RAVENZO

RAVENZO
PERJODOHAN



Ravenzo membuka kotak tersebut dan mengambil secarik surat dari dalamnya.


Sejenak Ravenzo menatap Mama dan Papanya. Namun, Mereka malah mengangguk.


Ravenzo membuka lipatan surat tersebut dan mulai membacanya dengan seksama.


*Dear Ravenzo, Cucu Opa dan Oma!


Mungkin Raven udah 18 Tahun saat Raven membaca surat ini. Tapi, Opa dan Oma sudah tak ada di samping Ravenzo lagi!


Nak, Semakin bertambahnya usiamu, Semakin banyak rintangan yang akan kamu hadapi. Dan mungkin ini salah satunya.


Sebelumnya, Opa dan Oma meminta maaf dengan tulus kepadamu. Ravenzo, Cucuku! Saat Opa dan Oma mengetahui bahwa Mama mu mengandung bayi laki-laki, Opa dan Oma sangat bahagia. Kami sangat-sangat menantikan kehadiranmu segera.


Apalagi kamu dan Zavier tumbuh bersama di dalam rahim yang sama.


Opa dan Oma sudah membuat perjanjian perjodohan antara kamu dan cucu dari sahabat kami. Namanya Aria. Dia anak yang sangat cantik, Saat usiamu sudah memasuki 18 Tahun, Bertanyalah pada Mama dan Papa mu. Mereka akan memberikan jawaban atas semua rasa penasaranmu*


Teruntuk Cucuku, Ravenzo!


Tertanda,


Opa dan Oma yang sangat menyayangimu.


Setelah membaca isi surat tersebut, Ravenzo pun mengalihkan pandangannya kearah William dan Riva.


"Pa, Ma? Apa maksudnya?" Tanya Ravenzo tak mengerti.


"Jadi gini, Sayang......" Riva pun mulai memposisikan dirinya dan menceritakan semua kejadian awal mula tanpa kurang sedikitpun.


Flashback On


Seorang pengusaha ternama yang bernama Handoko kini tengah berada diatas angin. Namanya melambung tinggi karena keberhasilannya memenangkan tender terbesar di PT. Abimana yang sedang dikelola nya.


Di sisi lain, Tepatnya di tempat Stevan, Sahabat dari Handoko, Perusahaannya tengah berada di ambang kehancuran, PT. Arga Satria yang tengah di kelola nya mengalami kebangkrutan karena kasus korupsi.


Handoko yang mendengar kabar sahabatnya pun segera menghubungi perusahaan Stevan bermaksud membantu perusahaan tersebut.


"Joko, Hubungi perusahaan Stevan, Bantu perusahaannya dan atur jadwalku untuk bertemu Stevan sekarang juga!" Titah Handoko pada Joko, Sang asisten pribadi.


"Baik, Tuan Han" Jawab Joko dengan sopan.


Tanpa berlama-lama, Joko pun melaksanakan tugas sesuai perintah sang atasan.


"Tuan Han, Saya telah memesankan restoran privat untuk pertemuan anda dengan Tuan Stevan" Ucap Joko dengan membungkukkan badan.


"Baiklah, Antarkan aku kesana sekarang juga!" Ucap Handoko, Joko pun mengangguk.


Setelah itu, Mereka pun berangkat menuju restoran tersebut untuk menemui Stevan.


Tiba di restoran tersebut, Handoko pun menuju ruang VVIP di restoran tersebut. Disana sudah ada Stevan beserta istrinya yang tengah menunggu kedatangan Handoko.


"Steve? Maaf menunggu lama. Apa kabar?" Ucap Handoko sembari bersalaman.


"Tidak apa, Han. Aku baik, Kamu bagaimana?" Ucap Stevan bertanya balik.


"Aku baik. Jihan? Bagaimana kabarmu?" Tanya Handoko kepada Jihan, Istri Stevan.


"Alhamdulillah aku sehat, Han" Jawab Jihan.


"Oh iya, Steve. Aku mendengar kabar tentang perusahaanmu. Bagaimana bisa perusahaanmu collaps?" Tanya Handoko.


"Entahlah Han, Beberapa karyawanku ada yang korupsi, Semua investor menarik saham mereka masing-masing. Dana perusahaan sudah habis untuk membayar hutang dan membayar gaji karyawan"


"Maaf, Steve. Aku baru mendengar kabarmu. Aku akan membantu perusahaanmu, Tapi bisakah kalian menyetujui syarat yang aku berikan?"


"Apa, Han? Benarkah kamu mau membantuku?"


"Iya, Steve. Kalian sahabatku dan Almarhumah Vera. Alhmarhumah istriku pernah mengatakan kalau bisa hubungan kita lebih dari pada saudara. Kebetulan menantumu Riva memiliki anak laki-laki dan cucuku pun perempuan. Vera meminta agar salah satu dari cucu kalian menjadi suami cucu ku" Jelas Handoko.


"Maksudmu, Han? Tidak! Aku tidak mau Steve mengorbankan cucunya demi menyelamatkan sebuah perusahaan!" Ucap Jihan lantang.


"Bukan begitu, Ji! Tapi ini adalah permintaan terakhir Vera"


"Aku mohon. Satu kali ini saja turuti permintaanku dan Vera. Aku mau kita menjadi keluarga. Jangan anggap bantuanku terhadap perusahaanmu memakai imbalan perjodohan. Sama sekali tidak!"


"Maaf, Han. Tapi aku tidak mau menumbalkan salah satu cucuku"


"Ayolah, Steve! Ini bukan penumbalan. Aku mohon mengertilah"


Flashback Off


"Gimana, Sayang?" Tanya Riva sedikit khawatir.


"Mama sama Papa setuju?" Ravenzo berbalik tanya.


Riva mengangguk, Begitupun William.


"Kenapa Opa dan Oma pilih Raven? Kenapa nggak Zavier?"


"Karena kamu yang Opa dan Oma percaya! Mereka percaya kamu bisa menjalani ini semua" Jawab William.


"Jadi gimana, Sayang?" Tanya Riva sekali lagi.


Dengan pasrah Ravenzo pun mengangguk. Mau bagaimana pun juga, Ini adalah wasiat. Dan, Ravenzo tahu jika wasiat ini tidak dijalankan, Maka Opa dan Oma nya tak akan tenang.


To be Continued