Reta's Dream

Reta's Dream
episode 30



"Reta!"


Suara panggilan itu membuatku merasakan pusing yang sangat mendalam yang membuat penglihatan ku mengabur dan entah apa yang terjadi tiba-tiba penglihatan ku berubah kembali menjadi berada didalam sebuah kereta kuda yang aku naiki bersama Reiyand tadi pagi.


"Kita sudah hampir tiba, mau sampai kapan kau tidur terus. Ayolah jangan terlalu perlihatkan sisi pemalasmu itu pada orang lain, cukup orang dirumah saja yang tahu" oceh Reiyand yang sama sekali tidak ku gubris.


Pikiranku melayang pada kejadian beberapa saat tadi. Aku tidak tau maksud semua ini, apa mungkin yang kulihat tadi hanya sebuah mimpi?


Iya aku rasa itu memang sebuah mimpi.


Tapi ada satu hal yang membuatku terpikir, apa benar aku pernah menggambar karakter yang bernama Jeriem.


entahlah, aku juga tidak terlalu mengerti, bisa saja itu hanya kebetulan kan?


kepalaku masih sibuk memikirkan hal itu hingga aku tidak sadar kalau ternyata kereta kudaku sudah memasuki sebuah gerbang besar yang sepertinya tepat berada ditengah-tengah hutan belantara tadi.


kepalaku sedikit berdenyut saat memikirkan akan tinggal disini selama satu minggu, bangunan-bangunan yang ada di depanku sekarang memang terlihat mewah dan megah tapi entah kenapa suasananya terkesan horor.


dibalik gerbang besar tadi terdapat mungkin sekitar tujuh atau delapan bangunan yang terdiri dengan satu bangunan sangat besar ditengahnya dan bangunan yang besarnya setang bangunan tadi yang mengelilingi bangunan utamanya.


pelayan yang dibawa Reiyand kini tengah sibuk menurunkan barang ku dan juga barang milik Reiyand.


aku turun dari kereta kuda dengan dituntun oleh Reiyand, saat setelah turun aku baru bisa melihat puluhan kereta kuda yang juga terparkir didepan bangunan ini.


ada banyak wajah yang pernah kulihat saat berada di Cresscom, ya... setahuku juga orang yang berada di kota terapung kmrn memang sebagian besar ada di angkatanku.


"kau bisa masuk sendirikan? barang-barang mu sudah dibawa pelayan semua, aku ada ada urusan di bangunan kedua" ujar Reiyand sambil merapikan rambutku yang mungkin sedikit berantakan karena aku tertidur tadi.


aku berjalan memasuki bangunan utama yang menurutku memiliki gaya arsitektur timur tengah.


selama berada disini baru kali ini aku menemukan gaya bangunan seperti ini, biasannya mulia dari ibukota, lingkungan tempat tinggal ku, hingga bahkan di Cresscom semua bangunannya memiliki gaya eropa abad pertengahan.


Dan disini aku bisa melihat perbedaan besar dalam segi bangunannya, tatanan pilar dengan atap kubah yang penuh dengan penuh ornamen, juga motif pada lantai dan langit langit yang bisa kulihat langsung dari depan bangunan, dapat dengan mudah membuatku menebak gaya bangunan ini.


kakiku melangkah memasuki bangunan itu dengan menyeret gaun merah mudaku yang panjangnya tepat pas mengenai lantai.


saat sudah sampai didalam aku disambut oleh seorang pria dengan menggunakan tunik berwarna coklat dengan panjang setengah betis dan juga di kepalanya terdapat sebuah sorban yang senada dengan bajunya.


oh... sekarang aku mengerti.


jadi sekarang konsepnya Timur Tengah?


aku berjalan disamping pria itu yang katanya akan menuntunku kearah kamar tapi sebelum sampai ke kamar kejadian aneh lagi-lagi menghampiri ku.


tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit seakan ada banyak paku yang menancap disana.


ditengah-tengah rasa sakitku itu aku bisa melihat seperti kilas balik atau mungkin ini ingatanku dulu.


aku bisa melihat aku yang masih berumur sekitar lima tahun duduk didepan teras rumahku dulu bersama ayah yang sedang membuka sebuah kotak kardus yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.


lalu setelah kotak itu berhasil terbuka, aku bisa langsung melihat miniatur dari sebuah bangunan yang terlihat elegan.


Dan bangunan itu sangat mirip dengan bangunan yang ku pijaki kini.