
(Pagi berikutnya)
" Apakah kak Celine tidak kembali dari semalam? Aaarrgh ini semua salahku " aku merasa sangat bersalah padanya
"Ayo kita segera bersiap, absen pagi akan segera dilakukan" perintah Tania menggantikan tugas Celine
"Apa kak Celine baik-baik saja?" tanyaku khawatir
"Tenang saja, kak Celine hanya akan diberi peringatan" jawab Selena, ini kedua kalinya dia berbicara padaku sejak perkenalan kemarin
"Cepat kalian berbaris dan ulurkan tangan!" perintah salah satu pengurus
Absen pagi dilakukan oleh pengurus lantai masing-masing, selain memeriksa anggota kamar mereka juga memeriksa setiap detail kamar, kami tidak diperbolehkan menyimpan satu pun barang dari luar panti.
Setelah pemeriksaan pagi, kami akan sarapan bersama di ruang makan lalu menuju ke sekolah di bangunan sebelah. Sebelumnya kami akan diwajibkan minum sebutir obat yang anak-anak panti menyebutnya sebagai vitamin.
Aku baru menyadari ada bangunan lain di sini saat menuju sekolah, tapi bangunan ini pun tidak jauh beda. Kami diberikan tas dan alat tulis khusus seperti pena kaligrafi bukan bolpoin, bukankah ini sangat aneh? Semua yang dilakukan terasa seperti kembali ke zaman dulu.
Pakaian yang dipakai untuk sekolah memiliki warna lebih dibanding pakaian keseharian kami kemarin yaitu putih hitam dan sedikit aksen biru. Namun tetap saja pakaian ini terasa asing dan sangat tertutup.
Sesampainya dikelas kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan umur dan tinggi badan, bukan berdasarkan kelas terakhir masing-masing anak menempuh pendidikan.
Aku duduk dikursi belakang karena merasa kurang percaya diri, lagi pula aku harus mengetahui situasi sekitar terlebih dahulu untuk beradaptasi. Namun seorang gadis dengan kulit yang putih serta wajah yang dingin mendekatiku lalu duduk disebelahku.
Aku akan mencoba berkenalan dengannya
"Hai namaku Gracia dari kamar 202, siapa namamu?" sambil ku ulurkan tangan tanda menjabat
"Julia kamar 102" singkatnya tanpa membalas jabatan tanganku
" Mungkin dia lebih pendiam dariku " batinku
"Semoga kita akur" balasku dengan memcoba tersenyum terbaikku, berharap agar dia nyaman, karena aku sama sekali belum mendapatkan teman selain teman sekamar.
Seorang wanita dengan penampilan lebih muda dibandingpara pengurus masuk ke kelas, dia juga memakai pakaian yang berbeda dibanding yang lain, mungkin dia adalah guru di kelas ini.
Tapi seorang anak laki-laki mengikutinya dibelakang, dia terlihat tinggi dengan rambut cukup ikal dan berwarna hitam pekat, wajahnya pucat dengan hidung mancung dan bibir tipis. Pakaian yang dikenakan justru modern, berbeda sekali dengan kita. Dia memakai kemeja dengan luaran sebuah vest hitam, celana hitam panjang dan sepatu kets yang cukup modern. Usianya mungkin seusiaku. Tapi kenapa ada laki-laki disini? Siapa dia?
"Ini adalah putra tunggal dari investor utama panti ini, dan dia akan tinggal di panti ini sementara untuk pemulihan. Tolong perkenalkan dirimu"
"Namaku Zavier Widjaya, salam kenal semua" dia memperkenalkan diri secara singkat
"Kamu duduk di kursi kosong dibelakang itu, boleh?" tanya guru padanya dengan hati-hati
"Baik" jawab Zavier dengan singkat lagi
...****************...
" GREBB !!! "
Sebuah tangan menahanku
"Tunggu dulu, Zi"
" Zavier menahanku dan memanggilku Zi? "
Aku langsung melihat sekitar dengan panik, takut ada yang mendengarnya
"Kamu tidak boleh memanggil nama itu!" aku memperingatinya dengan ketakutan
"Tapi, kenapa kami bisa tahu nama asliku?" tanyaku heran
"Maaf aku lupa, disini namamu Gracia. Darimana aku tahu nama aslimu itu tidak penting, tapi aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting, tentang tempat ini"
Entah apa yang ingin dia katakan, tapi dia membawaku menuju taman belakang sekolah dengan terburu-buru sebari menghindari orang lain
"Ada apa sebenarnya? Ini sudah waktunya makan siang, aku tidak mau dihukum" tegasku sambil melepas genggaman tangan dia
"Oke aku akan langsung, tempat ini adalah tempat yang aneh, kenapa kalian semua memakai pakaian seperti itu, dan kenapa disini isinya hanya wanita?"
"Aisshhh! Aku kira kamu akan memberitahuku sesuatu, karena kurasa kamu mengenaliku makanya aku dengan sabar mengikutimu. Tapi kamu malah bertanya hal-hal yang aku pertanyakan!" aku kesal mendengarnya, dan sepertinya laki-laki ini pun tidak tahu apa-apa
"Aku tidak memiliki teman disini, dan hanya mengenalimu karena kamu adalah putrinya pak Azka" gerutunya
"Kamu kenal dengan ayahku?" aku penasaran
"Iya, dia sering datang kerumahku dan mengajakku bermain ketika ayah sibuk bekerja. Dan aku meminta kepada ayahku untuk tinggal disini karena aku mendengar kamu dikirim kesini, aku kira ini oanti asuhan biasa, ternyata tidak" jelas Zavier sambil menunduk
"Pantas saja ayah dan ibu sangat melarangku datang, panti ini memang aneh" lanjutnya
"Mereka melarangmu?" tanyaku
"Hmmm iya" jawabnya
Kenapa mereka melarang Zavier sedangkan aku seakan-akan diharuskan untuk datang kesini? Apa karena disini hanya berisikan wanita? Tapi bukankah tempat ini sangat aneh?
Pembicaraan aku selesaikan dan kami bergegas menuju aula sebelum ada pengurus yang melihat.
Pertanyaan demi pertanyaan semakin bermunculan sejak Zavier datang, tapi setidaknya aku memiliki seseorang yang memang mengenalku dan memiliki pemikiran yang sama denganku.
......................