Raining Spell For Love

Raining Spell For Love
23 : Bertemu Temannya



Hari Sabtu memang paling enak guling-gulingan di kasur. Itulah yang di lakukan Nadya di hari Sabtu pagi hari. Dia tidak ada jam kuliah hari ini, hanya saja dia harus mempersiapkan diri untuk sidang TA di hari Senin nanti.


Tak terasa sudah 3,5 tahun Nadya menetap di Jepang untuk mengejar karirnya. Terlalu banyak lika-liku kehidupan yang ia lewati selama tinggal di negara orang. Tapi bukan Nadya namanya kalau menyerah dengan apa yang ia lakukan.


"Haaahh... Bosan sekali di apartemen sendirian.." keluh gadis itu.


Sesekali dia menatap ponselnya dan belum ada ucapan selamat pagi atau apapun itu dari kekasihnya.


"Dia kemana sih kok gak ngabarin aku?"


Disaat Nadya ingin kembali memejamkan matanya, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Nadya terkejut mendengarkan suara itu.


"Eh?! Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Apa Hitoka-chan dan Ritsu-chan?"


Tanpa berleha-leha lagi, Nadya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu.


KLEK!


Dibukakan pintu itu dan sudah berdiri sosok pria yang baru saja panjang umur dia membicarakan tadi. Nadya terkejut melihat pria itu sudah rapi dengan setelan santainya.



"S-Sato??!!" pekik gadis itu terkejut.


"Hmm? Kenapa? Kamu kaget lihat aku datang ke apartemenmu?" tanyanya santai.


"Pakai di tanya kaget apa enggak, ya pasti kaget, Sato!" omel Nadya.


"Eh tapi sebentar, ada apa pagi-pagi ke apartemenku, Sato?"


"Hmm? Aahh.. Aku mau menjemputmu, kebetulan aku mau kumpul sama beberapa temanku dan aku ingin mengajakmu."


'GEH?! Y-Yang benar saja?! I-Ini masih pagi!!'


"T-Tapi aku belum mandi, Sato. Ini hari libur loh.." keluh gadis itu.


"Justru karena hari libur, aku makanya kesini dan mengajakmu pergi, sayang."


******BLUSH******!


Lagi-lagi Nadya harus mendengar panggilannya itu dari bibir Sato.


"S-Sato jangan begitu! Ini masih pagi dan berhenti menggodaku!" omel Nadya lagi.


Namun Sato tidak peduli dengan apa yang dikatakan gadisnya, dia lebih memilih diam dan memberikan sebuah kantong plastik yang berisikan onigiri dan susu coklat.


"Ini.."


"A-Apaan ini?"


"Itu sarapan buat kamu. Dan kenapa juga... aku gak di tawarin masuk ke dalam? Gak enak ngobrol di depan pintu." kata Sato.


Nadya hampir saja lupa mempersilakan pria itu masuk ke dalam apartemennya. Untung saja apartemen Nadya selalu rapi dan wangi, jadi siapapun yang bertamu akan betah berlama-lama di sana.


Sato melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Melihat ke kiri dan ke kanan kondisi apartemen itu.


"Kamu beneran tinggal sendirian disini?" tanya Sato.


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya aku tinggal sendiri, Ritsu-chan dan Hitoka-chan gak mungkin bisa tinggal bersamaku, paling cuman sekedar menginap saja atau dua hari saja.


Sato pun duduk di ruang tamu yang cukup luas menurutnya.


"Kamu mau minum teh atau kopi?" tawar Nadya.


Sato terkejut mendengar tawaran gadis itu.


"A-Ah.. K-Kopi saja.." jawabnya.


"Baiklah, tunggu disini dulu. Aku buatkan kopi untukmu." kata Nadya sambil berjalan pergi ke arah pantry yang tak jauh letaknya dari ruang tamu.


Sato masih melihat ke sekitar sudut ruangan itu dengan seksama. Dilihatnya beberapa koleksi action figure yang terpampang jelas di lemari kaca, belum lagi ada foto Nadya dengan 2 orang temannya. Tanpa sadar itu membuat Sato tersenyum simpul.


"Ini kopinya, Sato." kata Nadya sambil menaruh secangkir kopi di meja.


Sato sedikit terkejut melihat Nadya yang sudah ada didepannya.


"A-Aahh... Iya Terima kasih.. Kamu otaku juga ya ternyata?" tanya Sato polos.


"H-Haahh??!!! Jangan lihat-lihat action figure ku!!" teriak Nadya panik.


Sato yang melihat sikap gadisnya hanya bisa lesu. Baru kali ini Sato melihat sisi kekanakan kekasihnya itu.


"Aku cuma melihatnya saja kok, dan juga..."


Pria itu baru menyadari kalau Nadya masih memakai tank top yang talinya melorot dan celana hot pants.


"Kenapa kamu gak pergi mandi?!!" pekik Sato dengan wajah memerah.


"Hah?! Kamu ngusir aku?!"


"Ya... B-Bukan begitu maksudku tapi kamu mandi dulu sana..." kata Sato sambil memalingkan wajahnya.


Nadya tentu saja bingung dengan sikap kekasihnya yang tiba-tiba berubah seperti itu. Tapi gadis itu memilih menurut saja dan bergegas pergi ke kamar.


'Ya Tuhan.. Itu anak kok polos amat sih kenapa juga harus pakai dalaman saja.. Udah mana celana pendek.. Apa dia pikir aku bukan laki-laki normal, huh?!'


...🍁🍁🍁...


"Mana si Sato lama banget..."


"Gak tahu itu anak janjinya jam segini tapi malah dia yang telat, kan nyebelin dah..."


Saat ini Hiiragi dan temannya yang bernama Shizume duduk di dalam sebuah cafe yang tak jauh dari pusat ibu kota. Shizume adalah teman Hiiragi dan juga Sato, mereka bertiga berteman sudah sangat lama sejak duduk dibangku kuliah.


"Dia beneran udah ada pacar baru, Hiiragi?" tanya Shizume penasaran.


"Iya serius! Bahkan dia ngomongin terus pacarnya di kantor, astaga.. Gua kira bucinnya ilang sama pacar baru, ternyata makin jadi aja bucinnya.." keluh Hiiragi panjang lebar.


Shizume sudah sangat tahu Sato, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti. Shizume tipe orang yang cuek seperti Uenoyama tapi dia lebih dingin ke siapapun kecuali orang yang sudah dia kenal.


KRING!


KRING!


Suara bel kecil di dekat pintu masuk berbunyi, Hiiragi dan Shizume menoleh kearah pintu tersebut. Mereka terkejut melihat Sato yang sudah menggandeng gadis manis berambut pendek dengan stylenya yang sangat klasik.


"O-Oohh..."


Sato dan Nadya berjalan mendekat meja mereka. Baik Shizume maupun Hiiragi saling bertatapan satu sama lain lalu melambaikan tangan kearah dua sejoli itu.


"Nah Nadya.. Kenalin.. Ini temanku waktu kuliah, tapi kalau yang rambutnya kayak jamet itu sampai sekarang dia bekerja satu kantor denganku." jelas Sato panjang lebar.


"Berisik! Udah telat, belagu lagi lo..." kata Hiiragi kesal.


"Bacot! Gua kan jemput pacar gua dulu lagian di jalan macet tadi." balas Sato.


Shizume sudah terbiasa melihat mereka berkelahi kecil seperti ini. Namun disisi lain, Nadya merasa sangat tidak enak sudah membuat mereka menunggu lama.


"M-Maafkan aku ya kalian jadi nungguinnya lama.." kata Nadya sambil membungkukkan tubuhnya.


Shizume menyadari gadis yang ada di hadapannya ini sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak masalah, ini bukan salahmu. Dan maafkan Hiiragi si jamet satu ini selalu aja buat keributan di hari pertama kita bertemu."


"HAH??!! K-Kenapa lo manggil gua jamet juga sih?" tanya Hiiragi dengan raut wajahnya yang kesal.


Nadya menatap ketiga pria ini dengan seksama, mereka saling beradu mulut satu sama lain. Ini menjadi pemandangan yang tak biasa untuk dirinya.


"A-Ahh... Kamu.."


Nadya terkejut saat namanya di panggil Hiiragi.


"Y-Ya?"


"Ayo duduk.. Kamu pasti capek kan naik motor sama orang bucin kayak dia? Kamu duduk aja, aku udah pesenin kamu makanan manis kok..."


Tanpa sadar Nadya langsung semringah ketika mendengar kata makanan manis.


"M-Makanan manis?? T-Terima kasih ya sudah di beliin..." jawab Nadya sambil tersenyum kearah Hiiragi.


"T-Tidak masalah... Semua gadis memang menyukai manis kan?" kata Hiiragi sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Entah kenapa gadis itu merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka bertiga. Dia merasa aman dan nyaman. Tapi sayangnya, tidak untuk pria yang ada di sampingnya. Pria itu sudah menahan emosinya agar tidak cemburu berlebihan.


'Yaahh... Sabar... Sabar Sato... Emang si jamet ini caper banget emang... Gua tempeleng nanti pulang lihat aja...'


"Kamu gak apa-apa Sato?" tanya Nadya.


Sato hanya menggelengkan kepalanya sambil membuang wajahnya kearah lain. Hiiragi dan Shizume yang melihat tingkah kekanakan temannya itu hanya bisa memasang ekspresi mane teh kunaon?


"Hahahahaha... Kamu lucu deh..." kata Nadya sambil mengelus puncak kepala Sato lembut.


Sato yang di perlakuan seperti itu langsung memerah wajahnya.


"H-Haahh??!! Emangnya kamu pikir apanya yang lucu?" kata Sato gugup.


Nadya hanya tersenyum manis di hadapan pria itu.


"Kamu yang lucu, Mafuyu..."


BLUSH!


Kata-kata gadis itu berhasil membuat wajah Sato memerah layaknya kepiting rebus yang baru matang.


"H-H-Haaahh??!!!"


"O-Oi Sato... Lo gak apa-apa itu?"


"I-Ini apaan...."


"E-Eh??!! M-Mafuyu kamu kenapa??!!" tanya Nadya yang mulai panik dengan ekspresi wajah Sato yang sulit di artikan.


'Hadeh.... Emang ya kalau udah bucin kayak begini terus...'


'Gadis itu lebih baik dibanding Lestari, jadi gak apa-apalah, gua ngerestuin dia sama Sato kalo begitu mah...'


...🍁🍁🍁...