
Malam ini aku dibuat berfikir keras tentang pemilik batu permata merah itu.
Siapa gadis itu?
Dan ada hubungan apa Jeriem dengan gadis itu? Hatiku dibuat sakit saat memikirkan kemungkinan besar tentang hubungan mereka.
Tok... Tok... Tok...
Aku menoleh kearah pintu kamarku yang tidak kututup. Oh... Tumben sekali dia mengetuk Dan sejak kapan dia ada dirumah?
"Apa kau kabur dari rumah lagi hah?!? "
Aku sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya, Di berjalan kearahku.
Namun...
Langkahnya terhenti tepat didepan lemari kaca yang didalamnya terdapat gaun yang diberikan Jeriem tadi siang. Entah mengapa aku merasa raut wajah Reiyandt langsung berubah saat melihat gaun itu.
Seperti.....
Terkejut.
Mungkin.
"Dari mana kau mendapatkan gaun ini?" tanya nya tanpa melepaskan pandangannya dari gaun itu.
"Apa kau mengenal pemilik aslinya?"
"Cepat jawab Reta." seketika aku terkesiap mendengar nada serius dari perintah Reiyandt.
Seingatku selama aku hidup didunia ini Reiyandt tidak pernah tampak seserius ini.
"Itu..... Jeriem yang memberikannya padaku."
"Ooo, pantas saja."
Aku merasa Reiyandt kenal dengan gadis dalam foto yang ku lihat dirumah Jeriem.
"Kakak kenal dengan pemilik gaun itu?" tanyaku lagi pada Reiyandt yang sudah mengalihkan pandangannya dari gaun itu dan berjalan kearahku yang kini tengah duduk dipinggir .
Dia duduk disebelahku dan menatapku.
"Memangnya kau tau siapa pemilik gaun itu?"
Aku menganggukkan kepalaku.
"Aku melihat fotonya dikamar Jeriem."
Pletak.....
Tanpa aba-aba, tiba-tiba dia menyentil keningku cukup keras, Demi apapun dia benar-benar gila. Kini keningku terasa berdenyut karena ulah kakak laknat ku ini.
"Bagaiman bisa kau masuk kedalam kamar seorang pria hah! Kau seorang gadis Reta!!!"
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku bukan gadis?"
Reiyandt kembali menyentil keningku saat mendengar perkataanku.
"Apa kakak mengenal gadis itu?" tanya ku ulang
"Oh.... Gadis itu ya"
"Kau mengenalnya?"
"Iya aku mengenalnya, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai adikku, Reta. Ketika aku mencintaimu sebagai adikku, aku juga mencintainya sama seperti aku mencintaimu" aku melihat raut wajah Reiyandt yang seketika terlihat sendu.
Entah mengapa aku jadi ikut terbawa suasana.
"Em... Sekarang di mana dia?"
"Aku tidak tau, bahkan mungkin tidak ad yang tau..... Oh iya mungkin ada beberapa orang yang tau keberadaannya tapi mereka memilih untuk merahasiakannya dari orang-orang."
"Sudahlah, Aku keluar, kalau aku lama-lama disini bisa-bisa aku tertular dengan kebodohanmu."
Reiyandt berjalan keluar kamarku,?meninggalkanku yang masih sangat kesal dengan tingkahnya. Tapi entah mengapa aku merasa Reiyandt tahu banyak tentang permasalahan gaun, gadis pemiliknya, bahkan mungkin juga dengan batu permata merah itu.
Ck... Kakakku yang satu itu memang terlihat bodoh tapi aku yakin dia mengerti dan tau segalanya, jika tidak mana mungkin dia dipilih sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga kerajaan.
Berbeda dengan Regan yang terlihat selalu serius tapi tidak tau apa-apa.
Aku menatap gaun yang ada didalam lemari kaca itu.
"Siapa kau sebenarnya?"
Aku berjalan kearah jendela kamarku yang sedari tadi terbuka.
Berniat ingin menutupnya karena hari sudah sangat malam.
Namun.....
Kamarku yang ada di lantai dua rumah membuat aku bisa melihat segala hal yang ada di halaman rumah lewat jendela.
Dan....
Apa ini?
Wajahnya bersinar tepat dibawah sinar rembulan yang tengah menunjukkan fase penuhnya.
Gadis itu...
Iya, dia gadis yang fotonya ada di kamar Jeriem.
Aku langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Beruntung tidak ada orang dilantai dasar karena mungkin mereka semua sudah masuk kedalam dunia mimpi mereka masing-masing.
Aku membuka pintu keluar dan untungnya lagi pintu itu belum dikunci. Aku berlari menghampiri gadis itu namun gadis itu malah berlari menghindariku. Aku ikut mengejarnya hingga dia membawa ke...
Apa....
Tempat ini.
Tempat yang aku dan Jeriem kunjungi tadi siang bukan?
Tapi kenapa dia membawaku kesini.
"Reta" aku menoleh kebelakang dan mendapati gadis itu yang kini tengah menatapku sambil tersenyum.
Dari mana dia tau namaku?
Apa mungkin Jeriem yang memberi taunya?
Eh... Tapi bukanya dia tadi ada didepanku ya.
Tapi sekarang....
"Terimakasih." ujarnya dengan senyum yang terkembang diwajahnya.
"Hah?"
Aku tidak mengerti dia berterimakasih untuk apa.
"Terimakasih karena sudah menemani Jeriem."
Oh.... Jadi untuk itu
Eh... Tapi....
Aku tidak tau harus membalas perkataannya dengan apa.
"Reta, apa kau bisa menolongku?" tanya nya dengan wajah sendu.
"Apa?"
"Jangan pernah tinggalkan Jeriem ya."
Hah?
Apa maksdunya?
"Aku mau kau selalu menemaninya."
"Maksudmu apa?"
"Berjanjilah, Reta kalau kau akan terus bersamanya"
Apakah aku harus berjanji?
Tapi kenapa?
"Iya."
Kenapa dengan mulutku?
Kenapa dia berbicara tanpa persetujuan ku?
Gadis itu tersenyum mendengar perkataanku. Lalu tanpa pamit dan tanpa izin dia berlari menyusuri tiap mawar yang menyentuh ujung gaunnya menuju hutan yang tidak jauh dari tempat itu.
Aku tidak mengerti...
Kenapa aku tidak menanyai namanya dan kenapa juga aku tidak bertanya kenapa dia menyuruhku untuk menemani Jeriem.
Aku berlari kearah gadis itu berlari. Tidak ada apapun didalam hutan itu.
Gadis itu pun juga menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Aku masih mencoba mencari gadis itu di sekelilingku, Namun bukannya gadis itu yang kutemukan malah aku menemukan beberapa tanaman anggrek berwarna ungu tua dengan titik-titik berwarna hitam.
Aku berjalan mendekati anggrek itu.
Kini jarak ku dan bunga itu sangat dekat hingga kini aku bisa mencium aroma bunga anggrek itu.
Sangat wangi dan membuat candu
Tapi....
Kenapa lama kelamaan kepalaku jadi pusing, Ah ada apa ini.
"Senang bertemu dengan mu lagi Cerias."
Suara itu....