
Waktu menunjukkan tepat pukul 22.00 malam, entah kenapa angin berhembus kencang dan cuaca lebih dingin dari biasanya. Kenapa hatiku menjadi resah? Apa sesuatu akan terjadi?.
Aku Ziyah Azka seorang siswi kelas 2 sekolah menengah, sekarang adalah liburan semester dan aku sudah tinggal dirumah sahabatku untuk berlibur selama satu minggu karena mulai minggu depan aku akan pindah ke luar kota dan melanjutkan pendidikan disana. Ayahku adalah seorang manajer disuatu perusahaan yang cukup ternama, sebari menyiapkan perlengkapan untuk rumah baru aku dititipkan untuk sementara disini. Dan hari ini seharusnya ayah ibu menjemput, tapi sampai larut malam mereka belum juga datang.
"Zii ayo tidur, besok juga mereka sampe"
"Iya aku matiin tv dulu sebentar"
"Zii tunggu sebentar, itu mobil orang tua kamu kan? Itu yang ada di berita"
"i-iiya, tapi ini berita apa?"
Bak petir menggelegar, aku terpaku didepan televisi dengan tubuh yang gemetar tidak percaya, hatiku sakit, berita yang ditampilkan di televisi mengenai kecelakaan tunggal sebuah mobil di jalan tol, dan itu adalah mobil orang tua ku.
"Sebuah kecelakaan tunggal yang menewaskan 2 orang sekaligus, kecelakaan terjadi diduga karena pengemudi mabuk. Untuk identitas korban mereka adalah buronan polisi atas kasus penggelapan dana perusahaan. Diduga pengemudi dan istrinya akan melarikan diri dengan membawa uang tunai lebih dari 300 M". Jelas pembawa berita
"Dila, ini aku mimpi kan? Gak mungkin itu ayah sama ibu kan? Ini cuman prank doang kan?"
"kita tanya orang tua ku dulu, barangkali itu bukan mereka, gak mungkin om tante ngelakuin itu, mereka orang-orang baik, gak mungkin." Dila mencoba menenangkanku
Aku tak bisa lagi berkata-kata, ayah ibuku meninggal? Dan mereka buronan? Bagaimana bisa? Mereka adalah orang baik, tidak mungkin mereka melakukan kejahatan.
Aku menangis sejadi-jadinya, hatiku sakit, badanku lemas, aku tidak bisa hidup tanpa kedua orang tua ku.
****************
(kantor polisi)
"Jadi ini putri dari pak Azka dan ibu Ziva?" tanya polisi pada ayah Dila
"Iya benar, ini putrinya" jawab ayah Dila
"Sesuai dengan perintah dari pimpinan perusahaan tempat pak Azka bekerja, Ziyah akan dikirimkan ke panti asuhan yang dikelola oleh perusahaan." jelas pak polisi
"kenapa panti asuhan? Jika diperbolehkan biar saya yang merawat Ziyah, tidak perlu ke panti asuhan" tungkas ayah Dila
"Sebelumnya pimpinan dan Pak Azka bersahabat, meskipun pak Azka sudah melakukan kejahatan, tetapi ini sebagai bentuk kebaikan terakhir yang bisa diberikan pimpinan untuk keluarga pak Azka."
"siapa pimpinan yang bapak maksud?" tanya ayah Dila lagi
"Saya!"
Seorang pria paruh baya dengan perawakan besar tegap datang menghampiri mereka. Dia mengenakan setelan rapi serta diikuti oleh satu orang dengan penampilan yang sama yang kemungkinan adalah asistennya.
"Perkenalkan saya adalah CEO dari perusahaan tempat pak Azka bekerja, nama saya Husni Widjaya"
Dia mengulurkan tangannya sebari tersenyum pada ayah Dila.
"Permintaan seperti apa?" dengan menahan amarah aku bertanya padanya, kenapa ayah membuat permintaan tersebut? Padahal aku adalah putri satu-satunya.
"Panti asuhan pimpinan bukan sembarang panti asuhan, disana sudah tersedia fasilitas yang sangat memadai, bila tidak kamu bisa menamainya asrama saja" jawab asistennya
"Dan disana kamu juga akan mendapatkan biaya pendidikan penuh sampai tingkatan S2, lalu jika kamu ingin bersekolah di luar negeri kami juga bisa untuk mengajukan beasiswa" lanjutnya
"Bagaimana zi? Untuk pendidikan dan fasilitas bapak tidak bisa menandinginya, jadi keputusan ada pada kamu"
Ayah Dila menyerahkan semuanya padaku, sebenarnya aku ingin ikut bersama sahabatku, tapi permintaan ayah masih terus jadi pertanyaan. Aku penasaran tentang orang ini, dan ayah juga tidak mungkin melakukan semua itu.
(untuk sementara aku mungkin bisa ikut dengannya, setelah itu aku bisa menyelidiki penyebab kematian ayah ibu) batinku
"baiklah aku akan ikut" aku memutuskan untuk tinggal disana
"tapi bisakah Ziyah tidak pergi sekarang? Kasihan dia masih dalam keadaan berkabung, biarkan dia menemani orang tuanya dulu selama 1 minggu" pinta ayah Dila
"silahkan, 1 minggu kemudian saya akan mengirimkan supir untuk menjemput Ziyah"
Sebenarnya dia terlihat baik dan dermawan, tapi pikiranku sangat kacau.
Aku dikenal lebih dewasa dan memiliki intuisi yang kuat dibanding anak-anak lain seusiaku, dan firasatku mengatakan ada sesuatu yang aneh disini. Dan aku harus menyelidikinya.
****************
( 1 minggu kemudian )
"Aku pamit ya, jaga diri kamu baik-baik" Aku memeluk tubuh sahabatku yang sedari tadi terus menangis
"Kamu yang harus jaga diri, dan jangan lupa kirim aku surat ya" tangisannya masih juga belum reda
"Aeuuuh aku yang pergi kamu yang nangis" aku mencoba untuk bercanda
"Iya iya tau kamu si paling dewasa jadi gak nangis sama sekali"
"Yaudah aku pamit ya"
Asisiten pak Husni membantuku membawa barang dan memasukkannya kedalam mobil, aku segera memeluk sahabatku lagi yang entah akan bertemu dengannya lagi atau tidak.
Disituasi kali ini aku harus kuat, aku tidak ingin mengecewakan ayah ibu disana.
Mobil dijalankan dan aku melambaikan tangan pada Dila, ingin sekali aku kembali turun dan menetap saja disana. Tapi rasa adanya kejanggalan terus membuatku enggan untuk berhenti, seperti ada seseorang yang berbisik bahwa semua ini tidak adil dan hatus terkuak. Aku harus menjadi seseorang yang mampu berdiri dengan kaki sendiri dan mencari kebenaran tentang kematian orangtuaku.
...----------------...