
Ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ). . ⊙︿⊙ . /(\=✪ x ✪\=)/
.
.
.
Kami menghampiri sebuah Cafe yang lumayan ramai pengunjung. Di luar ruangan tertata lampu yang menghiasi malam. Juga seorang yang menyanyi di atas panggung kecil itu membuat suasana semakin seru. Makanan dan minuman kini sudah tertata rapi di atas meja.
"Ayo, dimakan." pinta Viona.
Viona mengambil beberapa lauk untuk ditaruh di atas piring Riki dengan penuh cinta, Riki tersenyum manis dan menikmati makanannya. Banyak makanan yang ku suka di atas meja, tapi sama sekali tak membuatku berselera. Ayam tepung kesukaan ku itu pun tak bisa menggoda, aku hanya minum jus dan menyantap nasi dengan beberapa sayur.
"Kenapa nggak di makan ayamnya?" tanya Darren.
"Aku lagi diet." jelas ku.
"Oh, diet ya. Pantesan tubuh kamu bagus banget." ucap Darren.
Aku hanya bisa tersenyum kecil, Riki memandang ku dengan sengit. Aku ikut memandangnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa?" batinku.
"Makan ayamnya!" batin Riki, sembari menunjuk ayam dengan matanya.
Aku berpaling darinya dan tetap memakan sayur mayur yang menyehatkan. Setelah usai makan, aku di buat terkejut melihat seorang lelaki tampan menaiki panggung Cafe.
"Saya Riyan, lagu ini untuk kekasih ku yang duduk di sana. Kami akan segera menikah, doakan yang terbaik untuk kami."
Semua orang bertepuk tangan untuknya. Dia menyanyikan setiap lirik dengan indah dan merdu.Tatapan matanya tertuju pada gadis yang ia akan nikahi. Suasana menjadi sangat romantis, sang wanita menatap haru prianya. Lagu itu berakhir dengan indah dan ia berlari dan masuk kedalam pelukan wanita yang ia cintai itu. Sungguh indahnya pemandangan itu, mereka saling mencintai dan mencoba untuk hidup bersama dengan ikatan pernikahan. Cinta yang seperti itu yang aku dambakan.
Naiklah Riki ke atas panggung, semua wanita bersorak histeris melihat Riki yang memang punya anugrah ketampanan yang tiada tara.
Ia mulai memetik gitar itu dan bernyanyi, seakan tak mau kalah dari pasangan tadi.
"Halo semua. Namaku Riki, lagu ini aku persembahkan teruntuk seseorang yang mengganggu hati dan pikiran ku, semoga kalian suka." katanya sembari tersenyum manis.
Membuat para penonton wanita meleleh akan senyumannya. Beberapa gadis mulai membuka kamera untuk merekamnya, Viona juga turut merekam Riki.
Lampu bergemerlipan, malam yang berbintang di iringi melody sendunya.
.
...🎶 Reff : Karena su terlanjur sayang , ko masih tetap terbayang, iringi susah senang yang sa rasakan, Owh......
...Karena su terlanjur sayang, segala tentang ketrahilan, sa suatu yang sa tra akan sanggup tuk lupakan....
...Rapp : Jangan korang mudah pergi jauh, cuma ko slalu yang pasti sa mau, mungkin bukan sekarang tapi mungkin suatu saat, sa setia menunggu, hingga waktunya yang tepat, sa hanya mau, harus kau tau, tra mampu jauh, tanpa ko sa rapuh....
...Su terlanjur sayang, Cover By Riki Chaniago....
.
.
.
Dia menatap ke Viona di belakangku tanpa henti dengan tatapan cinta. Aku hanya menatapnya kagum, apakah ia menemukan cinta yang sesungguhnya?, apakah ia sadar karena sudah menemukan orang yang tepat, mencintainya dengan tulus. Aku berharap lukanya semakin membaik dan bisa menganggap Cinta itu adalah suatu hal yang berharga.
Ia turun panggung dan kembali duduk, Viona ingin memeluknya tapi tak dihiraukan olehnya. Ia lagi-lagi melihatku dengan tatapan aneh, aku terus menghindari tatapan itu.
Hari sudah semakin larut, aku pamit pulang kepada mereka.
"Biar aku antar." pinta Darren.
"Nggak usah, aku bisa naik gojek." jelas ku.
"Sudah malam, lebih baik aku yang antar." pinta Darren sekali lagi.
"Rumah ku jauh, nggak searah. Lain kali aja Darren. Makasih." ujar ku yang kini berjalan keluar Cafe dan membuka aplikasi gojek.
"Mel, hati-hati ya." pekik Viona yang sudah berada di mobil bersama Darren.
"Iya, bye." aku melambaikan tangan padanya yang telah melaju pergi.
Aku kesusahan mencari gojek yang mau mengantar ke kos. Karena hari sudah sekitar 22: 45 malam. Disekitar sini tidak ada gojek yang nyangkut di aplikasi, ada satu tapi di batalnya.
"Gimana ini?" gumam ku merasa resah.
Tin...tin..tin....
"Naik!"
"Nggak, aku nunggu gojek jemput."
"Nggak usah bohong, cepetan naik!" paksanya sembari memberikan helmnya.
Aku akhirnya dengan terpaksa mengikutinya. Tidak disangka dia akan mengantar aku setelah jadian dengan teman ku. Angin kencang dari motor yang ngebut lagi-lagi membuatku menarik jaketnya dengan kedua tanganku. Rasa hangat dari tubuhnya membuatku merasa nyaman, sekarang aku harus lebih menjaga jarak darinya. Aku tak boleh membuat Viona cemburu dengan tingkah pacarnya yang dekat denganku.
Kini, aku sudah berada di depan kosan. Aku turun dari motornya dan mengembalikan helmnya.
"Terima kasih." ucapku.
Bukannya pergi, ia melepas helm dan turun dari motornya.
"Mau kemana lagi?" tanya ku.
"Masuk."
"Nggak boleh!, udah malem mendingan kamu pulang sana." pinta ku.
Ia pun tanpa berkata apapun memakai helmnya kembali. Dia menatapku sejenak, tiba-tiba tangannya mengelus rambutku.
"Cantik." katanya.
"Apaan sih!" ujar ku merasa tingkahnya aneh.
"Selalu cantik. Tapi, hari ini lebih terlihat cantik." ucapnya sembari menaiki motor dan melaju pergi.
Aku memegang pipiku, terasa hangat dan menggerahkan. Apa yang dia lakukan, dasar playboy. Di atas tempat tidur, aku memeluk boneka kesayanganku. Berharap mata ini akan terpejam dan pergi ke alam mimpi yang indah. Tapi, saat mata ini terpejam bayangannya muncul membuat hatiku menjadi tak menentu.
"Ingat, dia sudah punya pacar!" gumam ku sembari memaksakan diri agar tertidur.
Ting!!!...
Satu pesan masuk dari nomor baru.
"Selamat malam, semoga mimpi indah amel."
From: Darren.
Balasku:
"Juga, udah aku save nomormu."
Aku kembali hendak memejamkan mata, lagi-lagi satu pesan masuk.
Ting!!!...
"Jangan banyak mikir, tidur sana!😡"
From Berandal.
Aku terkejut, tertera nama berandal di sana. Isi dari pesannya membuat ku tanpa sadar tersenyum. Aku tak membalas pesannya, ku taruh hp ku di bawah bantal. Dan tanpa sadar akhirnya aku bisa tertidur dengan lelap.
Apa yang terjadi dengan ku, bagaimana bisa hati ku sudah terjatuh padanya. Akankah perasaan ini bisa ku buang sejauh mungkin?. Aku tak mau akhirnya tersiksa karena sikap playboy nya. Aku juga tak mau mengecewakan teman baru ku. Hanya bisa mengalir seperti air dari berbagai waktu. Ku harap perasaan ini hanya singgah sementara di hati ku. Karena sudah cukup bagi ku untuk merasakan pahitnya Cinta yang menghilang.
.....
.
.
.
Malam yang bertabur bintang, hanya bisa ku pandang. Tapi, ia membuatku merasa bahagia.
Ingin aku gapai satu bintang.
Tapi, ia sangat jauh di sana.
Aku berharap bisa mendapatkannya.
Walau hanya sekedar dalam angan.
.....
❤