RAVENZO

RAVENZO
MENDAPAT MASALAH



Aria and the gank dan Marissa and the gank digiring para Osis menuju ruang Osis. Mereka saling melempar tatapan permusuhan dan saling mengumpat dalan hati.


Setibanya di ruang Osis, Marissa langsung duduk di kursi samping Ravenzo sembari menjelaskan kejadian tadi.


"Rav! Bukan kita yang mulai duluan. Justru mereka yang numpahin minuman ke baju aku. Kamu lihat kan baju aku jsdi kotor gini?" Jelas Marissa sembari memegang tangan Ravenzo.


Ravenzo menghempaskan tangan Marissa yang menatap tajam Marissa dan Aria secara bergantian.


Marissa yang ditatap tajam oleh Ravenzo pun beringsut berdiri dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Aria malah menampilkan sikap berani dan berbalik menatap tajam Ravenzo.


"Kalian semua duduk!" Perintah Ravenzo pada geng Aria dan geng Marissa dengan nada bicara dingin nan datar.


Tak ada yang berani membuka suara, Mereka pun menuruti perintah Ravenzo dan sama-sama duduk di sofa panjang saling berhadapan.


"Jelasin semua kejadiannya secara detail, Mulai dari lo!" Ucap Ravenzo datar sembari menunjuk Jean yang tampilannya sudah acak-acakan dengan wajah penuh cakaran.


"Awalnya kita makan berempat di meja biasanya, Tiba-tiba Kak Sasa sama dua temannya ini datang terus gebrak meja, Kak. Kita sempat kaget, Tapi dia malah ngancam Aria......" Belum selesai Jean berbicara, Marissa sudah lebih dulu memotong.


"Bohong, Rav! Dia tuh yang tiba-tiba nyiram aku pakai jus" Ucap Marissa mengelak.


"Diam! Siapa yang nyuruh lo ngomong? Belum giliran lo!" Sentak Ravenzo.


Marissa pun diam.


"Lanjut" Ucap Ravenzo.


"Terus tiba-tiba Kak Vania sama Kak Tasya narik rambut aku sama cakar-cakar muka aku" Sambung Jean.


"Guliran gue!" Tegas Lea. Meskipun mendapat tatapan tajam dari Ravenzo, Lea memberanikan diri bersuara karena Ravenzo hanya diam.


"Gue sama Yessa nggak terima dong Aria di hina sama cewek ini terus Jean dijambak sama dua kacungnya itu! Gue berniat buat misahin Jean dari jambakan mereka berdua, Tapi gantian gue di serang sama si Tasya. Alhasil kita satu lawan satu" Jelas Lea emosi.


"Oke. Terus, Tasya, Vania! Apa penjelasan kalian?" Tanya Ravenzo dingin.


"Sama! Kita nggak terima dong Sasa di siram pakai jus sama Jean ini. Yaudah, Kita jambak rambutnya bisr sekalian copot dari kepala!" Ucap Tasya emosi dan diiyakan oleh Vania.


"Oke. Sekarang, Apa penjelasan lo, Sa?" Tanya Ravenzo pada Marissa.


Ravenzo yang mendengar penjelasan Marissa pun sontak menatap Aria, Lea, Jean dan Yessa secara bergantian.


"Dasar gila! Udah playing victim, Fitnah pula! Psycho emang nih anak!" Ucap Lea sembari maju ingin menghajar Marissa kembali.


Suasana pun kembali riuh dengan tangan mereka saling meraih hendak saling menjambak kembali.


"Diam! Kalian mau jalur orang tua atau damai? Gue udah muak sama kelakuan kalian!" Ucap Ravenzo.


"Aria! Lo yang bertanggung jawab atas semua ini karena lo yang sering buat masalah disekolah ini!" Ucap Ravenzo tegas.


"Loh, Nggak bisa gitu, dong. Dia duluan yang mulai!" Pekik Aria tak terima.


"Lo jangan pilih kasih dong, Kak! Kita nggak salah!" Ucap Jean tak terima.


"Cukup! Kalian semua keluar kecuali Aria!" Tegas Ravenzo.


"Kak!" Ucap Lea tertahan.


"Makanya, Kalau salah mending ngaku aja. Udah salah, Nggak mau ngaku segala!" Ucap Marissa merasa menang.


"Makasih ya, Rav! Kuta keluar dulu" Ucap Marissa lalu mengajak kedua temannya keluar. Sebelum keluar, Mereka sengaja melempar tatapan mengejek dan tersenyum penuh kemenangan.


Mereka pikir Ravenzo berpihak padanya sehingga membebaskan dia dan kedua sahabatnya begitu saja.


"Mentang-mentang mereka anggota osis, Lo berani nggak negakin keadilan? Otak lo dimana, Rav?" Ucap Aria.


"Kalian bertiga keluar! Tinggalin Aria sendiri disini!" Sentak Ravenzo.


Lea, Jean dan Yessa pun pergi meninggalkan Aria sendiri dengan berat hati.


Tatapan mata ketiganya mengisyaratkan tanda maaf. Namun, Aria tersenyum simpul dan mengangguk.


"Kalian obatin luka dulu. Jangan khawatirin gue" Ucap Aria. Mereka oun berpelukan sebelum benar-benar pergi.


To be Continued