Raining Spell For Love

Raining Spell For Love
25 : Sidang TA Pembawa Bencana



"Astaga... Naa-chan kemana dah? Padahal sebentar lagi giliran dia presentasi." keluh Ritsuka.


"Aku gak nyangka kalau Naa-chan bakalan cepet banget lulusnya ya hahahaha..." tawa Hitoka gemas.


Saat ini di ruangan Nadya begitu banyak orang. Karena bukan hanya Nadya seorang yang akan melakukan presentasi sidang TA nya, tapi beberapa teman seruangannya pun juga mendapat jadwal untuk sidang TA di hari yang sama. Sementara itu, Nadya masih di kamar mandi yang mencoba untuk menenangkan dirinya. Ya, hanya dia yang menenangkan diri di kamar mandi.


"Astaga sumpah deg-degan banget asli..."


Nadya mengutuk dirinya sendiri karena dia benar-benar di landa panik yang berlebihan. Bahkan sesekali telapak tangannya tremor hebat.


KRING!


Ponselnya berbunyi, gadis itu pun melihat di balik layar itu bertuliskan -Mafuyu❤-. Bukannya senang tapi Nadya makin panik dan gugup. Pria itu mengirim pesan singkat yang sangat lucu dan romantis.


^^^"Semangat ya sidang TA nya❤ Aku tahu kamu pasti bisa. Aku selalu mendukungmu, sayang."^^^


Begitulah kira-kira isi pesan singkat dari kekasihnya. Seketika wajah gadis itu memerah hebat. Bukannya malah menenangkan dirinya tapi malah membuat gadis itu makin salah tingkah.


'Kenapa harus begitu sih Mafuyu.. Astaga tolong aku makin gak bisa konsentrasi...'


...🍁🍁🍁...


"Hahahaha.."


"Hm?"


"HAHAHAHAHA...."


"Hah?"


"Hehehehe..."


"Apaan sih ini anak?"


Sato tertawa sendiri sambil melihat ponselnya sejak tadi. Hiiragi yang melihat temannya itu hanya bisa menatapnya dengan tatapan aneh.


'Ini anak mulai gila ya?'


Senyam senyum sendiri sesekali sambil mengerjakan pekerjaannya. Sato seperti sedang berbunga-bunga hari ini.


"EHEM!!!"


Suara Hiiragi membuat Sato menoleh.


"Kenapa lo?" tanyanya.


Hiiragi hanya lesu mendengar pertanyaan Sato itu.


"Harusnya gua yang nanya begitu ke lo, Sato. Lo tuh kenapa senyam senyum sendiri. Bikin gua takut. Lo masih waras kan??" tanya Hiiragi memastikan.


Bukannya di jawab pertanyaan Hiiragi, Sato malah kembali tertawa pelan lalu menyandarkan tubuhnya di bangku.


"Hahahaha... Ya... Gimana ya.. Gua lagi seneng aja hari ini..." jawab Sato sambil tersenyum.


Jujur saja Hiiragi takut sekali dengan mode Sato yang seperti ini.


"Iya iya gua tahu lo lagi berbunga-bunga tapi gak perlu harus kayak begini sumpah.. Gua takut lo kesurupan.."


"HEH! MULUTNYA ASTAGA!" pekik Sato terkejut.


"Ya habis gimana..." sahut Hiiragi.


Sato kembali fokus dengan pekerjaannya, dia mulai memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Hiiragi berjalan menghampiri Sato dan duduk di hadapannya.


"Pacar lo hari ini ada sidang TA kan?" tanya Hiiragi tiba-tiba sambil mengambil beberapa map yang belum di periksa oleh Sato.


"Kok lo tahu??!" kata Sato terkejut.


"Heh! Kan lo yang ngasih tahu hari Sabtu kemarin, dan lo lupa soal itu? Susah yee bucin banget manusia heran..." protes Hiiragi kesal.


Sato hanya cengar cengir tidak jelas melihat temannya itu kesal.


"Lo harus jaga dia, Sato..."


"Hmm?"


"Dia bukan orang Jepang asli kan? Pasti kebiasaan di negera dia sama disini beda, ditambah lagi lo belum kenalin dia ke keluarga lo, dan lo juga belum di kenalin ke keluarga dia.. Maksud gua ngerti kan?"


Kali ini perkataan Hiiragi membuat Sato sedikit terkejut. Ya, apa yang dikatakan Hiiragi itu benar. Nadya bukan orang asli Jepang, dia bahkan tinggal disini hanya untuk menyelesaikan pendidikannya.


"Iya gua ngerti kok, mungkin setelah dia selesai semuanya, gua bakalan kenalin dia ke keluarga gua.. Dan ya gua emang pengen serius sama dia.. Gua juga capek dan gak ada niatan buat ke gadis yang lain lagi selain dia.." jawab Sato dengan nada serius.


"Ya bagus kalo emang lo maunya dia terus."


"Yaaa...."


Di liriknya Sato dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh Hiiragi.


"Yaa... Tampang lo emang playboy banget sih..."


"HAH??!! GAK APA-APA GUA PLAYBOY! Daripada lo kayak jamet..." sindir Sato.


"Lah?! Ngapa jadi ngeroasting oi?!"


"Tapi emang bener kan?"


"SIAPA YANG LO PANGGIL JAMET, SIALAN??!!"


"Ya elo lah, Hiiragi. Masih aja nanya."


"BACOT!!"


...🍁🍁🍁...


"Sekian presentasi dari saya, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih."


Sudah cukup lama Nadya melakukan presentasi skripsinya, bahkan ada mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan lain juga menonton penampilannya. Semua dosen hanya memberikan tepuk tangan mereka tanpa pertanyaan apapun. Itu membuat Nadya sedikit terkejut. Hanya ada salah satu dosen yang memberikan arahan untuk skripsi yang di bawakan Nadya saat ini, selebihnya tentang pujian.


*******CLAP***! ****


**CLAP! **


CLAP!


Semua orang yang menontonnya bertepuk tangan meriah bahkan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang satu ruangan dengannya sampai ada yang bersorak sorai kesenangan. Nadya cukup terharu dengan pemandangan itu. Teman-temannya bahkan kedua sahabatnya, Ritsuka dan Hitoka yang duduk di kursi paling depan saja mereka sampai menangis melihat presentasi yang du bawakan gadis itu dari awal sampai akhir. Betapa senangnya mereka melihat temannya itu sudah terlebih dahulu melaksanakan sidang TA.


Nadya kembali melanjutkan presentasinya dengan membuka sesi pertanyaan. Siapa sangka kalau banyak dari para penonton atau audiens untuk bertanya mengenai materi presentasi yang di bawakan Nadya dan Nadya menjawab semua pertanyaan dengan lancar.


Setelah sesi presentasi Nadya sudah selesai, ia memilih untuk duduk di lorong sambil menghela nafasnya lega.


"HAAAHHHH.... ASTAGA YA TUHAN....."


Dengan perasaan campur aduk, senang, bahagia, sedih dan terharu semuanya menjadi satu.


PLUK!


Tiba-tiba saja Nadya terkejut dengan sensasi dingin dari sebuah minuman kaleng yang menempel di pipinya.


"Kerja bagus, Naa-chan..."


Suara berat itu tidak asing lagi di telinga Nadya. Dia menoleh ke sosok pria yang sudah berdiri di hadapannya itu sambil menyodorkan kaleng minuman kearahnya.


Nadya dengan senang hati menerima minuman itu darinya.


"A-Aahh... Terima kasih ya... Gabriel..." kata Nadya.


Pria itu duduk di samping Nadya sambil menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Nadya sedikit risih dengan tatapannya itu.


"Kenapa, Gabriel?" tanya Nadya.


Bukannya menjawab tapi Gabriel dengan gerakan yang cepat langsung menarik tengkuk leher gadis itu dan membuat jarak mereka begitu dekat hingga bibir mereka saling menyatu.


CHUP!


Mata Nadya terbelalak dengan kejadian apa yang baru saja terjadi. Gabriel melepas ciuman itu lalu mengelus puncak kepala Nadya dengan lembut.


"K-KAMU NGAPAIN??!!" teriak Nadya histeris.


Gabriel hanya menatap gadis itu dengan tatapan yang sedikit berbeda.


"Kenapa kamu gak mau terima aku waktu itu?" tanya Gabriel santai.


"H-Hah??!!"


"Kenapa kamu lebih milih dia di banding aku? Apa aku banyak kekurangan dimata kamu?"


Nadya bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, Gabriel seperti kerasukan setan. Dia benar-benar seperti bukan Gabriel yang ia kenal.


Disisi lain, dari kejauhan ada seseorang yang melihat kejadian itu. Dengan senyum jahatnya, dia sambil melihat kearah ponsel yang ia pegang dan di dapati sebuah foto Gabriel dan Nadya berciuman.


Sambil berjalan ke arah gerbang kampus, orang itu masuk ke mobil yang ia parkir tak jauh dari gerbang.


"Hahahaha... Kan begini enak.. Gak ada Yuki, ya Gabriel pun jadi... Kalo dasarnya udah gadis ****** mah ya ****** aja... HAHAHAHAHA..."


...🍁🍁🍁...