Red Blood

Red Blood
Wanita Misterius



Kelas kembali dimulai, dan aku bersama Zavier segera menuju ke ruang kelas.


" Aneh, setiap istirahat Julia tidak pernah beranjak dari kursinya, apa dia tidak memiliki teman?"


Aku baru sadar kalau Julia tidak pernah berbincang dengan yang lain, dia hanya duduk diam sebari membaca buku. Sekalipun aku berusaha mendekatinya, dia tetap bersikap dingin.


"Sssut sssutt, Graciiii setelah pelajaran mau bermain ditaman sebentar? Aku punya sesuatu" Zavier berkata dengan sedikit berbisik, dia sangat beran, mungkin karena dia bukan anak panti jadi dia tidak takut dengan hukuman.


"Sebentar saja ya, setelah ini aku mau ke perpustakaan"


"okeyy" sambil mengedipkan matanya


"Apakah dia sudah gila? Sikapnya yang seperti ini bisa disalahfahami oleh yang lain" Tapi jujur saja jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Apakah aku memiliki sebuah penyakit?


Pelajaran selesai dan aku menemui Zavier di taman tadi siang, dia memberiku sebuah kotak kecil, sebenarnya aku takut karena disini tidak boleh menyimpan barang yang berasal dari luar, tapi aku akan mencoba untuk menyembunyikannya.


"Kamu jangan buka disini, di kamar saja ya" Senyum Zavier sangat manis meskipun dia laki-laki, giginya rapih dan sangat putih, bibirnya juga lebih bagus dari bibirku sebagai seorang perempuan. Aku iri.


"Isinya apa?" tanyaku penasaran


"Sesuatu untuk melindungimu" jawabnya dengan wajah serius


"Sebuah pistol? Atau belati?" aku semakin penasaran


"Pena"


"Hanya pena? Bagaimana ini bisa melindungiku?"


"Kamu lihat dulu baru berkomentar"


"Baiklah. Tapi Zavier, aku ingin menanyakan satu hal"


"Apa?"


"Apa kamu tahu tentang panti ini?"


"Bukankah guru sudah menjelaskan sejarahnya?"


"Bukan itu, tapi aku merasa ada banyak keanehan, dan ada seseorang yang selalu mengikutiku"


"SEDANG APA KALIAN?" Sebuah suara mengagetkan kami dan seorang pengurus mendekat.


"Bukan apa-apa kok, aku hanya menanyakan PR pada Gracia, hehe" Jawab Zavier dengan muka polosnya


"Cepat pergi ke kamarmu!" Pengurus itu menyuruhku kembali


"I-iiya, maafkan aku"


Aku segera berlari dan meninggalkan mereka, sungguh sangat menakutkan.


...----------------...


( Di kamar )


" Kotak ini apa isinya ya? "


"Hei!" Tania menepuk pundakku


"Aahhh Tania, aku kira Kak Celine atau Kak Selena" ucapku kaget


"Memangnya kenapa? Apa yang kamu bawa?"


"Katanya ini senjata"


"Senjata? Dapat darimana? Heyy jangan bercanda" Tania ketakutan


"Hehee bukan kok, ini katanya cuman pena"


Aku membuka kotak itu dan isinya benar saja hanya pena.


Tapi pena ini memiliki 2 tutup, tutup pertama seperti pena biasa dan tutup satunya berisikan semacam penghapusnya. Zavier sepertinya hanya mengerjaiku.


"Ehhh!"


Aku segera menyembunyikan pena tersebut, untung saja Kak Celine dan Kak Selena tidak ada, dan hanya Tania yang melihatnya.


"Darimana kamu mendapatkannya?" Tania serius bertanya


"Ada yang memberikan ini" Jawabku, aku tidak ingin dia tahu kalo Zavier yang memberikan


"Itu pasti dari Zavier" Tania menebak dengan tepat


"Kamu harus menjauhinya sebelum pengurus mencurigaimu, anak-anak panti sudah tahu kamu dekat dengannya, jangan sampai kamu mendapatkan kesulitan" Tania mencoba menjelaskan


"Zavier hanya sementara disini, hanya sampai kesehatannya pulih. Dan dia adalah putra tunggal dari seorang investor besar" tambahnya


"Tapi mungkin aku bisa mendapatkan jawaban darinya dan melarikan diri dari sini" Aku secara terang-terangan mengatakan itu pada Tania, karena kurasa Tania memiliki pemahaman yang sama denganku


"Jangan mengatakan itu sembarangan" Tania melihat sekitar takut ada yang mendengarkan kami


"Ternyata kamu sudah tahu tujuanku" lanjutnya dengan sedikit berbisik


"Tapi kita tidak akan bisa dengan mudah melarikan diri, kita harus menunggu" dia mengisyaratkanku untuk diam dengan meletakkan jari telujuknya di bibir


"Apa kamu tahu tentang panti ini?" tanyaku


"Ceritanya panjang, aku tidak bisa memberitahumu" Tania enggan memberitahuku


"Ayolahhh, aku bisa mati penasaran jika kamu tidak menceritakannya" aku mencoba untuk membujuk Tania


"Aish, kamu sangat mudah sekali mengatakan kata mati" dia menggelengkan kepalanya


"Baiklah, aku akan menceritakan apa yang aku tahu saja.


10 tahun lalu, sebelum aku dan Rose disini, ada seorang senior yang sangat cantik, dia seperti seorang bangsawan dengan tubuh yang tinggi dan kulit sangat putih bersih, semua orang disini mengaguminya. Setiap 5 tahun sekali akan diadakan ujian kelulusan, dan sebelum ujian setiap anak panti akan dibawa berwisata ke luar, satu hari itu akan menjadi hari bebas, tapi tetap saja ada aturannya.


Semua orang akan diberi satu gaun yang berbeda dengan yang kita pakai ini, semua orang sangat antusias termasuk senior tersebut".


"Siapa nama senior itu?" aku menyela


"Namanya Julia dari kamar 102"


"TUNGGU!!!, kamu bilang Julia kamar 102?" Aku kaget, bukankah itu teman sebangkuku?


"Dengarkan dulu sampai habis" Dia menepuk kepalaku pelan


"Julia ini selain cantik dia juga sangat cerdas, jadi orang-orang percaya kalau dia akan di transfer ke sekolah luar negeri, tapi setelah acara wisata selesai dan ujian kelulusan akan berlangsung, ada seorang laki-laki yang sering mengunjungi panti ini untuk bertemu dengan Julia, dia adalah putra pertama investor utama, namanya Mahesa"


"Tttapi bukankah..."


"Iya dia kakaknya Zavier" jawab Tania


"Mahesa juga sangat tampan, banyak yang bilang kalau Julia dan Mahesa bertemu saat wisata dan mereka berdua jatuh cinta, namun saat itu Mahesa adalah pewaris perusahaan jadi tidak boleh sembarang wanita dekat dengannya, bahkan mereka ditentang oleh ayahnya"


"Pak Husni kan?"


"Iya. Makanya sehari sebelum ujian Mahesa membawa Julia pergi dari panti. Tapi keesokan harinya Julia kembali sendiri tanpa Mahesa. Semua orang mengatakan kalau Mahesa berubah fikiran dan menolak Julia. Tapi ternyata Mahesa sudah mati.


Malamnya Julia mendatangi Kak Celine dengan ketakutan dan menangis, Kak Celine memang adik yang sangat dekat dengan Julia. Dia menceritakan pada Kak Celine bahwa dia yang membunuh Mahesa, dia juga berbicara tidak karuan dan menyebutkan kalau kita harus menjaga darah kita, tidak boleh direbut. Sejak malam itu Kak Celine punya firasat yang sangat buruk, benar saja keesokan harinya Julia menghilang sampai sekarang.


Banyak yang berspekulasi kalau Pak Husni ini membunuh Julia, tapi banyak juga yang beranggapan kalau Julia kabur dan bunuh diri karena merasa bersalah"


"Apa semua orang juga tahu tentang cerita ini?" tanyaku


"Tidak semua, mungkin para senior mengetahuinya" jawab Tania


"Apa ini ada hubungannya dengan pemeriksaan darah yang dilakukan setiap bulan?" aku semakin penasaran


"Bingo! Aku juga berfikir seperti itu, darah yang dimaksud Julia bukan tentang pembunuhan, tapi semacam uji coba atau semacamnya" Jelas Tania yang semakin bersemangat


"Jangan bicara sembarangan!" Tiba-tiba Kak Celine masuk kamar


"Jangan mencari masalah dengan panti ini!" Lanjutnya memperingati


...****************...