
( Keesokan harinya )
"Gara-gara perkataan Tania kemarin aku jadi terus memikirkan Julia, mungkinkah dia adalah orang yang sama dengan wanita itu?"
Sepanjang jalan menuju kelas hatiku terus berdegup kencang, aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa mereka adalah orang yang berbeda. Dan....
"AAARGHHH! APA INI?!!!"
Aku kaget karena didepan pintu kelas terdapat banyak darah yang berceceran dengan bau amis yang menyengat. Tapi disini tidak ada orang sama sekali.
"Kemana orang-orang? Kenapa disini ada darah?"
Aku bertanya-tanya sambil melihat sekitar, suasana pun terasa berbeda seperti biasanya. Langit terlihat mendung, dan disini sangat sepi sekali.
Aku coba membuka pintu kelas perlahan, dengan tangan yang terus menutup hidung karena bau amis darah yang terasa sangat menusuk.
Aku masuk dengan berharap ini hanyalah candaan teman-teman yang lain, tapi di dalam kelas hanya ada satu orang.
Dia memiliki rambut yang panjang, duduk dengan menunduk. Aku tidak bisa melihat wajahnya, namun kenapa terasa begitu familiar. Aku mendatanginya dan memanggilnya....
"Julia? Sedang apa disana?" Dia benar Julia, aku tahu kalung yang dipakainya, kalung berbentuk bulan sabit berwarna perak dengan mutiara merah kecil di tengahnya.
"Tooloong akuu, Ziyah disini sangat menakutkan! Aku kesakitan!!!" Ucapnya sambil mulai menangis
Badannya seperti kedinginan, tangannya memeluk tubuhnya erat seperti sedang kesakitan, kakinya dihentak-hentakkan seperti sedang memberontak.
Tunggu! Dia memanggilku bukan dengan nama Gracia! Tapi Ziyah!
"KAMU BUKAN JULIA!" Teriakku padanya
Kakiku sudah kaku, badanku gemetar, hatiku sudah tidak karuan, ingin sekali aku meninggalkan ruangan itu dan meminta bantuan pada yang lain
"JANGAN MENDEKAT!!! SIAPAPUN YANG MENDENGAR TOLONG AKU!!!" Aku sudah kacau dengan rasa takut yang mencekam
"Jangan tinggalkan aku Ziyah, aku takut, mereka akan mengambil darahku, TOLONG!!!!!"
Tiba-tiba dia menengadahkan kepalanya, wajahnya sudah tidak berbentuk, tubuhnya tiba-tiba penuh dengan darah, dan dia perlahan bangun dari duduknya.
"AKU MOHON JANGAN MENDEKAT! AKU TIDAK BISA BERGERAK!"
Tubuhku benar-benar kaku, bahkan jariku saja tidak bisa aku gerakkan seolah ada yang mengikatku, aku menangis dan menjerit ketakutan tapi tidak ada seorang pun yang mendengar ataupun menolongku
Dia benar-benar adalah Julia yang diceritakan Tania kemarin, ternyata selama ini aku duduk sebangku dengan seorang hantu?
Tunggu....sepatunya....itu seperti sepatu orang yang sering mengikutiku, dia memiliki sepatu yang sama dengan noda tanah yang sama. Jadi sebenarnya ini ada apa? Apa aku terjebak dalam dunia ilusi? Ataukah sedang bermimpi?
"Daraaaaahhh...daraahhhh...jangan ambill...kumohon" rintihnya
Dia semakin mendekatiku, wajahnya benar-benar rusak dan tubuhnya sangat bau amis dan busuk.
"AKU MOHON LEPASKAN AKU, AKU AKAN MENURUTI SEMUA KEINGINANMU, TOLONG" Pintaku
Hantu Julia tiba-tiba melepaskan kalungnya dan meletakkan itu ditelapak tanganku, aku hanya bisa pasrah sambil menutup mata, semua ayat suci dan mantra yang aku tahu sudah kucoba.
Namun....
"Simpan ini!" Ucapnya dengan nada lembut
"Eh! Bukankah tadi tangannya berlumur darah? Kenapa aku tidak merasakan apa-apa ketika dia menyentuhku?"
Aku takut namun juga penasaran, ketika aku memberanikan diri melihatnya tiba-tiba wujudnya sudah berubah menjadi Julia yang ku kenal, dia tersenyum padaku sambil memegang erat tanganku. Tangannya sangat dingin.
"Jangan berikan darahmu" Ucapnya sambil perlahan hilang
...----------------...
"GRACIA! GRACIA! BANGUNNNN... Huaaaaaa Graciaaaa jangan tinggalin kita"
"Ada yang memanggilku? Siapa yang menangis?"
Aku membuka mataku perlahan, dan menyadari kalau ini di kamar.
Ahh ternyata Tania yang menangis tadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidur dikamar? Bukannya sudah waktunya sekolah?" tanyaku heran
"Akhirnya kamu bangun!!! Aku sudah khawatir setengah mati tau!" Ucap Kak Selena
"Bahkan Tania sampai nangis begitu" tambah Kak Celine
"Huaaaaaa kamu becandanya gak lucu tau!" Tania memelukku dengan air mata yang masih mengalir
"Aku kira kamu gak akan bangun lagi, aku takut" katanya lagi
"Memangnya aku kenapa?" fikiranku masih kacau
"Kamu tiba-tiba pingsan tadi didepan kelas" jawab Kak Celine
"Semua sampai panik takut kamu kenapa-kenapa" tambahnya
"Iya kak, bahkan kepala panti sampai datang kesini untuk melihat kondisi kakak tadi" Rose ikut menjelaskan
"Hah?" aku semakin heran
"Hidungmu mengeluarkan banyak sekali darah tadi, padahal kamu tidak pernah kena pukul ataupun terluka"
Kak Selena menceritakan kalau hidungku berdarah seperti mimisan, tapi bukan mimisan karena darahnya cukup banyak. Pengurus yang bertugas langsung melaporkanku pada ketua, dan benar saja beliau sampai datang kesini 2 kali.
"Tapi Kak Celine udah bersihkan semuanya kok, jadi tenang saja tidak akan ada masalah, kita cuman bilang kalau kamu terbentur sedikit dan darahnya tidak banyak" Tania menambahkan
"Memangnya kenapa jika Kepala panti tau kalau aku berdarah banyak?"
tanyaku lagi
"Itu akan sangat berbahaya! Ini bukan waktunya kamu tahu, sekarang kamu istirahat dulu saja, kami sudah meminta izin pada wali kelasmu" Kak Celine seperti melarangku untuk tahu banyak tentang masalah ini, tapi tak apa karena aku akan mencari tahu sendiri.
"Terus apa tadi itu hanya mimpi? Tapi kenapa rasa takut yang aku rasa tetap ada? dan juga jantungku terus berdegup dengan kencang"
" Aku akan melupakan itu semua, dan menganggapnya hanya mimpi, sebaiknya istirahat saja untuk hari ini"
"PLUKKK!"
"Ahh, apa itu yang jatuh?"
Aku bangun dari tempat tidurku sejenak untuk mengambil apa yang jatuh, tapiii ituuu adalaah....
"KALUNG?!!!!!"
...****************...