
Tiba waktunya makan malam, Denada pun memanggil sang putri untuk bergabung.
Sebelum memanggil Aria, Denada mengubah raut wajahnya menjadi sedih sesedih mungkin. Sikapnya berubah seperti menyesali perbuatannya tadi sore.
Tok tok tok
"Sayang? Buka pintunya! Ayo kita makan malam" Seru Denada sembari mengetuk pintu kamar Aria.
"Ar? Sayang? Buka pintunya, Nak!" Ulang Denada.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, Menampilkan Aria yang sudah memakai pakaian tidur lengkap dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa, Bun? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Aria malas.
"Ayo makan malam. Ayah udah nunggu kita di bawah" Ucap Denada.
"Aria nggak lapar, Bun. Bunda sama Ayah makan aja" Jawab Aria.
"Jangan gitu dong, Sayang. Kamu kan belum makan dari pulang sekolah"
"Beneran Bun. Aria nggak lapar!"
"Ayolah, Ar! Dikit aja nggak pa-pa. Setelah makan, Ayah sama Bunda juga mau ngomong sama kamu"
"Mau ngomong tentang apa?" Tanya Aria malas.
"Udah, Ayo ikut Bunda. Nanti juga tahu sendiri!" Ucap Denada lalu menarik tangan Aria.
"Bunda suka banget maksa Aria!" Kesal Aria.
"Kamu kalau nggak dikerasin nggak bakal nurut!"
Aria hanya memutar bola matanya malas dan pasrah mengikuti langkah sang Bunda.
Tiba di meja makan, Morgan yang melihat tingkah istri dan anaknya pun sontak menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Kalian tuh nggak bisa ya sehari aja akur?" Tanya Morgan saat Denada dan Aria tiba di meja makan.
"Nggak!" Kompak keduanya.
"You are truly mother and daughter!" Ucap morgan sembari geleng-geleng kepala.
"Ayah! Bunda ngeyel, Udah dibilangin kalau Aria nggak lapar, Tapi Bunda maksa Aria ikut makan" Adu Aria pada Morgan.
"Bagus dong! Itu tandanya Bunda sayang dan perhatian sama Aria" Jawab Morgan.
Denada yang mendengar sang suami berpihak padanya pun sontak menjulurkan lidah kearah Aria. Sementara Aria yang mendapat ejekan dari sang Bunda mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya nggak usah dimajuin gitu, Lama-lama Bunda ambil karet, Bunda kuncir kuda tuh bibir!" Ucap Denada sembari mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Tuh kan, Yah! Tadi aja Bunda nangis-nangis di kamar Aria. Sekarang, Ngomel lagi, Ngomel lagi"
"Udah dong, Bun. Jangan di goda terus anaknya, Ih!" Lerai Morgan.
"Hehehe..... Habisnya seru sih goda Aria. Emosinya itu loh, Nggak pernah berubah dari kecil. Nggak habis pikir Bunda" Ucap Denada.
"Yeuuu...... Bunda juga! Kalau aja Aria buat salah sedikit, Pasti ngomelnya sepuluh tahun!"
"Ar, Kamu juga! Udah jangan mancing-mancing!" Tegur Morgan.
"Hmmm....." Jawab Aria malas.
"Buruan makan. Katanya kepo kita mau bicarain apa" Ucap Denada yang mulai menyantap makanannya.
"Justru Aria takut kalau kalian mode serius gini. Sebenarnya ada apa, sih?" Tanya Aria mulai penasaran.
"Udah makan dulu. Dibilang kalau makan jangan sambil ngomong, Nanti keselek" Jawab Morgan.
"Okee!" Ucap Aria.
Mereka pun menikmati makan malam dengan saling diam. Sebenarnya dalam hati dan pikiran Aria sangat penasaran. Apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya? Jangan sampai kasus di sekolah. Pikirnya.
***
"Ar! Ikut Ayah" Ucap Morgan tiba-tiba bersikap datar.
"I-Iya, Yah" Jawab Aria. Dia pun mengikuti langkah Morgan menuju ruang tamu.
Sedangkan Denada sudah pergi ke kamarnya untuk mengambil kotak wasiat dari Opa dan Omanya Aria.
"Usia Aria berapa tahun?" Tanya Morgan.
"Ih! 16 Tahun, Ayah. Masa Ayah lupa, sih?" Ucap Aria sedikit kesal.
"17 Tahun kurang 3 bulan lagi, Kalau lupa!" Ucap Denada dari belakang Aria.
"Masih kurang juga! Nggak boleh dilebih-lebihin. Kalau kurang ya kurang. Berarti masih 16 Tahun!" Ucap Aria ketus.
"Huuhh..... Lama-lama pecah kepala Ayah ngadepin kalian berdua! Lagi serius juga!" Kesal Morgan.
"Gini, Siniin Bun kotaknya" Ucap Morgan meminta kotak wasiat yang di pegang Denada.
"Apaan tuh? Isinya duit?" Tanya Aria.
"Duit mulu! Dengerin Ayah ngomong!" Ketus Denada.
"Apa?" Tanya Aria.
"Ini kotak wasiat peninggalan Opa dan Oma. Meskipun mereka berpesan pada Ayah Bunda untuk memberikan kotak ini saat usiamu 17 Tahun, Tapi Ayah Bunda rasa itu terlalu lama. Makanya Ayah Bunda kasih sekarang aja" Jelas Morgan.
"Isinya apa?" Tanya Aria penasaran.
"Nggak tahu. Buka aja. Meskipun penasaran, Ayah Bunda nggak pernah buka kotak itu. Karena Opa kamu berpesan supaya kamu sendiri yang buka kotaknya" Ucap Morgan.
Dengan cepat, Aria pun membuka kotak tersebut dan mendapati secarik kertas di dalamnya.
Aria membuka surat tersebut dan membaca isinya.
*Teruntuk Aria Elshawn Victoria
"Sayang, Opa menyelipkan nama Aria Elshawn Victoria untukmu. Meskipun kamu belum lahir ke dunia ini, Opa dan Almarhumah Oma mu berharap supaya kamu sehat dan lahir dengan selamat.
Maafkan Opa dan Oma telah egois mengatur jalan hidupmu kelak. Demi menjalin kuat hubungan kekeluargaan dengan keluarga sahabat Opa, Opa mohon kepadamu untuk menerima sebuah perjodohan yang telah kita atur.
Aria jangan sedih dulu, Masih 17 Tahun kemudian perjodohan ini berlaku. Saat usiamu sudah memasuki angka 17 dan saat cucu sahabat Opa berusia 18 Tahun.
Hanya ini yang dapat Opa sampaikan, Semoga kamu tidak menolak dan membuat Opa, Oma dan yang lain kecewa.
Sehat-sehat cucuku sayang, Opa dan Oma sayang Aria"
"M-maksudnya apa?" Tanya Aria bingung.
"Maaf, Sayang. Itu keputusan Opa" Lirih Denada.
"Perjodohan apa, Yah? Bun?"
"Sayang, Dulu waktu kamu masih dalam kandungan Bunda, Opa mu berpesan menitipkan kotak berisi surat wasiat perjodohan antara kamu dan cucu sahabat Opa semasa dulu. Opa juga menyelipkan sebuah Nama untukmu. Aria Elshawn Victoria. Nama ini Opa mu yang membuat, Nak" Jelas Denada sembari memeluk Aria yang menangis.
"Opa juga meninggal satu minggu setelah menyerahkan kotak wasiat ini" Sambung Morgan.
"Bunda sama Ayah setuju?"
"Mau gimana lagi, Ar? Kita nggak bisa melawan kehendak orang tua! Semua fasilitas yang kamu miliki, Termasuk baju-baju yang kamu pakai saat ini, Itu semua dari uang hasil perusahaan warisan Opa! Apa kamu tega menolak dengan apa yang sudah Opa berikan padamu?" Ucap Morgan.
"Iya, Sayang. Ayah benar! Seharusnya kamu sadar itu!" Imbuh Denada.
"Terus, Siapa yang dijodohin sama aku? Dimana dia tinggal?" Tanya Aria sembari menghapus airmatanya.
"Besok kita atur pertemuan dengan keluarga mereka. Kamu siap-siap aja!" Ucap Morgan.
"Sekarang kamu istirahat, Sayang. Maafkan Ayah Bunda" Sambung Morgan sembari memeluk Aria.
Denada yang meneteskan airmata pun ikut memeluk Aria dari samping. Mereka berpelukan sembari menguatkan satu sama lain.
Jujur, Morgan dan Denada merasa belum siap dengan hal ini, Namun kenakalan dan sikap keras Aria mendorongnya supaya mereka melakukan ini.
To be Continued