
Tepat pukul 17.30 WIB, rintikan hujan berjatuhan disekitaran rumah Aria. Morgan dan Denada, Selaku Ayah dan Bunda Aria sedang berdiri dengan perasaan khawatir terhadap sang anak.
"Bun, Kamu telfon lagi deh bocah tengil itu!" Ucap Morgan sembari memijat pangkal hidungnya.
"Udah Yah, Bahkan udah ratusan panggilan keluar buat dia. Tapi tetep aja nihil" Jawab Denada kesal.
Memang, Disamping sikap buruknya di sekolah, Aria juga menerapkan sikap yang sama saat di rumah.
Morgan dan Denada mondar-mandir saling berbalik arah di teras rumahnya dengan memegang handphone mereka masing-masing.
Selang beberapa menit, Sebuah taksi berhenti tepat di halaman luas rumahnya.
Morgan dan Denada memicingkan matanya sembari mengamati taksi tersebut.
Dan benar saja, Aria keluar dari taksi tersebut dan berlari menghampiri Morgan dan Denada.
"Bunda! Bayarin tagihan taksinya, dong! Uang jajan Aria habis" Ucap Aria tanpa rasa bersalah ataupun malu.
Denada yang mendengar ucapan sang anak pun mengelus dadanya.
"Ya Tuhan! Kapan anak bandel ini berubah?" Batin Denada sembari memijit pelipisnya.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Sentak Denada.
"Main, Bun. Udah ah, Cepetan bayarin tagihannya, Kasihan tuh supir taksinya" Jawab Aria terlewat santai.
"Kamu masih mikirin kasihan sama supir tapi sama sekali nggak kasihan sama Ayah Bunda?"
"Yaelah! Marahnya nanti aja! Nggak enak sama supirnya noh" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Aria pun melenggang pergi tanpa mempedulikan masalah selanjutnya.
"Ariaa!!!" Teriak Morgan memenuhi gendang telinga.
Berkali-kali Morgan dan Denada mengelus dadanya mengingat kelakuan anak semata wayangnya itu.
Sungguh, Kelakuan Aria membuat Morgan dan Denada naik darah.
Morgan tak lagi berbicara, Dia segera mendekati supir taksi yang masih diam di halaman rumahnya dan membayar tagihan Aria.
Setelah taksi tersebut melenggang, Morgan pun menyusul sang istri yang sedang mengamuk di dalam rumah.
"Aria! Berhenti kamu! Kembali kesini!" Teriak Denada saat Aria melangkah menaiki tangga.
Mendengar teriakan Denada, Aria pun menghentikan langkahnya dan segera berbalik sembari berdecak sebal.
"Ck!" Decak Aria sembari berbalik menuruni anak tangga kembali.
"Rubah sikap kamu itu! Ayah sama Bunda udah habis kesabaran buat ngedidik kamu! Dosa apa yang Ayah sama Bunda lakuin dulu sampai kamu kayak gini?" Ucap Denada sembari terduduk di sofa.
Aria tak menjawab, Dia hanya berdiri santai sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aria! Ayah mohon, Rubah sikap kamu! Kamu nggak kasihan sama Bunda yang setiap hari marah-marah gara-gara kelakuan kamu?" Ucap Morgan.
"Dan lagi! Bunda dapat laporan kalau kamu berantem di sekolah sama anggota Osis. Buat apa? Ngerasa jago? Waahh.... Aria Elshawn Victoria anak dari mantan model Denada Rainesya sang juara, gitu?" Ucap Denada dipenuhi emosi.
"Ar! Kamu mikir nggak gimana Bunda? Kamu pernah nggak mikirin gimana perasaan Bunda? Pernah nggak mikir gimana perasaan Ayah?"
"Bunda sama sekali nggak ngerti perasaan Aria! Bunda nggak pernah tau gimana perasaan Aria. Ayah juga! Pernah kalian tanya Aria mau nya apa? Pernah?" Kini giliran Aria yang meluapkan semua emosi yang dipendamnya sejak lama.
Perkataan Aria sontak membuat Morgan dan Denada diam. Memang selama ini Aria selalu menuruti apa yang mereka mau. Bahkan Aria tak menolak apapun yang diinginkan kedua orang tuanya tersebut.
"Aria cuma bela kebenaran. Aria nggak peduli mau Aria disalahin satu dunia pun. Aria akan tetap bela kebenaran. Aria minta maaf karena udah buat Ayah sama Bunda malu, Setelah Aria berantem, Aria udah dihukum sama anggota Osis. Maaf kalau tadi Aria bolos sekolah sama sahabat-sahabat Aria" Ucap Aria lalu membalikkan badan.
"Satu hal yang Ayah Bunda harus tau, Aria nakal, bandel, arogan, dan nggak bisa diatur itu ada sebabnya. Dan, seharusnya Ayah sama Bunda tau apa penyebab Aria kayak gini" Sambung Aria sebelum benar-benar pergi.
Aria berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Keadaannya benar-benar kacau. Hatinya hancur saat Ayah dan Bundanya memarahinya habis-habisan. Padahal, Aria sendiri juga tidak mau seperti ini, Aria mau seperti anak-anak yang lain, Yang selalu dibanggakan oleh kedua orang tuanya.
Tapi, Bagi Aria mungkin itu hanya angan-angan saja. Morgan dan Denada bahkan tak pernah memikirkan kemauannya.
To be Continued