepenuhnya keluar dari dirinya saat yang ia tabrak itu adalah si berandal.


Pria itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata, Amel bergegas mengambil alat tulisnya.


"Dasar berandal!" batin Amel kesal.


"Ah, Raffi. Gak apa kok. Makasih ya?"


"Iya, kamu nomor 226 ya?"


"Hmmm."


"Berarti di belakang aku lah."


"Kamu dimana?"


"Disini." tunjuk Raffi pada kursinya.


"Oh, oke lah. Semangat ya ujiannya Raffi." ucap Amel dengan senyum cerahnya.


"Kamu juga, jangan terlalu gugup."


kata Raffi sembari mengelus surai rambutnya.


Di balas anggukan olehnya.


.....


.


.


.


Akhirnya bel sekolah berdering, tanda kertas ujian akan segera di kumpulkan. Dengan keyakinan Amel mengumpulkan kertas ujiannya itu, berharap ia menjawab soal dengan benar.


"Kamu udah berusaha, pasti hasilnya bagus." ucap Raffi memberi semangat.


"Amin deh." balasnya sembari merapikan peralatan tulisnya.


"Kita pulang bareng ya?" ajak Raffi.


"Arah kita beda, aku bisa pulang sendiri. Mending kamu pulang dan belajar aja."


"Tapi, aku khawatir." ucap Raffi.


"Aku bukan anak kecil lagi, bye fi."


Amel pun meninggalkan Raffi dan pulang sendiri, sudah berapa kali Raffi ingin mengantarnya. Tapi, selalu ditolaknya dengan banyak alasan.


Di parkiran, Amel bersembunyi di samping mobil seseorang. Ia sedang mengintip Riki yang kini berjalan menghampiri motornya.


"Dia gak ada ekspresi apapun kah?, gimana dia bisa cepat sekali melupakan aku!" batinnya merasa geram.


Riki pun menaiki motornya dan pergi.


Dia tidak punya wanita lain, tidak pernah mendekati wanita, tapi kenapa putusin aku tanpa penjelasan. Aku gak menerima ke egoisannya itu!. Sampai aku tau alasannya, baru aku bisa melupakan kamu sepenuhnya.


.....


.


.


.


Sedangkan di dalam mobil, Raffi yang duduk memainkan handphonenya seketika memandangi kelakuan wanita yang disukainya itu. Terlihat Amel yang sedang memegang kaca mobilnya dengan misterius.


"Dia ngapain sih, katanya tadi gak mau pulang bareng." batin Raffi sembari tersenyum senang.


Saat ia ingin membuka kaca mobilnya, tangannya terhenti saat melihat Riki yang berjalan ke arahnya.


Dengan mata berbinar dan ekspresi nya yang terlihat antara kesal dan sedih itu tampaknya ia masih mengharapkan pria itu.


"Ternyata, tak semudah yang aku pikirkan." gumamnya sembari melihat Amel yang terus memandang ke arah Riki.


.....


.


.


.


Flashback beberapa tahun yang lalu.


Taman kanak-kanak.


"Dasar gendut!"


"Gendut!, gendut!" teriak semua anak-anak di taman bermain.


Raffi kecil selalu di hina karena tubuhnya yang gendut, cara makannya yang banyak dan status sosialnya yang tinggi. Banyak anak-anak lain yang tidak mau berteman dengannya. Dan selalu mengatainya gendut setiap bertemu di sekolah.


Sebab itu ia selalu sendiri, melihat di luar jendela kelasnya. Banyak anak-anak lain yang bermain dengan senang dan gembira. Hatinya senang sekaligus sedih karena ia yang sangat kesepian.


Suatu hari ada seorang murid pindahan, wanita mungil yang lucu dan sangat ceria. Menghampiri Raffi kecil dan mengajaknya bermain, Amelia namanya. Ia sangat suka makan permen dan kebetulan Raffi selalu membawa banyak makanan terutama berbagai macam rasa permen di sekolah. Alhasil Amelia kecil itu selalu menempel pada Raffi dan menjadi temannya. Sampai tibalah hari kelulusan TK, mereka pun berpisah, dari waktu itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Walau waktu yang singkat dan masa kanak yang belum mengerti apapun, tapi di hati Raffi itu sangat spesial dan menyenangkan. Tidak terlupakan olehnya sampai saat ini. Nama panjang yang dulu sering di tulisnya di buku gambarnya saat TK itu masih ada sampai hari ini.


Amelia Jenniferly.


.....


😊😍😘