RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Janji



...πŸ’Œ...


(οΌΎοΌΏοΌοΌ‰β‰‘β˜…. (βŒ’.βˆ’)οΌβ˜… . (^_βˆ’)β˜† ...


.


.


.


Di sebuah restoran mahal yang sudah di boxing seluruh tempatnya itu dipenuhi aura elegan dan romantis.


"Kirana, apa kamu suka suasananya?"


"Ya, aku sangat suka, terima kasih Budi."


"Asal kamu senang itu sepadan."


"Bagaimana?, apa perlu aku membimbing Riki belajar?"


"Nggak usah, dia sangat merepotkan. Aku sudah mengurusnya."


"Kamu yakin?"


"Sebenarnya aku kurang yakin, tapi kita coba lihat dulu."


"Kalau perlu bantuan aku, kamu bilang saja."


"Iya sayang."


.....


.


.


.


Di rumah Riki.


Sang Ayah berkunjung kerumahnya pada malam hari.


"Ada apa Ayah kemari?"


"Ada yang mau Ayah katakan."


"Kenapa gak besok?, aku bisa mampir pas pulang sekolah."


Mereka kini duduk di sofa, Riki memberikan secangkir Teh hangat pada sang Ayah.


"Dengar baik-baik, anak lelaki Ayah hanya ada kamu seorang. Ayah sangat menyayangi kamu nak, Ayah harap kamu bisa mewarisi perusahaan yang Ayah kelola saat ini. Apa kamu mau pindah sekolah ke jakarta?."


"Pindah?"


"Iya, kamu bisa dapat sekolah dan guru yang bagus serta fasilitas mewah di jakarta, Ayah bakalan turuti semua permintaan kamu di sana, Ayah mendadak harus pulang ke jakarta besok. Karena adik kamu sakit, jadi proyek disini terpaksa Ayah batalkan. Kamu mau kan ikut Ayah?"


"Maaf, aku nggak bisa."


"Kenapa?"


"Aku nggak mau pindah."


"Semua penawaran yang Ayah berikan udah banyak menguntungkan kamu loh, apa lagi Ayah baru tau kalau kamu juara akhir di kelas dan paling nakal. Jadi terpaksa kamu harus ikut Ayah besok."


"Nggak mau!"


"Bagaimana kamu bakalan nerusin bisnis Ayah, kalau nilai sekolah kamu buruk!"


"Mending aku nggak usah nerusin bisnis itu!"


"Kamu!"


"Aku janji bakalan naik kelas dan dapat juara tiga besar di kelas dan di sekolah, ikut beberapa olimpiade mapel dan mendapatkan juara!"


"Kirimi Ayah nilai ujian semester kamu nanti, kalau rendah. Terpaksa Ayah culik kamu ke Jakarta!"


"Iya Ayah."


.....


.


.


.


Selama beberapa hari, Riki dengan giat mengejar ketertinggalannya selama ini. Terkadang ke rumah pacarnya tuk menyalin beberapa catatan yang ia lewatkan sekaligus berpacaran. Di sekolah ia seperti kerasukan malaikat rajin, pandangannya lurus ke depan memperhatikan setiap materi yang guru ajarkan, tidak pernah ketinggalan tugas dan selalu begadang untuk memahami semua pelajaran yang tertinggal.


Di sekolah.


Pengumuman nilai ulangan harian matematika.


Amelia 87


.


.


Raffi 98


.


.


Riki 100


.


.


"Ibu gak salah liat?" tanya Raffi tak percaya.


"Kamu kira ibu Buta?"


Akibat pertanyaan Raffi, kini penghuni kelas itu mendadak penuh tawa. Sudah tak heran Riki mendapatkan nilai sempurna, karena waktu itu dia juga mendapat nilai sempurna di Matematika. Raffi yang murid pindahan jelas tidak tau.


Jam pelajaran sejarah, semua orang penghuni kelas sudah pergi ke dunia mimpi. Sedangkan Raffi dan Riki tetap mendengarkan sang guru bercerita.


Amel perlahan tertidur dan kepalanya kini sudah hampir terjatuh. Sang pacar dengan sigap menaruh kepala gadisnya di pergelangan tangannya, menutup wajah sang kekasih dengan buku yang di tegakkan, berharap ia tidur dengan nyaman dan tidak ketahuan oleh guru.


Saat Amel bangun, pelajaran sejarah sudah berlalu dan hari sudah mulai gelap di luar sana.


"Kenapa sepi?" tanya gadis itu sembari menguap dan menyadarkan dirinya.


"Kelas udah lama selesai."


"Apa aku tidur terlalu lama?"


"Menurut kamu?"


Amel melihat Riki yang kesusahan menegakkan tangannya.


"Kenapa kamu gak bangunin?"


"Kamu tidurnya nyenyak banget, aku gak tega banguninnya."


"Ya udah, ayo pulang."


Di parkiran.


"Masih sakit tangan kamu?"


"Iya."


"Jalan kaki aja, ke kosan aku?"


"Oke!"


Sudah lama tidak pulang jalan kaki, semenjak ada dia. Hari-hari ku yang sepi menjadi seru dan indah. Walaupun tidak punya banyak teman di sekolah, aku punya pacar yang bisa di andalkan. Itu saja sudah cukup untuk memory masa SMA ku.


Bergandengan tangan melintasi jalan sepi, membuatku merasa aman. Sampai tibalah kami di kosan, hari sudah mulai menggelap. Dia menukar pakaiannya dan mulai memasak sesuatu yang kami beli saat melintasi market di jalan tadi.


"Tada!"


"Waaa!!"


"Nasi goreng, telur ceplok yang kamu ajari aku."


"Wangi banget, aku udah lapar."


"Selamat makan."


Setelah selesai makan, aku bergegas mencuci piring kotor. Dia menunggu di depan sembari membuka bukunya.


"Sayang." ucapnya sembari memeluk ku dari belakang.


"Apa?, habis cuci piring aku pesani kamu gojek."


"Iya, mau aku bantuin cuci piringnya?."


"Nggak usah, nanti semakin cepat kamu pulang."


"Hemm, udah bisa nakal."


"Hahaha, bukan kamu aja yang bisa ngombal mulu."


"Aku nggak ngombal kamu, apapun yang aku katakan itu semua dari hati."


"Oh ya?, aku masih ingat loh, sebutan kamu di sekolah itu apa."


"Udah nggak lagi, sekarang udah ada kamu."


Dia memutarkan tubuh ku, kini aku menatap wajahnya. Dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya dan mencium bibirku dengan lembut dan perlahan hingga berlangsung beberapa menit. Aku mengulang kembali mencuci piring dengan cepat, karena jantung ku yang kini berdegup kencang tiada henti. Akhirnya aku mengajarinya mendownload aplikasi ojek dan cara menggunakannya. Dia pun pulang kerumahnya dengan gocar.


Aku bergegas menutup pintu dan masuk ke dalam kamar, pipi ku memerah dan jantungku masih tak karuan ketika mengingat hal manis yang ia lakukan. Aku pun tidur setelah mendapat pesan bahwa ia sudah sampai di rumah dengan aman.


.....


.


.


.


Akhirnya ulangan semester satu akan segera tiba, guru-guru mulai memberi kami banyak pelajaran yang berkaitan dengan ulangan nanti.


Beberapa hari ini akan ada pelajaran tambahan dan pekerjaan rumah yang menumpuk setinggi gunung. Waktu untuk pacaran kini di batasi, karena dia dan aku akan fokus belajar. Sesekali kami bertemu untuk membahas pelajaran dan beberapa kali ketemu untuk kerja kelompok. Sampai suatu ketika aku tidak satu kelompok dengannya, melainkan satu kelompok dengan Raffi.


Riki sangat tidak setuju, tapi bapak guru teknik komputer ini lumayan killer. Jadi tidak bisa di bantah dan di ubah, hanya bisa menerima kenyataan.


Alhasil aku membujuk Riki berulang kali agar tidak emosi, karena ujian sudah semakin dekat. Dia pun akhirnya memahami keadaan setelah di bujuk dan di rayu dengan manja.


.....


.


.


.


Raffi Pov


Di tengah jalan menuju kelas, Raffi melihat Amel yang berlari kesana-sini seperti sedang kebingungan. Ia pun mengikutinya terus karena khawatir.


"Kemana dia pergi?, hah jalannya sungguh cepat. Wanita yang tangguh." gumam nya sembari mengikuti gadis itu.


Sampai tibalah juga ia di taman sekolah.


"Dia?"


Raffi bersembunyi di belakang mereka dan melihat semuanya. Kenyataan bahwa yang gadis itu cari adalah saingannya dan kebenaran tentang hubungan mereka yang tak pernah Raffi bayangkan.


"Apa aku terlambat?" gumamnya dengan rasa sedih.


.....


.