RAVENZO

RAVENZO
PILIH DIHUKUM ATAU NURUTIN SEMUA PERMINTAAN GUE?



Setelah Lea, Jean dan Yessa keluar dari ruang Osis, Tinggallah Aria dan Ravenzo berdua disana.


Setelah ketiga sahabat Aria benar-benar pergi, Ravenzo pun segera berjalan kearah pintu dan mengunci pintu rapat-rapat.


"Eh! Mau ngapain lo? Kenapa pakai di kunci segala?" Pekik Aria mulai takut.


"Kenapa? Takut? Bukannya lo nggak takut sama apapun? Mana Aria si troublemaker pemberani itu?" Ucap Ravenzo setengah menyindir.


"Buka nggak? Gue teriak nih!" Ucap Aria lantang.


"Teriak aja sampai pita suara lo putus, Nggak akan ada yang dengar teriakan lo, Aria!" Ucap Ravenzo pelan namun terdengar mengerikan.


Seketika bulu kuduk Aria bediri mendengar ucapan Ravenzo.


"Rav! Gue mohon! Ini di sekolah, Rav!" Ucap Aria mencoba bernegosiasi.


Ravenzo tak menghiraukan Aria. Dia pun berjalan kearah lemari kayu dipojok ruangan yang berisi seragam-seragam baru.


Ravenzo memilih-milih baju seragam yang cocok untuk Aria. Setelah menemukan size yang menurutnya pas, Ravenzo pun mengambilnya dan menyerahkan seragam tersebut pada Aria.


"Apa?" Tanya Aria sembari melihat kearah tangan yang memegang satu stel seragam menggantung di hadapannya.


"Baju lah" Jawab Ravenzo santai.


"Buat apa maksudnya?" Ucap Aria jengah.


"Lo nggak ngerasa baju lo compang-camping? Berasa habis diperkaos tau, nggak!" Ucap Ravenzo vulgar.


Aria yang mendengar ucapan Ravenzo pun mendelik dengan wajah memerah.


"Bisa-bisanya dia ngomong gitu? Sumpah nih manusia es. Mulai kelihatan sifat aslinya" Batin Aria.


"Cepetan diganti. Itu kamar mandi" Ucap Ravenzo menunjuk kearah kamar mandi di dalam ruangan tersebut.


Dengan perasaan kesal dan wajah ditekuk, Aria pun merampas baju seragam baru yang ada di tangan Ravenzo.


"Diam disini! Awas kalau lo deket-deket kamar mandi!" Tegas Aria dengan sorot mata tajam. Ravenzo hanya menanggapi dengan gedikan bahu.


***


Selang beberapa menit, Aria pun keluar dengan seragam barunya.


"Pas, kan? Ravenzo emang pintar, sih" Ucap Ravenzo sembari memuji dirinya sendiri.


"Ke-PD-an lo!" Ucap Aria ketus.


"Mau apa lagi sih, lo? Ini semua nggak adil, tau! Kenapa cewek gatel itu dibiarin bebas? Sedangkan gue disini terkurung sama manusia es kayak lo lagi!" Kesal Aria tak tertahan.


"Ssttt..... Udah ngomelnya. Sakit telinga gue!" Ucap Ravenzo datar.


Ravenzo pun mencengkeram tangan Aria kuat dan menyeretnya untuk duduk kembali ke sofa.


"Mau ngapain lo? Jangan macam-macam, Ya!" Teriak Aria kaget.


"Diam bisa nggak, sih? Dari tadi teriak-teriak mulu! Lo kira konser apa?" Ucap Ravenzo mulai kesal.


"Gue cuma mau nolongin lo! Muka lo penuh cakaran. Ganas bener kalian pada! Bisa-bisanya main cakar-cakaran kayak anak kecil" Ucap Ravenzo sembari menunjuk wajah Aria yang terdapat luka.


"Luka nggak seberapa. Nggak usah sok peduli sama gue! Gue bisa obatin sendiri nanti dirumah. Sekarang, Mau lo apa? Cepetan bilang, Lo mau hukum gue? Bilang aja gue harus ngelakuin apa. Biar cepet kelar nih urusan" Ucap Aria panjang lebar.


"Kalau gue nggak mau gimana?" Tanya Ravenzo tegas.


"Maksud lo? Lo nggak mau ngehukum gue? Terus ngapain gue dikurung disini?" Ucap Aria jengah.


"Lo nurut sama gue! Pilihan lo cuma dua, Pilih di hukum atau nurutin semua permintaan gue?" Ucap Ravenzo kini mulai serius dan datar.


"Mending dihukum dari pada nurutin lo!" Jawab Aria lantang.


"Yakin lo pilih dihukum?" Tanya Ravenzo yang sukses menggoyahkan Aria.


"Mau lo apa sih, Ravenzo!" Kesal Aria.


"Udah diam! Nurut dulu!" Ucap Ravenzo datar.


Ravenzo pun mulai membuka kotak obat yang sudah dia siapkan diatas meja. Dia mengambil obat merah, beberapa kapas dan tak lupa plester.


"Diam!" Tegas Ravenzo saat Aria berusaha mengelak.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ravenzo disela-sela mengobati luka dipipi Aria.


Aria yang melihat Ravenzo dari jarak dekat pun sontak terpana.


"Ar! Ck! Terpesona lo sama gue?" Decak Ravenzo tersenyum tipis.


Mendengar decakan Ravenzo, Aria pun tersadar dan salah tingkah.


"Ha? Lo nanya apa tadi?" Tanya Aria.


"Bukan! Yang sebelumnya" Ucap Aria.


"Oh, Kirain. Tadi kalian ngapain? Kenapa sampai cakar-cakaran gini?"


"Cewek lo tuh psycho. Dia datang tiba-tiba sama dua kacungnya terus gebrak meja gue sama sahabat gue. Ya gitu deh pokoknya, Terus si Tasya sama Vania nyerang Jean. Awalnya sih gue, Lea sama Yessa misahin mereka, Tapi Marissa tiba-tiba narik lengan gue, Alhasil deh kita saling jambak-jambakan" Jelas Aria.


"Awww..... Sakit, Enzo!" Pekik Aria saat luka di lengannya ditekan oleh Ravenzo.


"Sorry" Ucap Ravenzo acuh.


"Udah sini! Ngapain lo sentuh-sentuh gue?" Kesal Aria sembari merampas kapas ditangan Ravenzo.


Karena terpesona pada Ravenzo, Aria melupakan kebenciannya terhadap sang Ketos.


"Apa-apaan lo, Ar! Gitu aja terpesona! Jijik kali!" Gerutu Aria pada dirinya sendiri.


Aria buru-buru membersihkan luka pada wajah dan lengannya. Setelah selesai, Sontak Aria berdiri dan menatap Ravenzo dengan tatapan permusuhan.


"Buruan buka kuncinya. Udah nggak ada yang mau di bahas, kan? Gue mau masuk ke kelas. Ntar di catat bolos lagi sama orang berpengaruh disini" Ucap Aria menyindir Ravenzo.


"Lo nyindir gue?"


"Lebih tepatnya memposisikan ucapan, sih! Lo nya baperan, skip!" Ucap Aria malas.


Ravenzo tak menanggapi. Dia pun ikut berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Gue ulangin sekali lagi ucapan gue! Lo, Pilih dihukum atau nurutin semua permintaan gue?" Tanya Ravenzo tegas dengan sorot mata elangnya.


"Ya jelas dihukum, lah! Mana mungkin gue mau nurutin semua permintaan lo?" Jawab Aria tegas.


"Yakin? Jawaban lo nggak bisa dirubah. Lo milih dihukum, berarti gue bebas dong mau ngehukum lo apa aja?"


"Yaudah, terserah" Jawab Aria acuh.


Ravenzo berjalan kearah Aria dengan tatapan dalam. Perlahan dia mendekati Aria, Sementara Aria yang di dekati oleh Ravenzo pun sontak memundurkan langkahnya.


"Rav! Lo mau apa?" Tanya Aria mulai ketakutan.


"Mau ngehukum lo!" Jawab Ravenzo tersenyum miring.


"Jangan macam-macam, Ya!" Ucap Aria sembari menunjuk wajah Ravenzo.


"Satu macam aja" Jawab Ravenzo semakin mengikis jarak antara keduanya.


Dugg....


"****!" Umpat Aria dalam hati.


Bagaimana tidak, Aria sudah berhimpitan dengan tembok, Sedangkan Ravenzo sudah kurang dari lima senti tepat di hadapannya.


"Rav! Gue mohon. Lo hukum gue terserah apapun yang lo mau, Tapi jangan kayak gini" Ucap Aria memelas.


"Emang kenapa? Gue nggak nentuin loh mau ngehukum lo dengan cara apa, Tapi lo main asal setuju. Dan sesuai kesepakatan, Hukuman nggak bisa diganti" Ucap Ravenzo pelan nan tegas sembari mencekal kedua tangan Aria.


Dengan cepat Ravenzo mengunci pergerakan Aria supaya Aria tak bisa bergerak.


"Rav! Mau ngapain, Lo! Please lepasin gue" Ucap Aria memohon.


"Ar, Gue udah frustasi sama kelakuan lo! Jujur, Gue bingung harus dengan cara apalagi gue ngehukum lo! Bahkan beberapa kali hukuman lo itu sama. Tapi sekarang, Hukuman ini bakal jadi aejarsh yang nggak akan pernah lo lupain" Ucap Ravenzo dengan senyum miringnya.


"Lepasin!" Pekik Aria tertahan.


"Nggak akan. Lo nggak akan kapok kalau nggak dihukum dengan cara gini" Jawab Ravenzo.


Sedetik kemudian, Ravenzo benar-benar menghukum Aria dengan cara tak terduga.


Ravenzo mendaratkan bibir kenyalnya ke bibir manis Aria dengan cepat.


Cup!


Aria terpaku. Ravenzo benar-benar nekat melakukan apa yang dia pikirkan.


Beberapa detik Aria diam terpaku karena perbuatan Ravenzo, Namun sejurus kemudian Aria tersadar lalu mendorong Ravenzo, Hingga Ravenzo terhuyung ke belakang.


"First kiss gue! Jahat lo, Rav!" Teriak Aria.


Dengan keadaan marah, Aria pun merebut paksa kunci yang menggantung di saku celana Ravenzo.


Aria buru-buru keluar dari ruangan terkutuk itu dengan amarah.


"F*ck you, Ravenzo!" Teriak Aria sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.


To be Continued