RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Masalah



(⌒.−)=★(^_−)☆(^_-)≡★


( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)


.


.


.


Malam yang sunyi, aku duduk di atas tempat tidurku dan memandangi kertas ulangan si berandal dengan mata yang menyipit.


"Apakah ini nyata?" gumam ku.


Matematika adalah pelajaran yang sulit untuk ku, tapi aku bisa yakin bahwa guru memberinya nilai tidak secara asal-asalan.


Bagaimana mungkin seseorang yang selalu tertidur di kelas itu sangat jenius. Aku pun tak kunjung mengerti dengan semua rumus yang ia pakai. Mata ku mulai ingin terpejam karena rasa kantuk yang sudah mulai memenuhi ku.


Tok..tok...tok


Lagi-lagi suara ketukan pintu yang membuatku kini berjalan malas tuk membuka nya. Rambut acakan, mata sayu dan mulut yang menguap tanpa dosa ini seketika terkejut melihat siapa yang ada di balik pintu.


"Astaga..." pekik ku membuat orang yang di depanku memperlihatkan ekspresi bingung.


"Aku masuk." katanya sembari menerobos kedalam.


"Ngapain kesini?, aku baru mau tidur." ucapku sembari menatap sengit si berandal.


"Buku catatan."


"Ya?"


"Buku catatan?" katanya sembari mengulurkan tangannya berharap aku mengerti.


"Yang mana?" tanyaku.


"Yang selama ini aku nggak catat." jelasnya.


Aku pun ke kamar mengambil beberapa buku yang ia mau dan membawa semua padanya.


Ia mengeluarkan buku dan segera menyalinnya. Melihat itu aku semakin bingung, ada apa dengan dia. Tanpa sadar aku memegang keningnya untuk memastikan, seketika ia melihatku dan pandangan kami bertemu.


"Jangan pegang-pegang, nanti kamu dalam bahaya." katanya sembari menurunkan tanganku.


Dia melanjutkan kesibukannya dan aku kini diam-diam memandangnya di balik kertas ujiannya. Ia menulis dengan serius dan cepat, tulisannya sangat indah dan rapi. Apakah ini salah satu kelebihannya selain bernyanyi?.


Selama dia menulis, mata ku tak bisa menahan rasa kantuk yang sudah ingin runtuh. Hingga akhirnya aku ketiduran di depannya.


.....


.


.


.


Terik matahari pagi menyinari kamarku, dengan lesu aku beranjak dari tempat tidur.


Bergegas untuk ke sekolah, kini aku merapikan buku untuk di bawa hari ini.


"Mana buku Bahasa ku?"


Aku mencari-cari keberadaan buku itu. Namun, sama sekali tidak ketemu. Ku ingat-ingat kembali dan ternyata buku itu ku berikan pada Riki tadi malam. Aku mencoba membuka handphone ku hendak menghubungi nya. Tapi, aku lupa kalau tidak menyimpan nomornya. Sekarang hanya bisa berharap ia membawanya ke sekolah, karena di sana ada PR yang harus di kumpul hari ini.


Saat hendak membuka pintu, aku tak bisa membuka pintu ku sendiri. Aku menarik-narik pintu dengan kuat, tapi masih tetap tertutup rapat.


"Dasar si brandal."


Aku mulai berteriak memanggil kakak-kakak di sebelah, dan akhirnya ada seseorang yang membuka pintu ku.


"Terima kasih kak maya." ucapku.


"Semalam pacar kamu yang ngunci pintu, terus nitip kuncinya sama aku." jelasnya sembari memberikan kunci.


"Oh gitu, makasih kak."


"Kamu ngapain sampai bisa ketiduran?" tanya kak maya dengan ekspresi mendominasi.


"gak ngapain kok, aku udah telat kak, bye!"  ujar ku sembari berlari pergi meninggalkan percakapan yang menakutkan.


.....


.


.


.


Disekolah, kini aku sudah berada dalam kelas. Tapi, si berandal tak kunjung datang. Semua bangku sudah lengkap kecuali dirinya. Membuat aku semakin khawatir, tak lama bel berbunyi.


"Gawat, mana sih dia, tau guru bahasanya killer. Dia mau ngerjain orang kah!" gumam ku sembari penuh kesal.


"Mel, kamu kenapa?" tanya Viona sembari menepuk punggung ku.


"Gimana nih, ada nomor Riki nggak?" tanya ku.


"Ada, emang kenapa?"


"Buku PR bahasa aku sama dia, coba kamu telpon dia." pintaku.


Tutt...tutt...tuttt.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk." operator.


"Kan di matiin."


"Kirimi aku nomornya."


Aku pun menelponnya menggunakan nomorku dan langsung di angkat.


"Siapa?" katanya.


"Kamu dimana?, bawa buku bahasa aku nggak?"


"Di parkiran nih, bawa kok."


"Cepetan!!!!." pekik ku.


Aku pun mematikan telepon dan mencoba untuk mengatur nafas yang penuh amarah.


Kini guru sudah memasuki kelas dan mengabsen kami. Seseorang dengan peluh dan deru nafas yang memburu memasuki kelas.


"Mana bukunya?" bisik ku.


"Nih."


"Huh, untung lah." ucapku lega karena buku PR bahasa sudah ada di tanganku.


Dia merampas botol air minum ku yang ada di tas dan meneguknya hingga setengah, aku membiarkannya karena melihat ia yang kehausan. Ada dua buku yang ia berikan padaku, satunya lagi adalah milik dia. Kini ia menaruh kepalanya di atas meja lagi. Guru menyuruh kami mengumpulkan PR dan lanjut mempelajari pelajaran yang guru berikan.


.....


.


.


.


Di kantin, aku dan Viona bersama lagi. Semakin hari aku semakin dekat dengannya, ia sangat cantik dan lucu.


Kami menikmati makanan hari ini, dengan beberapa canda yang membuat kami tertawa bersama. Sampai, seseorang datang menghampiri kami dengan ekspresi kesal.


"Ini orangnya?"


"Iya kak."


Aku melihat Jessi dan seorang kakak kelas yang cukup populer di sekolah ini.


"Ada apa ya?" tanya Viona pada mereka.


"Aku perlu bicara sama dia."


"Aku?" tanya ku sembari menunjuk diri ku sendiri.


"Ikut kami."


Aku pun mengikutinya hingga ke luar kantin dan berhenti di belakang kantin yang sepi.


Prang...


Suara tong sampah yang di tendang oleh kakak kelas bernama Anna itu.


"Jauhi Riki!"


"Apa maksud mu?" tanya ku.


"Aku heran, kenapa setiap malam dia selalu bilang sibuk, ada urusan lah, ternyata dia ke rumah lo kan!"


"Dia pacarnya Riki, mending kamu dengerin ucapan kak Anna." jelas Jessi.


"Kamu di bayar berapa buat tidur sama dia?, aku bisa bayar lebih dari yang dia kasih ke kamu." tawar Anna.


"Jangan keterlaluan, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia." jelas ku.


"Udahlah, mana mungkin orang miskin kayak kamu mau ngaku, pasti kamu berharap bisa jadi istrinya kan kalau hamil anaknya?"


Aku mulai memanas atas perkataannya yang keterlaluan, ia mulai melotot dan mendorong ku ke dinding.


"Mungkin kamu kurang beradab, jadi dia lebih memilih bersama ku dari pada pacarnya sendiri."


"Dasar pela*ur!" tulah nya.


Dengan kuat mereka menjambak rambutku, tak mau kalah aku juga balik menjambak keduanya. Setelah menjambak, mereka juga mencakar ku dan sesekali memukul ku. Tapi, aku tak mau mengalah dan balik memukul dan ikut mencakar mereka. Sampai semua murid mengelilingi kami dan menyaksikan pertengkaran kami sampai guru datang melerai dan berujung ke ruang BK.


Di kelas dua ini, aku masuk ke dalam buku hitam lagi setelah kelas satu kemarin. Semenjak mengenal si berandal hidupku menjadi rumit. Guru hanya percaya apa yang di katakan kak Anna karena dia memiliki pengaruh seorang Ayah yang berpangkat tinggi di kepolisian.


Hanya aku yang masuk ke daftar buku hitam, disini seperti aku adalah penjahatnya. Padahal pertengkaran ini tidak mempunyai arti selain memperebutkan si berandal sialan itu.


Kini, aku berada di ruang UKS yang dingin nan sepi. Mengobati luka cakar mereka di wajahku yang berharga ini dengan plester.


Setelah itu aku kembali ke kelas, saat duduk di tempatku, dengan kesal aku memandang si berandal yang sedang tidur. Ingin sekali memukulnya dengan keras. Gara-gara dia semua masalah selalu menghampiri, bisakah aku untuk menjauhi nya. Ia yang selalu datang padaku, dan bergantung pada ku di saat dia bersedih.


Bukan aku yang mendekatinya, sama sekali tidak pernah aku ingin mengenalnya, apalagi beringinan untuk bersamanya dalam ikatan cinta. Dia hanya hadir dan melenyapkan kesepian ku, kami hanya orang-orang yang kesepian dalam hal tertentu.


.....