
"kau mau ikut aku ke suatu tempat" tanya Damian sambil sekilas melihat kearah Caetlin yang sedari tadi masih memperhatikan kami aku pun dibuat reflek melihat kearah Caetlin.
"ah... iya boleh" jawabku setelah mengerti maksud Damian.
"kami permisi dulu ya nona Randealfs" pamit Damian sambil menarik tanganku kearah salah satu balkon.
acara ini memang diadakan di lantai istana, tapi nanti saat pertemuan raja dan semua kepala keluarga akan diadakan di lantai tiga. jadi kami yang hanya anggo keluarga hanya di perbolehkan memasuki istana hingga lantai dua.
"kenapa kau mengajakku kesini" tanyaku setelah kami sampai.
dari atas sini aku bisa melihat suasana ibu kota Kerajaan yang cukup ramai pada malam hari, terlihat cukup cantik terlihat dari sini.
lampu lampu dari kota yang seakan sengaja disusun dengan rapi, tidak ada bangunan tinggi pencakar langit seperti kota-kota pada umumnya di duniaku dulu. di kota ini bangunan tertingginya hanyalah istana ini lalu setelah itu ada rumah-rumah pada bangsawan yang tingginya mungkin hanya satu pertiga dari istana ini yang katanya hampir memiliki lima puluh lantai.
aku tidak tau di istana ini memiliki lift atau tidak, tapi kalau tidak betapa kuatnya orang yang punya kepentingan di lantai lima puluh itu
"aku bahwa kau tidak nyaman mendengar perkataan orang itu" jawab Damian.
"kau tau istana ini punya berapa lantai?" tanya ku yang sebenarnya hanya iseng karena aku juga tidak tau apa yang harus aku bicarakan pada Damian.
"hahaha... apakah kau merasa itu penting?"
"kau hanya tinggal menjawabnya bukan?"
"lima puluh lima lantai" jawabnya seraya menatapku dengan aneh
"untuk sampai kesana kita naik apa?" tanyaku lagi
"aku hanya ingin tau, aku ini kan lupa ingatan jadi ya mungkin saja aku melupakan banyak hal,. bahkan hal-hal kecil sekalipun"
"kau tau aku memiliki kakak yang seorang dokter dan karenanya aku juga pernah bertemu dengan orang-orang katanya memiliki penyakit sepertimu, tapi mereka tidak ada yang sebodoh dan sedungu dirimu"
Aku sungguh kesal mendengar perkataannya barusan, bisa-bisanya dia mengataiku bodoh dan dungu. padahal kan memang situasi disini benar-benar baru kuketahui sekarang, diduniaku duluana ada situasi seperti ini.
tapi aku sebenarnya masih penasaran dengan tangga dari tempat ini, mana mungkinkan untuk mencapai lantai lima puluh aku harus jalan melewati ratusan bahkan mungkin ribuan anak tangga.
"terserah kau saja, tapi memangnya tidak lelah kalau untuk kelantai lima puluh nanti kita harus berjalan melewati tangga yang sebanyak itu"
"kau itu memang bodoh bahkan mungkin sudah melebihi dari bodoh, aku rasa otak mu benar-benar sudah rusak, aku sarankan sekarang kau lebih baik mengganti otak mu dengan menggunakan otak monyet karena aku rasa monyet bahkan lebih pintar darimu"
"bukan jawaban itu yang ku inginkan tuan Alarick"
"apa kau juga tidak tau kalau para penyihir di negeri ini cukup pintar, dan mereka bisa menggerakkan suatu benda, dan dengan cara kerja kau hanya tinggal berdiri disalah satu anak tangga lalu anak tangga itu akan berjalan sendiri mengantarmu keatas, jadi sekarang apa kau mengerti?"
ohh sekarang aku mengerti, jadi kurasa didunia ini tidak memiliki lift tapi mereka memiliki tangga dengan konsep seperti eskalator.
"ohhh... tapi tadi saat aku menaiki tangga tidak ada hal seperti itu?"
"iya karena sihir itu hanya diaktifkan dari lantai tiga dan seterusnya, tapi kau jangan coba-coba untuk naik dan mencoba tangga berjalan yang tidak kau mengerti itu, karena jika ada orang tidak berkepentingan mencoba naik tangga itu akan menyesatkan mu" jelas Damian lagi, tanpa dia jelaskan pun aku sama sekali tidak tertarik untuk naik keatas.
"sepertinya kalian sedang membicarakan hal yang sangat penting" suara dingin itu membuatku menoleh kearah pintu balkon yang dimana disana sudah berdiri seorang pria jangkung dengan mata yang sedikit sipit dan bibir yang merah bagaikan kelopak bunga mawar.
Dia...