
"Yah.. Nadya mau pergi dulu ya sama temen-temen..." kata Nadya sambil mencuci piring bekas mereka sarapan pagi.
"Oh yasudah kalo mau pergi.. Sama Ritsuka dan Hitoka?"
"Iya sama mereka berdua, emangnya mau sama siapa lagi.. Aku gak punya temen selain mereka berdua, Yah."
"Heehh~ Ayah pikir kamu punya temen banyak disini, ternyata introvert kamu masih aja ada ya?" kata sang Ayah yang lagi sibuk membaca korannya.
"Ayah yang benar saja? Aku lagi di Jepang, bukan di Indonesia. Buat bertemen pun aku juga harus hati-hati loh ini.." sahut Nadya sambil cemberut.
Nadya dan Pak Nadi saat ini sedang berada di ruang tamu. Mereka baru saja selesai sarapan pagi. Bahkan Pak Nadi sempat terkejut dengan kebiasaan putrinya yang sudah bangun di jam 3 pagi untuk beberes apartemennya dan sibuk mencuci pakaian. Bahkan gadis itu juga masih bisa sempat-sempatnya berolahraga subuh-subuh. Tapi kebiasaan itu memang harus di biasakan mengingat semasa Nadya sekolah dari SMP sampai SMA dia benar-benar sangat malas untuk beberes rumah apalagi berolahraga.
"Sekarang kamu hidupnya makin disiplin ya? Ayah bangga sama kamu."
Mendengar perkataan ayahnya yang tiba-tiba seperti itu malah membuat wajah Nadya memerah seketika.
"Y-Ya.. Kan gak bisa di biasain males, di Jepang kalo orang males ya di bully, Yah." jawab Nadya yang masih sibuk menyisir rambutnya.
"Hahahaha yasudah kamu tinggal di Jepang aja."
DEG!
Lagi-lagi sang ayah mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Ya Tuhan, Ayah.. Yang bener aja? Aku gak sanggup, Yah. Gak sanggup tinggal di Jepang." kata Nadya sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Lah emang kenapa?"
"Pake tanya lagi ih Ayah.. Aku kangen suasana Indonesia yah.. Aku kangen makan ketoprak."
Alasan sepele itu tentu saja membuat Pak Nadi terkekeh mendengarnya.
"Ada-ada aja sih gak jelas banget.. Tinggal bikin aja kan?" kata Pak Nadi.
"Kan ayah tahu sendiri Nadya gak bisa masak ih.."
TING!
TONG!
Suara bel apartemennya berbunyi. Nadya sudah mengira itu pasti Ritsuka dan juga Hitoka yang sudah sampai untuk menjemputnya.
Nadya berlari ke arah pintu dan saat di buka benar saja, sudah ada Ritsuka, Hitoka dan... Sato?
"Eh? K-Kenapa Sato juga ikutan kesini?" tanya Nadya sambil menunjuk ke arah Sato.
"Memangnya aku tidak boleh ikut dengan kalian? Jahat sekali kamu." kata Sato dengan nada ngambek.
"Hahahaha dia yang mau minta ikutan, Naa-chan~ Ya gak apa-apa kok santai~" kata Ritsuka.
Sebelum Nadya mempersilakan mereka bertiga masuk, Pak Nadi sudah ada di belakang Nadya.
"Wah~ Udah pada siap ini? Mau main?"
Nadya terkejut dengan suara berat ayahnya yang bergema tiba-tiba.
"Iya Pak mau main, gak apa-apa kan?" tanya Hitoka sambil menggaruk lehernya.
Pemandangan yang belum pernah Nadya temukan seumur hidupnya adalah ketika melihat kedua temannya dan juga Sato mencium tangan Pak Nadi. Nadya tentu saja melotot melihat kejadian itu.
'Eh? Kenapa? Apa ini? Kok mereka...?'
"Waaahhh mantep nih~ Ya sudah kalian pergilah, jangan sampai larut malam ya~" kata Pak Nadi dengan senyuman manisnya.
Pak Nadi memang murah senyum walau hanya kepada mereka bertiga saja. Tapi menjadi sosok yang pemalu kepada orang-orang yang belum dia kenal.
"Siap, Pak!" kata Ritsuka sambil memperagakan hormat kepada Pak Nadi.
"Tenang, Pak. Gak akan sampai jam 9 malam.." sambung Hitoka.
Dan lagi-lagi mereka bertiga mencium tangan Pak Nadi sekalian berpamitan, tak lupa juga Nadya juga mencium tangan sang ayah.
"Yah, kita pergi dulu ya~" kata Nadya.
"Hahahaha oke siap, hati-hati di jalan jangan lupa pulang bawa martabak~" sahut sang Ayah sambil melambaikan tangannya ke arah Nadya.
"Hah? Ayah yang bener aja ini bukan di Indonesia ih!" kata Nadya kesal sendiri melihat tingkah ayahnya.
Sedangkan Sato masih berdiri di hadapan ayahnya.
"Baik Pak, kalau begitu saya juga permisi." kata Sato sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Baiklah, jaga anak saya ya, Sato?"
...🍁🍁🍁...
"Mana Sato katanya mau ketemuan disini?"
"Lo kayak gak tahu dia aja sih.. Dia selalu ngaret seperti biasa kan.."
"Nyebelin emang itu anak.."
Saat ini Hiiragi dan juga Shizume sedang berada di sebuah restoran all you can eat. Mereka sudah ada janji dengan Sato untuk makan disana. Namun yang undang mereka belum juga muncul. Sampai pada akhirnya belum ada 10 menit, Sato dan Nadya datang bersama Ritsuka dan juga Hitoka.
"Geh?!"
"Oh Nadya bawa temennya?" kata Shizume santai.
"Yo sorry lama.. Tadi macet banget di jalan.." kata Sato yang sambil menarik kursi untuk Nadya.
Nadya yang terkejut melihat itu langsung duduk dengan manis. Disusul Sato, Ritsuka dan juga Hitoka.
"Sumpah lo lama banget kebiasaan lo!" gerutu Hiiragi.
"Iya kan gua bilang sorry.." jawab Sato singkat.
"Oh ya kenalin, ini Ritsuka kalo ini Hitoka... Mereka temen Nadya.."
Hiiragi dan Shizume berkenalan dengan Ritsuka dan Hitoka. Tapi anehnya di antara mereka seperti ada ketertarikan sendiri, seperti saat Hiiragi berjabat tangan dengan Hitoka, begitu juga Shizume yang berjabat tangan dengan Ritsuka.
"Maaf ya kalau aku ngerepotin kalian berdua.." kata Nadya yang tidak enak hati.
"HAH?! ENGGAA!!!"
"Engga kok, emang dasarnya si Sato nya aja yang ngaret. Kamu gak pernah salah kok, Nadya." kata Shizume santai.
Sato yang merasa dirinya terus di salahkan hanya memasang wajah badmoodnya.
Mereka memesan beberapa menu untuk di makan bersama, namanya all you can eat pasti kalau sudah habis mereka bisa mengambil makanannya kembali.
Setelah dirasa sudah cukup makannya, mereka pun memberi jeda sejenak. Sato yang fokus mengobrol dengan Hiiragi dan Shizume soal band dan juga kerjaan, sedangkan Nadya, Ritsuka dan juga Hitoka juga mengobrol tentang kuliah mereka dan rencana mereka setelah kuliah.
"Naa-chan, habis wisuda nanti, kamu mau pulang ke Indonesia kah?" tanya Hitoka yang masih mengunyah daging.
"Hmm.. Aku masih bingung antara pulang atau gak ke Indonesia, soalnya ayahku tadi pagi malah menyuruhku untuk tetap tinggal di Jepang. Aku gak masalah kalau tinggal disini, tapi kalau ayahku nanti pulang ke Indonesia lagi dan ninggalin aku disini, terus dia siapa yang ngawasin? Aku juga khawatir sama ayahku." kata Nadya.
Ritsuka dan Hitoka sangat mengerti sekali kondisi sahabatnya yang satu ini. Dia hanya tinggal bersama ayahnya, wajar saja dia berpikiran seperti itu.
"Kenapa ayahmu gak tinggal sama kamu aja berdua?" tanya Hitoka lagi.
"Tidak bisa, ayahku ada kerjaan di Indonesia." jawab Nadya.
"Aahhh... Ini pilihan yang sulit banget pasti buat lo, Naa-chan.." kata Ritsuka sambil mengelus puncak kepala Nadya lembut.
"Eh ya aku mau tanya sama kalian?!" kata Nadya dengan nada yang tiba-tiba.
"Hah? Mau tanya apa?"
"Kenapa kalian tadi mencium tangan ayahku tiba-tiba begitu? Aku kaget loh!" kata Nadya yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi pagi.
"Ha? Apaan sih ini anak?"
"Hahahaha bukannya tradisi menciun tangan orang tua itu memang wajib ya di negara kamu, Naa-chan?" tanya Hitoka sambil tertawa.
"Y-Yaa maksudku kenapa? K-Kok kalian bisa tahu hal itu?" tanya Nadya lagi.
"Heh! Emangnya lo kira kita gak tahu negara lo? Negara yang taat sama aturan di tambah harus bener-bener hormat sama yang lebih tua." kata Ritsuka menjelaskan panjang lebar.
"Hahahaha.. Menghormati yang lebih tua itu wajib, Naa-chan~ Tapi kelihatannya kamu sama ayahmu terlihat seperti teman ya? Akrab banget~" kata Hitoka.
"Ya aku emang dari kecil deketnya sama ayahku, gak deket sama siapa-siapa lagi." kata Nadya sambil mengambil minuman bobanya.
Di tengah obrolan mereka, Nadya mengambil minuman boba yang sudah dibelikan oleh Sato. Hanya saja susah untuk menusuk sedotannya itu. Berkali-kali Nadya menusuk sedotannya tapi tidak tertancap juga. Tiba-tiba saja tangan Sato meraih minuman itu dan menancapkan sedotannya dengan mudah sampai Nadya bisa meminum minumannya itu.
"Terima kasih, Mafuyu..." kata Nadya sambil tersenyum.
Sato melirik ke arah gadisnya itu lalu ikutan tersenyum juga.
"Lain kali minta tolong ya sayang.."
BLUSH!
Kata-kata Sato berhasil membuat wajah gadis itu memerah hebat. Ritsuka dan Hitoka yang melihat sahabatnya itu hanya bisa saling melempar senyuman nakal.
'Terus aja di buat salting begini sama Sato.. Ih kenapa sih...'
...🍁🍁🍁...