RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Rajawali



.


.


.


RIKI POV


Bel tanda berakhirnya pelajaran mulai berdering memenuhi sekolah.


Riki yang sedang cemburu itu berada di dalam kamar mandi, sedang meredakan emosinya. Akhirnya ia memikirkan perasaan pasangannya itu, kepercayaan adalah inti dari sebuah hubungan. Amarah ini mulai memudar karena rasa rindu yang terlalu dalam, perasaan ini tidak bisa terus marah kepadanya. Saat hendak keluar kamar mandi, seorang temannya datang menghampiri dengan tergesa-gesa.


"Gawat!" ucap temannya yang bernama Leo.


"Ada apa?" tanya Riki sembari memegang bahu Leo yang terlihat khawatir.


"Geng Kumbang Emas, mereka...ba..ka..r..!" ucap Leo dengan terbata-bata.


"Kenapa!" cetus Riki merasa makin cemas.


"Mereka membakar markas kita!"


Mendengar itu ekspresi Riki yang baru saja menenangkan diri itu kembali penuh amarah. Ia menggepalkan tangannya dan berlari keluar sekolah dengan buru-buru.


Hingga sampailah dia di Markas Rajawali yang adalah miliknya itu, semua sudah terbakar habis dan para teman-temannya yang terduduk diam di tepi jalan itu menghampirinya.


"Gak bisa di selamatkan lagi." ucap salah satu temannya.


"Apa ada yang terluka?"


"Untungnya kami sedang tidak ada di markas waktu kebakaran itu. Tapi, semua barang yang akan kita kirim besok habis terbakar." jelas temannya yang adalah wakil Geng Rajawali bernama Rano.


"Pelakunya?" tanya Riki.


"Pelakunya sudah dipastikan Geng Kumbang Emas. Kami mendapatkan ini." ujar Rano sembari menyodorkan sebuah kertas bertulisan.


"Ketua Geng Rajawali tidak menepati janji, inilah bayaran dari pelanggaran. Besok malam di Benteng Kuto Besar (BKB), jangan telat!" (isi tulisan)


Riki mulai mengingat janji yang ia ucapkan saat di atas motor pada malam itu.


"Ck, bagaimana aku bisa melupakannya!" batinnya penuh sesal.


"Kita harus bagaimana?"


"Bang Arifin belom datang?" tanya Riki pada Rano.


"Masalahnya, bang Arif lagi keluar kota. Dia di pindahkan sementara oleh pihak kantornya." jelas Rano.


"Jadi, aku harus kembali lagi untuk sementara." gumamnya sembari melihat markas yang sudah habis terbakar.


.....


.


.


.


Di sekolah, pagi ini Amel pergi ke sekolah seperti semula, berjalan kaki. Di perjalanan memasuki kelas, setiap langkah nya sangat pelan sembari melirik kesana dan kemari, mencari bayangan kekasihnya.


Namun, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya itu sampai jam istirahat berdering. Hanya melirik kursi kosong yang disampingnya, sampai membayangkan kehadiran pria itu seperti biasanya. Lamunan itu seketika sirna saat seseorang menepuk pundaknya pelan.


Dengan bersemangat ia berdiri dan melirik seseorang itu. Namun, pandangannya mulai lesu karena tak seperti apa yang di harapkannya.


"Kamu kenapa mel?" tanya Raffi sembari duduk di sampingnya.


"Kamu tau gak dimana Riki?" tanpa sengaja ia menanyakan hal itu pada Raffi.


Raffi hanya terdiam.


"Ah, Maaf. Kenapa kamu gak ke kantin?" tanya Amel.


"Temani aku ke kantin, nanti aku kasih tau kamu dimana Riki."


"Ayok!" ajaknya dengan semangat sembari menarik pergelangan tangan Raffi.


Raffi merasa senang sekaligus sedih, karena di pikiran wanita itu hanya ada satu pria itu.


Di kantin.


"Makanlah." pinta Raffi.


"Oke!"


Amel pun melahap semuanya dengan buru-buru sampai habis tak tersisa.


"Oogh!, Ups!, sorry."


"Sudah kenyang?" tanya Raffi.


"Hmm." angguknya.


"Tadi, aku keruang guru. Enggak sengaja mendengar percakapan kepala sekolah dan bapak guru yang mengajar di kelas dua belas."


Amel menatap Raffi dengan serius, ia mendekatkan wajahnya. Melihat ekspresi Amel yang menggemaskan, pria itu hanya bisa menelan ludahnya karena merasa gugup.


"Pria itu bolos sekolah untuk menemui geng nya."


"Geng?"


"Rajawali?"


"Dia orang nggak bener lah. Mungkin sekarang lagi senang-senang sama teman-teman gak jelasnya itu."


"Ternyata, aku tidak tau apa-apa mengenai nya." batin Amel merasa sedih.


.....


.


.


.


Di rumah, di temani sabtu pagi yang cerah ini. Amel mengerjakan beberapa tugas dan catatan untuk di kumpulkan senin nanti. Ia juga menyelesaikan tugas untuk Riki dan beberapa salinan catatan yang tak sempat ia catat.


Sampai pada tengah hari, Amel berbaring di kasurnya dengan mata terpejam. Setelah lelah mengerjakan banyak tugas dan banyak salinan.


Tring!


Dering handphone itu membangunkannya, ia mengecek pesan masuk itu.


"Ah, spam!"


"Kenapa pria itu nggak mengabari sih?" kesalnya sembari melempar HPnya di atas kasur.


"Apa begini cara dia memutuskan hubungan?, apa dia sudah bosan, sudah nggak tertarik lagi dengan aku?, apa secemburuan nya dia sampai marah berhari-hari?" rutu Amel sembari mengacak-acak rambutnya.


Beberapa kali Amel mengiriminya pesan, namun tidak pernah ia buka dan balas. Beberapa kali Amel menelponnya, tapi tidak di angkat. Membuat wanita itu semakin frustasi, kesal, khawatir dan sedih.


.....


.


.


.


Di Markas Rajawali.


"Semua sudah beres?" tanya Riki pada teman-temannya.


"Sudah." jawab Rano.


"Apa nggak kenapa-napa, kita pindah kesini?" tanya Yoga.


"Nggak apa, ini rumah ku. Anggap saja rumah sendiri, kalau renovasi markas kita sudah selesai. Kalian bisa secepatnya kembali. " jelas Riki sembari menepuk pundak Yoga.


"Ini terlalu mewah bro. Tapi, terima kasih." ujar Drill.


"Nanti malam, bagaimana lo ngatasinya?" tanya Rano serius.


"Kita datangi dulu, liat apa yang mau mereka bicarakan?" jelas Riki.


"Kenapa mereka selalu buat masalah dengan kita sih!" kesal Drill.


"Mereka udah keterlaluan, bakar rumah orang. Bukannya mereka terlalu berani?" ucap Yoga.


"Selama ini, kita membiarkan mereka karena tidak mau mencari masalah. Tapi, sekarang kelihatannya mereka sangat ingin mencari masalah dengan kita." ungkap Drill.


"Yang lain sudah di kabari?" tanya Riki pada Rano.


"Sudah, malam ini semua pengikut kita akan berkumpul."


"Malam ini harus berhasil." gumam Riki merasa bersemangat.


.....


.


.


.


Malam pun tiba, seluruh anggota Rajawali berangkat bersama dari rumah Riki ke BKB.


Di terangi lampu jalanan dan lampu motor mereka, jalanan saat ini sangat terang walaupun tidak ada bintang di langit untuk malam ini.


Riki ada di baris paling depan sebagai ketua Geng Rajawali. Pada awalnya Geng itu beranggotakan lima orang, yaitu Riki,Arifin,Rano,Yoga dan Drill. Namun, seiring berjalannya waktu. Geng ini semakin banyak orang yang ingin bergabung, sekarang ada sekitar 200 orang lebih anak muda.


Namun, yang ikut dalam perjalanan bertemu Geng Kumbang Emas ada sekitar 50 orang. Mereka ikut dengan sukarela, tidak menerima apa yang telah geng itu perbuat pada mereka.


Sampailah mereka di BKB, di sana sudah ada Geng Kumbang Emas yang menunggu. Mereka membawa banyak orang, sekitar 100 orang anak muda.


Riki berjalan dengan santai, mendatangi mereka dengan tatapan dingin nya. Ekspresinya kini sudah seperti malaikat maut yang akan mencabut nyawa orang-orang itu.


"Siapa ketua kalian?" teriak Drill dengan lantang.


Lalu muncul seseorang yang keluar dari kerumunan itu dan menghampiri Riki lebih dekat.


"Akhirnya kau datang."


"Lo?" ujar Riki terkejut, kini matanya membesar menatap orang yang ada di depannya itu.


.....


.