RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Rindu



ヽ(*≧ω≦)ノ(☆^ー^☆)~(^з^)( ˘ ³˘)❤


.


.


.


Semua buku PR sekelas sudah aku kumpulkan  dan saatnya membawa semua ini ke ruang guru. Buku yang tebal dan banyak ini sampai menghilangkan pandanganku ke depan, jadi aku dengan hati-hati membawanya.


"Aku bantu."


"Ah, nggak usah, udah mau sampai kok." ujar ku sembari tetap berjalan.


"Sini, pasti berat kan?"


Dia mengambil sebagian buku dari tanganku, Raffi anak pindahan yang baru masuk hari ini.


"Amel ya, salam kenal." ujarnya sembari melihat namaku di seragam.


"Salam kenal juga Raffi." balasku.


Kini kami kembali ke dalam kelas, terdengar suara berisik dari ruangan di karenakan pergantian jam pelajaran. Semua teman sudah berganti pakaian olahraga, tinggal aku dan Raffi yang belum berganti. Mereka kini menuju lapangan, karena tak sempat lagi aku langsung memakai celana olahraga di kelas.


"Kamu ngapain?" tanya Raffi yang kini berpaling muka.


"Cepetan ganti baju, guru olahraga nya killer loh."


"Aku mau ke toilet aja."


"Gak sempat lagi, gurunya udah mau datang, cepetan ganti, aku udahan kok."


"Beneran?" dia melihatku yang sudah selesai berganti.


"Aku duluan ya, kamu ganti baju disini aja cepat!" ujar ku sembari berlari keluar ruangan.


Dengan ekspresi bingung akhirnya Raffi menuruti perkataannya. Setelah itu langsung menyusulnya turun.


.....


.


.


Di lapangan, matahari yang ditutupi tebalnya awan membuat suasana tidak begitu panas. Kami memulai pemanasan dan hari ini guru memberi kami olahraga senam jantung sehat.


"Ah, akhirnya selesai juga." kata Raffi yang kini memberikan ku sebotol air.


Aku meneguknya dengan lega, senam yang cukup menguras tenaga sampai berkeringat.


Dari jauh pandanganku tertuju pada Viona yang mengantarkan sebotol air pada si berandal. Ia menerimanya dengan senyuman dan meneguk air itu. Mengapa hatiku sedikit terganggu dengan suasana mesra mereka.


"Mel?" panggil Raffi.


"Ya?"


"Kamu liatin apa?"


"Nggak ada, ke kelas yuk."


"Oke."


.....


.


.


Kami tak berganti pakaian lagi untuk pelajaran selanjutnya.


"Mel, kita ganti tempat duduk yuk." ajak Vio.


"Oke."


Akhirnya aku memindahkan tas ku ke tempat duduk Vio. Meja nomor dua dari belakang dekat jendela, tempat yang cukup bagus.


"Mel, boleh aku pinjam beberapa buku catatan kamu?" tanya Raffi.


"Boleh kok, besok aku bawa."


"Nggak usah, biar aku ke rumah kamu aja. Kirimi alamat mu nanti."


"Ke rumah?"


"Ya, aku mau catat semua catatan yang udah ketinggalan. Bolehkan?"


"Boleh."


Pandanganku lagi-lagi tertuju ke pasangan baru itu, si berandal tidak tidur di meja lagi. Dia membuka buku dan mencatat dari buku catatan Vio. Tanpa sadar aku memegang dadaku, apa ini?, kenapa sangat sakit?.


.....


.


.


.


Ada apa denganku?, mengapa hatiku merasa sepi dan apa sesulit itu untuk tak menghiraukannya. Padahal ia hanyalah sekedar orang yang selalu membuatku kesal. Kenapa aku harus memiliki perasaan lebih untuknya?.


Di benakku penuh tanda tanya, tapi semuanya tak bisa ku jawab. Ini lebih susah dari pada menjawab soal ujian. Aku mengambil boneka kelinci itu dan memeluknya erat, hanya kamu yang membuatku dilema.


Tok..tok..tok..


Bunyi ketukan pintu itu seketika membuatku buru-buru berjalan untuk membuka nya. Tapi, apa yang sedang ku harapkan sehingga merasa sedikit kecewa.


"Hai, mel." sapa Raffi.


"Silahkan masuk."


"Nggak apa nih?"


"Iya, masuk aja. Duduk di kursi itu."


Aku pun mengambil beberapa buku dan ku berikan semua padanya. Ia dengan senyumnya kini membuka buku itu dan mulai mencatat.


Aku melihatnya menulis dengan rapi dan hati-hati. Tanpa sadar aku tersenyum melihat si berandal yang kini ada di depanku dan sedang menulis.


"Mel, Amel?"


Lamunan ku terbuyarkan oleh Raffi yang terus memanggilku.


"Oh, Maaf."


"Pasti kamu sudah ngantuk, aku pinjam satu buku untuk di catat di rumah, besok aku bawa ke sekolah."


"Iya."


Dia pun pergi dan tinggal lah aku seorang diri. Aku kembali berbaring di tempat tidur ku.


"Bisa-bisanya aku ngelamuni dia!"


"Amel, berhenti mikirin si berandal. Kamu harus menerima kenyataan, dia itu nggak cocok buat kamu." gumam ku meyakinkan diri.


Setelah tenang, aku pun tertidur.


.....


.


.


.


Viona tidak pernah datang pada ku lagi, dia sekarang sibuk menempeli pacarnya. Biasanya dia akan datang mengajakku ke kantin dan ngobrol bersama, tapi saat ini dia menjauh dan tak pernah menyapa ku lagi.


Sesekali aku yang lebih dulu mengajaknya ke kantin atau sekadar ingin mengobrol. Tapi, ia selalu menghindari ku seakan seperti bukan Viona yang ku kenal dulu.


Sekarang aku ke kantin bersama Raffi, dia tidak pergi bersama temannya dan malah ingin pergi bersama ku. Raffi kini menjadi pria tampan no.2 di SMA ini setelah Riki. Jadi, beberapa wanita sering iri melihat aku yang dekat dengannya. Tapi, tidak separah wanita si berandal yang suka menyerang ku secara tiba-tiba.


Di kantin aku menikmati makananku, pandanganku lagi-lagi tertuju pada Viona dan si berandal yang sedang makan bersama. Mereka terlihat serasi, yang satu cantik dan satunya lagi tampan.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Raffi.


Aku mengangguk dan tersenyum ramah pada Raffi, aku tak bisa terus-terusan memikirkan si berandal. Aku harus segera melupakannya, karena semuanya tidak lah berarti apapun. Rasa ini mungkin akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.


"Besok kelas kita dapat giliran ke museum Monpera, kamu udah tau?"


"Oh ya?, dapat berita dari mana?"


"Dari grub chat kelas, makanya selalu cek di sana." ledeknya sembari memukul kening ku pelan dengan jari telunjuknya.


"Biasalah, nggak terlalu akrab. Jadi jarang buka grub chat."


"Sekarang aku adalah teman kamu, jadi jangan merasa sendiri ya Amel." katanya meyakinkanku dengan senyuman manisnya, dan aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan.


Sepulang sekolah, aku melihat Viona yang duduk di atas motor si berandal sembari memeluk erat dirinya. Mereka pergi dengan perasaan senang dan penuh asmara, sepertinya si berandal sangat menyukai Viona. Si berandal tak pernah datang lagi ke rumah, mungkin dia sudah sadar bahwa semua yang ia lakukan adalah kesalahan. Aku harap kamu bisa bahagia tanpa melukai semua perasaan gadis yang menyukai mu, walau hanya karena uang atau memang tulus mencinta.


Aku berjalan menyusuri jalan yang biasa ku lalui, semua bunga bermekaran dengan indah. Tapi, mengapa hatiku serasa hampa dan sepi. Teringat saat-saat menyebalkan bersamanya, juga saat-saat indah yang tak terduga.


.....


Bila ada, aku tak merasa.


Bila tak ada, aku lebih merasa.


Akankah ini di sebut sebagai kebiasaan yang seketika menghilang?.


Atau arti lain dari kerinduan.


.....


.


🌻🌻🌻🌛