Reta's Dream

Reta's Dream
episode 21



Kini mataku dibuat tidak bisa berkedip dengan apa yang ada di depanku.


Sebuah danau yang indah dan airnya pun sangat jernih hingga aku bisa melihat ikan-ikan berenang dari sini.


Dan bukan hal itu saja yang membuatku ternganga.


Ratusan bunga mawar merah tumbuh dipinggir danau ini.


Dan satu hal yang sangat aneh.


Tidak ada duri ditangkai bunga itu.


Jeriem membawaku semakin dekat dengan danau dengan cara melewati bunga-bunga itu.


Jeriem duduk di tepi danau yang  tanahnya tidak ditumbuhi mawar.


Aku ikut duduk disampingnya, memandang wajahnya yang kini tengah menatap kearah ratusan mawar itu.


"Tempat apa ini?"


Jeriem menatap ke arahku dengan senyum yang merekah.


Degh.....


Dan jantungku mulai berulah lagi.


"Ini.... Adalah tempat dimana kebaikan dan cinta terbukti." Jeriem mengalihkan pandangannya dari ku dan menatap menerawang ke langit.


Aku tidak tau harus membalas apa.


Jadi kini hanya ada keheningan yang menyelimuti kami hingga aku melihat sesuatu yang bersinar di dada Jeriem.


Jeriem mengeluarkan sesuatu dari bajunya dan setelah itu aku baru bisa melihat sebuah batu permata merah yang dia jadikan sebagai kalung.


Sebelumnya aku tidak pernah melihat kalung itu, mungkin karena Jeriem selalu menyembunyikannya dibalik bajunya.


Tapi seingat ku batu itu sama sekali tidak bersinar, bahkan saat dia mengajakku kesini tadi.


"Kenapa batu itu bersinar?" tanyaku saat Jeriem melepas kalungnya.


Jeriem, tersenyum.


Dan itu adalah perpaduan yang sangat cocok dengan sinar permata yang menyinari wajahnya.


Dan dia terlihat sangat sempurna, tanpa cela.


"Karena dia bertemu pemiliknya, dulu dia selalu bersinar tapi kini dia hanya bisa bersinar saat berada ditempat ini."


"Siapa pemiliknya?" tanyaku pada Jeriem karena sedari tadi aku sama sekali tidak melihat orang lain selain kami berdua.


"Seorang gadis yang memiliki semua kasih sayang."


Jeriem tersenyum memandang batu itu.


Aku dibuat bertanya-tanya dengan perkataan Jeriem.


Tadi dia bilang batu itu akan bersinar ketika bertemu pemiliknya dan pemiliknya adalah seorang gadis, tapi dimana gadis itu?


"Kau tau, Reta batu ini adalah alasan dimana aku terus melanjutkan hidup. Ketika bibir mereka berkata kalau mereka membenciku, tapi batu ini mengatakan kalau mereka tidak membenciku, mereka masih mencintaiku, masih menyayangiku sama seperti saat dia masih ada. Kami masih saling peduli dan menyayangi tapi keadaan yang membuat yang menjadi seperti ini."


Aku dibuat pusing dengan perkataan Jeriem yang berbelit-belit.


Tapi siapa mereka dan dia yang dikatakan Jeriem.


"Batu ini adalah lambang kasih sayang antara kami, selama masih ada kasih sayang antara kami, batu ini akan selalu ada, tapi jika... Sudah tidak ada lagi kasih sayang antara kami........ Batu ini akan hancur."


Kini bukan lagi senyuman yang kulihat di wajah Jeriem melainkan bulir air mata yang menetes di pipinya.


Aku benar-benar bingung dengan keadaan ini.


"Jeriem."


"Iya, kami masih saling menyayangi, hanya saja ego kami yang terlalu besar ini yang membuat semuanya berubah dan..... Dia...."


Air mata Jeriem semakin banyak membanjiri pipinya.


Entah mengapa aku merasa dia tidak akan menghapus air matanya itu.


Dia terus menatap kearah hamparan mawar yang ada didekat kami.


Sungguh aku benar-benar bingung.


Apa yang harus kulakukan?


Menghapus air matanya kah seperti yang sering kulihat di drama atau memberinya kata-kata motivasi agar dia berhenti bersedih?


Tapi dia sedih kenapa!?!?!!?


"Kini aku sendiri dengan rasa bersalah yang selalu menghantuiku."


Entah mengapa tanganku reflek menggenggam tangan Jeriem yang sedang memegang batu itu, jadi sekarang posisi kami sangat dekat dan sama-sama menggenggam batu merah yang kini tambah bersinar saat aku ikut menggenggamnya.


Perhatian Jeriem teralihkan dari hamparan mawar itu dan menatap kearah mataku.


Mata kami saling bertemu.


Mataku dan mata merahnya yang terlihat sayu akibat menangis.


"Kau tidak sendirian, aku.... Akan selalu bersamamu." ujarku.


"Walaupun keadaan memaksamu pergi?"


Aku mengangguk membalas perkataan Jeriem, karna mungkin hanya begini cara agar dia meredakan air yang selalu turun dari matanya.


"Iya aku akan selalu bersamamu, walau keadaan memaksaku pergi."


Aku tidak tau apa yang terjadi tapi tiba-tiba aku sudah berada didalam dekapan hangat Jeriem.


Ini.....


Ada apa dengan jantungku?!???!!


Kini aku bisa merasakan aroma tubuh Jeriem sangat jelas.


Dan entah mengapa aroma tubuhnya benar-benar menenangkan.


Tidak.


Itu bukan air mata Jeriem melainkan air hujan yang tiba-tiba turn dengan deras membasahi kami berdua yang masih saling mendekap.


Entah mengapa hujan bisa turun sederas ini, padahal tadi jelas-jelas langit masih sangat cerah.


Aku makin tidak bisa berpikir jernih didalam pelukan Jeriem ditambah lagi dengan keadaan tubuhku yang diguyur hujan.


🌸


Kini aku sudah berada didalam kamar tamu yang ada di rumah Jeriem.


Iya setelah terguyur hujan tadi aku tidak langsung pulang karena aku takut menghadapi Regan dan ayahku.


Pergi kabur dari rumah lalu ketika pulang tubuhku sudah basah akibat hujan.


Apakah aku masih akan hidup nanti setelah mendengar omelan Regan yang tidak ada habisnya?


Aku menatap pantulan diriku di depan cermin dengan menggunakan gaun kuning yang dipenuhi dengan permata merah.


Ah... Gaun ini benar-benar indah.


Tadi Jeriem memberikan gaun ini padaku guna mengganti gaun ku yang basah terguyur hujan.


Tapi kini yang jadi pertanyaanku.


Gaun siapa ini?


Apakah milik saudara perempuan Jeriem?


Ah... Itu tidak mungkin, Jeriem adalah anak tunggal.


Lalu gaun milik siapa?


Gaun ini jelas-jelas bukan sebuah gaun baru karena aku tadi melihat Jeriem mengambilnya dari dalam lemarinya.


Apa mungkin.....


Apa mungkin ini milik kekasihnya?


Entah mengapa tiba-tiba dadaku sakit memikirkan hal itu.


Tok... Tok... Tok....


"Apakah kau sudah selesai?" tanya seseorang dari balik pintu.


Dan itu jelas-jelas Jeriem.


Aku berjalan kearah pintu dan membukanya.


Aku dibuat terpana dengan sesuatu yang kulihat didepan mataku.


Jeriem.


Iya Jeriem yang rambutnya basah dan berantakan dan hal itu benar-benar menambah kadar ketampanannya.


Oh... Dia benar-benar tampan.


Bukan aku saja yang kini memperhatikannya, dia juga memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Apa ada yang salah denganku?


Apakah baju ini terlalu terbuka?


Aku mulai menelisik penampilanku karena tatapan berbeda yang diberikan Jeriem.


Apa mungkin gaun ini terlalu terbuka?


Oh tentu saja tidak baju ini cukup tertutup, bahkan lengannya saja mencapai siku ku berbeda dengan gaunnyang sering kupakai yang lengannya hanya sebatas bahuku saja.


Tapi kenapa dia menatapku seperti itu.


"Aku... Akan ke kamarku sebentar setelah itu aku akan mengantarmu pulang." ujar Jeriem yang memecahkan kehilangan diantara kami.


"Aku ikut."


Jeriem kembali menatapku.


"Oh.. Yasudah ayo."


Aku mengikuti langkah Jeriem kearah sebuah kamar dengan nuansa abu-abu.


Kamar ini terlihat sangat rapi untuk ukuran kamar pria.


Tapi entah mengapa aku merasa kamar ini sangat suram.


Aku menatap Jeriem yang kini sedang berjalan kearah lemari pakaiannya, entah apa yang diambil dari sana.


Aku terus menelusuri setiap sudut kamar ini, hingga tatapan ku terkunci kearah foto seorang gadis yang ada diatas meja yang ada disamping kasur Jeriem.


Aku berjalan kearah meja itu dan mengambil foto itu.


Gadis itu sangat cantik dengan memakai gaun yang sama dengan yang aku pakai sekarang.


Bahkan menurutku gaun ini lebih indah saat berada ditubuhnya.


Apakah gaun ini miliknya?


Tapi siap dia?


Aku terus menelisik foto itu, hingga aku menemukan sesuatu.


Sesuatu yang membuatku sangat terkejut.


Gadis itu memakai kalung dengan liontin batu permata berwarna merah yang terlihat bersinar.


Iya itu batu yang sama dengan batu yang dipakai Jeriem.


Apa mungkin.....


Apa mungkin dia pemilik batu itu?