
Kenan dan Zavier tertawa terbahak-bahak saat mendengar gosipan Aria and the gank di meja berbeda.
"Buset! Ganas bener lo Rav, Masa lo nyuruh tuh cewek bersihin semua toilet dalam waktu 15 menit? Parah, lo!" Ucap Kenan masih tertawa terbahak-bahak.
"Kalian nggak tau aja, Sebenernya gue pusing mikirin hukuman apalagi yang akan gue kasih ke dia" Jawab Ravenzo sembari memijit pangkal hidungnya.
"Epic banget, Rav! Masa gara-gara Aria si Troublemaker lo bisa se setres ini? Hahaha......" Ucap Zavier diiringi tertawa. Kenan yang mendengar ucapan Zavier sontak ikut tertawa.
Mereka sangat puas bisa menertawakan seorang Ravenzo. Hanya karena cewek troublemaker seperti Aria, Kepala Ravenzo seakan ingin pecah. Pikirannya sudah buntu karena memikirkan hukuman apalagi yang harus diberikan pada Aria besok.
"Tapi, Dilihat-lihat keren juga tuh cewek, Cantik nggak sih?" Ucap Zavier mulai beraksi. Yang memang pada dasarnya buaya.
"Mulai, deh! Mbat semua noh cewek satu sekolah. Sekalian guru-gurunya" Ucap Kenan jengah.
"Kenan, Coba buka mata lo! Aria tuh perfect, woi! Sempurna, cuma satu yang kurang, anaknya troublemaker. Coba kalau pendiam, pintar, kalem, pasti gue udah stuck di dia doang" Ucap Zavier.
"Cewek mulu yang lo pikirin! Sekolah yang bener, Katanya mau jadi Dokter muda" Ucap Ravenzo datar.
"Yeee..... Kayak situ sekolahnya bener aja!" Timpal Zavier tak mau kalah.
Ravenzo tak menanggapi. Dia lebih memilih diam sembari memikirkan ucapan Zavier tadi. Ada benarnya ucapan Zavier tadi, Aria tipikal cewek idaman, bisa dibilang most wanted. Namun, Sikap arogan dan troublemakernya yang menutupi semua itu.
Saat mereka bertiga tengah asik bercanda, Tiba-tiba Marissa dan kedua temannya datang dengan membawa beberapa makanan.
"Si lampir datang lagi!" Gumam Zavier malas.
"Hai, Rav! Boleh nggak kita ikut gabung? Mejanya udah pada penuh" Ucap Marissa centil.
"Hai, Vier! Aku boleh duduk disamping kamu?" Ucap Vania sembari mengambil posisi duduk di samping Zavier.
"Yassalaamm....." Lirih Zavier nyaris tak terdengar.
"Lo pakai aja, Kita udah selesai" Ucap Ravenzo datar. Ravenzo pun mengisyaratkan kedua sahabatnya untuk bangkit dan pergi dari tempat tersebut.
"Loh, Ravenzo! Kamu mau kemana?" Tanya Marissa.
Ravenzo tak menjawab, Dia meneruskan langkahnya menjauhi Marissa.
"Iihh..... Sebel! Niatnya ke kantin belakangan biar bisa satu meja sama Ravenzo malah gagal!" Kesal Marissa duduk dengan kasar.
"Sabar, Sa!" Ucap Tasya menenangkan sang sahabat.
"Gue juga udah bikin ancang-ancang duduk di sebelah Zavier, Eh dia malah ikutan pergi" Ucap Vania yang merasa kesal juga.
"Girls, Itu kan mejanya adek kelas gatel?" Tunjuk Tasya pada meja Aria and the gank.
"Iya tuh. Gimana kalau kita kerjain dikit? Malas banget gue lihat mukanya. Sok kecakepan semua" Ucap Marissa tersenyum smirk.
"Boleh. Gue juga kesel banget lihat mereka berempat. Baru kelas 2 aja udah sok cantik" Ucap Vania geram.
Mereka pun melancarkan aksinya. Mereka menghampiri meja Aria and the gank dan menggebrak meja tersebut tepat di depan wajah Aria.
Braakkk!!
"Astaghfirullahal'adzim, Na'udzu billah min dzalik! Allahu Akbar, Walillahilkhamd" Ucap Yessa spontan karena kaget.
"Heh, lo! Udah berani ya lo sama kita-kita?" Ucap Marissa menunjuk Aria tanpa mempedulikan kekagetan Yessa.
"Jadi cewek nggak ada aturan, troublemaker, arogan, hidup lagi! Ciihh....." Ucap Marissa sembari membuang ludah kasar.
Bukannya takut, Aria malah berdiri dengan kasar dan menatap tajam Marissa.
Marissa yang terkejut melihat keberanian Aria pun mengerjap sebentar, Namun setelah itu, Dia membalas tatapan tajam Aria.
"Terus, Apa urusannya sama lo? Gue nakal, troublemaker, arogan, nggak punya aturan, terus apa lagi tadi? Hidup? Hei! Tuhan yang ngasih gue udara buat nafas aja nggak protes, Kenapa lo keberatan?" Tanya Aria pelan dan tenang.
Lea yang sudah menetralkan debaran jantungnya akibat gebrakan Marissa pun sontak berdiri memegang tangan Aria.
"Berani lo, Ya? Lo nantang gue?" Ucap Marissa mulai emosi.
"Bukannya bener, Ya? Emang lo siapa ngatur-ngatur gue? Emak gue juga kagak" Ucap Aria tersenyum devil.
"Dasar anak nggak ada aturan! Rasain nih!" Ucap Marissa yang sudah emosi sembari menyipratkan satu gelas minuman kearah Aria.
Bukannya terkena Aria, Namun minuman tersebut malah tumpah di bajunya sendiri akibat ulah Jean.
"Rasain tuh senjata makan tuan" Ucap Jean sembari tertawa.
Tak terima sang sahabat dilecehkan, Tasya dan Vania pun menarik kasar rambut panjang Jean hingga sang empu mengaduh kesakitan.
"Anj*ng lepasin!" Teriak Jean kesakitan.
"Lepasin tangan lo, woi! Lo apain sahabat gue!" Teriak Lea, Yessa dan Aria bersamaan.
Aksi jambak menjambak pun tak terelakkan antara Jean, Tasya dan Vania. Sejumlah siswa maupun siswi yang sedang makan bahkan yang sekedar lewat kantin tersebut pun berhenti dan menonton aksi kedua geng tersebut.
Beberapa diantara siswi yang sedang menonton pun mengabadikan kejadian tersebut untuk diposting di sosial media masing-masing.
"Sakit! Mama! Papa!" Teriak Jean sampai mengeluarkan airmata.
Aria yang merasa Lea dan Yessa ikut tarik menarik pun berusaha menyadarkan mereka dan melerai.
"Lea! Yessa! Kalian jangan ikutan narik, Anj*ng! Kasihan Jean, Woi!" Teriak Aria namun tak dihiraukan oleh keduanya.
Merasa mempunyai kesempatan, Marissa pun menarik kasar tangan Aria dan mulai menyerang Aria.
Aria yang tak siap akan serangan Marissa pun oleng dan jatuh tersungkur.
"Lo tuh cuma adek kelas. Pangkat lo jauh dibawah kita! Lo udah berani deket-deket Ravenzo, Berarti lo udah siap berurusan sama gue!" Teriak Marissa sembari menarik rambut Aria.
"Bab*! Sakit, Woi!" Teriak Aria sembari membalas jambakan Marissa.
Pertengkaran itu semakin panas dan semakin seru. Mereka sama-sama tarik menarik sendiri-sendiri sembari mengumpatkan musuh masing-masing.
Sedangkan Ravenzo yang tengah lewat bersama Kenan dan Zavier pun heran, Kenapa anak-anak menggerombol dan saling mengangkat handphone seakan memvideokan sesuatu.
"Rav! Siapa yang berantem?" Tanya Kenan penasaran karena samar-samar mendengar beberapa umpatan dari geng Marissa maupun geng Aria.
"Dion! Siapa yang berantem?" Tanya Ravenzo pada Dion saat Dion berlari seperti mencari seseorang.
"Untung ketemu! Aria sama Marissa berantem di kantin!" Ucap Dion sembari terengah.
Mendengar jawaban Dion, Ravenzo pun berlari membelah kerumunan anak-anak yang tengah menonton.
"BERHENTI!!!" Teriak Ravenzo garang dengan tatapan tajam.
Geng Aria, geng Marissa, Haikal, Andreas dan beberapa anggota osis yang tengah melerai pertengkaran tersebut pun berhenti memaku di tempat.
"Kalian ikut gue!" Teriak Ravenzo dengan raut wajah merah padam.
Mereka tak berani berbicara selain Aria.
"Dia yang mulai duluan!" Ucap Aria lantang.
"Gue bilang ikut gue!" Teriak Ravenzo ketiga kalinya.
Bsru kali ini Ravenzo marah dan berteriak. Jika bukan karena kelakuan mereka yang terlewat batas, Ravenzo tak mungkin sampai semarah itu.
"Rav! Dia duluan yang nyerang aku!" Ucap Marissa menangis.
"Fitnah lo!" Teriak Lea.
"Diam! Kalian ikut gue atau sekolah kalian berhenti saat ini juga?!" Ucap Ravenzo.
Setelah itu, Dia pun berlalu menuju ruang Osis diikuti sang sand pembuat keributan dan anggota Osis lainnya.
Kenan dan Zavier yang melihat kejadian itupun bergidik ngeri melihat keganasan Ravenzo kala marah.
"Zav! Abang lo kalau marah ngeri juga, Anying!" Bisik Kenan.
"When sisi gelap Ravenzo mulai terlihat" Jawab Zavier.
"Udah ah, Malas gue ngurusin beginian. Ayo ke kelas" Sambung Zavier.
"Ikutin dulu, Napa! Kepo gue" Ucap Kenan.
"Dih! Kayak cewek aja lo, Kepo an. Udah ah, Ayo ke kelas. Nggak penting ngurusin beginian"
"Ck! Nggak asik lo!" Decak Kenan.
To be Continued