Raining Spell For Love

Raining Spell For Love
22 : Takut



"Gua duluan ya bro.. Mau jemput Nadya.."


Saat ini Hiiragi sedang sibuk di hadapkan oleh beberapa berkas-berkas pekerjaan di meja kerjanya.


"Iya iya sono dah jangan ganggu gua, enak emang ya kalo jadi bos mah bisa nyuruh asisten. Agak-agak kambing emang lo.." gerutu Hiiragi dengan raut wajah yang kesal.


"Ya maaf maaf kan Sabtu tetep jadi gua bawa dia." sahut Sato.


"Iya iya udah sono di bilang.. Bucin terosss..."


"Lah iya kok tahu dah lo kalo gua bucin?" tanya Sato dengan nada meledek.


Hiiragi mulai kesal dengan tingkah laku Sato yang sedikit tengil. Tapi bukan Hiiragi namanya kalau tidak memancing amarah Sato.


"Jangan terlalu bucin~ Inget..."


Sato hanya menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa dah?" tanya Sato.


"Hubungan baru biasanya banyak godaan sih, apalagi kalo pacar lo itu termasuk cantik.. Hati-hati aja gua mah.."


Mendengar perkataan Hiiragi yang seperti itu, tentu saja membuat Sato malah jadi berkeringat dingin.


"K-Kenapa oi?!" tanya Sato lagi dengan nada yang sedikit ketakutan.


Hiiragi yang menyadari kalau Sato mulai ketakutan, dia malah terbesit ide jahil untuk menggoda Sato.


"Ya... Hati-hati aja.. Pasti banyak yang incer dia~ Apalagi dia anak kuliahan, terus humble sama semua orang. Dan wajar kalau dia di sukain banyak orang." kata Hiiragi sambil tersenyum sinis.


Tiba-tiba saja Sato teringat soal gadisnya itu sempat di tembak oleh pria di kampusnya yang bernama Gabriel. Wajahnya makin memucat dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Hiiragi di ruangannya.


BRAK!


Pintu tertutup dengan kencang. Hiiragi sedikit terkejut dengan sikap Sato yang tiba-tiba saja berubah seperti itu, tapi ya memang tujuannya dia untuk memancing Sato saja.


"Haaahhh... Kalo udah bucin aja pasti kayak begitu.. Kebiasaan banget dah.." gerutu Hiiragi sambil menghela nafasnya.


Hiiragi hanya takut jika nanti terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, terlebih lagi Sato adalah tipe pria yang benar-benar sangat mencintai seorang gadis dengan serius.


'Semoga aja gadis yang sekarang kelakuannya gak kayak si Lestari biang kerok itu...'


...🍁🍁🍁...


"Heeehhh... Sato tumben banget telat, Naa-chan.."


"Ah iya, tumben banget. Kamu udah hubungin dia belum, Naa-chan?" tanya Hitoka.


Nadya yang masih sibuk mengetik chat untuk Sato hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dia gak ngerespon chat ataupun telepon aku. Mungkin dia lagi di jalan." sahut Nadya.


"Tapi hujan loh.. Dia naik apa kesini?" tanya Hitoka lagi.


"Aku kurang tahu dia naik apa. Tapi semoga aja dia gak kehujanan."


Hujan turun sangat lebat, petir menyambar membuat ketiga gadis itu sedikit takut karena pasalnya hanya mereka bertiga yang masih ada di kampus.


"Naa-chan... Coba lihat disana!" seru Hitoka sambil menunjuk kearah gerbang kampus.


Mereka pun melihat kearah gerbang kampus, motor yang sangat familiar datang.


"GEH?!"


"Y-Yang bener aja..."


Nadya terkejut melihat pria itu datang tanpa menggunakan jas ujan atau apapun itu.


"E-Eh?!! K-Kenapa dia ujan-ujanan deh?!" panik Nadya.


Pria itu langsung memarkirkan motornya di dekat gerbang kampus dan langsung berlari kearah Nadya.


Nadya yang melihat kekasihnya itu kehujanan dengan sigap langsung membuka sweater miliknya dan di pakaikan di tubuh tegap pria itu.



"K-Kamu kenapa ujan-ujanan? Udah mana gak pake jas ujan pula.." omel Nadya.


Ritsuka dan Hitoka tentu saja terkejut dengan omelan temannya yang satu ini, karena mereka tidak terbiasa melihat gadis itu ngomel-ngomel. Sato masih diam berdiri mematung di hadapan Nadya.


Merasa Ritsuka dan Hitoka mulai tahu dan mengerti kondisi, mereka pun pergi meninggalkan dua insan itu disana.


"Sato?" tanya Nadya.


Namun Sato masih terdiam. Nadya makin bingung dengan sikap pria ini.


Sontak pria itu terkejut dengan perlakuan gadisnya namun dia masih memilih untuk bungkam tanpa bicara satu kata patah pun.


"Mau duduk disana? Jangan disini yang ada kamu malah tambah basah." ajak Nadya sambil menggandeng tangan kekar milik pria itu.


Mereka duduk di bangku yang tak jauh dari lorong kampus. Nadya juga berinisiatif untuk mengeringkan rambut pria itu dengan menggunakan sapu tangan.


"Tenang saja, sapu tanganku ini masih bersih kok.. Jadi kamu gak perlu khawatβ€”"


Belum juga Nadya menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Sato memeluk tubuh gadis itu dengan eratnya sambil membenamkan wajahnya di bahu Nadya.


"E-Eh??!! K-Kamu kenapa?" tanya Nadya panik.


Siapa yang tidak panik, kekasihnya ini memeluknya sangat erat.


"Kamu... Gak pergi kan?"


"Hmm?"


Dengan wajah sayunya dan mata yang saling bertemu, menatap Nadya begitu lekat.



"Kamu gak akan pergi dari aku kan?"


Nadya juga ikutan terkejut melihat Sato yang sudah berlinang air mata begitu deras.


"S-Sato?! Kamu beneran gak apa-apa? Ada apa?" tanya Nadya dengan nada yang sudah khawatir.


"A-Aku gak kamu pergi, k-kamu tahu itu kan?" kata Sato dengan suaranya yang sedikit lirih.


Nadya tidak mengerti apa yang di maksud dari perkataannya Sato. Tapi dia mencoba mengusap air mata Sato perlahan sambil mengelus puncak kepala pria itu dengan lembut.


"Aku gak akan pergi kok.. Buktinya aku masih disini nungguin kamu, kan?" kata Nadya.


"T-Tapi..."


"Hmm?"


"T-Tapi... Aku gak mau sampe ada yang suka sama kamu selain aku..."


"H-Heehh... Mana ada yang suka sama aku Saβ€”"


"BANYAK!!!"


Astaga apa ini? Apakah seorang Sato sedang merajuk?


"Hahahaha emang siapa yang suka sama aku coba?" tanya Nadya sambil tertawa lepas.


Nadya sangat tidak tahan dengan sikap kekanak-kanakannya Sato. Itu terlalu menggemaskan bagi Nadya.


"Y-Yang kemarin dia suka sama kamu.. Si Gabriel Gabriel itu.." jawabnya dengan nada ngambek.


'Astaga lucu banget sih ini anak...'


"Hahahaha... Dia udah gak ngejar aku lagi kok.. Kan aku sekarang udah milik kamu..." kata Nadya.


Raut wajah Sato yang tadinya tegang, lama kelamaan mulai melunak.


"Iya.. Kamu cuman milik aku bukan milik orang lain..." kata pria itu dengan nada merajuknya.


Nadya benar-benar tidak tahan dengan sikapnya yang seperti anak kecil ini. Terlalu menggemaskan.


"Nadya..." panggilnya.


"Hmm? Ya?"


CHUP!


Dengan cepat Sato mencium bibir Nadya dengan lembut. Nadya lagi-lagi terkejut dengan perlakuan Sato yang tiba-tiba seperti itu.


"S-Sato!!?? Jangan tiba-tiba begitu... Aku kaget..." kata Nadya sambil menutupi mulutnya.


"Ya itu bukti kalau kamu itu punya aku, bukan punya si Gabriel itu."


"T-Tapi jangan tiba-tiba sayang.. Ini masih di kampusku, ingat kan?" tanya Nadya.


Tanpa sadar wajah Nadya memerah hebat sedari tadi dan itu membuat Sato malah gemas ingin menggigit pipinya.


Sato memeluk gadis itu kembali dan menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya. Nadya merasakan kehangatan disana. Begitu sangat nyaman dan aman.


'B-Baru kali ini... Ngerasain di peluk senyaman ini... Pengen kayak gini terus..'


...🍁🍁🍁...