Red Blood

Red Blood
Rencana 1



Sudah lama sejak kejadian mimpi mengerikan, Julia pun tidak terlihat masuk kelas lagi. Aku mencoba mencari tahu tentangnya dari yang lain namun ternyata selama ini aku selalu duduk sendirian, tidak pernah ada yang bernama Julia dari kamar 102.


Dugaanku semakin kuat bahwa sesuatu yang mengikutiku sejak saat itu adalah Julia, dan dialah si wanita tokoh utama dalam cerita Tania atau mantan kekasih kakaknya Zavier.


Zavier juga menceritakan semua yang dia ingat tentang kakaknya. Bahwa keluarga mereka memiliki penyakit turunan yaitu Multiple Myeoloma atau kanker darah yang terjadi ketika sel darah putih menjadi ganas. Pada kondisi ini, sel darah putih akan diproduksi secara berlipat ganda dan melepaskan protein abnormal yang dapat merusak organ. Itu lah yang menyebabkan Zavier sejak kecil sakit dan mendapatkan pemulihan disini.


Dia juga menceritakan kalau penyakit itu awalnya dialami oleh ibunya, dan menjadi penyebab kematiannya begitupun dengan Mahesa. Sehingga ayah mereka berusaha untuk menjaga mereka agar tidak bernasib serupa seperti ibu mereka dengan segala macam cara dan pengobatan.


Tapi ternyata keganasan penyakit tersebut tetap saja merenggut nyawa kakaknya itu.


Ketika mendengar semua cerita Zavier, apakah darah yang dimaksud oleh Julia adalah darah penyakit itu? Setiap bulan kami akan melakukan tes darah yang berbeda-beda, pula obat yang mereka berikan terlihat seperti obat-obat penambah darah, apakah mereka menguji darah kami untuk menemukan obat atas penyakit tersebut?


Teka-teki yang tidak ada habisnya terus bermunculan, apalagi setelah aku bertanya hal tersebut Zavier tidak lagi datang ke panti ini. Satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan meneliti obat itu, tapi jangankan laboratorium buku-buku tentang ilmu penelitian saja tidak ada.


Karena sudah bertekad maka harus dilakukan. Akhirnya aku menceritakan itu semua kepada Tania dan yang lain, dan kami saling memberikan informasi dan rencana. Tentang penelitian obat mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari Zavier.


Dari cerita mereka semua aku dapat menyimpulkan kalau Julia memang benar-benar dibunuh, dan ada kaitannnya dengan penyakit Mahesa. Tapi untuk darah yang kami berikan ketika pemeriksaan tersebut akan digunakan untuk apa masih menjadi pertanyaan.


Namun menurut Kak Celine, dihari sebelum Julia menghilang dia sempat memberitahukan bahwa jauh dibelakang asrama panti ada sebuah tembok yang sangat tinggi, dia menemukannya karena berusaha untuk melarikan diri dari ayah Mahesa, tapi gagal.


Jadi kami akan mencoba mencari tahu dimana tembok itu berada dan mencari jalan keluar, karena firasatku mengatakan kalau disini bukanlah panti asuhan melainkan neraka.


"Lihat! Bukankah itu gadis kecil dari kamar sebelah? Auhhh punggungnya penuh dengan luka dan darah, sekejam itu kah para pengurus?" Ucap Rose


"Benar, mereka terlalu kejam untuk kesalahan yang bahkan tidak sengaja dia lakukan" tambah Tania


"Apa yang dia lakukan?" tanyaku, karena memang akhir-akhir ini aku hanya berada di perpustakaan mencari setidaknya 1 buku yang membahas tentang masalah ini


"Dia hanya tidak sengaja menjatuhkan vitamin malam, dan dia langsung dibawa oleh mereka ke ruang bersalah, bahkan sampai 3 hari" jawab Rose


"Benar kan? Aku kan sudah bilang kalau vitamin itu kuncinya, untuk apa mereka menghukum jika itu hanya vitamin biasa. Pasti ada sesuatu!" Tania semakin menggebu-gebu


"Nanti malam setelah absen adalah jadwal menonton film dokumenter panti, saat itu para pengurus tidak akan terlalu memperhatikan kita, jadi aku dan Julia akan pergi untuk melihat tembok besar" tambah Kak Selena lagi


"Iya, aku akan bertanggung jawab menjaga mereka dan memastikan tidak ada yang menyadari kalian pergi" ucap Kak Celine


"Kalian harus berhati-hati, dan pastikan untuk mematikan gelang ini" Tania mengingatkan


Oh ya, ketika kami datang kesini kami akan dipakaikan sebuah gelang, terlihat seperti gelang biasa namun Zavier mengatakan bahwa didalamnya terdapat sebuah alat pelacak, dia tahu karena dia pandai dalam hal ini dan dia juga memberikan cara kepada kami untuk mematikannya.


Sebenarnya jika Zavier ada kami akan dengan mudah menemukan rute jalan menuju tembok tersebut karena ayahnya memiliki peta panti ini, namun sejak lama dia tidak datang lagi ke panti, sehingga satu-satunya cara adalah mencobanya.


"Tentu saja, aku tidak akan seceroboh dirimu" aku menyela Tania


"Hey! Siapa yang kamu bilang ceroboh?" Sanggah Tania dengan nada marah


Ada dua kesempatan yang bisa kita gunakan untuk kita mencari tahu, saat diputarnya film dokumenter dan setelah kelas berlangsung, itu semua adalah waktu yang cukup bebas dan tidak terlalu diperhatikan oleh pengurus panti. Tapi waktu yang kedua terlalu beresiko untuk dilakukan, akhirnya kami menggunakan kesempatan yang pertama untuk sekedar nelihat dan mempelajari rute perjalanan.


......................


Malam tiba, aku dan Kak Selena segera mempersiapkan diri. Ketika semua anak sedang menuju aula, kami mengendap-ngendap menuju pintu belakang panti dekat dapur umum, kebetulan semua koki disini sudah meninggalkan dapur.


Aku membawa senter kecil dan buku kecil untuk menggambarkan garis besar dari peta, jika saja kami memiliki kamera tentu saja kami akan merekamnya dengan mudah. Walaupun sekarang sudah tahun modern, tapi disini terasa seperti kembali ke masa lalu, telepon yang digunakan pun hanya telepon kabel tanpa ada satupun barang elektronik lainnya.


Kami berhasil memasuki dapur dengan mudah, dan bergegas menuju pintu bekakang. Sebelumnya kami sudah mematikan semua lampu yang ada di aula makan dan dapur sehingga tidak akan ada yang melihat kami keluar. Tapi tiba-tiba


"CETLEK!"


"Apa? Kenapa lampunya menyala kembali? Kami belum keluar dari sini" batinku


...****************...