RAVENZO

RAVENZO
FIRST KISS GUE!



Aria yang sedang diselimuti amarah pun berlari ke kamar mandi dengan keadaan menangis.


"Ketos baj*ngan! Gue jijik sama lo, Ravenzo! Arghh....." Teriak Aria dari dalam toilet.


"First kiss gue!" Lirih Aria sembari mengacak-acak rambutnya.


"Gue nggak akan maafin lo, Rav!" Gumam Aria sembari mengepalkan kedua tangannya.


Hari ini benar-benar hari yang amat kacau untuk Aria. Lebih baik bolos saja, Dari pada meneruskan pelajaran dan bertemu manusia-manusia tak berperasaan seperti Ravenzo dan Marissa, Pikirnya.


"Kalian emang cocok. Sama-sama nggak punya hati!" Gumam Aria.


Aria berjalan menuju kelas dengan langkah kasar dan kaki dihentak-hentakkan ke lantai.


Di sisi lain, Ravenzo yang masih terpaku di tempatnya pun meraba-raba bibir nya sembari berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Apa yang gue lakuin tadi? Gue nodain anak orang anjir!" Gumam Ravenzo.


"Baj*ngan juga lo, Rav!" Umpatnya pada diri sendiri.


"Bodo ah, Mana peduli gue!" Sambungnya.


Ravenzo tak mempedulikan kejadian itu. Dia menganggap tak ada kejadian itu selama hidupnya. Benar-benar memalukan, Pikirnya.


***


Aria berjalan dengan santai melewati Bu Alika yang tengah mengajar di kelasnya.


"Aria? Dari mana saja kamu?" Tanya Bu Alika spontan menyadarkan lamunan Aria.


"B-bu Ika? Saya...."


"Halah! Dasar kamu anak bandel, Kamu habis berantem, kan? Kamu sama sahabat kamu itu emang selalu bikin masalah!" Ucapan Bu Alika membuat Aria marah. Emosi yang sedari tadi di pendam pun meledak seketika.


"Anda boleh menghina saya! Tapi jangan sekali-sekali anda membawa nama sahabat saya! Anda cuma guru disini, Tugas anda mengajar dengan bijak, Bukan menghina anak murid anda sendiri!" Ucap Aria pelan namun menekan setiap kata-katanya.


"Bu! Kami sudah menjelaskan kalau kami tidak bersalah! Tapi Ibu tidak percaya! Ibu boleh cek cctv di kantin jika Ibu tidak mempercayai kata-kata kami!" Tegas Lea sembari berdiri.


"Terserah! Gue udah nggak mood belajar. Gue mau pulang!" Ucap Aria sembari menyahut tas yang ada di samping Lea.


"Aria! Kembali ke tempatmu!" Pekik Bu Alika namun tak dihiraukan oleh Aria.


"Ar! Gue ikut!" Teriak Lea yang juga menyambar tas nya dan berlari mengikuti Aria.


"Loh! Lea! Kenapa lo ikut-ikutan?" Teriak Yessa.


"Berisik lo, ******!" Ucap Jean lalu menarik tangan Yessa.


"Punten, Bu Alika! Saya harus ikut teman-teman saya!" Ucap Yessa dengan sedikit berlari.


Sementara Bu Alika yang sudah emosi hanya menatap tajam kearah Yessa.


"Cepetan, Bacot mulu, lo!" Ucap Jean kembali menarik tangan Yessa.


Aria yang merasa di buntuti para sahabatnya pun menunggu sang sahabat di samping tangga dekat kelasnya.


"Woi! Ssttt!" Lirih Aria saat melihat Lea berlari mencarinya.


"Ar!" Panggil Lea saat berhenti tepat di depan Aria.


"Ngapain lo ikut-ikutan?" Tanya Aria santai sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Nggak seru kalau nggak ada lo!" Jawab Lea sembari mengatur nafas.


"Santai, Gue ikut lo atas kemauan gue, Bukan gara-gara lo!"


"Terserah, deh!"


Saat mereka tengah berdebat, Datanglah Jean dan Yessa sembari terengah.


"Buset! Cepet banget lo lari, Lea! Gue sama Yessa nyari lo nggak nemu-nemu" Ucap Jean.


"Kalian ikut juga? Parah kalian bertiga!" Ucap Aria tak percaya.


"Kita kan solid, Ar!" Jawab Jean.


"Mending kita cepet-cepet pergi dari sini. Sebelum anak-anak Osis atau guru-guru lihat kita" Ucap Yessa sedikit khawatir.


"Kita ke Cafee biasa" Ucap Aria sembari melangkah pergi.


Lea, Jean dan Yessa pun mengikuti langkah Aria menuju parkiran.


***


"What? Kalian c*uman?" Tanya Yessa heboh.


"Pelan-pelan aja, B*go! Kedengeran orang nanti" Sentak Lea pada Yessa.


"Sorry, Ar. Habisnya gue kaget" Ucap Yessa nyengir kuda.


"Yessa tuh mulutnya blong, Awas aja lo kalau sampai bocor ke orang-orang" Ancam Aria.


Yessa pun spontan menggeleng-gelengkan kepala sembari mengangkat jari membentuk peace.


"Ar, Gimana ceritanya lo bisa sampai begituan sama Kak Raven?" Tanya Jean.


"Gue dijebak, Anjir! Ravenzo gila! Awas aja nanti, gue bakal buat perhitungan sama dia!" Geram Aria.


"Mungkin bener kali yang dibilang Jean, Ravenzo suka sama lo" Ucap Lea.


"Amit-amit gue dapet cowok gila kayak dia!" Ketus Aria.


Obrolan mereka pun berlanjut sampai sore menjelang. Sekitar pukul empat sore, Mereka baru keluar dari Cafee dan pulang ke rumah masing-masing.


"Ar, Serius lo nggak mau kita anterin?" Tanya Lea saat mereka keluar dari Cafee.


"Udah nggak usah. Gue naik taksi online aja" Jawab Aria.


"Yauda kalau gitu, Kita cabut duluan, Ya? Lo hati-hati dijalan" Ucap Lea sembari berpamitan.


"Oke deh. Kalian juga hati-hati" Ucap Aria tersenyum.


"Ar, Gue balik dulu, Lo hati-hati dijalan. Bye.... Aria!" Ucap Jean dan Yessa bersamaan.


"Iya! Kalian juga hati-hati, Bye guys!" Ucap Aria melambaikan tangan ke arah tiga sahabatnya.


Setelah mobil Lea melesat pergi, Aria pun mencari taksi disekitaran Cafee dan pulang.


"Ayah sama Bunda pasti marah kalau tau gue berantem, Apalagi sampai bolos sekolah" Gumam Aria.


Meskipun takut, Dia mencoba untuk bersikap tenang dan menjelaskan kepada kedua orang tuanya secara pelan-pelan saat tiba dirumah nanti.


To be Continued