RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Malam Terakhir



(┳Д┳)(个_个)╥﹏╥(╯︵╰,)╮(╯▽╰)╭


.


.


.


Selama beberapa hari ini aku mencoba tuk melupakannya. Namun, terlalu sulit dan itu akan terasa menyesakkan. Jadi hanya bisa tak menghiraukannya dan mencoba tuk menahan perasaan ini.


Istirahat tiba, kali ini aku pergi sendiri karena Raffi tidak masuk sekolah. Saat aku hendak pergi ke kantin, kehebohan terjadi. Semua siswa berbondong pergi ke ruang UKS, seakan ada kejadian heboh.


Karena penasaran aku juga ikut melihat keadaan. Saat aku masuk dalam kerumunan, terlihat ibu kepala sekolah, Viona dan orang tuanya, juga Riki di sana.


"Bukan aku!" kata si berandal.


"Plak!, Kamu masih berani mengelak!" tamparan yang penuh amarah melayang dari ibu kepala sekolah yang sekaligus adalah ibunya Riki.


"Dia udah bilang kalau anak itu milik kamu, anak ku adalah korban, jadi kamu harus bertanggung jawab." ujar ibunya Viona.


"Maaf bu, besok saya akan menikahkan mereka." ucap ibunda Riki.


Riki dengan ekspresi kecewa itu pun pergi dari ruangan itu. Aku hanya bisa melihatnya keluar dari ruangan, ingin rasanya kaki ini mengejar dan memeluknya.


Tapi, diriku membeku di tempat. Keramaian itu seketika lenyap setelah kepala sekolah membubarkan kami. Aku kembali ke dalam kelas dan melihat kursinya yang kosong.


"Pergi kemana dia?" batinku bertanya.


Pelajaran hari ini akhirnya berakhir, guru membawa tas Riki pergi. Aku pun kembali pulang dengan perasaan khawatir. Apa yang akan dia lakukan?, dimana dia sekarang?. Apa dia akan menikah dengan Viona?. Apakah benar dia hanyalah cinta yang singgah untuk menambah alur cerita hidupku?. Aku harus mendoakan yang terbaik untuk mereka.


.....


.


.


.


Malam gelap tanpa bintang, aku kehilangan orang yang ku sukai lagi. Apakah aku terlalu mudah mencintai seseorang sehingga inilah akibat dari yang ku rasakan.


Satu pesan masuk, ku buka dan ternyata ini adalah foto undangan. Viona mengundangku untuk menghadiri pernikahannya besok. Tertera nama nya dan si berandal di surat undangan yang cantik itu. Apakah aku akan menghadiri nya?.


Langit gelap terlihat mengerikan ketika guruh mulai ribut di atas langit. Aku pun masuk ke dalam rumah dan mulai membaringkan diri di atas kasur ku yang empuk. Tak lupa memeluk boneka kelinci yang selalu ku peluk disaat malam, walau pemiliknya tidak ada lagi, dia tetap kan ku jaga karena boneka ini tak bersalah.


Aku menonton drama sedih yang membuat perasaan ku ikut sedih, hujan mulai turun membasahi bumi dan membuatku merasa semakin sepi dan sedih. Cinta yang tak pernah sampai itu adalah yang paling menyakitkan di bandingkan putusnya cinta sepasang kekasih.


Tok..tok..tok...


Lagi-lagi suara ketukan pintu, membuatku sedikit takut dimalam hujan berpetir ini.


"Siapa?" tanya ku.


Namun, tidak ada satu suara pun yang terdengar.


"Raffi?"


Tidak ada jawaban.


"Kak maya?"


Masih tak ada jawaban.


"Kak wulan, sindy, lala?"


Masih tanpa jawaban.


Tok...tok...tok...


"Siapa sih?"


Aku pun membuka pintu secara perlahan dan mendapati orang yang tak pernah aku pikir akan kembali.


"Kamu?"


"Boleh aku masuk?"


Aku mengangguk, melihat si berandal yang penuh luka dan basah kuyup. Keadaan ini seperti disaat itu, tapi kali ini lebih parah. Dia terlihat sangat sedih dan juga marah, entah apa yang terjadi padanya disaat ini.


Aku mengambil kan nya handuk dan pakaiannya yang dulu ia tinggalkan disini, menyeduhkannya cokelat panas sembari mengambil selimut, bantal dan kasur untuknya. Sekarang dia terlihat seperti anak kucing yang dilapisi kain tebal.


Dia terus menatapku seperti anak kucing yang ingin dikasihani. Dari raut wajahnya yang memandangku terlihat jelas bahwa ia ingin berkata bahwa bukan dia, bukan salahnya.


"Besok kamu bakalan nikah, jangan memasang raut wajah sedih, berbahagialah Riki."


Dia memelukku, lagi-lagi menangis di pelukanku seperti di kala itu. Tapi, kali ini tangisnya lebih pecah dan lebih menderita.


"Apa benar, bukan kamu ayah dari anaknya?" batinku yang ikut merasa sedih disaat dia seperti ini.


"Kalau aku bilang bukan aku pelakunya, apa kamu percaya?"


"Hmmm, aku percaya." kataku penuh keyakinan.


"Terima kasih, hanya kamu saat ini yang percaya padaku."


Tanpa berfikir panjang, aku mengatakan bahwa aku percaya padanya. Aku tidak tau apapun, tapi berusaha menjadi sedikit egois dan hati ku tanpa sadar mencoba untuk mempercayainya. Ternyata hati ini masih belum bisa melepasnya, berharap ia selalu bersamaku, membutuhkan aku di setiap letih nya dan aku berharap dia merasakan apa yang sedang aku rasakan untuknya.


Ia melepas pelukannya dan menutup wajahnya dengan selimut.


"Hei!, jangan sembarangan meluk orang." bentak ku sembari memukul pelan dirinya yang berada dalam selimut.


Ia membuka kembali selimutnya dan menatapku heran. Aku hanya tersenyum lucu melihat ekspresinya. Kali ini adalah kali terakhir aku menerimanya masuk ke rumah, lain waktu aku tak bisa menerimanya lagi, karena dia akan menikah. Aku ingin melepas semua rasa cinta ini dan akan menerima semua kenyataan. Menjadikannya cinta terindah dalam hidupku dengan semua tingkah yang awalnya ku benci dan berakhir mencintai.


Dia tersenyum seolah rasa sedihnya menghilang sekejap mendengar bahwa masih ada orang yang percaya padanya. Tapi, pernikahan tak bisa di hindari walaupun aku percaya.


"Sebenarnya, aku mengajaknya berpacaran karena ingin melupakan seseorang. Tapi, bukannya melupakan, aku malah lebih sering memikirkannya seolah aku sedang merasa jatuh cinta yang sebenarnya. Semakin aku jauh, dia malah semakin jauh dariku sampai aku tidak tau bagaimana harus mendekatinya lagi." jelasnya dengan mata berbinar.


Baru kali ini dia berbicara sepanjang itu padaku. Ia menjelaskan dengan ekspresi imutnya.


"Kamu kan sudah sering pacaran dengan semua cewek terkenal dan cantik di sekolah, masih tidak bisa melupakan seseorang itu?"


"Selama ini aku mengajak orang yang ingin menggunakan ATM ku untuk berpacaran, mungkin akan berbeda ketika mengajak wanita yang tulus mencintaiku untuk berpacaran. Tapi, Vio lebih menakutkan dari semua wanita yang aku ajak jadian, dia memfitnah ku."


"Kenapa kamu nggak ajak seseorang itu buat pacaran?, katamu nggak bisa melupakannya. Kenapa harus capek-capek pacaran sana-sini untuk membuktikan perasaan sebenarnya?"


"Dia selalu menolak ku."


Aku terdiam dan mulai berpikir, apa yang dimaksudnya seseorang itu adalah aku. Karena selama ini hanya aku yang menolak ajakannya. Wajahku kini memerah seakan sudah berubah menjadi tomat yang matangnya berlebihan.


Apa penjelasan panjangnya itu adalah sebuah kejujuran atau hanya alasan untuk lari dari tanggung jawabnya. Dia menatapku berharap aku merespon perkataannya itu, tapi saat ini aku sangat merasa malu.


"Tenang, mel. Mungkin seseorang itu adalah orang lain yang ia temui di luar sana." batinku menenangkan diri.


Tanpa sadar dia mengecup pipi ku dengan lembut, memegang pergelangan tanganku dan mengelusnya lembut. hatiku kini berdebar tiada henti. Apa yang sedang ia lakukan, aku memandangnya sengit agar ia tau bahwa aku marah, tapi bukannya takut dia malah tersenyum imut, lalu aku menepis tangannya dan berlari ke kamar. Wajahku kembali memerah dan hatiku berdebar tiada karuan.


"Dasar si berandal!" batinku.


Kini aku mengunci pintu dan segera berbaring di atas kasur ku. Memeluk boneka kelinci ku yang imut.


.


.


.


Tiap malam aku terus memikirkan mu,


Seakan hatiku hanya ada kamu.


Ketika malam datang, hanya kamu yang ada di pikiranku.


Berharap kau akan datang lagi seperti malam-malam berbintang.


Ketika kau sedang sedih, malam kan menyapu kesedihanmu.


Dan aku akan menenangkan mu ketika kau datang dalam keadaan tergelap mu.


Malam ini akan menjadi malam terakhirku bersama mu.


.


.....


.


⭐🌟🌠🌙🌕🌜⭐🌟🌛🌚🌝🌛


.