
Pelajaran kelas sudah selesai, kami akan diberi waktu untuk beristirahat sebelum makan malam. Aku berjalan sendirian menuju lantai dua, tapi aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku.
"Ahh Tania kamu disini, ayo kita kembali ke kamar bersama" aku segera menghampiri Tania dan menggandengnya menuju tangga.
"Kenapa kamu terburu-buru seperti ini?" Tania penasaran
"Sssuuut diam dulu, aku merasa ada seseorang yang mengikuti dari belakang, sejak tadi perasaanku tidak enak" aku dan Tania segera mempercepat langkah.
Ekor mataku hanya melihat kalau dia memakai sepatu yang kotor. Siapa?
...----------------...
"Kak Celine! Apa kakak baik-baik saja?" tanya Rose pada Celine yang baru saja keluar dari ruangan bersalah, itu yang mereka sebut.
Punggungnya penuh dengan darah, apa dia di cambuk? Wajahnya sangat pucat.
"Kalian diam, kita obati saja, dan cepat tutup pintunya jangan biarkan orang melihat" Selena segera membaringkan Celine di ranjangnya. Dia membuka baju kak Celine dan membersihkan lukanya.
"Kenapa hukumannya semakin kejam?" tanya Rose sambil menangis
Aku sangat merasa bersalah, hanya karena berbisik kak Celine mendapatkan hukuman yang berat. Air mata tidak bisa lagi ku bendung, hatiku sakit atas apa yang terjadi.
"Kak Celine maafkan aku, aku tidak tahu hukumannya akan seperti ini, aku berjanji akan menjadi anak baik kedepannya" Aku berlutut dihadapannya dengan air mata bercucuran.
"Sudahlah, hanya cambukan biasa" Kak Celine mencoba menenangkanku, padahal dia yang terluka tapi dia masih bisa tersenyum padaku
"Aku sudah tidak memiliki orang tua lagi, aku tidak tahu harus hidup bagaimana, semoga kalian dapat menerimaku menjadi bagian dari kalian" pintaku tanpa berani menatap mereka
"Kamu sudah menjadi keluarga kami, setiap suka maupun duka akan menjadi milik bersama, jangan menyalahkan diri sendiri, biarkan kak Celine istirahat" Tania menepis kecemasanku dan membantuku berdiri.
Disini kita tidak memiliki siapa-siapa, hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Tekadku untuk mencari kebenaran semakin tinggi, aku pasti akan memecahkan setiap teka-teki yang ada.
Peraturan dan hukuman yang tidak masuk akal sementara hanya bisa mengikutinya, aku akan menanyakan semua ini kepada Zavier, karena dia anak dari investor utama yang mungkin saja memiliki sedikit informasi.
"Hukuman ini sudah biasa, jadi kedepannya kamu harus berhati-hati" Kak Selena memperingati aku
"Apa kamu tahu? Dulu ada anak yang mencoba melawan ketua dan sampai saat ini tidak pernah muncul lagi, jadi hukuman cambuk adalah hukuman paling ringan" tambah Tania
"Jika kakak bisa bertahan disini sampai kelulusan nanti, kakak akan dikirim sekolah ke luar negeri, panti ini memiliki kualitas paling baik dalam hal pendidikan, aku ingin sekali pergi ke Jerman dan sekolah disana" Rose juga menambahkan
"Kalau dia bermasalah bagaimana?" tanyaku
"kamu akan mati" tatapan Rose berubah menjadi tajam, aku rasa ini bukanlah hal yang sederhana
"Kamu jangan menakuti Gracia dong" ucap kak Selena sebari memukul kecil kepala Rose
"Kamu masih bisa keluar, tetapi mungkin hanya sekolah di dalam negeri, tenang saja karena masa depan kita terjamin disini" Ucap kak Selena
"Semua tidak sesederhana itu" Tania memotong perkataan kak Selena
"Aku tetap merasa ada yang janggal, karena setelah alumni meninggalkan panti mereka tidak pernah terdengar kabarnya" lanjutnya
"Aku tetap bertekad akan kabur dari sini" tiba-tiba Tania menjadi bersemangat
"Jangan sembarangan! Kamu harus jaga biacara jangan sampai ada yang dengar" Selena memarahinya
Apa yang Tania fikirkan sama denganku, tapi aku tidak berani berpendapat. Aku harus bertahan disini untuk mencari tahu penyebab kematian orang tua ku.
...----------------...
Aku duduk di kursi taman belakang sekolah, mengamati setiap pergerakan pengurus yang ada. Karena itu aku telah mendapatkan 3 kesimpulan sementara
Pertama :
Setiap anak akan memakan 3 buah obat yang berbeda, diwaktu yang ditentukan setiap hari, ini akan menjadi awal penyelidikanku
Kedua :
Sekolah dan pembelajaran yang diberikan hanya berputar pada sejarah pembangunan panti, mungkin ada sedikit pembelajaran tentang ilmu pengetahuan lain, tapi disini seolah-olah ditekan pada memahami sejarah.
Jadi bagaimana aku bisa mendapatkan jawaban dari obat?
Ketiga :
Setiap pengurus disini memiliki tato yang sama dipergelangan tangan mereka, tato bunga anggrek hantu.
"Ahh semakin aku fikirkan ini semua semakin rumit" gumamku
"Apa yang rumit?" sebuah suara yang aku kenal menghampiri
"Coba sini cerita" lanjutnya
Ternyata itu adalah Zavier, dia datang wajah yang cukup pucat
"Apa kamu sakit? Wajahmu pucat sekali" tanyaku khawatir
"Iya, kondisiku menurun kemarin, tapi sekarang jauh lebih baik"
"Kamu sakit? Apa serius?"
"Aku serius, untuk apa berbohong!"
"Maksudku apakah kamu memiliki penyakit yang berbahaya?"
"Iya, bahkan menular, kalo kamu tertular nanti bisa jadi Zombiee aaaaa...Ciaaaa...aku akan memakanmu..." Canda Zavier dengan menirukan gaya zombie
PLAK!!!!
"Tidak lucu tau!" aku memukulnya menggunakan buku yang ku pegang
"Yaa kan aku cuman berusaha biar kamu senyum lagi, abis dari tadi cemberut terus, tuh dahi kamu udah kayak nenek-nenek, KERIPUT!"
"Oooh iya kayak nenek-nenek, kamu juga udah kayak zombie.. Wleee" Aku meledeknya
"Hehe aku kan zombie ganteng"
" ih Pd banget!"
Kami bergurau dan saling mengejek, memang itu menjadi kebiasaan kami semenjak menjadi teman. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya, setidaknya dia yang paling jujur di tempat ini.
Tunggu! perasaan ini lagi!
Aku menoleh ke belakang ke arah pohon yang besar, aku lagi-lagi merasa ada seseorang yang mengawasi, dan yang kulihat hanya sepatunya.
......................