
♡´・ᴗ・'♡ ♥(✿ฺ´∀'✿ฺ)~(^з^)-♡.....
.
.
.
Pagi telah kembali menyapa hari ini, aku mendapati suara klakson yang ribut di depan rumah ku. Segera aku keluar dan mendapati senyuman manis dari pacar baru ku. Dia memakaikan helm padaku dan kini aku sudah berada di atas motor bersamanya. Hanya memeluknya dengan rasa senang, tanpa banyak kata dia mengendarai motornya pelan, tidak mengebut lagi.
Kami tiba di parkiran, semua orang melirik kami dengan berbisik. Seperti biasa aku tidak menghiraukan mereka, bila dia berjalan bersama ku dengan penuh cinta, itu saja sudah cukup membuatku senang.
Kami masuk ke dalam kelas dan aku duduk di tempat awal ku. Melihat itu Raffi yang sering duduk di samping ku itu merasa heran.
"Mel, kenapa kamu duduk di sana?"
"Aku duduk di tempat semula fi."
"Yah, aku sendirian dong?, duduk sama aku aja?" pintanya.
"Maaf ya, aku harus kembali disini."
"Di sana tempat orang lain, mending duduk sama aku lagi mel." pintanya sekali lagi sembari memelas.
Aku merasa bersalah, karena Raffi selama ini menjadi teman yang baik selama masa sulit.
"Dia sudah bilang nggak mau, jangan dipaksa!" cetus Riki yang kini menjadi kesal.
"Aku nggak ngomong sama lo!"
"Lo berani!"
Kini Riki tampak marah, dia menghampiri Raffi dan mencengkram seragamnya dengan penuh emosi.
"Ngajak berantem ha!" pekik Raffi yang tak mau kalah.
Keduanya sudah memanas dan hendak berkelahi.
"Stop!" pekik ku sembari menjauhkan keduanya.
Aku menarik Riki kembali ke tempat duduknya dan mengelus pundaknya dengan lembut.
"Sudah." ucapku pelan.
Dia mendengarkan perkataan ku dan menggenggam tanganku di bawah meja, seakan itulah caranya untuk menghilangkan emosinya.
Guru pun memasuki kelas dan kami belajar seperti biasanya. Riki yang biasanya tertidur di kelas itu kini mendengarkan ajaran guru di depannya dengan serius. Membuat aku seperti sedang melihat orang yang berbeda. Aku memandang wajahnya sembari tersenyum senang, dia mendapati diriku yang terus memandangnya dan mulai mendekatkan wajahnya itu tepat di depanku, spontan aku langsung mengarahkan wajahnya kesamping dengan kelima jari ku.
"Fokus belajar!" bisik nya padaku.
Aku merasa salah tingkah, seakan hati ini tak bisa membendung rasa bahagia yang ku rasakan saat ini. Akhirnya bel istirahat berbunyi, aku merapikan buku dan ingin ke kantin. Lalu, seperti biasanya Raffi datang menghampiri ku.
"Ayok ke kantin Mel?" ajak Raffi.
"Ayo." jawabku.
Saat hendak berdiri, Riki menarik tanganku dan membawaku pergi. Aku memandang Raffi dengan perasaan bersalah, karena dia orang baik yang mau berteman denganku di saat yang lain tak mau di kala itu.
Kantin, tak menyangka Raffi menyusul dan duduk di sebelah ku. Riki kini menatapnya dengan kesal. Aku duduk di antara mereka dan suasana kini menjadi sangat suram dan mencengkam.
"Ngapain lo ngikut?" tanya Riki.
"Emang biasanya begini, ya kan mel?" tanya Raffi.
"Ah, iya." ujar ku merasa tak enak hati.
"Cari teman lain sana, ngapain temenan sama cewek!, lu banci apa?" cetus Riki.
"Lu playboy ngapain deketin dia, cari mainan yang lain aja, jangan sama dia!"
"Mainan?, lu hina gue!"
"Emang kenyataan, semua orang pada tau kalau lo itu playboy!"
"Dasar brengsek!"
"Apa!"
Mereka berdiri dan saling menatap sengit.
"Udah!, bisa nggak makan yang tenang?, jangan berantem!" pinta ku.
Akhirnya mereka berdua duduk kembali dan melanjutkan makannya. Aku merasa stres dengan keadaan ini, satunya adalah teman dan satunya lagi adalah pacar. Dua orang yang memiliki karakter berbeda ini akankah bisa menjadi teman?.
"Kamu suka ini kan?" Raffi memberikan telur dadar nya padaku seperti biasanya.
"Makasih." ujar ku.
"Aku lapar!." kata Riki yang kini merebut telur dadar itu dan melahapnya.
"Aku masih punya tempe, biar kamu sehat."
"Gak usah banyak makan, nanti gemuk!" katanya sembari merebut tempe itu lagi.
"Ini habisin punyaku, jangan ambil yang dia, kalau orang rakus mah begitu." ejek Raffi sembari memberikan ajangnya pada Riki.
"Rakus!" Riki melempar sendok nya dengan marah.
Semua murid melirik ke meja kami yang sedari tadi ribut. Aku pun menahan emosi dan pergi meninggalkan keduanya.
Aku duduk di taman belakang yang sepi dan jarang didatangi para murid untuk meredakan kesal yang tiada artinya.
"Kamu disini?" Riki yang menghampiri.
"Iya, nggak lapar lagi denger kalian berantem."
"Dia yang salah."
Aku tersenyum melihat dirinya yang sedang cemburu itu, ia menatapku heran karena tersenyum melihat dia yang sedang marah.
"Jangan suka marah-marah, nanti cepetan tua loh." ejek ku sembari mengelus pipinya.
Dia memeluk aku dan bermanja di dalam pelukan. Ingin menghilangkan rasa kurangnya kepercayaan dirinya terhadap orang yang mendekati aku.
"Kenapa hubungan kita harus di rahasiakan?" tanya nya.
"Aku nggak mau di cap sebagai mainan kamu yang selanjutnya."
"Tapi, aku bakalan tunjukkin kepada mereka, bahwa kamu yang teristimewa." jelasnya sembari mengelus rambut panjang ku.
"Aku percaya kamu, tapi mereka nggak akan percaya kan?"
"Jangan deketin dia lagi."
"Dia siapa?, Raffi?, dia cuman sekedar teman buat aku." jelas ku.
"Tapi aku cemburu."
"Kamu percaya kan sama aku?" aku menatap matanya lembut dan menggenggam kedua tangannya.
"Hmm." angguknya pelan.
"Aku janji, gak akan terlalu dekat dengan dia."
"Janji?"
"Janji."
Dua kelingking bertaut untuk berjanji. Perlakuannya sangat manis, berbeda dari yang awal aku bayangkan. Dia menjadi lembut dan lucu ketika sudah menyukai seseorang. Riki si berandal yang playboy dan angkuh itu berubah 100° ketika menyukai seseorang.
Bel masuk berbunyi, kami pun segera masuk ke dalam kelas secara terpisah.
Seperti biasa aku dan Raffi akan membawa tumpukan buku PR untuk di bawa ke ruang guru. Tapi, Riki segera mengambil tumpukan buku di tanganku dan pergi. Aku hanya tersenyum dan duduk kembali ke tempat duduk ku.
Kini mereka berdua berjalan bersama membawa tumpukan buku.
"Bawa semua!" ucap Riki yang kini memberikan tumpukan bukunya pada Raffi.
"Apaan!" Raffi yang seketika kesal itu memberikan semua tumpukan pada Riki.
Alhasil mereka saling melempar dan semua buku pun terjatuh, membuat keduanya harus memungut buku tersebut.
"Gara-gara kamu kan!" rutu Raffi.
"Bawain aja kenapa sih!, lemah banget!"
"Ngapain kamu sok baik sama Amel?" tanya Raffi.
"Apa pentingnya buat lo?"
"Kalau kamu menargetkan dia, lebih baik kamu berhenti sekarang." ancam Raffi.
"Kalau aku serius?"
"Mana bisa seorang playboy benar-benar menyukai seseorang."
"Kita liat saja nanti."
Akhirnya mereka berhasil sampai ke ruang Guru bersama, dan kembali ke kelas bersamaan.
"Kalian gak berantem kan?" tanya Amel.
"Nggak kok, kamu tenang aja." jawab Riki sembari tersenyum pada kekasihnya.
Raffi yang melihat kemesraan mereka itu meremas pena nya dengan amarah, pemandangan itu membuatnya kesal.
Sebelum masuk ke dalam kelas, kedua orang itu berjalan ke toilet bersamaan. Di dalam toilet tidak ada siapapun membuat keduanya kini saling menatap sengit.
Riki menghampiri Raffi dan mencengkram kera seragam Raffi dengan amarah.
"Jangan sok alim!. Kalau lo berani kita duel sehabis pulang sekolah ini!"
Raffi menatap sengit lawannya itu dan dengan sekuat tenaga mendorong Riki, dia balik mendekati Riki dan berbisik.
"Malam ini, di lapangan sekolah. Jangan telat!"
Raffi pun keluar dari toilet sembari merapikan seragamnya. Riki tersenyum senang mendengar tantangan dari lawannya.
.....
.
.