RAVENZO

RAVENZO
SISI LAIN ARIA



Setelah meluapkan semua emosinya, Aria pun mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower.


"Kenapa dunia nggak adil? Kenapa cuma gue yang disalahin? Kenapa mereka nggak mau sadar akan dirinya sendiri? Kenapa?!" Teriak Aria sembari menangis.


Aria membuang semua peralatan mandi yang tertata rapi di atas rak.


Dirasa sudah tenang, Aria pun menyudahi acara mandinya dan bergegas membilas seluruh tubuhnya.


Setelah selesai, Dia pun keluar dan segera memakai baju ganti.


Tok tok tok


Ketukan pintu yang sangat keras mengalihkan perhatian Aria.


"Ck! Males banget kalau itu Bunda!" Gumam Aria sembari memakai kaos crop top nya.


Tok tok tok


Semakin tak dihiraukan, Semakin kencang pula ketukan pintu tersebut.


"Ck! Suka banget ganggu ketenangan orang!" Decak Aria. Aria segera berlari menuju pintu kamarnya dan membuka pintu tersebut.


Ceklek


Brukk


Tubuh Aria oleng dan hampir saja terjatuh.


"Hiks..... Maafin Bunda. Bunda salah" Ucap Denada sembari memeluk Aria kencang.


"Maafin Bunda, Ar!"


"Dih! Udahlah, Anggap aja kejadian tadi nggak pernah terjadi. Nggak usah dibahas. Aria males bahasnya" Ucap Aria malas.


"Sayang, Bunda minta maaf" Lirih Denada.


"Iya, Aria nggak pernah marah sama Ayah Bunda. Aria udah lupa sama kejadian tadi. Udah lah nggak usah dibahas"


Itulah Aria, Meskipun sedari tadi dia menangis di bawah guyuran shower, Namun dia tetap bersikap seolah-olah kejadian tadi hanya angin lalu.


Salah jika orang menyangka Aria adalah gadis tak berperasaan, Justru dia sangat pintar menyembunyikan perasaannya.


"Kamu udah makan? Ayo makan Bunda temani" Ucap Denada sembari menghapus sisa airmatanya.


"Aria udah kenyang. Nanti aja sekalian makan malam" Jawab Aria.


"Yaudah, Kamu istirahat aja" Ucap Denada.


Aria membalas ucapan Denada dengan senyum singkat, Setelah itu Aria pun menutup kembali pintunya tanpa mempedulikan Denada yang masih berdiri mematung.


***


Setelah menemui Aria, Denada pun kembali menemui sang suami di ruang keluarga.


"Gimana, Bun?" Tanya Morgan yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Beres. Aria nggak marah sama kita. Gimana rencana kita? Jadi kan kita kasih kotak wasiat itu ke Aria? Bunda udah angkat tangan sama Aria" Ucap Denada sembari menarik nafas panjang.


Morgan pun sama, dia pun menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar.


"Mau gimana lagi? Itu jalan satu-satunya" Jawab Morgan.


"Yaudah, Nanti selesai makan malam kita kasih" Pungkas Denada. Morgan tak menjawab, Dia hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


***


Di lain tempat, Ravenzo sedang belajar di kamarnya ditemani Molly kucing kesayangannya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu yang membuat Ravenzo mengalihkan perhatiannya dari macbook yang berada di pangkuannya.


"Masuk!" Titah Ravenzo.


Ceklek


Terlihat seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dan modis masuk ke dalam kamar Ravenzo.


"Mama? Tumben kesini" Ucap Ravenzo kala melihat Riva, sang Mama.


"Mama cariin Molly. Disini rupanya" Jawab Riva sembari mengambil Molly dari bantal disamping Ravenzo.


"Ada apa, Ma?" Tanya Ravenzo lagi. Ravenzo yakin bukan Molly yang Riva cari, Melainkan ada sesuatu yang hendak Riva bicarakan.


Riva tersenyum kearah Ravenzo. "Umur Abang berapa?" Tanya Riva masih dengan senyum mengembang.


"18 Tahun, Ma" Jawab Ravenzo sembari meletakkan macbook nya ke atas nakas.


"Udah gede, Ya? Emm....." Riva tak langsung menyampaikan maksud dan tujuannya yang membuat Ravenzo penasaran.


"Ada apa sih, Ma?" Tanya Ravenzo semakin penasaran.


Belum sempat menjawab, Terlihat William, Papa Ravenzo datang sembari membawa sebuah kotak kecil berwarna coklat tua.


"Rav? Ini buat kamu" Ucap William sembari menyerahkan kotak tersebut.


"Ini apa, Pa?" Tanya Ravenzo menatap William lalu beralih menatap Riva.


"Bukalah, Itu dari Opa dan Oma kamu" Jawab Riva.


Dengan rasa penasaran tinggi, Ravenzo pun membuka kotak tersebut dan mengambil surat yang dilipat kecil di dalamnya.


To be Continued