Reta's Dream

Reta's Dream
episode 24



Setelah malam yang memalukan itu aku selalu mencoba menghindari Jeriem.


Aku benar-benar malu untuk menghadapinya.


Kini yang harus kupikirkan adalah bagaimana aku bisa bertemu dengan gadis itu. Gadis yang mungkin menjadi kunci dari semua kejadian aneh yang ku alami ini.


Tapi....


Kalau aku menghindari Jeriem bagaimana aku bisa tau tentang gadis itu, yang bahkan namanya pun aku tidak tau.


Seorang pelayan mausk kedalam kamarku dengan membawa sebuah gaun berwarna biru muda dengan beberapa batuan mulia yang menempel disana.


"Untuk apa itu?" Tanyaku pada pelayan itu setelah dia meletakkan gaun itu.


Pelayan itu berjalan ke arahku dan membungkuk kearahku.


"Ini gaun untuk acara nanti malam, nona tuan muda Regan yang mengirimkannya."


"Acara apa?"


"Acara pertemuan keluarga bangsawan, yang diadakan di istana nona."


"Istana???"


Apa lagi ini?


Pertemuan di istana?


Ada bagusnya juga sih, selama tinggal disini aku belum pernah ke istana.


Tapi....


Keluarga bangsawan...


Jeriem....


"Astaga!!!"


Seketika aku berdiri dan berlari keluar kamarku meninggalkan pelayan tadi yang masih berdiri ditempatnya.


Langkah kaki ku berhenti saat aku sudah sampai diruang keluarga yang dimana disana ada ayah dan kedua kakakku.


"Ada apa Reta?" Tanya ayah ketika dia menyadarkan kehadiranku disana.


Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan kearah mereka bertiga.


"Kau sudah melihat gaunnya?" Tanya Regan ketika bokongku sudah menyentuh sofa dan duduk diantara  ayah dan Reiyandt.


"Gaun itu.."


"Untuk nanti malam" potong Regan


"Apa nanti malam semua keluarga bangsawan datang?"


"Tidak. Pengemis dari Dubilt juga datang."


"Oh ya."


"Bodoh" ujar Reiyandt sambil menyentil keningku


Aku benar-benar kesal dengan kebiasaan Reiyandt yang suka menyentil keningku. Dia fikir sentilannya itu tidak terasa sakit sama sekali, ingin sekali rasanya aku menendang wajah sok gantengnya itu, walau sebenarnya dia benar ganteng sih.


"Hanya keluarga bangsawan saja, Reta." aku hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan ayah hingga akhirnya merasakan tangan besarnya mengelus kepalaku.


Hm....ini benar-benar sangat nyaman hingga rasanya aku tidak ingin kembali kedunia ku karena kenyamanan yang mereka berikan padaku.


Dulu aku selalu mengidam-idamkan hal ini, punya kakak laki-laki yang perhatian, duduk diruang keluarga bersama semua keluargaku dan membicarakan hal-hal ringan yang sekali-kali membuat kami tertawa.


Dan sekarang aku mendapatkannya.


Dulu untuk pulang kerumah saja adalah hal yang sangat sulit bagiku.


Aku dan kakak pertamaku berada di kota tinggal bersama bibi, ayah yang bekerja diluar pulau membuat dia hanya bisa pulang setahun sekali itupun kadang juga tidak bisa, kakak keduaku yang kini entah kemana, memilih kabur bersama kekasihnya dan meninggalkan keluarganya, dan ibu yang kerja serabutan di pinggir kota agar bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan sesekali untuk mengirimiku uang karena kadang penghasilan ayah tidak mencukupi.


Benar-benar gambaran keluarga yang sangat menyedihkan.


Tapi disini entah mengapa aku merasa mendapatka semuanya.


Harta, kasih sayang, dan keluarga yang....


Ah...tidak


Disini orang tuaku memang tidak lengkap karena ibuku sudah lama meninggal ketika umurku baru menginjak enam bulan. Tapi itu bukan berarti disini aku akan kekurangan kasih sayang.


Disini aku benar-benar bergelimang dengan kasih sayang.


"Keluarga Alarick juga pasti akan datang" ujar Reiyandt seakan tau tujuanku datang kemari.


"Ya tentu saja mereka datang, mana mungkin keluar bangsawan yang sangat berpengaruh seperti Alarick tidak datang." sambung ayah.


"Aku... Sepertinya tidak akan ikut kalian." seketika mereka bertiga langsung menoleh kearahku.


Ah...aku merasa seperti tersangka penjual bakso boraks.


"Kenapa?" Tanya ayah.


"Ya....aku.."


"Ah...biarkan saja dia dirumah, jika dia nanti ke istana dia pasti akan membuat wajah tampanku ini malu karena kebodohannya." apakah halal jika aku menampar wajahnya dengan sandal karet yang kini ku pakai?


"Tidak. Reta harus ikut." aku menoleh kearah Regan yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan kami


Ah...kenapa dia ingin aku ikut?


"Biarkan saja dia, Regan"


"Tidak ayah, jika nanti Reta tidak ikut apa pandangan orang pada keluarga kita? Pasti buruk, jadi Reta harus datang."


Hm...benar juga tapikan....


Bagaimana nanti aku bertemu Jeriem?


Aku memperhatikan ayah yang kini tengah beradu tatap dengan Reiyandt, seakan mereka bisa berbicara melalui tatapan meraka.


Huh ada apa dengan mereka?


🌸


Aku turun dari mobil dan langsung dihadapi dengan bangunan mewah, bahkan sangat mewah.


Dari sini aku sudah bisa melihat orang berlalu lalang dengan pakaian kebesarannya.


Aku berharap tidak akan bertemu dengan Jeriem, mau taruh dimana mukaku nanti.


Aku berjalan mengikuti ayah dan Regan yang berjalan didepan sedangkan aku dan Reiyandt berjalan dibelakang mereka


"Kenapa menunduk huh? Semua orang disini tau kalau mukamu jelek jadi tidak perlu ditutup-tutupi."


Aku menoleh kesamping dan mendapati Reiyandt yang kini mentapku dengan cengiran yang menyebalkan.


Aku tidak mau meladeninya, tapi bukan berarti aku mengaku kalah dengannya, aku hanya tidak mau orang-orang yang ada disini merasakan suasana perang yang akan kami ciptakan.


Kini kami sudah berada di aula istana yang sudah dipenuhi dengan orang.


"Ayah, aku akan pergi ke toilet." ayah mengangguk.


Aku berjalan menuju toilet istana yang sudah diberitahukan padaku.


Ah... Bagunan ini sungguh sangat mewah.


Selama aku berada di dunia ini aku beranggapan mungkin rumahku adalah bangunan yang paling mewah di dunia ini. Tapi sekarang aku berada istana, dimana kemewahannya sepuluh kali lipat dibanding dengan rumahku.


Aku sudah sampai di toilet, tapi apa ini?


Apa mereka tidak malu melakukan perundingan di dalam istana.


Empat orang gadis yang mungkin seumuran denganku kini tengah merundung seorang gadis. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena mereka membelakangi ku.


Aku mencoba mengabaikan mereka, toh dulu saat di duniaku aku juga selalu mengabaikan hal seperti ini.


Aku berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan.


Dari sini aku bisa mendengar perkataan mereka dengan jelas.


"CK...cepat tunjukkan pada kami!"


"Dia tidak akan menunjukkan nya"


"Oh ya aku lupa, jika dia merasa sakit dan terancam matanya itu pasti akan berubah."


Aku melihat dari ekor mataku, salah satu dari gadis itu mengeluarkan sebuah benda kecil yang mengkilat.


A...apakah itu silet?


Tidak. aku tidak bisa membiarkan ini


Aku berjalan mendekati mereka dan mencoba merebut silet itu.


"Akh..."


Namun aku terlambat


Benda itu sudah lebih dulu menggores lengan gadis yang dari tadi hanya menunduk.


"Apa yang kalian lakukan hah?!!"


"Oh... jadi kau Cerias yang hilang ingatan itu"


"Ah... Kami tidak melakukan apapun, kami hanya ingin menunjukkan suatu hal padamu, kau pasti sudah lupa hal ini kan"


"Coba kau berbalik dan lihat"


Entah apa yang aku fikirkan, aku berbalik dan....


Betapa terkejutnya aku melihat seorang gadis yang kini tengah memandang keempat gadis yang tadi merundungnya dengan tatapan marah. Tapi bukan hal itu yang membuatku terkejut.


Matanya.


Mata gadis itu berbeda warna, salah satu bola matanya berwarna biru dengan perpaduan abu terang, dan menurutku itu mata yang sangat indah.


Tapi...salah satu matanya lagi berwarna hitam, hanya hitam gelap, sangat gelap.


Gadis itu sangat berbeda dengan gadis yang sewaktu itu kutemui di Cresscom.


Dan gadis itu adalah....


Lyli