Red Blood

Red Blood
Tertangkap



Aku dan Kak Selena segera bersembunyi setelah mendengar suara langkah kaki mendekat, rupanya ada seseorang yang mengikuti kita.


"Hey ayoo kita harus segera kembali sebelum diketahui oleh ketua" ucap seseorang dari luar


"Iya sebentar, aku hanya mengambil apronku yang tertinggal" ucap seorang lagi, dan sepertinya mereka adalah koki yang bekerja disini.


"Ish! Bukankah disini terlihat menakutkan?" tambah koki dari luar


"Suuuttt! Jangan sembarangan biacara atau kamu akan mati mengenaskan, jangan sampai ada yang mendengar" timpal koki yang masuk tadi


"Ahh iya-iya aku tahu, cepatlah dan jangan lupa matikan lagi lampunya" dia cukup ketakutan


Jika dilihat-lihat memang koki disini terlihat cukup normal dibandingkan para pengurus yang dingin, dan setelah difikirkan lagi ternyata mereka tidak memiliki tatto sebagaimana pengurus yang lain.


Aku juga sudah mencoba mencari tahu di buku perpustakaan tentang arti tatto anggrek hantu, artinya pun cukup menakutkan yaitu :


Bunga yang juga disebut sebagai bunga hantu Vietnam ini dipercaya memiliki kekuatan mistis karena bentuknya yang terlihat seperti wajah manusia yang menatap tajam kepada tuannya. Konon katanya, anggrek biru adalah bunga yang biasa digunakan untuk memanggil arwah orang yang sudah meninggal


Kenapa mereka menggunakan istilah mistis pada hal ini, bukankah itu membawa ketidak beruntungan?


"Jangan diam saja, ayo kita harus bergegas sebelum ada yang datang lagi" Kak Selena membangunkan lamunanku


"Ah iya, ayo kak" aku segera mengikuti Kak Selena dari belakang


Disini kita membagi tugas, Kak Selena yang mencari jalan dan aku yang menuliskan setiap detail yang kami temukan untuk menuju kesana. Sebelumnya kami mendapatkan sedikit petunjuk tentang jalannya, yaitu hanya mengambil arah kanan, itu yang dikatakan Julia pada Kak Celine.


Setelah cukup lama berjalan kami hanya menemukan pohon-pohon besar dan tidak ada hal lain, tapi tiba-tiba saja kakiku tersandung sesuatu dan aku terjatuh


"GUBRAK!!!"


"Arghh!" aku merintih kesakitan, sepertinya kakiku berdarah


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kak Selena


"Tidak, hanya tergores sedikit" jawabku menahan sakit


"Itu berdarah, dan kamu bilang sedikit?" Kak Selena mengkhawatirkan aku


"Kita kembali saja, besok mencari tahu lagi, perjalanan kali ini cukup" Kak Selena tidak mau sampai ada yang terluka dan ketahuan


"Tapi kak, sepertinya sebentar lagi sampai" sanggahku


"Tidak! rute ini sudah cukup, biar besok aku dan Kak Celine mencari tahu lagi!"


Akhirnya kami kembali dengan aku dipapah Kak Selena, tapi setelah dilihat lagi aku tidak tersandung oleh batu ataupun akar pohon, jalannya cukup bersih hanya ada rumput-rumput kecil. Jadi aku tersandung oleh apa?


"Kak, apakah kamu melihat batu tadi?" tanyaku


"Tidak" jawabnya singkat


"Tapi tadi aku merasakan ada sesuatu makanya aku terjatuh" jelasku


"Bukankah kamu tersandung oleh kakimu sendiri?" jawab Kak Selena


"Tidaaak, aku cukup hati-hati untuk bisa tersandung kecuali memang ada batu atau semacamnya" aku menyela


"Kita bahas nanti di sana, sekarang kita harus bergegas sebelum ada yang menyadarinya"


Langkah kami dipercepat, dan segera menuju asrama panti kembali menuju pintu belakang dapur. Namun ternyata ada sebuah bayangan berdiri didepan pintu, ah kami tertangkap basah.


Bayangan itu mendekati kami perlahan, dan wajahnya sedikit demi sedikit terlihat, dari pakaiannya terlihat seperti seorang pengurus panti. Dia menatapku dan Kak Selena bergantian, wajahnya sudah terlihat sangat marah, namun dia hanya sendiri. Tangannya perlahan mendekat dan menarik tanganku dengan erat.


"GREBB!"


"Ikut aku!" dia menarik kami berdua berjalan menuju suatu tempat


Sambil berbisik Kak Selena mengatakan,


"kita sepertinya akan dibawa ke ruang bersalah! Saat diinterogasi nanti kamu harus mengatakan tidak tahu, cukup itu. Sisanya serahkan padaku"


"T-ttapi kak, aku tidak bisa melimpahkan semuanya padamu" ucapku enggan dengan berbisik juga


"Sudah ikuti saja!" perintahnya lagi


Benar saja kami di bawa ke ruang bersalah, dan pengurus tersebut mendudukkan kami bersebelahan. Lukaku semakin terbuka dan darah terus keluar namun aku tidak bisa mengobatinya, justru sepertinya aku akan mendapatkan luka baru.


Dia menatap kami lagi dengan wajah yang sangat memerah, dan tiba-tiba menundukkan wajahnya lesu. Dia perlahan menangis dihadapan kami, tangisannya cukup membuatku merasa iba, seperti tangisan seseorang yang ketakutan dan putus asa.


...****************...