RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Perkelahian



ヽ(*⌒∇⌒*)ノヽ(^。^)丿(*^▽^*)(°∀°)b


.


.


.


Lapangan Basket, dimalam penuh bintang. Berdiri seorang pria di bawah sinar rembulan yang amat terang malam ini. Memegang bola basket dan beberapa kali mengopernya ke ring.


"Kamu sudah datang?"


"Kenapa harus di sekolah?"


"Kita mau buat tugas yang waktu itu?, lebih baik disini dari pada di rumah kamu." jelasnya.


"Ya udah, kamu bawa laptopnya gak?"


"Aku bawa kok, ada dalam tas. Sini Mel, duduk disebelah aku."


"Oke."


Aku duduk di samping teman pria ku Raffi, awalnya aku tidak ingin datang. Tapi, beberapa alasan ku tidak diterima olehnya. Katanya tugasnya sangat mendesak harus dikumpulkan esok.


"Wah, kamu jenius ya?" tanyaku yang melihatnya sangat cepat mengerjakan soalnya.


"Ini sih terlalu mudah, yang terakhir ambil foto."


Kami pun berfoto bersama, akhirnya tugas selesai. Pada akhirnya aku datang hanya menumpang nilai lagi dengannya. Dia mengeluarkan snack dan minuman untukku.


"Nggak usah repot, aku mau balik ya fi, bye."


"Tunggu." dia menarik tanganku hingga aku terjatuh tepat di depannya.


"Maaf fi." aku pun bangkit kembali.


"Gak apa, aku mau nanya?"


"Tanya apa?"


"Apa hubungan kamu sama Riki?"


Pertanyaan yang akhirnya dia pertanyakan, aku mau merahasiakan hubungan kami sampai cap Playboy nya menghilang di sekolah.


"Nggak ada kok, kenapa?"


"Baguslah, aku kira kamu pacaran sama dia. Lebih baik kamu jauhi dia, aku takut kamu sakit hati."


"Terima kasih udah nasehatin, aku pulang ya."


"Nggak mau aku anter?"


"Nggak usah, aku bisa pesan gojek kok."


"Mel?"


"Ya?"


Raffi tiba-tiba menghampiri dan memeluk aku. Aku ingin melepas pelukan itu, tapi pelukannya sangat kuat.


"Ada apa fi?" tanyaku.


"Sebentar saja, aku mohon."


Dia memeluk erat diriku, aku semakin gelisah. Mungkin dia ada masalah, jadi aku menepuk pelan pundaknya. Dia pun melepas pelukan itu dan menggenggam kedua tanganku.


"Terima kasih mel, masalah ku teratasi untuk saat ini."


"Semangat terus ya, kalau begitu aku pulang."


"Hati-hati."


Aku pun pulang ke rumah.


.....


.


.


.


"Keluarlah!, aku tau kamu bersembunyi, dasar pengecut!"


Riki keluar dari balik pohon dan menghampiri Raffi dengan amarah yang menggebu.


"Kurang ajar!" jerit Riki sembari berlari.


Bruk!. Brak.Bruk!


Pukulan demi pukulan di layangkan ke pipi Raffi, tak mau kalah Raffi pun ikut memukulnya dengan tinju. Riki menghempas tubuh Raffi ke bawah dan di injaknya tubuh itu dengan brutal. Raffi bangkit dan mendorong Riki hingga terjatuh, ia melayangkan tinjunya dengan gila. Deru nafas kedua pria itu beradu, amarah itu membuat mereka berkelahi cukup lama. Hingga keduanya kehabisan tenaga dan penuh luka.


"Brengsek!" cetus Riki yang kini mengelap darah di bibirnya.


"Lu yang brengsek!" sahut Raffi yang perlahan duduk sembari menahan sakitnya luka di tangannya.


"Kenapa lo selalu deketin cewek gua?" tanya Riki.


"Dia bukan milik lo, siapapun boleh mendekati dia kan!" jawabnya.


"Gue pacarnya, pacarnya!" teriak Riki tak terima.


"Hahaha, sudah jelas lo pasti denger apa yang dia bilang kan?"


"Kami hanya menutupinya, kenapa lo harus ikut campur!" cetus Riki.


"Kalau aku bilang. Kami pacaran?, apa lu bisa tinggalin dia?" tanya Raffi.


"Apa?"


"Jauhi dia, jangan mengakui sesuatu yang bukan milik loh. Dan jangan pernah berfikir untuk mempermainkan dia, karena gue suka sama Amel. Lebih tulus dari pada orang lain." jelas Raffi.


Riki langsung menarik kerah Raffi dan menatapnya sengit.


Riki pun menghempas kera lawannya itu dan pergi dengan emosi yang disertai rasa cemburu di hatinya membuatnya merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Rasa cemburu, takut kehilangan, dan rasa sakit di hati saat melihat kekasihnya berpelukan mesra bersama pria lain. Dalam benaknya kini hanya ada satu hal, "Apakah ini hukuman karena menjadi seorang Playboy?". Dosa bisa di maafkan, apakah Playboy juga bisa berubah menjadi setia?.


.....


.


.


.


Tok..tok..tok..!!!


Dengan perasaan senang, aku membuka pintu kosan ku. Perasaan senang itu kini menjadi takut, melihat dia yang sekarang penuh dengan luka-luka.


"Kamu kenapa?"


Masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi sedih, dia langsung memeluk aku dengan erat. Seakan merasa takut kehilangan sesuatu. Aku menepuk pundaknya pelan.


"Ada apa?" tanya ku heran.


Dia melepas pelukan itu dan masuk ke dalam dengan ekspresi marah. Aku menutup pintu dan segera mengambil kotak obat. Entah sudah yang ke berapa kali aku mengobatinya yang sedang seperti ini, dia terus menatapku dengan rasa kesal. Dan tatapan yang jelas penuh curiga dan amarah.


Setelah selesai mengobati, aku membawakannya beberapa roti yang aku beli saat pulang dari kerjain tugas tadi. Mengingat dia yang suka roti berisikan cokelat kacang, aku langsung membelinya.


"Ini, roti kesukaan kamu loh, makan lah." pinta ku.


"Nggak mau!" Cetusnya dengan ekspresi kesal.


"Ada apa?, cerita dong. Biar aku tau kenapa kamu marah?" tanya ku.


"Coba kamu pikir?"


Aku pun berfikir keras, apa yang membuatnya kesal.


"Aku nggak tau, kalau kamu gak bilang?"


Dia berpaling dari tatapan mataku, aku benar-benar tidak tau, apa yang terjadi. Berharap dia tidak marah lagi, aku pun memeluknya dengan manja.


"Sayang, maaf kalau aku ada salah. Coba bilang, apa salahnya aku?" tanyaku dengan manja.


Melihat tingkahku yang memeluknya dengan manja, dia ikut memelukku dengan erat.


"Aku cemburu." katanya.


"Astaga, apa kamu tadi liat aku ngerjain tugas sama Raffi?" tanyaku.


Dia tidak menjawab, yang berarti dia melihat segalanya.


"Maaf ya, kamu pasti salah paham. Aku tadi di sana buat tugas, waktu aku mau balik dia meluk aku, aku udah sekuat tenaga mau melepas pelukan dia, tapi dia kuat banget, jadi gak bisa menghindar. Dan aku pikir dia banyak masalah, jadi aku tepuk pundaknya sebagai teman. Jangan salah paham ya?" penjelasan ku yang panjang itu membuatnya tersenyum.


"Syukurlah, aku kira kamu duain aku." katanya.


"Enggak kok, aku kan milik kamu."


"Benarkah?"


"Hmmm." aku mengangguk.


"Kalau gitu boleh ya aku cium?"


"Cium?"


Pipi ku memerah dan suasana menjadi tak menentu, seakan tubuhku menjadi dingin dan gelisah.


"Gak boleh ya?"


Aku takut dia kesal lagi, jadi aku mencium pipinya terlebih dahulu. Dia menatapku sembari tersenyum, merasa belum puas dengan apa yang aku lakukan. Dia mengecup bibirku dengan lembut dan penuh perhatian.


Perlahan tapi menggemaskan dan menggoda.


"Aku berjanji, akan selalu menjadi pria terbaik untuk kamu."


"Aku akan mengingat janjimu."


Di akhiri dengan pelukan hangat darinya, dia tidak merasa kesal lagi. Raut wajahnya kini bersinar terang karena penuh bahagia.


"Aku ada hadiah untuk kamu."


"Mana?"


"Tutup matamu."


Aku pun menutup mata, dia mengalungkan sesuatu di leher ku.


"Buka lah."


Aku melihat di tangannya ada kalung berhuruf A.


"Tolong pakaikan?" pintanya.


Aku memakaikan kalung itu padanya, lalu aku melihat kalung yang ia pakaikan untukku tadi. Huruf R yang berkilauan itu membuatku senang.


R❤A selamanya.


"Terima kasih buat kalung nya."


"Iya sayang, kapan-kapan kita beli baju yang samaan ya?."


"Oke."


Hari sudah semakin larut, dia akhirnya pamit pulang. Tidak ingin menginap karena takut di marah pemilik kosan yang sekarang sering memeriksa kosan nya.


Aku melambaikan tanganku padanya, dia akhirnya pulang dengan hati yang tenang dan juga bahagia.


....


.


.